Shattering Heart

Shattering Heart
(S3): Extra part 4 : Kisah Aleandra Elsie dan Ivan


__ADS_3

Extra part ini menceritakan Aleandra Elsie saudara kembarnya ibunya Lizzie sebelum menjadi kekasihnya, Ivan.


Madrid, Spanyol


"Aleandra mengerjap-ngerjapkan matanya ketika sinar matahari  menyinari matanya. Dilihatnya jam beker disamping tempat tidurnya sudah menunjukkan jam 10.00. Ia bangun dan meluruskan badannya sambil menguap Dengan mata yang masih mengantuk ia pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. ‘’Dingin,’’serunya. Setelah berganti pakaian dia pergi ke dapur dan makan pagi telah tersaji di meja makan.


’’Hmmm. Harum sekali."


"Ah Aleandra, kamu sudah bangun,’’kata Bibi Polina.


"Pagi Bibi Polina!"


"Pagi! Hari ini kamu sudah merasa lebih baik."


Aleandra menanggukan kepalanya. ’’Sebaiknya kamu segera makan dulu."


"Iya." Aleandra mengangguan kepalanya lagi.’’Masakanmu sangat enak."


‘’Tentu saja. Sekarang habiskan makananmu dulu."


Aleandra cepat-cepat menghabiskan makanannya tidak kurang dari sepuluh menit.


Ivan sedang menghadiri suatu pertemuan dengan relasi bisnisnya. Milla, sekretarisnya datang menghampirinya untuk memberikannya beberapa dokumen. Setelah selesai bekerja, Ivam masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi. Walaupun hari sudah malam dan saatnya untuk pulang, tapi dia tidak ingin pulang dulu. Akhirnya dia mengunjungi bar langgannya dan berada disana selama beberapa menit.


Setelah itu dia mengendarai mobilnya dan berhenti disebuah tepian aliran sungai di tengah kota. Iva berbaring di rerumputan sambil memandangi langit. Suara kereta api yang lewat di atas jembatan memecahkan kesunyian malam. Ivan bangun dan kemudian meninggalkan tempat itu. Ketika dia akan memasuki mobil, dia melihat sebuah kafe unik  di belakang pepohonan rindang.


"Sejak kapan ada kafe di sana? Sebaiknya aku besok ke sini dan mencoba untuk mendatanginya,’’gumam Ivan, lalu masuk ke dalam mobilnya dan  berlalu pergi.


🍀🍀🍀


Pagi hari yang cerah Aleandra pergi kursus violin dan hari ini dia akan melakukan pementasan ulang dan banyak pengunjung yang ingin menontonnya. Kesuksesannya bermain violin membuatnya menerima tawaran untuk pementasan selanjutnya. Aleandra dibantu dengan dua temannya Lena dan Marco mencarikan musik untuk pertunjukan berikutnya. Aleandra pun tertarik untuk mementaskan secara solo.


Bu Natasha, salah satu gurunya dan juga bibinya Ivan datang menemui Aleandra di gedung pertunjukkan.


"Aleandra."


"Bu Natasha, apa yang Anda lakukan di sini?’’


"Aku dengar kamu akan melakukan pertunjukkan lagi?"


"Itu benar."


"Aleandra, coba kamu mainkan violinmu."


Aleandra pun memainkan violinnya yang sangat merdu.


"Permainan violinmu sangat bagus "


"Selanjutnya kamu harus belajar sendiri dan sudah waktunya aku harus pergi."


Bu Natasha pergi meninggalkan gedung pertunjukkan dan tiba-tiba Bu Natasha merasakan kesakitan. Aleandra menjadi panik dan merasa cemas, tapi gurunya menyuruhnya untuk tetatp latihan dan tidak perlu mencemaskan dirinya.


Setelah gurunya pergi, Aleandra kembali melanjutkan latihannya. Hari sudah sore dan waktu latihan sudah berakhir. Aleandra pulang sendirian. Dalam perjalanan, Aleandra sangat mencemaskan keadaan gurunya, lalu dia memutuskan untuk menelepon Ivan.


"Aleandra, ada apa?"


" Maaf sudah menganggumu ,’’Kata Aleandra sambil berteriak.


"Sepertinya kamu dalam keadaan yang sangat sehat. Ada apa meneloponku? Pasti ada yang penting  yang ingin kamu bicarakan denganku."


"Itu benar. Aku mengkhawatirkan Bu Natasha dia terlihat sangat lemah dan wajahnya sangat pucat, tadi dia merasakan kesakitan di jantungnya."


"Baiklah, aku akan segera memanggilkan dokter untuknya."


"Terima kasih."


"Apa kamau masih ada di sana?’’


"Eh i..iya, Maaf. aku harus segera pergi."


Aleandra langsung menutup teleponnya.


