
8 tahun kemudian
Lizzie tumbuh menjadi anak yang ceria, periang, lincah, dan juga pandai. Dia membawa keceriaan di desa Zelenogradsk hampir semua penduduk di desa ini mengenalnya. Ia sudah menjadi terkenal sejak kedatangannya ke desa delapan tahun yang lalu. Dia memiliki seorang sahabat bernama Fanya Corbin yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.
Fanya adalah gadis kecil yang cantik,memiliki rambut coklat kemerahan lurus, pipinya yang merona merah,ceria, dan ramah. Antonina duduk di kursi goyang dekat jendela di ruang keluarganya yang nyaman sedang merajut beberapa pakaian hangat untuk Lizzie. Jarum jam berdetak keras dan sudah sekian kalinya dia melihat ke arah jam. Hari sudah hampir menjelang malam, tapi Lizzie belum juga pulang. Derap langkah terdengar di depan pintu.
’’Ibu, aku pulang."
Lizzie membuka sepatunya yang belepotan dengan tanah dan menyimpannya di depan pintu . Antonina sudah berada di depan Lizzie dan menatapnya marah. Ia ketakutan dan mundur beberapa langkah.
’’Kamu dari mana saja? Ibu sangat mengkhawatirkanmu."
Lizzie tertunduk sedih.’’Maafkan aku, tadi aku bermain sampai lupa waktu."
‘’Lain kali jika kamu akan bermain , beritahu ibu terlebih dahulu."
‘’Baik. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
‘’Sekarang kamu pergi mandi . Setelah itu kita makan malam!’’
Lizzie mengikuti ibunya dari belakang melewati ruang depan yang sudah terlihat rapi dan begitu bersih sehingga dia takut untuk mengotorinya. Kamarnya terlihat sederhana. Dinding kamarnya dilapisi oleh kertas dinding bercorak garis-garis lembut berwarna pink. Lantainya terbuat dari kayu dan ditengah-tengah lantai ada karpet berbentuk segi panjang berbulu berwarna abu-abu muda. Di dekat jendela ada meja belajar dan diatasnya ada rak buku tempat Lizzie menyimpan semua buku pelajarannya.
Disudut yang lain dekat jendela ada tempat tidur terbuat dari besi yang di hiasi oleh kelambu. Jendelanya memiliki tirai muslin berenda berwarna pink. Kamarnya menghadap ke perkebunan sayuran . Setelah mandi Lizzie cepat-cepat mengenakan pakaiannya dan dia turun ke bawah di mana ayah dan ibunya sudah menunggunya di ruang makan.
‘’Sebelum kita makan malam, ibu ingin memberitahumu sesuatu."
‘’Apa itu bu?’’
‘’Hari minggu nanti kamu tidak boleh ikut piknik bersama dengan nenek Marina dan juga paman Javor."
‘’Apaaa? Tapi kenapa Bu?’’
‘’Karena hari minggu nanti kita akan pergi untuk menemui bibi Danielle di Moskow."
‘’Tapi aku sudah menanti-nantikan piknik ini."
‘’Pokoknya hari Minggu kamu akan pergi bersama kami. Bibi Danielle ingin sekali bertemu denganmu dan ibu sudah janji akan membawamu serta."
Lizzie terlihat kecewa, kemudian melirik ayahnya meminta pertolongan , tapi Petro hanya menggelengkan kepala.
‘’Ayo sekarang kita makan!’’kata ibunya.
Lizzie hanya melihat makanannya , tidak disentuh sedikit pun. Nafsu makannya hilang seketika ketika ibunya tidak memberikan izin untuk pergi.
‘’ Kamu tidak makan sayang?’’tanya ayahnya lembut.
Lizzie mendesah dan wajahnya terlihat cemberut.’’Selera makanku hilang. Bahkan aku sudah menyiapkan segalanya untuk keperluan piknik nanti."
‘’Maaf mau tidak mau kamu harus ikut kami untuk bertemu dengan bibi Danielle. Tidak ada salahnya kan kamu tidak mengikuti piknik kali ini. Kamu dan nenek Marina bisa merencanakan lagi pergi piknik di lain waktu."
