
Keesokan paginya Lizzie telah bersiap-siap pergi piknik bersama Fanya. Ia melihat Milly sedang menyiapkan bekal di dapur, sedangkan ayah dan ibunya masih tidur.
"Pagi Milly!"
" Pagi nona Lizzie! Sarapan sudah siap."
"Terima kasih."
"Aku sudah tidak sabar ingin segera memulai piknikku dengan Fanya. Sayang sekali besok kami harus kembali ke Moskow."
"Kalian harus bersenang-senang di sini."
"Aku tahu."
Setelah selesai sarapan pagi, Fanya datang ke rumah. Pagi ini Fanya terlihat sangat cantik. Pipunya merona merah. Lizzie menggandeng lengan Fanya dan mereka berjalan mengelilingi desa. Kenangan-kenangan masa kecil bermunculan begitu saja pada benak Lizzie.
Lizzie meneteskan air matanya. Ia sangat senang bisa berada di sini lagi bersama Fanya. Mereka kemudian pergi ke sekolah dan mengenang masa sekolah dulu. Lizze sedang melihat bayangan dirinya di sekolah itu sedang bermain dengan teman-temannya.
Fanya dan Lizzie kemudian berperahu, memperhatikan angsa-angsa yang sedang berenang. Angin sejuk yang membawa harumnya bunga-bunga menggerakan perahu mereka.
" Ceritakan kepadaku bagaimana kamu dan Vladimir bisa menjadi sepasang kekasih?"
Fanya nampak malu-malu dan pipinya kembali merona.
" Awalnya aku dan Vladimir sering bertemu di sini. Dia pria yang baik dan juga perhatian. Aku menjadi menaruh perasaan kepadanya, lalu aku menyatakan cintaku kepadanya."
"Lalu?"
"Vladimir menerima perasaanku. Aku sangat senang dan tidak menyangka Vladimir akan menerima cintaku."
"Aku senang mendengarnya."
"Aku berharap Vladimir segera melamarku."
Fanya tersenyum malu-malu.
"Aku akan menanyakan itu padanya."
"Jangan Lizzie aku malu jika kamu bertanya kapan dia melamarku?"
" Ya baiklah. Aku tidak akan bertanya apa pun kepadanya."
Lizzie mendayung perahu sampai ketepian dan memakan bekal mereka. Tidak terasa hari sudah beranjak sore. Lizzie mengantar Fanya sampai rumah dan mereka berpelukan.
" Sampai jumpa lagi! Semoga kita bisa bertemu lagi."
" Kamu harus mengunjungiku ke Moskow."
"Tentu aku akan ke sana."
Setelah Lizzie berpamitan pulang, ia pergi berjalan kaki. Suara klakson mobil mengejutkannya. Seorang pengemudi menurunkan kaca jendela mobil.
" Vladimir."
" Masuklah!"
Lizzie segera masuk ke dalam mobil.
" Kamu dari mana?"
" Dari rumah Fanya. Kami baru saja pergi piknik."
" Sepertinya kalian tadi cukup bersenang-senang."
"Tentu saja. Kami tadi bersenang-senang seperti yang pernah dulu kami lakukan."
Vladimir kemudian melirik ke arah Lizzie. Pria itu baru menyadari kalau Lizzie memiliki kecantikan ibunya.
"Bagaimana kabar kekasihmu?"
Lizzie langsung menatap Vladimir yang sedang mengemudi.
" Aku sudah putus."
Kata-kata Lizzie membuatnya terkejut
"Kenapa kalian putus?"
" Kami berdua sudah tidak cocok dan jadi sering bertengkar."
" Apa kami sudah mempunyai kekasih lain?"
" Belum. Kenapa kami tanyakan itu?"
"Hanya ingin tahu saja. Itu bagus kalau kamu masih belum mempunyai kekasih."
"Apa maksudmu?"
" Lupakan saja!"
Lizzie menatap bingung Vladimir dan sepanjang sisa perjalanan tidak ada satu pun yang bicara sampai mereka tiba di rumah.
"Terima kasih sudah mengantarku."
"Masuklah! Sampai jumpa lagi!"
"Sampai jumpa!"
Lizzie memandangi kepergian mobil Vladimir sampai tidak terlihat lagi.
"Bagaimana harimu bersama Fanya?" tanya ibunya setelah Lizzie masuk ke rumah.
" Sangat menyenangkan."
Seorang gadis kecil berumur 9 tahun menuruni tangga dengan cepat.
" Kak Lizzie, dari mana?"
" Dari rumah teman."
"Kenapa tidak mengajakku?"
Lizzie mengusap lembut kepala adik perempuannya.
"Maafkan kakak. Lain kali kakak akan mengajak Shasha pergi jalan-jalan."
"Janji?"
