
Mereka berpesta sampai hari menjelang malam, kemudian Lizzie berpamitan untuk pulang. Ia langsung menaiki mobilnya dan menuju ke rumah Vladimir. Di sana Lizzie di sambut oleh Nicola dan Juliet dan menyuruh Lizzie menunggu di kamar Vladimir, karena Vladimir belum pulang, Lizzie masuk ke kamar dan melihat-lihat kamar Vladimir. Lizzie tersenyum melihat fotonya di samping tempat tidurnya. Sambil menunggu, ia menyalakan TV, setelah selama satu jam menunggu, Vladimir belum pulang juga. Lizziw mematikan TV dan berjalan mondar mandir di kamar, lalu duduk di sofa dan membaca majalah.Tiba-tiba pintu kamar dibuka. Vladimir masuk ke dalam kamar.
"Selamat malam!’’
Vladimir terlonjak kaget ketika Lizzie berada di kamarnya. Ia tidak mempercayai penglihatannya sekarang, kemudian berjalan mendekati Lizzie.
"Ke-kenapa kamu bisa ada di sini?Bukannya kamu ada di Jerman?’’
"Bukankah kamu merindukanku, jadi aku datang ke sini untuk bertemu denganmu. Aku datang lebih awal dari rencana kedatanganku ke sini. Apa kamu tidak suka aku datang ke sini?’’
"Tidak. Tentu saja aku senang dengan kedatanganmu ke sini hanya saja aku masih belum dapat mempercayai kamu ada di sini. Ini seperti mimpi saja."
"Ini bukan mimpi. Aku sudah mncubiti pipi dan tanganku sampai sakit."
Vladinir langsung memeluk Lizzie dengan erat dan melepas semua kerinduannya selama ini. Vladimir memeluknya semakin eraf.
"Lizzie, aku benar-benar sangat senang kamu datang. Kamu tahu, selama ini aku ingin sekali bertemu denganmu dan setiap hari aku selalu merindukanmu. Ingin bertemu, tapi tidak bisa. Sekarang kamu ada di sini bersamaku. Ini benar-benar seperti mimpi."
"Aku juga merindukanmu. Makanya aku datang lebih cepat ke sini."
"Terima kasih."
Vladimir semakin mempererat pelukannya seakan-akan tidak ingin melepaskannya dan ingin Lizzie selalu berada di pelukannya seperti sekaramg ini, sedangkan Lizzie membenamkan wajahnya di dada Vladimir. Selama beberapa saat mereka dalam posisi seperti itu, lalu Vladimir berbisik di telinga Lizzie.
"Aku cinta kamu."
Lizzie tersenyum.
"Aku juga cinta kamu."
Vladimir perlahan-lahan melepas pelukannya, walaupun hatinya tidak rela, karena masih ingin berpelukan lebih lama. Ia memandang Lizzie dengan penuh kerinduan. Jari-jari tangannya mulai menelusuri wajah gadis itu.
Sentuhan jari-jari Vladimir di wajahnya membuat jantung Lizzie berpacu lebih cepat, karena sudah lama tidak merasakan sentuhan dan belaian dari Vladimir. Lizzie sangat merindukan ini dan betapa dia mencintai pria yang ada dihadapannya. Lizzie mulai meneteskan air matanya dan Vladimir terkejut melihat air mata yang keluar dari mata Lizzie.
"Kenapa menangis?Apa pelukanku tadi menyakitimu. Kuakui tadi pelukanku sangat erat mungkin pelukanku tadi menyakiti tubuhmu."
Vladimir mengajak Lizzie duduk di sofa dan tangan Vladimir menghapus air matanya.
"Bukan karena itu. Aku menangis, karena senang bisa berjumpa denganmu lagi."
"Sudah jangan menangis."
Vladimir kembali memeluk Lizzie dan mencium keningnya. Lizzie melepaskan pelukannya dari Vladimir dan menatap pria itu dengan tersenyum. Vladimir ingin sekali melihat Lizzie bahagia dan selalu tersenyum. Ia ingin melindungi senyuman Lizzie tanpa ragu bibirnya langsung menyentuh bibir Lizzie dengan lembut.
Di sudut mata Vladimir keluar setetes air mata. Akhirnya wanita yang dicintainya kembali ke dalam pelukannya lagi. Vladimir perlahan-lahan melepaskan ciumannya. Ia tersenyum dan wajah Lizzie memerah. Vladimir berdiri dan menuju ke kamar mandi. Setelah berpakaian ia mengambil sesuatu dari dalam lemari pakaiannya.
"Ini punyamu. Sekarang aku kembalikan itu kepadamu."