‘’Tapi ibu, bisakah kita pergi minggu depan saja. Aku mohon."
Lizzie menangkupkan kedua tangannya dan menatap ibunya dengan pandangan memohon. Antonina merasa kasihan melihatnya dan hampir saja hatinya luluh untuk memberikan izin untuk pergi.
‘’Tidak. Minggu depan bibi Danielle sudah kembali ke Belanda."
Lizzie langsung tertunduk sedih dan kecewa.’’Cepat habiskan makanmu sekarang!’’perintah ibunya.
Lizzie merasa sedih dan akhirnya dia meninggalkan meja makannya, pergi ke kamar dan menghempaskan dirinya di tempat tidur. Dia membenamkan wajahnya ke bantal dan menutup selimut sampai kepalanya.
Antonina pergi ke kamar Lizzie dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dia mengeleng-gelengkan kepalanya melihat sikapnya.
’’Selamat malam !’’
Antonina menutup pintu pelan-pelan dan kembali ke dapur untuk mencuci peralatan makan. Petro tengah santai membaca koran.
’’Apa sebaiknya tidak kamu izinkan saja dia pergi? Kita bisa membawa Lizzie lain kali untuk bertemu dengan kakakmu, Danielle,’’tanya Petro tiba-tiba.’’Kasihan dia. Dia sudah menantikannya sejak dua minggu yang lalu."
__ADS_1
Antonina masih sibuk mencuci peralatan makannya.
’’Aku juga sedih tidak mengizinkannya pergi, tapi aku sudah berjanji pada Danielle sejak lama untuk mempertemukannya dengan Lizzie. Dia ingin sekali bertemu dengan anak kita. Besok aku akan pergi kerumah Marina untuk memberitahu kalau Lizzie tidak bisa ikut piknik."
🍎🍎🍎
Lizzie terbangun dipagi harinya oleh kicauan burung. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan membuka tirai jendela. Sinar matahari langsung menerangi kamarnya, dibukanya jendela dan seketika angin segar di pagi hari berhembus. Ia merasa takjub melihat pemandangan indah dari jendela kemarnya. Mata Lizzie yang mencintai keindahan menelusuri setiap sudut pemandangan yang ada di hadapannya.
Bunga-bunga bermekaran sehingga kebun terlihat berwarna-warni. Dia dikagetkan oleh suara ketukan di pintu.Antonina masuk ke kamar dan melihat Lizzie sedang duduk di dekat jendela.
‘’Cepat berpakaian, sebentar lagi kamu akan masuk sekolah. Ibu tunggu di ruang makan."
Lizzie langsung mengenakan pakaiannya. Rambutnya yang pirang di kuncir dua dihiasi pita berwarna biru .Lima belas menit kemudian ia turun dengan wajah segar dan sudah berpakaian rapi. Dia mengambil tempat duduknya, lalu memakan omeletnya dengan lahap, karena sejak malam dia tidak makan apa pun.
Pagi itu Lizzie tidak banyak bicara seperti biasanya. Setelah selesai makan dia membantu ibunya mencuci peralatan makanan. Setelah selesai, ia mengambil tas sekolahnya, lalu pergi.
‘’Aku pergi dulu!’’
‘’Hati-hati di jalan!’’
Lizzie berjalan menuju sekolahnya yang berjarang kurang lebih 1 Km dari rumahnya . Sebagian penduduk desa sudah bekerja di ladangnya. Jalanan menuju kesekolahnya melewati beberapa rumah penduduk dan juga perkebunan.
‘’Pagi Lizzie !’’sapa Xena Watson.
‘’Pagi nyonya Watson! Hari ini Anda terlihat cantik,’’pujinya. Wajah Xena langsung memerah .
‘’Pagi Lizzie!’’
‘’Pagi Tuan Davis ! Bagaimana kabar Anda pagi ini?’’sapa Lizzie ramah memperlihatkan senyumannya yang menawan.
‘’Baik Lizzie. Semoga harimu menyenangkan."