"Janji."
πππ
" Kamu sudah pulang?" tanya Juliet ketika Vladimir telah kembali ke rumah.
__ADS_1
" Aku baru saja pulang."
Valdimir menghempaskan tubuhnya di sofa. Rasa lelah menyelimuti dirinya. Ia memijit-mijit kepalanya.
"Kapan kamu akan melamar Fanya?" tanya Juliet tiba-tiba.
"Kenapa ibu menanyakan itu?"
" Kamu dan Fanya sudah berhubungan selama satu tahun dan kamu sudah cukup umur untuk menikah. Seharusnya kalian segera menikah."
" Beri aku waktu sedikit lagi."
" Apa kamu masih belum yakin menikah dengan Fanya?"
Juliet memandang Vladimir dan ada sesuatu yang membuat hatinya gelisah.
"Kenapa kamu tidak jawab? Tatap aku, Vladimir!"
"Ibu, aku..."
" Katakan saja!"
" Fanya bukanlah cinta pertamaku."
" Apaa? Ibu kira Fanya adalah cinta pertamamu. Kalau begitu siapa?"
"Aku mengira selama ini aku bisa melupakannya ternyata aku salah. Aku tahu, Fanya adalah wanita baik, lembut, dan sangat perhatian. Dia wanita yang ideal untuk dijadikan seorang istri. Aku merasa nyaman dan bahagia saat bersamanya, tapi ketika aku merasa sudah mencintainya, aku salah."
" Jadi kamu menyadari kamu tidak mencintai Fanya seperti yang kamu pikirkan?"
"Benar."
"Lalu kenapa kamu memilih memiliki hubungan dengannya?"
"Seperti yang sudah aku katakan Fanya adalah wanita baik dan pantas untuk dicintai. Aku pikir aku bisa melupakan cinta pertamaku dan berusaha mencintai Fanya."
"Kamu tidak berhasil mencintainya."
Vladimir mengangguk.
" Lalu siapa cinta pertamamu itu?"
Vladimir menatap ibunya dengan pandangan nanar.
"Ibu mengenalnya."
" Benarkah? Katakan siapa? Saat ini aku sedang tidak ingin main tebak-tebakan."
"Lizzie."
Juliet membelalakan matanya." LIZZIE ROMANOV,"teriaknya tidak percaya.
" Iya."
"Tapi bagaimana bisa? Selama ini aku pikir kamu hanya menganggapnya sebagai adikmu sendiri."
" Awalnya memang seperti itu, tapi setelah beberapa kali aku memgunjunginya di Inggris dan juga sering bertemu tanpa aku sadari aku jatuh cinta kepadanya."
"Lalu kenapa kamu tidak mengatakan perasaanmu? tapi kamu memilih Fanya sebagai kekasihmu. Aku merasa kasian kepada Fanya."
"Aku tidak bisa mengatakan perasaanku kepada Lizzie, karena waktu itu dia mempunyai kekasih dan aku tidak bermaksud mempermainkan perasaan Fanya. Ketika aku memilih Fanya, aku serius berhubungan dengannya, tapi saat aku melihat Lizzie lagi, aku semakin tidak bisa melupakannya."
" Bagaimana pun kamu juga salah. Seharusnya kamu tidak menjadikan Fanya sebagai tempat pelarian untuk melupakan Lizzie. Fanya adalah sahabat Lizzie
Lizzie akan sedih jika kamu menyakiti perasaannya."
"Aku tahu."
" Aku akan bicara pada Fanya."
" Apa pun keputusanmu, aku akan mendukungmu."
"Terima kasih."
πππ
Milly berada di kantor Nicola setelah tiba di Moskow dua hari yang lalu. Kedatangan Milly tentu saja mengejutkannya.
" Maaf kedatangan saya mengganggu."
" Tidak apa-apa. Silahkan duduk!"
" Begini ada yang ingin aku sampaikan. Aku tahu ini kedengarannya gila. Ketika saya berada di Zelenogradsk, aku melihat Anthony Lennox."
" Dia ada di penjara."
"Aku tahu. Tidak mungkin dia sudah bebas, tapi aku sungguh-sungguh melihatnya. Satu hal lagi aku baru mengingatnya setelah melihat tato pada lehernya. Pelaku yang mencoba membunuh Tuan Dimitri dan keluarganya memiliki tato bergambar elang di lehernya."
"Apaa? Setahuku Anthony tidak memiliki tato."
" Itu sebabnya aku datang ke sini. Apa mungkin Tuan Lennox memiliki saudara kembar?"
"Jika yang kamu katakan ini benar, ini sangat serius."
"Aku tahu."
"Setahuku Anthony tidak punya saudara kembar, tapi aku akan menanyakannya."
"Jika Tuan Lennox tidak bersalah, pelakunya masih bebas."
