
Pagi tiba, matahari mulai terbit menyapa bumi. Cahayanya kian menyelusup masuk dari sela tirai jendela menyilaukan mata Jakson yang tertidur lelap di depan monitornya.
Sedari tadi ponselnya kian bergetar, sudah tertulis 11 panggilan tak terjawab dari Nadia dan 13 pesan. Tak hanya Nadia Sam juga mengirimkan 16 pesan dan 18 panggilan tak terjawab.
Semalam Jakson mengirim pesan SOS pada dua temannya ini, ia kian merasa takut sampai-sampai tak bisa tidur, saat larut malam pun matanya masih mengawasi monitor, takut jikalau seseorang memasuki rumahnya.
Kringg.. Kringg.. Kringg..
Deringan jam weker kian bergema di kamar Jakson. Dengan sigap karena kaget ia langsung tersentak dari tidurnya dan tanpa sadar ia menendang kaki kursi yang membuatnya terjatuh.
“Aakkkk,” ringisnya seraya memegang kaki kananya yang terasa sakit, dengan perlahan ia memerjapkan matanya dari rasa kantuk.
“Aaa, apa semalaman aku tidur di kursi ini!” gumamnya kerap mengamati ruangannya seraya bangkit dan merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku.
Kring..kriing..
“Jam ini berisik sekali!” gerutunya dan dengan kesal ia mematikan jam itu.
“Sekarang sudah pagi saja?” ujarnya dengan nada lemah dengan mata masih belum terbuka lebar serta tangan yang sedari tadi menyelusup menggaruk perut dan dada bidangnya.
Jakson mendekat meraih ponselnya di atas meja dekat komputer, ia terbelalak saat mendapati banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari dua orang temannya ini.
“Mereka menelepon ternyata!” sambungnya kian membalas pesan beruntun itu.
*
*
“Apa dia sudah bangun ya!” seru Megan kian mengintip dari kamarnya menatap lekat pintu kamar Jakson.
Saat tersadar dari tidurnya ia terkejut mendapati dirinya di dalam kamar, jelas teringat di pikirannya semalam ia tidur di ruang tamu tepat di depan tv. Tentulah orang yang langsung teringat olehnya adalah Jakson, mengingat mereka hanya berdua di rumah besar ini.
__ADS_1
Tampak Megan mondar-mandir di dalam kamar, dari semalam ia ingin berbicara dengan Jakson tapi tak sempat. Ia mulai mempersiapkan kata yang akan di ucapkannya nanti. Dengan menarik nafas dalam Megan keluar dari kamarnya menghampiri kamar Jakson dan mengetuknya.
Tok.. Tok..
Mendengar ketukan itu, Jakson membuka pintu, ia heran mendapati Megan di sana, apa yang akan di dilakukannya, pikir Jakson.
“Anu.. Aku ingin bicara!” ujar Megan tampak gugup memulai pembicaraan dengan tertunduk dalam.
“Apa, bicaralah!” balas Jakson seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan bersandar di sisi pintu menunggu Megan mengucap kata.
“Aku harus memanggilmu apa? Kemarin aku tak sempat menanyakan siapa namamu!” ujarnya kian menatap malu-malu pada Jakson.
“What.. Apa benar kau tak mengenalku? Aku ini terkenal!” tanyannya dengan desahan lemah, secara dia adalah aktor terkenal mana mungkin Megan tak mengenalnya.
“Terkenal? aku tak mengenalimu sama sekali, makanya aku bertanya!” ujarnya polos tak tau.
“Kau benar tak tau siapa aku? apa kau tak punya tv sebelumnya?” ucap Jakson yang seakan tak percaya penuturan diri mulut Megan.
“Aku bisa lihat dari tampang mu! Tidak bisa di percaya, bahkan aktor setampan aku kau juga tak tau! Panggil aku Jk saja kalau begitu!” ujarnya membanggakan diri sendiri dengan mendekatkan wajahnya di depan Megan bersama dengan seringai tipisnya.
“JK! bukannya itu panggilan dari personil idol BTS!"
"Kau bilang tak suka menonton! dari mana kau tau JK panggilan salah satu member BTS, mereka dari korea selatan.. dan aku yang terkenal di indonesia saja kau tak tau!"
"Apa kau seterkenal itu?” ujar Megan yang tampak tak percaya.
“Haaa.. kau meremehkan aku ya!” jelasnya kerap tak terima ucapan Megan yang seolah mengejeknya.
“Baiklah-baiklah.. kita sudahi itu, aku ingin membalas budi atas pertolonganmu selama tiga bulan terakhir! Ta.. tapi aku..” ujar Megan kian serius yang juga tampak malu-malu.
“Tapi apa? Dan bagaimana kau membalas budi!” tanyanya dengan seringai tipis dengan gaya anggunnya.
__ADS_1
“Itu.. Aku..” ucap Megan malu-malu.
Ting tong.. Ting tong..
Suara bel berbunyi yang menghentikan mereka dari bincangan singkat.
“Siapa sih yang datang pagi-pagi begini!” ujar Jakson kerap menatap pintu dan bermaksud beranjak menghampirinya.
“Biar aku saja!” seru Megan seraya melangkah membukakan pintu pada sosok di baliknya.
Krekk..
Megan terkejut mendapati sosok Davin di sana, ia juga kerap menatap barang bawaan Davin yang begitu banyak.
“Davin!” ujarnya mempersilahkan sosok itu masuk.
“Selamat pagi Megan!” seru Davin dengan senyum ceria.
“Ohh, kau sudah datang!” seru Jakson yang kerap mendekat.
“Selamat pagi! mulai hari ini mohon bantuannya!” ujarnya dengan senyum.
“Haihhh, kemarilah, kamarmu ada di sana!” ujar Jakson seraya menunjuk salah satu kamar di lantai dua.
Kedatangan Davin tak lain dan bukan lain adalah untuk menjaga Megan dari pembunuh berantai yang masih dalam pengejaran mereka. Dan untuk itu, ia di tugaskan tinggal di sisi Jakson sebagai bentuk penyamaran dengan alasan menjadi bodiguard dari Jakson, tentu saja ini juga persetujuan dari Jakson sendiri. Kedatangan Davin adalah rahasia, dan hanya beberapa orang yang tahu akan hal ini.
To
Be
Continue
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.