Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 51


__ADS_3

Sekarang Jakson sudah terbaring di kamarnya. Ia mendesah kasar lantaran merasa kosong dan lapar.


Krek ...


Pintu terbuka, di sana sosok Davin kian mendekat. Sebelumnya Davin belum sempat berbincang dengan Jakson mengenai penjahat itu, dan pikirnya saat ini adalah waktu yang kurang tepat, tapi ia hanya ingin berbicara sebentar.


“Ada apa?” tanya Jakson.


“Aku ingin berbicara denganmu sebentar, bisakah?” tuturnya.


“Kemarilah!” setuju Jakson seraya duduk dari baringnya, ia juga merasa bosan berdiam diri di bidang empuknya.


“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, siapa tau saja kau bisa membantu!” jelas Davin yang mulai duduk di sisi ranjang.


“Apa!” jelas Jakson menunggu.


“Ini! orang ini.. apa kau tau sesuatu tentangnya?” tanya Davin kerap memperlihatkan seseorang, tak lain adalah penjahat yang masuk ke rumah malam itu.


“Bukannya ini penjahat yang waktu itu!” tutur Jakson yakin, karena pakaian yang dipakai orang itu mirip dengan yang di lihatnya waktu itu.


“Bukan, dia bukan penjahat yang ku tangkap!” jelas Davin.


“Apa maksudmu bukan?” tutur Jakson heran menyergitkan dahi.


“Begini, kau lihat ini! Lihat baik-baik.. Tidak mungkin orang ini bisa berada di satu tempat yang berbeda! Dengan kata lain, ada dua orang yang menyusup waktu itu!” yakin Davin memperlihatkan rekaman cctv malam itu melalui ponselnya.


“Dua orang.. Maksudmu, malam itu ada dua penyusup yang masuk!” tutur Jakson tak percaya.

__ADS_1


“Hmm, dan lagi.. Aku sudah menginterogasi penjahat itu! Dan dia mengaku bahwa dia tidak bertemu Megan malam itu!” jelas Davin memberi tau akan penyelidikan yang ia lakukan sebelumnya.


“Jadi maksumu, ada orang lain yang datang malam itu? dan.. orang itu yang hampir membawa Megan?” tanya Jakson memastikan.


“Iya.. Dia yang ingin membawa Magan, dan pembunuh berantai itu yang bertemu Nadia di dapur!” jelas Davin.


“Nadia? Untung saja dia baik-baik saja!"


“Apa menurut mu ada orang yang ingin melukai Megan? Atau jangan-jangan ada seseorang di balik ini!” jelas Jakson tak percaya, asal menebak.


"Mungkin saja!" ujar Davin juga tak yakin.


Seketika Jakson sama sekali tak peduli akan keadaannya, ia mulai ke pikiran akan situasi Megan sekarang ini. Dan pikiran bahwa Nadia yang ingin melukai Megan terlintas di benaknya, entah mengapa tiba-tiba hal itu terbayang, yang pasti ia mulai ragu tentang Nadia.


Hanya berlandaskan kecurigaannya bahwa Nadia ingin mencelakai Megan, Jakson juga mulai curiga, mungkin saja Nadia melakukan hal nekat seperti itu yang entah apa tujuannya.


“Jadi, kau tidak mengenal orang ini?” tanya Davin sekali lagi, yang sekarang memperlihatkan sosok itu, walau tampak samar di kamera dengan wajah yang tak jelas.


“Apa dia paparazi atau seorang penguntit..” tebak Davin, mungkin saja orang itu paparazi atau bahkan seorang penguntit yang mencari Jakson, tapi malah menemui Megan malam itu.


“Sepertinya tidak mungkin, jika dia penguntit pasti dia langsung menemuiku, bukannya malah datang pada Megan!” jelas Jakson yang membuat Davin terdiam berpikir.


“Yang kau katakan memang benar! kalau begitu aku lega, kau bukan yang dia inginkan!" jelas Davin mengambil kesimpulan, setidaknya Jakson akan baik-baik saja saat ia meninggalkan rumah ini bersama Megan.


"Aku sudah mendapat jawaban dari keraguanku! Kalau begitu kau beristirahatlah, terima kasih atas waktumu!” tutur Davin yang siap beranjak dari sana.


Jakson hanya menatap tajam, jelas ia masih penasaran akan sosok itu, pikirannya sekarang tertuju pada Megan dan orang yang di maksudkan Davin, mengapa orang itu ingin menyakiti Megan?, ataukah itu tidak di sengaja.

__ADS_1


“Dan ya.. Besok aku akan pergi bersama Megan! Terima kasih atas semuanya, ku harap ke depannya kita masih bisa bertemu dan jadi teman baik!” jelas Davin sebelum menutup pintu dan menghilang di baliknya.


Jakson masih mematung menatap pintu yang sudah tertutup. Entah mengapa ucapan Davin tadi sangat mengganggunya sekarang. Tampak ia mendesah kasar,mengacak rambutnya yang berantakan kemudian membaringkan tubuhnya memaksa matanya tuk terlelap dan berusaha tak memikirkan hal itu lagi.


“Jakson..” panggil Megan di depan pintu.


Jakson tak berkutik, “Mengapa sekarang suaranya terdengar di kepalaku” gumamnya yang berusaha terlelap, pikirnya ia sedang berhalusinasi mendengar sahutan namanya dari bibir Megan.


“Jakson!” panggil Megan lagi yang mulai mengetuk pintu dengan pelan.


Jakson membulatkan mata, duduk dari baringnya dan mempertajam pendengarannya.


“Jakson!” panggil Megan lagi yang mulai resah.


“Ternyata Megan di depan pintu!” gumamnya yang perlahan mendekat, membukakan pintu.


Krek ...


Pintu terbuka, Jakson langsung mengirim senyum pada sosok itu. Sontak Megan juga mengirim senyum walau sedikit kaku dan heran.


“Ada ap..” tanya Jakson yang terpotong saat ia melihat sosok Jasmine yang tepat di belakang Megan.


“Mama!” ujarnya.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama, tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2