
“A apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Megan terkejut, memecah ketegangan di antara dia dan Jakson sekarang ini.
Jakson menjauh, sungguh hal tak terduga bahwa Megan sadar di saat ia menatap lekat Megan di sana.
“A aku hanya..!” ujar Jakson mencari alasan logis.
“Di, di mana Nadia? Bukankah tadi dia di sini!” tutur Megan yang kerap bangun dari baringnya, memperbaiki semua pakaian dan juga perasaannya yang tak karuan.
“Dia, dia keluar sebentar!”
*
*
“Su sungguh memalukan, Jakson melihat ku tidur di sana! Aku tidak berbuat hal yang lebih memalukan lagi kan! Untung saja Sam segera datang, kalau tidak aku sudah pingsan menahan malu, apalagi harus berdua dengan Jakson dalam ruangan itu!” batin Megan yang kian menggebu jikala mengingat kejadian tadi.
Sekarang mereka akan kembali, di depan lift mereka menunggu cukup lama. Pada waktu yang sama, Devan dan sekretarisnya juga tiba di sana. Megan kembali terkejut, dengan sigap ia memakai selendang itu lagi agar wajahnya tak terekspos dan dilihat olah Devan.
“A ada apa, apa kau sakit?” tanya Jakson yang kian heran seketika melihat tingkah Megan yang terburu-buru membalut wajahnya dengan selendang itu.
“A aku.. Aku baik-baik saja!” ujar Megan.
“Selamat siang.. Bukankah ini bintang ternama kita!” sapa Devan yang tampak bercanda kemudian bergabung bersama rombongan Jakson menunggu lift.
“Aku pikir siapa yang menyanjungku, ternyata pak Devan dari Jione grup!” balas Jakson pula dengan nada sama.
__ADS_1
“Kau terlalu berlebihan, seperti dulu!” jelas Devan.
Ya, Jakson dan Devan saling mengenal. Mereka berada di kelas yang sama saat duduk di bangku SD. Bukan hanya mereka berdua tapi juga anak pebisnis ternama lainnya yang ada di kota ini. Sedari kecil mereka sudah di ajar untuk belajar bisnis sesuai harapan orang tua untuk melanjutkan pekerjaan keluarga.
“Ya begitulah! Kau juga masih sama!” balas Jakson.
“Keterlaluan, mengapa kau tidak hadir dalam pernikahanku!” jelas Devan.
Di depan mereka lift kian terbuka, bersamaan mereka memasuki lift. Dan Megan terus tertunduk dan berusaha mengambil posisi di sudut lift tapi Jakson malah menariknya hingga berada tepat di sisinya.
Sekuat tenaga Megan berusaha melepas tangannya, dan Jakson malah mengeratkan genggamannya, bahkan Jakson sudah lupa akan phobianya itu. Ia sudah nyaman menggenggam tangan Megan, dan tubuhnya juga tak merespon akan sentuhan itu. Megan tak melawan lagi, pasrah tangannya jadi tawanan Jakson, walau tampak ia tak nayaman dan sedikit malu.
“Pernikahan? Kau salah mengundang, kau kan mengundang keluargaku, bukan aku!” jelas Jakson di sela senyumnya menahan tawa dalam situasinya sekarang.
“Jakson ini.. Mengapa harus memegang tanganku, apa dia tidak tau kalau aku berusaha menghindari Devan!” batin Megan yang masih terduduk dalam.
“Sudahlah jangan ungkit itu lagi, aku harus tegar mendirikan bendera perlawananku padanya!”
“Semoga kau berhasil!” ujar Devan.
“Oh iya, mengapa kau tak hadir dalam reuni bulan lalu!” tanya Jakson.
“Hmm.. Malam itu aku punya masalah!”
“Masalah apa hingga kau melupakan temanmu!”
__ADS_1
“Te teman.. Pantas saja mereka tampak akrab!” batin Megan yang sedari tadi menyimak.
“Sudahlah, itu masa tergelapku karena harus melepas cintaku” tutur Devan.
“Sudah ku bilang jangan percaya cinta!” balas Jakson.
“Bukankah kau juga percaya!’’
“Itu bukan cinta!” jelasnya menolak kenyataan bahwa ia pernah mencintai seseorang.
“Hmm.. Terserah saja!”
“Ada apa dengan Jakson.. Apa dia lupa kalau Devan di depannya ini tak lain adalah mantan kekasih Megan?” batin Sam kian terdiam mengamatinya sedari tadi.
Sam dan Nadia tau bahwa Devan tak lain adalah mantan kekasih dari Megan, tapi tampaknya Jakson tak ingat sama sekali akan hal itu.
"Hei nona.. kita bertemu lagi, Jakson siapa nona ini?" tanya Devan saat sadar bahwa ada seseorang yang berdiri di samping Jakson. Di ingatnya wanita itu tak lain adalah wanita yang di temuinya tadi.
"Di dia asistenku Me.." ujar Jakson yang terhenti, tiba-tiba ia ingat akan foto Devan dalan lembaran data pribadi Megan sebelumnya.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama, tokoh, karakter, dan tempat saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.