
Ophelia berbaring di tempat tidurnya dengan mata terpejam, ia berusaha untuk tidur, tapi kejadian itu selalu membayangi dirinya.Saat itu ketika ia hendak pulang beberapa menit sebelum ia keluar dari gerbang rumah majikannya terlihat api yang berkobar-kobar dari dalam rumah. Ia segera masuk dan asap sudah mulai memenuhi segala penjuru rumah .
Ia mencari-cari tuan dan nyonyanya untuk menyelamatkannya, tapi ia terlambat, nyonya Aleandra mengalami luka berat, terjatuh dari tangga. Darah mengenang di lantai. Ophelia mengira Aleandra telah meninggal, lalu ia mencari Tuan Dimitri dan melihatnya sedang bicara dengan seorang pria dan menyerahkan Lizzie kepadanya.
Pria itu pergi dengan cepat sambil membawa Lizzie.Ia tahu pria itu, karena sudah melihatnya beberapa kali tidak sengaja ketika Tuannya bertemu di halaman belakang secara diam-diam dan sempat mendengar namanya. Sebuah balok besar menghantam dirinya. Suara ketukan mengejutkannya.‘’Masuk!’’
"Kenapa ibu belum tidur?’’
"Ibu tidak bisa tidur."
"Apa ibu masih memikirkan kejadian itu?"
"Benar.Ingatan itu tidak bisa dihilangkan begitu saja. Kenangan paling buruk sepanjang hidupku.’’
"Aku harap cucu Tuan Sergei segera ditemukan dan semoga saja masalah ini cepat selesai."
"Milly, aku sangat lega kalau kamu selamat dari kebakaran rumah itu. Seharusnya waktu itu ibu tidak menyuruhmu untuk datang."
"Tidak apa-apa. Kejadian itu di luar dugaan kita. Aku akan membawakan sup krim ayam buatanku untuk ibu. Aku akan segera kembali."
Ophelia masih ingat sejak kejadian itu Milly, anaknya merasa ketakutan dan terus-menerus menangis. Ia seharusnya tidak berada di sana. Kadang-kadang rasa penyesalan dalam dirinya kembali hadir ketika menyuruh anaknya datang pada malam kejadian itu untuk mengambilkan baju hangatnya yang tertinggal di Romanov mansion.
🍎🍎🍎
Lizzie pulang ke rumahnya dengan wajah cemberut dan tidak dapat menyembunyikan kesesalannya. Ia pun membanting tasnya ke lantai, lalu duduk dengan menyilangkan kedua lengannya.’’Kanu kenapa?’’tanya ibunya.
"Aku kesal. Tidak...tidak...aku sangat...sangat kesal."
"Pada siapa?’’
"Pada pria yang aku temui di jalan dalam perjalanan pulang. Pria itu hampir menabrakku."
"Apa kamu baik-baik saja?’’tanya ibunya dengan perasaan cemas yang mulai mengelayuti dirinya.
"Aku baik-baik saja bu. Hanya saja pria itu sangat menyebalkan."
"Siapa pria itu?’’
"Eh, aku lupa lagi siapa namanya.Vla..ah aku lupa lagi namanya. Dia adalah anak laki-lakinya Tuan Nicola Kalashnikov. Sikapnya tidak seperti ayahnya sangat jauh berbeda, meskipun ia sudah meminta maaf padaku, tapi tetap saja aku merasa kesal."
Ibunya tersenyum, baru kali ini ia melihat putrinya begitu kesal pada seseorang.’’Sebaiknya sekarang kamu mandi. Sebentar lagi makan malam siap."
"Baik.:
Setelah makan malam pun perasaannya tidak membaik, Lizzie tidak mengerti dengan dirinya biasanya kalau ada orang yang membuat kesal dirinya, ia akan segera melupakannya, tapi kali ini tidak.’’Untung saja aku tidak ingat namanya."
Akhirnya Lizzie berusaha kembali berkonsentrasi mengerjakan tugas sekolahnya meskipun bayangan wajahnya pria yang sedang menatap dirinya dengan tatapan mengejek itu kembali terlihat dan tanpa sadar Lizzie mematahkan pensilnya.
