
“Mama!” jelas Jakson terkejut tersenyum kaku.
“Ada apa? Mengapa kau tersenyum bodoh seperti itu!” tanya Jasmine yang mulai menginterogasi anaknya ini.
Tapi Jasmine tau alasan dari senyum Jakson barusan tak lain karena Megan. Pikirnya benih cinta sudah ada di antara mereka. Dan tentu saja ia merestui jika hal itu memang terjadi.
“Kenapa mama tidak menghubungiku kalau mama sudah tiba!” gerutu Jakson.
“Mama sengaja, mama pikir kamu sendiri di sini, ternyata ramai sekali!” jelas Jasmine menatap mata yang tertuju padanya dari arah ruang tamu yang tepatnya di sofa.
“Kalau begitu mama temani aku di kamar!” manja Jakson yang mulai.
Jasmine mendesah kasar, hal ini memang selalu di lakukan Jakson jika ia bertemu, tapi kali ini, ia ingin agar Jakson bisa lebih akrab dengan Megan.
Sebelum Megan jadi nyamuk di antara anak dan ibu ini, ia segera beranjak dari sana. Tapi Jasmine lebih dulu meraih tangannya, yang membuat Megan terkejut dan terhenti dari langkahnya.
“Nak Megan, tolong siapkan makanan yang saya bawa barusan!” suruhnya.
Jakson terkejut, “Mama kenapa menyuruh dia!” tegasnya bertanya.
“Kenapa, Nak Megan tidak keberatan kan?” sela Jasmine.
“Ti tidak tante!”
“Tapi ma, Megan bukan..”
“Tidak apa, aku tidak keberatan! Kalau begitu aku akan menyiapkannya!” sela Megan kemudian berlalu di antara anak dan ibu itu.
Tampak wajah Jakson masih mengikuti Megan, dan Jasmine menyadarinya, menyadari pandangan itu. Jelas terlihat bahwa anaknya mulai tertarik pada wanita itu.
__ADS_1
“Ehem ehem..” batuk Jasmine yang di sengaja, menghentikan Jakson dari tatapannya.
“Ayo masuk!” seru Jasmine menyeret Jakson masuk bersamanya ke dalam kamar.
“Mama ini, sebenarnya ada apa?” kesalnya.
“Ada apa kau bilang? Apa salah jika mama menjenguk anak sendiri!” tutur Jasmine membalas kesal.
“Bukan begitu, maksudku mama tidak perlu menyuruh Megan melakukan semua itu, dia hanya tamu di rumah ini, dan besok dia sudah akan pergi!” jelas Jakson tampak sendu di akhir kata.
“Megan akan pergi?” tutur Jasmine yang terkejut yang di balas anggukan pelan oleh Jakson.
“Bagaimana ini? Jika Megan pergi lalu anak ku bagaimana!” batin Jasmine berpikir, niatnya tak lain karena ingin mendekatkan Megan dan Jakson.
*
*
Nadia berusaha tak peduli, dan ingin memberikan ponsel itu pada Megan, tapi sebelum beranjak dari tempatnya ponsel itu berhenti bergetar. Nadia kembali duduk, pikirnya orang itu akan menelpon lagi nantinya. Nadia menatap walpaper ponsel itu, yang tak lain foto Megan dan Devan.
“Jadi benar pak Devan mantan pacar Megan?” batinnya.
“Tapi ... Mengapa waktu itu Jakson tak mengenali Devan di ponsel ini, bukankah mereka dekat!” sambungnya berpikir.
Karena sebelumnya Jakson sudah melihat walpaper ponsel Megan, dan Jakson sama sekali tak mengenali Devan di sana, padahal mereka ternyata saling mengenal, pikir Nadia tertegun dalam.
“Atau jangan-jangan karena masker ini, jadi dia tak mengenalinya!” tuturnya lagi, “Tapi, jika di bandingkan dengan Devan yang sekarang.. sungguh jauh berbeda!” sambungnya.
Ya, foto di walpaper itu adalah foto kapel yang di potret Karin saat SMA, Devan memakai masker serasi dengan Megan. Dan tepat sekali, waktu Jakson melihat foto itu, Jakson tidak tau kalau Devan yang di maksud adalah teman seruangannya di sekolah bisnis. Bisa di bilang Jakson cepat sekali melupakan hal yang tidak penting, orang yang ia temui, dan lagi kalau seorang wanita.
__ADS_1
Siap-siap Megan membawa beberapa makanan ke kamar Jakson atas perintah Jasmine tadi. Tapi sebelum itu, ia teringat akan ponselnya. Tanpa mengucap kata, Megan menyambar ponselnya yang tepat di samping Nadia kemudian berlalu menuju kamar Jakson.
Krekk ...
Pintu di bukanya tanpa mengetuk, Megan mengirim senyum memasuki ruangan itu. Perlahan mendekat dan mendaratkan nampan kecil yang di bawanya di atas meja, dan tanpa ia sadari ponselnya juga ikut mendarat di sana.
Sekali lagi Megan tersenyum, “Kalau begitu saya keluar dulu tante!” tutur Megan beranjak dari sana dengan sigapnya, tak ingin mengganggu.
Belum sempat Jasmine angkat bicara Megan sudah menutup pintu, padahal ia ingin agar Megan tetap di sini bersama anaknya.
Drrrttt ... Drrrttt ...
Ponsel Megan kembali bergetar. Mata Jasmine dan Jakson langsung tertuju pada ponsel itu.
Jasmine meraihnya, ia menyengitkan dahi menatapnya lantaran nomor itu tanpa nama. Ingin ia angkat panggilan itu, tapi sedikit ragu. Lama ia bimbang antara mengangkat atau tidak, dan dengan sigap Jakson memutuskan panggilan yang menurutnya mengganggu.
Panggilan terputus, Jasmine menatap tajam pada Jakson. “Apa, kenapa mama menatap ku begitu?” tanya Jakson.
Jasmine hanya terdiam kemudian menatap ponsel Megan, dan sungguh terkejut saat melihat walpaper ponsel itu.
“I ini siapa?” tanyanya yang menunjuk Devan di sana, memperlihatkan pada Jakson.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1