"Ini kan ponselku."
"Iya. Itu ponselmu. Aku mengambilnya waktu aku datang untuk mengenali jenazahmu."
Vladimit lalu mengambil bungkusan di laci meja rias dan memberikannya pada Lizzie.
"Ini untukku?’’
"Iya. Itu untukmu."
"Boleh aku membukanya?’’
"Tentu saja."
Lizzie merasakan kalau bungkusan itu agak berat, kemudian membukanya. Ia terkejut ketika melihat isinya.
"Ini sepatu kaca. Cantik sekali. Aku melihat sepatu kaca ini di Praha. Waktu itu aku ingin membelinya, tapi sayang sepatu ini sudah terjual habis. Kata mereka sepatu ini sudah ada yang membelinya. Aku sedih, karena tidak dapat membeli sepatu ini. Apa kamu membeli sepatu ini Praha? Sepatu ini cuma ada di sana dan hanya ada 4 pasang."
"Iya, aku membelinya di Praha. Waktu itu ketika aku masuk toko sepatu, aku melihat sepatu kaca yang cantik, lalu aku membelinya. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa membelinya, tapi aku sangat tertarik dengan sepatu itu. Mungkin aku akan menjadikannya pajangan. Tapi setelah aku tahu kamu masih hidup, aku ingin memberikannya padamu."
Lizzie menangis karena terharu. Sepatu kaca yang selama ini dia inginkan akhirnya di dapatkan dari Vladimir.
"Lizzie, kenapa menangis?’’
Vladimit menghapus air mata Lizzie dengan lembut oleh ibu jarinya.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya senang menerima sepatu ini darimu."
Vladimir tersenyum dan mengambil sepatu kaca dari Lizzie, kemudian Vladimir memasangkannya di kedua kaki Lizzie. Kaki Lizzie terlihat sangat cantik memakai sepatu itu.
"Syukurlah. Ukuran sepatu ini cocok di kakimu. Lizzie, coba kamu berdiri dan berjalanlah."
Lizzie berdiri dan berjalan dengan sepatu kacanya, meskipun agak berat masih bisa di bawa berjalan. Lizzie duduk kembali dan melepas sepatunya.
"Lizzie, kamu sudah makan malam?’’
"Belum. Kalau begitu kita makan malam bersama."
Vladimir menarik lengan Lizzie dan berjalan menuju ruang makan. Ia menyuruh pelayannya untuk menghidangkan makan malam. Mereka hanya makan malam bersama orangtua Vladimir. Setelah selesai makan mereka berdua pergi keruang keluarga dan Vladimir bermain piano. Dia memainkan musik River flows in you by Yiruma untuk Lizzie. Lizzie sangat terharu Vladimir memainkan musik itu untuknya.
"Lizzie, ini sudah larut malam sebaiknya kamu segera pulang."
Walaupun hati Vladimir tidak rela Lizzie pulang.
"Iya kamu benar. Sebaiknya aku pulang."
Vladimir mengantarkan Lizzie pulang dan selama perjalanan pulang Lizzie tertidur. Ketika sudah sampai di depan mansion, Lizzie masih tertidur, lalu Vladimir mengecup bibir Lizzie dan menggendongnya masuk. Ia menidurkannya di tempat tidurnya. Vladimir kemudian pergi dan kembali ke rumahnya. Hatinya senang. Akhirnya wanita yang dicintainya sudah berada di sisinya lagi.
🍀🍀🍀
Vladimir pergi ke kantor dengan hati riang dan menebarkan senyum pada para pegawainya dan mereka heran melihat Vladimir tersenyum pada mereka biasanya ia selalu memasang wajah serius.
"Pagi Zoya!"
"Pagi, Tuan Kalashnikov! Sepertinya hari ini suasana hati Anda sedang bagus."
__ADS_1
"Kemarin malan aku baru bertemu dengan Lizzie."
"Lizzie, bukannya dia ada di Jerman."
"Dia sudah kembali."
"Pantas saja Anda terlihat begitu senang dapat bertemu dengan kekasih Anda."
"Hari ini ada berita apa?’’
"Tidak ada berita penting."
Tiba-tiba ponsel Vladimir berbunyi. Ia tersenyum ketika Lizzie meneleponnya.
"Senang kamu meneleponku. Ada apa?’’
"Aku ingin makan siang bersamamu hari ini. Kita makan siang di kantormu. Aku sudah membuatkan bekal makan siang untukmu."
"Benarkah? Aku akan menunggumu di sini."
"Baiklah. Aku akan datang sebentar lagi. Sampai Jumpa!’’