🍎🍎🍎
Suara pecahan piring begitu nyaring di tengah sepinya malam.Milly berhasil menahan tubuhnya di pinggiran meja ketika kepalanya tiba-tiba merasa pusing.Berbagai macam potongan ingatan yang bagaikan puzzle berdatangan secara bertubi-tubi tentang peristiwa kebakaran Romanov mansion yang selama ini ia lupakan. Sejak kejadian kebakaran itu Milly mengalami trauma hebat di kepalanya dan ia mengalami amnesia sebagian.
Milly tersentak kaget ketika menyadari sesuatu setelah beberapa potongan ingatan hadir dalam kepalanya.Ia hanya berdiri mematung tidak mampu bergerak. Bibirnya bergetar hebat dan rasa takut memancar dari wajahnya. Keringat dingin mulai keluar dari dahinya.
‘’Ini tidak mungkin. Aku tidak percaya kalau orang itu yang menyebabkan Tuan Dimitri dan nyonya Aleandra hampir meninggal. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sebaiknya aku diam saja dulu. Aku tidak ingin orang itu tahu rahasia besarnya. Selama ini aku tinggal begitu dekat dengannya."
"Milly....Milly."
Suara ibunya kembali menyadarkan dia dan segera pergi ke kamarnya.’’Ada apa bu?’’
"Apa yang terjadi?’’tanya ibunya cemas.
"Tidak ada apa-apa, tadi tidak sengaja aku memecahkan piring."
"Syukurlah, ibu kira sesuatu yang buruk sedang terjadi."
"Semuanya baik-baik saja. Sebaiknya ibu kembali tidur. Maaf sudah membangunkan ibu."
Milly kembali menyelimuti ibunya dan menemaninya sebentar sampai benar-benar tertidur.Tapi pikirannya kembali melayang dengan kenyataan kalau ia tahu siapa pelaku dari pembunuhan Tuan dan Nyonyanya. Sekarang ia tahu kalau Irvin Fretzie sama sekali tidak bersalah, ia hanya dituduh dan dijadikan sebagai pelampiasan kesalahan orang itu.
__ADS_1
Milly berpikir seandainya orang itu mengetahui tentang rahasianya, ia yakin hidupnya bersama ibunya akan dalam bahaya dan mungkin saja orang itu juga tidak segan-segan membunuhnya. Milly menjadi merinding ketika ia harus memikirkan hal itu, tapi di luar sana ada orang yang dituduh. Sesaat hatinya mulai bimbang. Tidak lama terdengar dengkuran pelan dari ibunya. Pelan-pelan ia keluar dari kamar ibunya menuju kamarnya.
🍎🍎🍎
Lizzie bangun dengan wajah ceria, karena ia semalaman bermimpi indah mengenai sahabatnya, Fanya. Ia dan Fabya bermain di atas bukit yang dipenuhi oleh bunga-bunga narcisus, bermain dan bernyanyi.Ia sudah tidak sabar ingin segera bermain bersamanya lagi dan ia berharap Fanya akan segera sembuh. Hari-harinya disekolah tanpanya membuat Lizzie merasa sedikit kesepian walaupun di sana banyak teman-teman lainnya.
Keindahan di pagi hari membuatnya tergoda untuk keluar kamar secepatnya, setelah berpakaian ia langsung turun dan berlari keluar rumah. Udara yang masih terasa dingin dan sangat sejuk menyentuh kulitnya, Lizzie menari-menari menyambut datangnya pagi. Perlahan-lahan sinar keemasaan mulai muncul dibalik langit. Semakin lama matahari semakin menampakkan dirinya. Matahari pagi dimusim gugur telah menghangatkan kembali hatinya.
"Selamat pagi semuanya!’’teriaknya pada alam.
Lizzie pun berjalan-jalan sebentar melihat suasana desanya di pagi hari. Ia sudah lama tidak melakukannya, karena selama ini ia selalu bangun agak siang dan tidak pernah lagi melihat kegiatan orang-orang desa melakukan kegiatannya di pagi hari.
Tidak jauh dari pandangannya seseorang telah menggembalakan domba-dombanya. Ia tahu milik siapa itu. Ia pun teringat pada saat musim panas lalu, ia hampir saja menghilangkan domba milik Tuan Andrews. Lizziei berjalan sambil bersiul dan ia pun jatuh terduduk. "Sakiiitt....’’
"Nona tidak apa-apa?’’
Lizzie melihat uluran tangan seorang pria dan ia meraihnya, lalu mulai membersihkan pakaiannya. Pria asing itu tersenyum kepadanya dan entah kenapa ia pernah merasa mengenalnya.’’Aku tidak apa-apa."