" Kamu harus merahasiakan ini sebelum kebenaran terbukti."
"Aku tidak akan mengatakannya pada siapa pun."
Nicola dan Milly saling memandang cemas.
πππ
Kehadiran Vladimir yang lebih sering berada di mansion Romanov tentu saja tidak bisa di abaikan. Sudah satu bulan Vladimir hampir tiap hari datang, bahkan ia sering menginap. Alasannya ingin menemani kakek Sergei, tapi Lizzie yakin alasannya bukan itu saja.
Lizzie merasakan sikap aneh Vladimir, tapi ia berusaha untuk mengabaikannya. Kehadiran pria itu membuatnya lama kelamaan sedikit terganggu. Setiap kali Lizzie berada dekat dengannya jantungnya selalu berdebar dengan kencang tidak dapat dikendalikan.Dulu Vladimir memang pria yang menyebalkan tapi setelah ia lebih mengenalnya, Vladimir adalah pria yang baik.
Lizzie dan Vladimir sedang bersantai menonton TV. Lizzie mau pun Vladimir hanya diam membuat suasana menjadi terasa canggung. Sesekali Lizzie diam-diam melirik ke arah Vladimir yang sedang menonton TV. Di lihat dari arah samping pun Vladimir terlihat tampan.
"Fanya sungguh beruntung mendapatkan pria sebaik Vladimir,ββucapnya dalam hati, lalu ia teringat ucapan Fanya dulu kalau Vladmir tidak seperti yang dipkirkannya. Sejak kecil, Fanya memang sudah menyukainya. Lirikan Lizzie jatuh pada bibir tipis pria itu.
Pikiran liar Lizzie menyeruak keluar, karena tiba-tiba ia ingin merasai bibir pria itu dan wajahnya memerah, karena memikirkan itu. Ia memukul-mukul kepalanya untuk berhenti memikirkan itu. Ia mengingatkan dirinya sendiri kalau pria di sampingnya adalah kekasih sahabatnya dan tidak boleh berpikiran macam-macam.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah?ββ
"Ah tidak ada apa-apa."
Lizzie duduk dengan kepala tertunduk. Ia tidak ingin Vladimir melihat wajahnya yang memerah.
__ADS_1
Keesokan paginya suasana mansion menjadi ramai, karena akan ada pesta ulang tahun Shasha, adik perempuan Lizzie yang ke-10 nanti malam.
"Pagi Lizzie! Senang melihatmu pagi ini. Kakek sudah menunggumu di kamarnya,ββkata Vladimir yang sudah berbalut setelan jas birunya yang membuat Lizzie terpesona.
"Aku akan segera kesana. Permisi!ββ
Lizzie merasakan tangan Vladimir menahannya. Pria itu menatapnya. "Ada apa?ββ
"Tidak.Maaf."
Setelah mengatakan itu Vladimir pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Lizzie melihatnya pergi raut wajah heran.
"Kamu menyukai Vladimir?ββtanya Sergei tiba-tiba di depan pintu kamar.
"Tidak. Aku hanya kagum saja,"kata Lizzie gugup.
"Itu wajar kalau kamu juga menyukainya. Banyak wanita yang menyukai Vladimir."
"Aku tahu. Vladimir sudah memiliki Fanya."
"Kamu benar."
"Ayo masuk!"
Lizzie mengikuti Sergei masuk kamar.
"Kakek berharap kalian berdua berjodoh, tapi perasaan tidak bisa dipaksakan. Kakek tak menyangka Vladimir akan jatuh cinta pada sahabatmu, Fanya."
"Aku juga."
πππ
Nicola berada di penjara menemui Anthony setelah Milly datang ke kantornya satu bulan yang lalu. Ia baru sempat datang menemuinya , karena ia harus menyelidik latar belakang keluarganya. Anthony muncul diantar oleh salah seorang petugas. .
" Aku tidak menyangka Anda akan datang lagi menemuiku setelah 10 tahun."
"Aku datang ke sini untuk mengajukan beberapa pertanyaan."
"Pertanyaan apa lagi? Itu tidak akan ada gunanya lagi."
"Apa kamu memiliki saudara kembar?"
" Kenapa Anda tanyakan itu?"
"Jawab saja."
" Dulu aku punya saudara kembar, tapi sudah meninggal saat umur 15 tahun, karena kecelakaan mobil bersama kakek dan nenek kami."
"Bisa cerita bagaimana kecelakaan itu terjadi?"
" Saat itu hujan lebat. Jalanan menjadi licin. Kabut pun sangat tebal. Mobil yang ditumpangi kakakku jatuh ke dalam jurang dan masuk ke sungai.Satu hari kemudian jasad Kakek, neneku, dan sopir keluarga kami ditemukan kecuali saudara kembarku. Ada yang bilang tubuh kakakku sudah di makan binatang buas, karena sudah berhari-hari tidak ditemukan."