"Sampai jumpa!’’
Vladimir terus menatap makan siangnya, ketika Lizzie sudah datang nembawakan bekal makan siangnya.
"Bekal makan siang ini sangat lucu. Lizzie, kenapa kamu membuatkan makan siang seperti ini untukku?Ini kan makan siang untuk anak-anak."
"Kamu tidak suka dengan bekal makan siang ini?’’
"Bukan begitu, aku sangat suka. Kelihatannya enak sekali, tapi aku jadi tidak tega memakannya."
"Sebaiknya kamu cepat memakannya, kalau kamu suka nanti aku akan membuatkannya lagi untukmu."
"Berapa lama kamu membuatnya?’’
"Tidak lama. Sebaiknya sekarang cepat di makan."
Lizzie mulai membuka makan siang miliknya dengan antusias Vladimir ingin melihat bekal makan siang Lizzie. Lizzie membuka tutupnya dan bekal makannya tidak kalah lucu dari bekal makannya.
"Lizzie, kamu hebat sekali bisa membuat ini, pasti kamu sudah berusaha keras untuk dapat membuat bekal makan seperti ini."
"Tentu saja."
Akhirnya Vladimir memakan bekal makan siangnya, walaupun tidak tega memakannya.
"Ternyata masakanmu enak. Terima kasih sudah mau membuatkannya untukku. Aku ingin kamu membuatkannya lagi untukku."
"Kalau kamu suka aku akan membuatkannya lagi untukmu."
Vladimir menatap Lizzie yang sedang makan. Zoya mengetuk pintu dan masuk.
"Maaf. Sudah waktunya kita bertemu dengan klien.
"Baik. Aku akan segera pergi. Maaf Lizzie, aku harus rapat sekarang."
"Hati-hati di jalan!’’
Vladimir lalu mengecup pipi Lizzie Wajah gadis itu merah seketika. Sebelum pulang ke rumah Lizzie memutuskan untuk pergi ke supermarket. Ia membeli banyak cemilan. Setelah selesai belanja, Lizzie berjalan menuju tempat parkir dan di sana ia melihat seorang wanita yang sedang berjongkok sambil memegang kepalanya, lalu Lizzie menghampirinya.
"Maaf. Nona tidak apa-apa?’’
Wanita itu menoleh dan Lizziw berpikir kalau wanita itu sangat cantik.
"Aku tidak apa-apa hanya merasa pusing, tadi kepalaku berputar-putar dan hampir saja mau pingsan."
"Itu tidak baik. Ayo aku bantu Anda berdiri."
Lizzie membantu wanita itu berdiri dan ia mencari tempat duduk. Di sebelah tempat parkir ada taman kecil yang teduh dan ada kursi. Lizzie membawa wanita itu ke sana.
"Istirahat saja dulu disini. Apa Anda pergi sendirian?’’
"Iya."
"Ini minumlah."
Lizzie memberikan air mineral yang baru saja dibelinya tadi dan juga memberikan kue kering pada wanita itu.
"Terima kasih, Anda sudah membantuku."
"Tidak apa-apa."
"Sebaiknya Anda pergi ke dokter saja."
"Tidak perlu mungkin aku hanya kelelahan saja dan aku belum makan siang. Itu mungkin sebabnya kepalaku jadi pusing."
Sebaiknya Anda makan siang dulu. Disekitar sini banyak restoran."
"Kamu mau makan siang denganku?’’
"Aku sudah makan siang."
"Oh begitu. Bisa antar aku ke restoran yang ada di ujung jalan sana."
"Tentu."
Lizzie mengantarkan wanita itu ke restoran yang ada diujung jalan. Mereka masuk ke dalam restoran dan duduk disalah satu kursi di sudut ruangan.
"Kalau begitu aku mau pulang dulu."
"Tunggu! Temani aku makan, tidak enak kalau makan sendiri, tapi aku sudah makan dan masih kenyang."
"Pesan saja minuman atau makanan kecil."
__ADS_1
Akhirnya Lizzie tetap berada di sana dan ia memesan satu gelas besar es krim.
"Anda suka sekali es krim ya?’’
"Iya. Aku suka sekali."
Setelah selesai menemani makan, Lizzie berpamitan untuk pulang, karena sopirnya sudah menunggu di depan restoran.
"Senang bisa bicara denganmu dan juga senang berkenalan denganmu. Dari tadi aku belum tahu siapa namamu?’’
"Aku Lizzie dan Anda?’’
"Sherly."
Lizzie tersenyum dan pergi meninggalkan restoran itu.