‘’Terima kasih. Semoga hari Anda juga menyenangkan."
Lizzie berjalan melewati perkebunan dan peternakan warga desa. Ada beberapa orang yang sedang memperbaiki pagar yang rusak.
‘’Ah, Lizzie selamat pagi! Mau pergi kesekolah ya?’’
‘’Iya.’’
‘’Hari ini kamu kelihatan cantik seperti biasanya."
‘’Terimakasih atas pujian Anda."
Rona merah menyebar di pipinya.’’Semoga hari Anda menyenangkan tuan Andrews."
‘’Kamu juga dan hati-hati di jalan!’’
Lizzie berjalan dengan wajah riang, karena baginya pagi ini terasa indah walaupun hatinya sedang bersedih dan dia tersenyum ketika dilihatnya Fanya sudah menunggunya di tikungan jalan.
’’Pagi Fanya!’’
‘’Pagi! ‘’
‘’Ayo kita harus segera pergi kalau tidak ingin terlambat!’’
Fanya tersenyum , lalu berjalan di samping Lizzie. Perjalanan menuju sekolah memakan waktu setengah jam dengan berjalan kaki. Mereka telah melewati depan hutan pohon birch. Sinar matahari hanya bisa menembus sedikit sehingga menimbulkan beberapa garis putih di udara dan titik-titik putih di tanah.
Mereka berjalan menyusuri tepian lahan perkebunan yang dipagari oleh pohon cemara dan pohon birch. Suara tawa ceria mereka bergema di hutan birch . Tidak lama kemudian mereka berdua sudah berada di jalan lapangan hijau terbuka yang luas yang dipenuhi oleh cahaya matahari.
Mata kecilnya berbinar-binar ketika melihat keindahan tempat di depan matanya. Lizzie dan Fanya berlari-lari, meloncat-loncat dan memutar-mutar tubuhnya menghirup udara segar.Ratusan bunga Narcissus tumbuh disana.
‘’Lihat sekolah kita sudah terlihat!’’seru Lizzie.
‘’Benar. Sebaiknya kita ke sana."
Mereka berlari-lari melewati lapangan terbuka itu dan tidak lama terdengar suara bel masuk sekolah. ‘’Fanya , ayo cepat!’’
__ADS_1
Mereka berdua berlari-lari menuju sekolah dan akhirnya mereka tiba tepat waktu.
🍎🍎🍎
Antonina sedang bersiap-siap pergi ke rumah Marina Moskal setelah memberi makan ayam-ayamnya dan memerah susu sapi. Dia mengenakan gaun muslin berwarna hijau lumut,rambutnya yang lurus dan indah digelung.Dia pergi menggunakan kereta bugi.Angin bulan April berhembus dengan kencang,suara derap kereta kuda melaju dengan nyaman di jalanan desa.
Sepanjang jalanan utama dipagari oleh pohon-pohon Apel yang bunganya sedang bermekaran yang membentuk sebuah kanopi . Kereta kuda berbelok ke arah kanan jalan dan di sisi jalan menuju rumah Marina ditumbuhi bunga peony pink dan merah. Mayflower juga tumbuh subur di pinggir jalan merangkai suatu latar belakang yang indah di desa Zelennogradsk.
Di suatu lapangan terbuka berderet beberapa rumah penduduk yang dihiasi oleh berbagai macam bunga sehingga rumah itu terlihat berwarna dan merona indah. Rumah Marina berada di ujung jalan , perlahan-lahan rumahnya mulai terlihat jelas dibalik rumah-rumah penduduk lainnya. Kereta kuda memasuki halaman rumahnya yang ditumbuhi oleh sulur-sulur bunga mawar dan honeysuckle kuning yang merambat kedinding rumahnya.Kedatangannya disambut oleh Marina yang sudah berada di depan rumah.
‘’Halo Marina! Bagaimana kabarmu? ’’
Antonina memeluk Marina dan mereka masuk ke dalam rumah.
‘’Aku baik-baik saja. Aku senang kamu bisa datang kesini."
