Serumah Dengan Aktor

Serumah Dengan Aktor
Chapter 47


__ADS_3

Jakson meringis sakit. Cepat-cepat ia berlari ke kamar mandi. Beberapa menit ia di dalam, dan perutnya masih sama. Setelah merasa sedikit baikan, ia keluar. Tampak wajahnya lesu tak karuan bersama keringat yang bercucuran, serasa dirinya sedang olahraga pagi.


“Se sebenarnya ada apa denganku?” gumamnya yang masih merasa sakit di perutnya.


Belum sempat ia duduk di sofa, perutnya kembali beraksi. Jakson sekali lagi berlari ke toilet dan memulai semedinya lagi.


Di sisi lain, Megan terbangun dari lelapnya. Kalau bukan cahaya matahari yang menyelusup masuk menyilaukan matanya mungkin saja ia tak akan bangun. Megan mendesah kasar lantaran masih terbayang akan kejadian semalam.


Megan menatap jam dinding, kemudian meraih ponselnya di atas meja. Sungguh, hari lelahnya juga akan di mulai. Setidaknya ini terakhir kalinya ia membantu Jakson, karena besok-besok ia sudah akan pergi bersama Davin.


Tringg ... Tringg ...


Nada deringan ponsel mengagetkan Megan, karena ponselnya sudah di tangan, Megan mengamatinya tapi bukan ponselnya yang berdering. Suara deringan kian bergema, dan ia dapati ponsel Jakson dalam balutan selimut di ujung ranjang.


“Ini ponsel Jakson?” yakinnya karena hanya Jakson yang semalam membawa ponsel ke kamarnya.


Ponsel kian bergetar di tangannya. Panggilan masuk atas nama Jasmine tersayang. Megan mulai berpikir, mungkin itu adalah kekasih atau orang terpenting Jakson. Dengan gugup dan malu-malu, Megan mengangkat panggilan.


“Hei anak tengik.. Kenapa lama sekali mengangkat panggilan?” ujar Jasmine yang langsung memberi semburan, pikirnya Jakson yang ada di sana.


Mendengar bentakan itu, Megan kian gugup antara bersuara atau tidak. Ia kenal akan suara ini, tak lain adalah ibu Jakson sendiri.

__ADS_1


“Ha halo tante!” ujar Megan gugup.


“Eeh.. I ini siapa ya?” tanyanya yang langsung berubah lembut dan mendayu.


Dengan nafas berat Megan siap menjawab, “I ini Megan tante!” jelasnya.


“Ohh ... Nak Megan! Tapi..”


“Ma maaf tante, ponsel Jakson tertinggal di kamar saya, ja jadi saya yang mengangkat! Ka kalau begitu saya akan mencari Jakson dan memberikan ponselnya!” sela Megan yang kian gelagapan, pikirnya Jasmine akan marah karena ia sudah lancang mengangkat panggilan dari ponsel Jakson. Megan siap-siap beranjak dari bidang empuknya, bermaksud mencari Jakson di kamar sebelah.


“Aaa ... nak Megan tidak usah terburu-buru, Kita saja yang bicara, boleh kan tante mengobrol sedikit dengan mu?” sela Jasmine. Ia penasaran ada apa sebenarnya sampai ponsel Jakson bisa berada di kamar Megan.


Insting detektifnya kian beraksi, Jasmine sudah siapa menanyakan semua tentang Jakson pada sosok ini.


“Tentu tidak!” yakin Jasmine setuju.


“Kalau begitu, mengapa ponsel Jakson ada di kamarmu?” tanya Jasmine yang mulai menginterogasi.


Megan semakin gugup, takut jika apa yang dikatakannya nanti membuat Jasmine salah paham. “I itu, semalam Jakson datang ke kamar saya! Dia minta bantuan agar saya beradu akting dengannya, dan saat kembali ke kamarnya dia lupa membawa ponselnya!” jelas Megan, harapnya penuturan itu dapat di terima Jasmine sehingga berhenti bertanya.


Tapi bukannya berhenti, Jasmine makin curiga, “Beradu akting? memangnya kamu bisa akting?”

__ADS_1


“Ti tidak!”


“Lalu.. untuk apa Jakson menyuruhmu jadi lawan aktingnya?”


“I ini hanya latihan tante, hanya latihan!”


“Hanya latihan? Tapi biasanya dia tidak suka berlatih akting dengan seorang wanita?”


“I itu, aku juga kurang tau!”


“Me Megan..” seru Jakson di luar pintu dengan nada lemah, ia datang mencari ponselnya karena ingin menelpon Jim untuk datang memeriksanya.


“I itu Jakson!” batin Megan, kemudian turun dari ranjangnya membukakan pintu pada sosok itu.


“He hei.. Ada apa? Kenapa wajahmu pucat sekali!” tanya Megan yang kian heran mendapati Jakson yang bersandar di sisi dinding, dengan wajahnya yang kian pucat bersama keringatnya yang bercucuran dan tangan masih memegang erat perutnya.


“A aku.. tidak tahan lagi, sa sakit!” gumamnya lemah dan langsung roboh dalam pelukan Megan.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2