"Syukurlah."
Pria itu tersenyum lembut dan membuat Lizzie merasa nyaman.
"Maaf tadi saya sudah menabrakmu."
"Tidak apa-apa. Ini juga salahku tidak melihat ada orang yang berjalan di depanku. Aku tadi terlalu larut melihat keindahan desa di pagi hari."
"Kamu gadis yang baik dan juga cantik."
Wajah Lizzie bersemu merah. Baru kali ini ada orang yang memujinya seperti itu selain ayah dan ibunya.’’Namaku Lizzie dan Anda?’’
"Ivander Armaturov."
"Senang berkenalan dengan Anda Tuan Arnaturov.’’
Lizzie mengulurkan tangannya, lalu Ivander meraihnya tanpa ragu.’’Panggil saja aku, Ivander!’’
"Tentu."
Lizzie merasa tidak takut kepadanya sebaliknya ia merasa nyaman berada disisinya meskipun ia baru pertama kali bertemu dengannya.Ibunya telah memperingatkan dirinya supaya tidak sembarangan berteman dengan orang asing yang tidak dikenalnya apa lagi orang yang berasal dari luar desanya.
‘’Apa yang sedang Anda lakukan disini? Sepertinya aku belum pernah melihat Anda sebelumnya disini?’’
"Aku sedang berjalan-jalan disini menikmati udara pagi meskipun cuaca sangat dingin . Ini mungkin dapat membantuku dari rasa sakit kepala yang terus menerus menyerangku beberapa hari terakhir ini dan juga dari mimpi burukku.Beberapa hari yang lalu aku dan istriku pindah ke desa ini, karena desa ini adalah kampung halamannya."
"Itu buruk. Anda harus banyak istirahat."
Lizzie menatapnya dengan cemas.
"Terima kasih atas perhatianmu. Kamu tahu, aku rasa kamu adalah gadis yang sangat menyenangkan."
"Benarkah?’’
"Benar. Aku harap suatu hari nanti kita akan bertemu denganmu lagi."
"Kalau Anda mau kita bisa bertemu lagi. Anda tinggal dimana?’’
"Rumahku berada di balik hutan birch. Apa kamu tahu rumahnya?’’
"Aku tahu. Rumah indah yang berada di balik hutan birch meskipun rumah itu sudah agak kelihatan tua. Tapi rumah itu memiliki taman yang indah."
"Bagaimana kalau besok aku mengundangmu untuk minum teh di sana dan juga sekalian ajaklah temanmu."
Mata Lizzie berbinar senang.’’Oh benarkah itu? Aku sangat senang. Tapi sayang aku tidak bisa mengajaknya datang bersamaku, karena sahabatku itu sedang sakit demam."
"Sayang sekali."
"Padahal aku sangat ingin mengajaknya pergi."
Ivander mengusap-usap kepalanya dengan lembut.’’Lain kali saja kamu boleh mengajaknya datang ke rumahku."
__ADS_1
"Pasti akan kulakukan. Terima kasih Ivander!"
Lizzie memeluknya erat.
"Apa ibumu tidak mencemaskanmu berada di sini terlalu lama?’’
"Ups....Anda benar. Tadi aku tidak memberitahu ibuku pergi keluar rumah. Pasti ibu sekarang akan sangat marah padaku. Bagaimana ini?’’
"Sebaiknya kamu pulang saja. Jangan membuat ibumu bertambah marah."
"Baiklah. Aku pulang sekarang. Sampai jumpa besok! Senang bisa bertemu dengan Anda disini."
"Aku juga."
Lizzie berlari menuju rumahnya. Ia sudah siap jika harus menerima kemarahan ibunya.Antonina telah berdiri di ambang pintu dengan tatapan marah. Lizzie tahu sebentar lagi ia akan dimarahi dan mungkin akan menerima hukuman.Selama hampir setengah jam ia harus mendengarkan semua perkataan ibunya dan dari mulut kecilnya hanya keluar kata-kata maaf.
Antonina tiba di dapur sambil mendesah. Suaranya hampir habis, karena memarahi Lizzie yang pergi tanpa izin lebih dulu. Suaminya dengan santai sedang membaca koran.’’Aku rasa kita harus segera mencari pengasuh untuk Lizzie."