Ivan keluar dari kantornya lebih awal dan segera memakai jasnya. ’’ Milla, aku mau pulang sekarang. Pekerjaanku sudah selesai, kalau ada apa-apa hubungi aku saja."


"Baik."


Iva mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, karena dia sudah memerintahkan seseorang untuk membawa bibinya ke rumah sakit.


"Bagimana keadaan Bibi?’’


"Rupanya kamu. Sekarang aku merasa lebih baik."


"Itu bagus karena dia sangat mengkhawatirkanmu."


"Dia ? Siapa?’’


Ivan tersenyum. ‘’Siapa lagi kalau bukan murid kesayangan Anda, Aleandra."


"Aku baik-baik saja."


"Itu bagus."


" Aku harus segera pergi dan semoga cepat sembuh."


Ivan pergi dari kamar. Dengan langkah-langkah panjangnya yang cepat Ivan sudah berada di pelataran parkir rumah sakit. Langit sudah berubah menjadi oranye dan dia segera pergi. Di persimpang jalan, Ivan tiba-tiba membelokkan arah mobilnya, karena dia teringat dengan sebuah kafe unik di dekat jalan tepi pinggiran sungai. Dia memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju kafe itu.


Suara bel pintu berbunyi. Criiiiiinggg!


"Selamat datang !’’


Ivan dapat mencium aroma manis dari kafe itu dan juga aroma kopi. Dia mengambil tempat duduk di pinggir jendela. Kafe yang  dipenuhi oleh permen-peremen dan juga kue-kue yang sangat manis. Ivan merasa dirinya sekarang berada di rumah kue asli. Seorang pelayan perempuan membawakan secangkir kopi dan juga kue-kue kering berlapis coklat. ’’Terima kasih."


Sore ini suasana kafe terlihat sepi hanya dirinya satu-satunya pengunjung yang ada di sini."


‘’Jarang sekali ada pengunjung yang datang pada jam seperti ini."


Ivan segera menoleh ke asal suara itu.


"Eh."

__ADS_1


"Saya Lina Geladriel pemilik kafe ini,’’Kata wanita muda itu. Wanita itu berpakaian mengenakan gaun biru muda berlengan panjang dan rambutnya hitam lurus.


"Oh tadi apa maksud Anda kalau jarang sekali ada pengunjung yang datang ke sini pada jam seperti ini."


"Biasanya jam seperti ini kafeku tidak dikunjungi orang, karena aku memasang pengumuman di depan setiap jam 5 sore kafe ini tidak menerima tamu, tapi Anda tetap masuk ke sini."


‘’Maafkan saya. Saya tidak membaca pengumuman itu,’’kata Ivan dan dirinya merasa malu.


"Itu tidak apa-apa. Karena Anda sudah masuk ke sini dan kami tidak bisa mengusir tamu yang sudah memasuki kafeku. Mungkin Anda adalah tamu spesialku. Sepertinya ini baru pertama kalinya Anda datang kemari."


"Itu benar. Kemarin malam secara tidak sengaja aku melihat kafe ini dan aku bermaksud untuk datang pada keesokan harinya."


"Pantas saja, karena aku belum pernah melihatmu sebelumnya di sini."


"Kafe Anda sungguh bagus dan unik, aku jadi merasa berada di dalam rumah kue yang asli."


‘’Terima kasih sudah menyukai kafeku. Aku sengaja membuatnya seperti supaya dapat menarik anak-anak dan orang dewasa untuk datang kemari. "


Iva kembali meminum kopinya.


‘’Sepertinya aku melihat ada kesedihan di mata Anda."


"Eh."


"Maaf kalau aku bicara lancang dan tidak sopan, tapi mata Anda benar-benar memancarkan kesedihan. Apa ini karena cinta?’’


‘’Kenapa Anda bisa tahu?’’


‘’Aku bisa melihatmu jauh kedalam dirimu. Pasti cinta bertepuk sebelah tangan bukan?’’


"Benar. Aku mencintainya, tapi dia membenciku, bahkan dia tidak ingin berdekatan lama-lama denganku."


Ivan melihat ke arah luar jendela dengan tatapan kosong.’’Seandainya saja aku bisa berada lebih dekat dengannya lebih lama kelihatannya menyenangkan."


Ivankembali meminum kopinya.‘’Jadi keinginan Anda adalah ingin berada dekat dengannya? ‘’


"Benar."


‘’Kalau begitu saya akan membuat Anda  berada sangat dekat dengannya."


"Eh, apa maksud Anda?’’


"Wanita itu tersenyum. ’’Kamu sangat mencintainya. Kenapa kamu tidak ungkapkan saja perasaanmu kepadanya?’’


