Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 30


__ADS_3

Tibalah hari yang di tunggu-tunggu. Suasana rumah kian gaduh di pagi hari. Mereka kerap bersiap-siap menuju lokasi suting. Sudah seminggu lamanya mereka tak bekerja, dan hari sibuk ini pun tiba.


Dengan bergabungnya dua orang sekarang, mereka menuju lokasi suting dengan semangat. Mobil di setiri oleh Davin yang sebagai bodiguard Jakson sekarang, lengkap dengan setelan jas hitam bak malaikat maut dalam drama GoBliN.


Di kursi belakang pula duduk Megan merapikan beberapa aksesoris yang akan di kenakan Jakson nantinya.


Semalam, tepatnya Pukul 8 sesudah makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu. Di bahasnya mengenai kerja. Jakson yang secara profesional membimbing timnya akan apa yang dilakukan.


Ini juga baik untuk Megan jika ikut bergabung, setidaknya untuk menghindari pembunuh, karena tak mungkin akan muncul dalam keramaian.


“Jadi, sesuai dengan rencana sebelumnya, Davin jadi bodyguardku dan Megan sebagai asisten ku saja!” ujar Jakson.


“Aku..” gumam Megan heran, ia sama sekali tidak tau akan rencana ini.


“Terserah saja!” ujar Sam.


“Sudah di putuskan seperti ini! Tidak ada komplain kan!” seru Jakson lagi bertanya persetujuan dari beberapa pihak.


“Hmm..”


Tak selang waktu lama, mereka tiba di lokasi suting. Suasana gaduh tampak ramai di balik kaca mobil, lautan penggemar menunggu kedatangan Jakson di depan gedung pemotretan. Jakson belum membuka pintu, masih bersiap menghadapi lautan itu.


“Davin, kuserahkan padamu!” ujarnya mempercayakan dirinya pada bodiguarnya kemudian turun dari mobil.

__ADS_1


Baru saja Jakson memijakkan kaki, teriakan penggemar kian riuh meramaikan tempat. Banyak reporter yang juga mengambil posisi bersama lautan penggemar. Jakson menyunggingkan bibir, melambaikan tangan ke segala arah menyapa penggemarnya.


Sam turun dari mobil bersama Nadia dan Megan, sedangkan Davin memarkir mobil. Bersamaan mereka memasuki gedung. Tampaklah Megan ngeri melihat histerisnya para penggemar di kedua sisi yang hanya terhalang pagar setinggi pinggang.


“Ke mana saja aku selama ini? Aku tidak tau kalau Jakson adalah artis terkenal” batin Megan.


Di dalam gedung pula sudah siapa fotografer dan beberapa kru mempersiapkan segala keperluan untuk mengambil gambar. Seminggu yang lalu, Jakson mendapat tawaran untuk menjadi model majalah. Di Bawah naungan agensinya ia menerima tawaran itu. Dan kemarin malam ia juga di tawari bermain drama bergenre aktion, romans.


Sekarang ia masih memikirkan hal itu, menimbang kemauannya dulu, sanggupkah ia melakukannya. Mengingat ia tak pernah membintangi drama bergenre romans, membuatnya merasa tertantang. Apalagi menurutnya phobianya sekarang baik-baik saja.


Jakson, berada di ruang make up, Nadia memulai aksinya mendandani sang aktor. Megan hanya terdiam di sudut, ia sebenarnya tak tau harus melakukan apa karena ini bukan bidangnya.


Selagi Nadia sibuk, selagi itu pula Megan terdiam. Ingin ia membantu Nadia tapi tak kunjung mendapat perintah. Tampaknya Nadia lebih suka bekerja sendiri, pikir Megan dalam benaknya.


“Megan, bisa tolong ambilkan minuman untukku, apa saja?” serunya memberi perintah.


“Ba baik!” tegas Megan yang sedikit terkejut kemudian keluar dari sana mencari keberadaan camilan atau minuman.


“Hmm.. Dia pasti canggung berada di sini! Nadia.. kenapa kau tak membiarkannya membantu mu!” ujar Jakson dengan desahan.


“Bukankah dia asistenmu, aku tidak berhak memerintahnya!” balasnya.


“Hmm, setidaknya dia bisa membantumu! Sebagai asisten juga hanya formalitas saja!” balas Jakson.

__ADS_1


“Tidak perlu, aku lebih suka bekerja sendiri!” balas Nadia.


“Kau ini kenapa, bukannya kau sendiri yang mengatakan membutuhkan bantuan Megan sebelumnya!” jelas Jakson.


“Tidak lagi, setelah di pikir-pikir aku lebih suka bekerja sendiri!” balasnya ketus.


“Sudah selesai, aku keluar dulu, fotografer ingin membicarakan sesuatu denganku!” ujar Nadia berpamitan.


Tinggallah Jakson di ruang make up. Di salah satu ruangan pula, tepatnya ruang makan untuk staf, Megan bingung memilih camilan untuk Jakson. Mengingat Jakson berkata bahwa ia tak pilih-pilih, terpaksa ia mengambil beberapa camilan dan minuman kesukaannya.


Megan tergesa-gesa menuju ruang make up takut Jakson menunggu, mata keheranan pun tertuju padanya, tapi ia tak menghiraukannya. Bahkan Davin yang berjaga bersama Sam kian heran menatapnya.


Brak..


Megan membuka pintu sedikit kasar, ia berdiri di ambang pintu dengan tertunduk mengatur nafas. Megan menengadah, terkejut mendapati Jakson di sana bersama seorang gadis cantik dengan posisi yang begitu dekat. Ia salah paham, pikirnya dua sosok itu saling bercumbu mesra di sana.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.

__ADS_1


__ADS_2