"Pengasuh?’’tanya suaminya agak terkejut.
"Benar pengasuh."
"Tapi untuk apa? Bukankah anak kita sudah besar dan tidak perlu seorang pengasuh lagi."
"Itu benar, tapi semakin dia besar aku semakin kewalahan mengawasinya setidaknya kalau ada pengasuh disampingnya. Hatiku akan sedikit merasa tenang. Lagi pula minggu depan kita akan pergi ke Moskow untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatmu bukan? Dan kita akan menginap di sana selama satu hari, jadi kita perlu seseorang untuk bisa menjaganya."
"Mungkin kamu benar. Terserah kamu saja sayang. Carilah pengasuh yang baik dan dapat dipercaya."
‘’Aku tahu. Nanti siang aku akan pergi ke penerbitan lokal dan membuat iklan di sana. Siapa tahu akan ada orang yang berminat untuk menjaga Lizzie untuk sementara."
🍎🍎🍎
Milly membawakan sarapan pagi untuk ibunya di kamar dengan wajah ceria seceria mentari pagi ia membawakan sebuah nampan besar berisikan makanan kesukaan ibunya. Ia berusaha untuk tidak memasang wajah cemas di wajahnya dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa tentang kembalinya ingatannya di masa lalu.
Ibunya menyambutnya dengan wajah yang tidak kalah cerianya dan membuat hati Milly merasa lega dan juga terasa hangat. Ia duduk di samping tempat tidurnya menemaninya makan. Wajah pembunuh itu selalu terbayang dalam ingatannya begitu kuat . Kalau ia bisa memilih lebih baik sama sekali tidak ingat. Sambil memperhatikan ibunya makan, ingatan Milly tidak bisa dicegah kembali mengingatnya saat-saat ia berada dekat dengannya.
Bagaimana kehidupannya dulu bersama orang itu dan juga keluarganya. Ia sama sekali tidak menyangka orang yang selama ini ia hormati dan keluarganya begitu baik kepadanya adalah seorang pembunuh kejam.Setelah ia pikirkan dengan baik, Milly merasa lega, karena ia telah berada jauh dari pembunuh itu.
"Milly...Milly...’’
"Ah, ada apa bu?’’
"Kamu kenapa? Sejak dari tadi ibu perhatikan kamu seperti sedang memikirkan sesuatu. Apa kamu sedang ada masalah ?’’
"Ti..tidak ada apa-apa. Hanya saja...hanya saja aku merasa bosan di rumah dan ingin mencari pekerjaan." Ia mendesah telah membohongi ibunya.
"Carilah!’’
"Eh...’’
"Carilah pekerjaan yang kamu inginkan. Ibu senang jika kamu kembali bekerja."
"Tapi kalau aku kerja, bagaimana dengan ibu?’’
"Aku akan baik-baik saja. Ibu masih mampu mengurus diri sendiri, jadi jangan khawatirkan ibu."
"Aku akan mencari pekerjaan yang tidak menyita waktu sehingga aku dapat mengurus ibu juga."
"Kamu anak yang baik Milly."
Wajah Milly terasa hangat ketika telapak tangan ibunya menempel di pipinya. Milly pun memeluk tangan itu di wajahnya dan merasakan kehangatannya.
Ia pun segera membereskan bekas makan ibunya dan cepat-cepat pergi ke dapur.Ia berdiri melamun di depan bak pencuci piring dan pandangan mata abu-abunya menerawang entah kemana. Tangan kanannya mengenggam sebuah liontin yang terkalung di lehernya dan terasa sangat dingin saat ia mengenggamnya.
Liontin pemberian ibunya 10 tahun yang lalu sebagai hadiah ulang tahunnya, karena sebelumnya liontinnya telah hilang entah dimana.
Ophelia duduk di kursi goyang di depan jendela kamarnya sambil merajut dan ia melihat seorang pria melintas di depannya, seketika jari-jarinya yang telah lihai merajut langsung berhenti. Jantungnya berdegup dengan kencang.Ia hampir tidak mempercayai matanya yang sudah tua.
’’Tidak mungkin...Ini tidak mungkin dia. Ivander Armaturov,"gumamnya, lalu ia segera meraih telepon dan menelepon Tuan Sergei untuk memberitahunya mengenai keberadaan Ivander di desa Zelenogradsk. [ ]
__ADS_1