‘’Aku ingin sekali, tapi aku takut di tolak olehnya. Selain itu dia masih duduk dia masih remaja. Aku bermaksud untuk menunggunya sampai dia dewasa."


"Ternyata masalah cinta Anda rumit juga."


"Ah maaf, kenapa aku menceritakan semua ini padamu."


"Tidak apa-apa."


Lina berdiri dan dia membuatkan minuman untuk Ivan. ‘’Ini minumlah!’’


"Aku tidak memesan ini."


"Terima kasih."


Ivan melihat cairan berwarna kuning menyala.’’Minuman apa ini?’’


‘’Itu minuman teh buatanku rasanya sangat enak dan dapat menenangkan pikiran."


Sebelum meminumnya Ivan mencium aroma teh itu. ’’Sangat wangi."


Tanpa ragu-ragu lagi Masumi meminumnya dan ternyata rasanya sangat enak dan juga menghangatkan badan. ‘’Bagaimana?’’


"Rasanya sangat enak. Apa nama minuman ini?’’


"Eternal Love."


"Baru kali ini aku mendengar ada nama minuman seperti itu. Nama yang aneh untuk sebuah minuman."


Ivan kembali meminumnya sampai habis.


‘’Aku harap semoga cinta Anda mendapat balasan dari gadis itu."


Ivan tersenyum lemah.


"Mudah-mudahan saja."


Ivanmelihat jam tangannya.’ ’Sepertinya aku harus segera pergi, terima kasih atas jamuan Anda yang begitu menyenangkan."


"Tuan hati-hatilah di jalan!’’


Ivan akhirnya meninggalkan kafe itu dan Lina tersenyum misterius. ’’Semoga Anda berhasil meraih cinta gadis itu,’’gumamnya.


"Apa ini tidak apa-apa pria itu meminum minuman yang  Anda berikan tadi?’’


"Tentu saja dia akan baik-baik saja, Lilibeth. Sekarang kamu tutup kafenya."


"Baik Nyonya Lina."


Wanita itu pergi ke belakang kafe dan keluar dari pintu dapur, lalu ia menyebrangi halaman kafenya dan kemudian dia masuk ke dalam rumahnya.


Ivan masih mengemudikan mobilnya, entah kenapa sekarang pikirannya menjadi lebih tenang dan rileks.’’Apa ini karena minuman yang diberikan wanita itu?’’


Wanita yang misterius pikirnya. Sesampainya di rumah Ivan merasa mengantuk dan langsung  menghempaskan dirinya ke tempat tidur tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Dalam hitungan detik Ivan sudah tertidur lelap.


Cit...cit...cit


Suara burung berkicau di pagi hari dan sinar matahari mulai masuk disela-sela tirai jendela. Ivam mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu meluruskan badannya dan dalam keadaan masih mengantuk dia pergi ke kamar mandi. Dia membasuh mukanya dengan air dingin, lalu ketika dia melihat dirinya di cermin. Matanya terbelalak kaget.


Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk!"teriaknya.


Seluruh rumah dikagetkan oleh teriakan Ivan. Para pelayan dan Ayahnya berdatangan ke kamarnya. ’’Tuan Ivan, Anda tidak apa-apa?’’tanya pelayan.


Diketuknya pintu kamar, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Para pelayan saling memandang satu sama lain.


"Sebaiknya kita masuk saja ke kamarnya,’’kata Denis, ayah Ivan. Plan-pelan Denis membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Tuan IvanAnda ada di mana?’’


Pintu kamar mandi terbuka. Ivan keluar dari kamar mandi dengan perlahan-lahan. Bai Denis, dan para pelayan sangat terkejut dan menutup mulutnya. Denis pun hampir terkena serangan jantung.


🍀🍀🍀


Satu minggu kemudian


Aleandrasudah siap untuk pergi ketempat kursusnya. Dengan semangat Aleandra menghabiskan makan paginya. "semoga pertunjukkannya berhasil. Aku akan datang menontonnya,’’kata bibi Polina.


"Aku juga,’’kata Marina, ibunya.


"Kami semua akan datang,"kata Michael, ayahnya


‘’Terima kasih. Aku tunggu kedatangan kalian di sana."


Para murid lainnya sudah mulai mengantri masuk ke dalam gudang dimana Aleandra akan melakukan pertunjukkan musik. Aleandra begitu terkejut ketika penontonnya sangat banyak.


’’Sebaiknya sekarang kamu bersiap-siap dulu. Sebentar lagi pementasan akan segera di mulai. Kali ini penontonnya sangat banyak bukan? Pasti kamu terkejut iya kan?’’kata Rose, temannya.


"Benar. Aku tidak menyangka penontonnya akan sebanyak ini. Sebaiknya aku bersiap-siap dulu."