" Apa kakakmu memilik tato di tubuhnya?"
" Ya. Kakakku suka dengan tato. Beberapa bagian tubuhnya ada tato."
" Apa kakakmu memiliki tato bergambar elang di lehernya?"
"Iya dari mana kamu tahu?"tanya Anthony terkejut.
" Ada saksi yang melihat seorang pria yang mirip denganmu dan memiliki tato di leher."
"Di mana?"
"Zelenogradsk."
"Ini tidak mungkin."
"Pelaku yang mencoba membunuh Dimitri memiliki tato burung elang di lehernya."
"Apaaa?"
" Saksi baru mengingatnya setelah bertemu dengan pria itu.Ada kemungkinan pria itu saudara kembarmu dan mungkin dia pelaku yang sebenarnya."
"Sudah aku katakan bukan aku pelakunya. Aku sudah membayar 10 tahun di penjara atas perbuatan yang tidak aku lakukan," kata Anthony kesal.
" Sebelum itu terbukti kamu masih tersangka utama. Aku akan mencari tahu hal ini."
"Tapi kenapa kakakku melakukannya?"
"Entahlah."
"Jika dia masih hidup, kenapa dia tidak pernah muncul dihadapaanku? Dia pasti tahu aku di penjara akibat ulahnya dan kakakku diam saja." Anthony memasang wajah kesal dan kecewa
"Aku akan memberitahumu, jika ada informasi baru."
Nicola kemudian pergi meninggaljan penjara dan kembali menghubungi Jack.
πππ
Lizzie berdiri dengan canggung di kamarnya dengan gaun yangΒ ibunya belikan untuknya. Ia memang tidak terbiasa memakai gaun pesta dan sepatu berhak tinggi.
"Kamu terilhat sangat cantik,"kata Aleandra.
Wajah Lizzie merona merah mendapat pujian dari ibunya.
"Sepertinya pesta sudah dimulai. Ayo!ββ
Β Lizzie mengangguk dan mengikuti ibu ya di belakang. Suasana pesta kebun begitu meriah para tamu undangan sudah hampir semuanya hadir. Perayaan pesta ulang tahun Shasha berlangsung dengan meriah. Ia memilih untuk pergi dari keramaian pesta setelah acara tiup lilin selesai.
"Lizzie,ββpanggil Sergei.
Lizzie terkejut karena kakeknya datang bersama dengan Vladimir dengan pakaian tuxedonya. Pria itu terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Rambutnya yang hitam legam dan licin disisir dengan sangat rapi. Lizzie kembali merasakan debaran kencang jantungnya. Ini salah. Seharusnya tidak begini.
" Apa yang kamu lakukan di sini sendirian?"yanya Sergei.
" Aku ingin suasana tenang dan mengistirahatkan kakiku yang terluka. Sepertinya aku tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi."
Vladimir langsung melihat kaki Lizzie yang terluka.
" Hanya luka kecil. Nanti juga sembuh."
" Sebaiknya aku masuk ke dalam untuk mengobati lukaku."
Lizzie berjalanΒ dengan cepat dan tidak memperhatikan jalan di depannya yang ia inginkan segera masuk ke mansion, kakinya tersandung pembatas tembok taman. Tubuhnya menjadi tidak seimbang, lalu ia pun terjatuh. Sesaat sebelum terjatuh ia merasakan lengannya ditarik seseorang.
Lizzie merasakan sesuatu yang hangat dan basah menyentuh bibirnya. Ia membuka matanya dan terkejut mendapati dirinya tengah berciuman dengan Vladimir. Lizzie langsung berdiri dan wajahnya memerah, karena malu apa lagi ada kakeknya yang melihatnya.
"Maafkan aku. Maaf. Tadi tidak sengaja. Aku sungguh minta maaf."
Vladimir pun menjadi salah tingkah.Lizzie cepat-cepat berdiri dari tubuh Vladimir yang telah menahannya agar tidak terjatuh ke tanah. ββAku mengerti. Aku tahu kamu tidak sengaja."
Lizzie segera berjalan masuk ke mansion dengan langkah cepat. Vladimir menatap kepergian Lizzie dengan kecewa.
__ADS_1
ββKakek jangan berpikiran macam-macam."
Sergei kembali tersenyum.Lizzie yang berada di dalam kamar menyadari sesuatu yang penting dalam hidupnya. Ia jatuh cinta kepada Vladimir. Tapi dia telah mencintai orang yang salah. Setetes air mata telah mengalir di wajahnya. Seharusnya ia tidak pernah jatuh cinta kepada kekasih sahabatnya. [ ]