Antonina duduk disebuah sofa panjang berwarna coklat tua berbahan dasar beludru di ruang tamu. Dindingnya dilapisi wallpaper berwarna hijau muda bercorak sulur-sulur daun. Disudut-sudut ruangan ada vas-vas bunga berisi berbagai macam bunga yang sudah tersusun rapi. Marina datang dengan membawa kue jahe dan segelas teh hangat.
‘’Marina, aku datang kesini untuk memberitahu kalau Lizzie tidak bisa ikut piknik bersama sekalian."
‘’Kenapa?’’
"Aku berencana membawanya ke Moskow untuk menemui saudara perempuanku, Danielle."
‘’Jadi Danielle ada di Moskow sekarang?Sayang sekali Lizzie tidak bisa ikut. Padahal anak itu sudah sangat gembira dan sudah tidak sabar menantikan acara piknik ini."
‘’Benar . Sekarang dia ada di sana. Lizzie sangat sedih tidak bisa ikut dengan acara piknik kalian."
Marina meminum teh hangatnya yang beraroma camomile.
‘’ Aku merasa kasihan pada anak itu, dia pasti akan sangat sedih jika tidak jadi ikut. Apa kamu sudah mendapat kabar dari kepolisian tentang orang tua kandung Lizzie?’’
‘’Sayangnya belum. Tapi sekarang itu sudah tidak jadi masalah lagi, karena ada aku dan Petri yang merawatnya. Dia sudah kuanggap sebagai anak kandungku sendiri. Kami berdua sangat menyayangi dan mencintai anak itu."
‘’Benar anak itu sudah mempunyai kalian berdua.Sejak kedatangan Lizzie kerumah kalian , dia sudah membuat kalian bahagia bukan?’’
‘’Iya itu benar. Dia sudah memberikan kebahagiaan pada kami. Kami beruntung bisa memiliki anak itu. Kehadirannya di rumah membuat suasana rumah kami menjadi terasa ramai."
‘’Antonina, bagaimana jika suatu saat nanti keluarga Lizzie yang sebenarnya datang dan meminta dia kembali kepada mereka?’’
Mata Antonina terlihat sendu.
’’Jika keluarga Lizzie datang dan meminta dia kembali , aku pasti akan sangat sedih. Mungkin aku tidak akan mengizinkan keluarganya membawa dia dariku."
‘’Kamu sudah sangat menyayangi anak itu. Dia memang gadis kecil yang mengemaskan dan cantik bukan?’’
‘’Dan juga gadis kecil yang nakal,’’kata Antonina menambahkan, kemudian mereka berdua tersenyum. ‘’Hari minggu nanti kalian akan berpiknik kemana?’’
‘’Rencana kami akan berpiknik disekitar desa ini dan kebetulan teman lamaku sedang berkunjung ke desa ini dan kami akan mengadakan pesta baberque.:
‘’Sepertinya sangat menyenangkan."
‘’Sayang sekali Lizzie tidak bisa ikut."
‘’Anak itu pasti akan menangis dan merengek kepadaku. Oh ya aku dengar Minggu yang lalu ada pendatang baru yang tinggal di sini?’’
‘’Itu benar. Dia menempati rumah si tua Ferguson yang berada di dekat sedereten rumah penduduk yang halamannya tidak tumbuh bunga satu pun."
‘’Tadi aku melihat rumah itu dalam perjalanan kemari."
‘’Aku dengar si tua Ferguson menjual rumah itu dengan tarif murah kepada pendatang baru itu."
‘’Benarkah? Siapa orang yang telah membeli rumah itu?’’
‘’Seorang laki-laki berumur sekitar 40 tahunan , bertubuh tinggi dan dia orang yang sangat ramah. Dia mudah bergaul dengan anak-anak sekitar sini. Anak-anak sering bermain ke rumahnya dan dia suka memberikan anak-anak kue-kue buatannya. Aku pernah diberi kue buatannya dan rasanya sangat enak. Nama orang itu Danil Fugazin."
‘’Aku belum pernah bertemu dengannya."
__ADS_1
Antonina kembali menyesap tehnya lagi dan memakan kue jahe buatan Marina." [ ]