Aleandra pergi dengan berlari. Beberapa menit kemudian pertunjukkan dimulai. Dari awal sampai akhir para penonton dibuat kagum oleh permainan violin yang sangat bagus. Gemuruh tepuk tangan memenuhi gedung.


"Aleandra, tadi kamu benar-benar melakukannya sangat baik,"kata Rose.


‘’Benarkah?’’


Kedua temannya menganggukan kepalanya.’’Syukurlah !’’


"Kamu pantas mendapatkannya’’ujar Rose.


Alesndra pun berlari keluar gedung, lalu bertemu dengan orangtua dan teman-teman lainny .’’Aleandra, pementasanmu tadi sangat bagus,"kata Marina


"Terima kasih, Bu."


Mereka mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah. Marina melihat kedatangan Milla dan segera menghampirinya.


"Aku ingin bertemu dengan Aleandra."


"Akan kupanggilkan Aleandra."


Marina berjalan mendekati Aleandra.’’Ada yang ingin bertemu denganmu?’’


"Siapa?’’


‘’Nona Milla, sekretaris Ivan."


Aleandra berdiri dan mendekati Milla.


"Alewndra, bagaimana kabarmu?’’


"Aku baik dan Anda?’’


"Aku juga baik. Kedatanganku ke sini atas perintah Ruan Ivan untuk memberitahukan bahwa Bu Natasha menerima perawatan di runah sakit terbaik. Berkat dokter yang dipanggil Tuan Ivan keadaan Bu Natasha sudah menjadi lebih baik. Sekarang kamu tidak perlu khawatir lagi."


"Benarkah?’’


"Tuan Ivam selalu menepati janjinya. Aku tidak ingin menganggumu lagi. Permisi."


Milla keluar dan Aleandra mengejarnya.’’Nona Milla tunggu!’’


"Ada apa lagi ?’’


"Aku ingin berterima kasih ke padanya, apa hari ini dia ada di kantornya?’’


:Sayang sekali hari ini dia tidak masuk kantor sebenarnya sudah  satu minggu dia tidak datang ke kantor."


"Eh , kenapa?’’


‘’Kalau itu aku juga tidak tahu. Aku hanya di beritahu oleh ayahnya kalau Tuan Ivan sedang pergi ke luar negeri."


"Oh begitu."


"Kalau tidak ada yang ingin kamu tanyakan, aku pergi."


Milla masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi.


"Tuan Ican telah memenuhi janjinya padaku. Dia benar-benar memenuhi janjinya, tapi akhir-akhir ini kenapa dia jadi baik ya,’’Pikirnya.


🍀🍀🍀


Denis berada di halaman belakang rumahnya sambil memberikan makanan pada ikan-ikannya. Bagaimana keadaan Ivan sekarang, apa dia masih mengurung diri di kamar?’’


"Sepertinya begitu."


"Dia pasti masih shock dengan keadaannya sekarang. Sudah beberapa hari ini dia tidak mau pergi ke kantor. Dia hanya bekerja di dalam rumah saja dan menyuruh Milla untuk selalu mengantarkan dokumen ke sini."


"Apa yang akan Anda lakukan sekarang?’’


‘’Sepertinya aku harus mencari orang untuk mengawasi perusahaab dan membiarkan Ivam untuk sementara ini bekerja di rumah."


"Kita sebaiknya memberikan sedikit waktu untuknya untuk beradaptasi dengan kondisinya sekarang."


"Aku akan mengumumkan pada para staff perusahaan kalau Ivan sedang pergi kelaur negeri mengurus beberapa pekerjaan di sana dalam batas waktu  yang tidak ditentukan. Aku sudah menyiapkan rapat untuk besok."


"Semoga masalah ini cepat berlalu,’’kata pelayannya.


Denis tersenyum geli. ’’Kamu tahu setiap aku memikirkan tentang Ivan sekarang ini, entah kenapa aku ingin selalu tertawa. Anak itu sudah membuat hal yang tidak pernah terduga dan ini di luar logika kita. Baru pertama kalinya aku menemukan hal yang seperti ini."


" Aku juga. "


Mereka berdua tersenyum geli memikirkan keadaan Iva saat ini.


 Sore harinya Aleandra berjalan di tengah-tengah salju yang turun dengan lebatnya. Uap putih keluar dari mulut dan hidungnya. Sesekali dia meniup kedua tangannya agar terasa hangat. Tanpa dia sadari, dirinya telah berada di perusahaan Ivam dan Aleandra melihat gedung itu tepatnya ke arah jendela kantor Ivan.


’’Aku ingin bertemu dengannya untuk mengucapkan terima kasih, tapi sayangnya hari ini dia masih tidak masuk kantor mungkin beberapa hari lagi aku akan menemuinya,’’gumamnya.


Aleandra kembali melanjutkan perjalanannya lagi. [ ]

__ADS_1


__ADS_2