"Dia wanita baik suatu saat aku ingin bertemu dengannya lagi dan bicara dengannya."
🍀🍀🍀
Malam harinya Vladinir menelepon Lizzie.
"Halo sayang! Kamu belum tidur?’’
"Belum. Kamu juga belum tidur."
"Aku belum mengantuk. Aku hanya ingin mendengar suaramu. Aku merindukanmu."
"Bukannya tadi kita baru bertemu?’’
"Benar. Tapi aku sudah rindu lagi. Besok ada waktu? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Ada. Memangnya kita akan pergi ke mana?’’
"Nanti juga kamu akan tahu sendiri. Jangan lupa membawa pakaian."
"Memangnya kita akan pergi jauh?’’
"Bisa dikatakan seperti itu."
"Baiklah. Di mana kita bertemu?’’
"Aku akan menjemputmu di rumah."
"Baiklah. Aku akan menunggumu di sini."
"Kamu harus tidur sekarang, supaya besok kamu tidak akan bangun kesiangan."
"Baiklah. Selamat malam!"
"Malam!’’
Keesokan paginya Vladimir sudah tiba di rumah Lizzie dan membawanya pergi. Selama dalam perjalanan mereka diam tidak bersuara. Lizzie hanya melihat Vladimie senyum-senyum sendiri. Sepertinya Vladimir sedang menikmati kesenangannnya sendiri. Angin yang bertiup dari jendela mobil telah membuat rambut Lizzie yang panjang berkibar-kibar dan Vladimir mencium aroma harum dari rambut Lizzie tanpa sadar Vladimir menghirupnya dalam-dalam dan ia juga memperhatikan rambut Lizzie yang berkilau tertimpa sinar matahari. Angin yang berhembus segar telah membuat Lizzie mengantuk dan akhirnya ia tertidur.
Sekali-kali Vladimir melihat Lizzie yang sedang tidur.
‘’Dia manis sekali kalau sedang tidur."
Vladimir mempercepat laju mobilnya. Akhirnya mereka sudah tiba di tempat tujuannya dan membangunkan Lizziw yang tidur sangat nyenyak.
"Lizzie, bangunlah kita sudah sampai."
Lizzie membuka matanya perlahan-lahan dan mengucek-ucek matanya.
"Kita ada di mana?’’
"Kita ada di desa Vytaskoye dan ini villa keluargaku.
Lizzie melihat ke sekeliling dan merasa takjub pemandangannya indah sekali.
"Maaf. Aku baru membawamu sekarang ke sini.
"Tidak apa-apa. Aku senang kamu mengajakku ke sini."
Kemudian mereka masuk ke villa dan menyimpan barang-barang mereka sebelum pergi jalan-jalan. Kamarnya menghadap ke laut dan Lizzie pergi ke balkon.
"Kamu suka dengan kamar ini?’’
"Iya. Aku suka."
Lizzie menatap Vladimir dan tersenyum, lalu menghirup udara laut.
"Sebaiknya kita turun dan kita jalan-jalan."
"Vladimir mengajak Lizzie ke pantai. Mereka berdua berjalan di sepanjang pantai dengan kaki telanjang, suasana menjadi canggung dan Lizzie jadi salah tingkah. Vladimir memegang tangan Lizzie dan membawanya ke pantai dan menyiram Lizzie dengan air. Lizzie membalasnya dan akhirnya mereka bermain air sampai badan mereka basah kuyup, kemudian mereka berdua membuat istana pasir. Hari sudah menjelang sore, Vladimie mengajak Lizzie pulang. Ketika mereka dalam perjalanan menuju villa, ia tersandung batang pohon yang tumbang dan Lizzie terjatuh.
"Lizzie, kamu tidak apa-apa kan?’’
"I-iya aku tidak apa-apa."
"Ayo,kita pulang."
Vladimir memegang tangan Lizzie supaya tidak terjatuh lagi, tapi ketika Lizzie akan melangkahkan kakinya, ia berteriak kesakitan.
AAAAWWWWW.
"Ada apa? Apa yang sakit?’’Kata Vladimir panik.
"Kakiku sepertinya terkilir."
Vladimir memeriksa kaki Lizzie yang terkilir.
"Apa kamu bisa berjalan?’’
__ADS_1
" tidak tahu."
Lizzie mulai melangkahkan kakinya lagi, tapi kakinya masih sakit dan tidak bisa berjalan. Vladimir kemudian menggendongnua sampai Villa dan mendudukannya di kursi, lalu Vladimir memeriksa kaki Lizzie lagi. Vladimir mengambil es batu dan mengompresnya. [ ]