
Lizzie begitu senang setelah selesai sekolah. Ia dengan riang gembira berjalan pulang menuju rumahnya setelah Ivander memberitahunya akan mengajak Lizzie berakhir pekan ke Zelenogradsk sebelum pergi ke sekolah.
"Besok aku akan mengajakmu pergi ke Zelenogradsk dan bertemu dengan Fanya," kata Ivander.
"Benarkah?"
" Iya. Aku sudah memikirkan ini cukup lama. Tidak apa-apa kita cuma pergu sebentar ke sana, tapi hanya kita berdua saja. Juliana dan Amber tidak ikut."
"Baiklah."
Wajah Lizzie berbinar senang dan ia hampir tidak mempercayai pendengarannya kalau Ivander akan mengajaknya pergi ke sana. Lizzie i langsung memeluknya.’’Terima kasih....Terima kasih. Aku janji akan berhati-hati selama pergi ke sana."
Tiba di rumah Lizzie langsung naik ke kamarnya dengan perasaan bahagia sebentar lagi ia akan pergi ke Zelenogradsk. Ia sudah terlalu lama merindukan desa itu.
Juliana menatap suaminya. Ivander terlihat begitu tenang.’’Apa kamu sudah yakin membiarkan kalian akan pergi ke sana?"
"Aku yakin. Lizzie butuh liburan diakhir pekan. Selama ini ia tidak pernah pergi kemana-mana. Aku kasihan kepadanya, karena dia merindukan desa itu dan temannnya. Aku tidak ingin melihatnya sedih berkepanjangan."
" Kalian harus hati-hati."
Juliana duduk disamping suaminya.’’Semoga semuanya akan cepat berakhir dan Lizzie dapat berkumpul kembali dengan keluarga yang sebenarnya."
Keesokan paginya setelah selesai sarapan pagi, Lizzie dan Ivander berpamitan.
"Aku akan segera kembali’’katanya kepada Ivander dan Juliana.
"Hati-hati di jalan!’’seru Juliana.
Lizzie memasang senyum termanisnya, lalu masuk ke dalam mobil.
🍎🍎🍎
Vladimir keluar dari mobil sedannya berwarna hitam ketika telah berada di depan rumah Ophelia Ester Constantine.Ia memakai celana jeans dan T-shirt. Suasana rumah itu terlihat sangat sepi hanya terdengar gesekan-gesekan pohon birch yang tertiup angin dan juga suara kicauan burung. Vladimir membuka pintu pagar kayu bercat putih yang tingginya hanya sebatas pinggangnya. Ditekannya bel dan tidak lama kemudian seorang wanita muncul di balik pintu.
"Selamat siang nona! Aku ingin bertemu dengan nyonya Bibi Ester."
"Bukankah Anda anak Tuan Nicola,"kata Milly.
"Benar."
"Apa kabarmu, Milly?"
"Aku baik. Silahkan masuk!"
"Aku ingin bertemu dengan ibumu."
"Silahkan duduk! Aku akan segera memberitahu ibu tentang kedatangan Anda."
Milly segera masuk ke dalam mencari ibunya. Vladimir duduk dengan nyaman di sebuah sofa yang dilapisi beludru merah. Selama beberapa saat ia memperhatikan sekeliling rumah. Pertama kali yang dirasakan ketika masuk adalah rasa hangat yang menyebar dan harum aroma kayu manis dan selai .
"Tuan muda Vladimir!’’panggil Bibi Ester.
Wajah wanita itu terlihat bahagia ketika bertemu dengannya. Vladimir tersenyum hangat dan Bibi Ester langsung memeluknya.
Ester memandang kagum kepadanya dan memperhatikan Vladimir secara keseluruhan."Kamu mirip dengan ayahmu sewaktu muda dulu. Apa kabarmu?’’
"Aku baik-baik saja. Aku juga senang kembali bertemu denganmu."
Vladimir menuntun Bibi Ester untuk duduk.
"Rumah yang hangat. Aku menyukainya."
"Iya akhirnya aku dapat membeli rumah ini setahun yang lalu. Bagaimana kabar keluargamu? Semuanya baik-baik saja."
"Mereka semua baik-baik saja. Ayah menitipkan salam untukmu."
"Tentu. Sampaikan salamku juga untuknya."
"Pasti aku sampaikan."
Tidak lama kemudian Milly datang membawa teh dan kue-kue kering , lalu duduk di seberang meja.
Tidak henti-hentinya Milly memperhatikan Vladimir dan ia langsung merona merah ketika Vladimir memergokinya sedang menatapnya. ‘’Milly, kamu juga semakin cantik,’’katanya dengan senyuman menggodanya membuat Milly semakin tersipu malu.
" Apa ada kabar tentang Lizzie?"
"Sayangnya belum."
"Gadis yang malang. Nasibnya sungguh buruk. Semoga saja dia baik-baik saja,’’kata Ester.
"Aku yakin Lizzie akan baik-baik saja. Dia adalah gadis yang kuat,’’kata Vladimir.
"Ada apa kamu mencariku?’’
"Oh itu. Aku datang kesini untuk menanyakan beberapa hal mengenai peristiwa di Romanov mansion."
__ADS_1
Ester dan Milly menjadi tegang. Terutama Milly wajahnya menjadi pucat.
"Aku memutuskan untuk membantu ayahku untuk menyelesaikan masalah ini. Kasus ini sudah sangat berlangsung sangat lama. Kami ingin segera menyelesaikannya."
"Jadi begitu,’’jawab Ester dengan suara pelan.
"Aku hanya ingin bertanya kepada kalian. Aku tahu pasti kalian sudah ditanya tentang masalah ini berulang kali, tapi aku berpikir mungkin saja kalian ada hal yang terlupakan. Mungkin kejadian yang menurut kalian tidak berarti sama sekali menjadi sangat berarti bagi kami. Aku mohon. Ini juga demi Lizzie mungkin hidup gadis itu masih dalam bahaya, jika penjahat yang sebenarnya masih berkeliaran."
Ester menghembuskan napas panjang. ‘’Baiklah. Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku?’’
"Apa ketika kamu datang ke mansion itu kamu melihat seseorang yang kamu curigai?’’
"Ketika aku datang kesana mansion itu sudah terbakar . Waktu itu aku panik mencari Milly."
"Milly?’’
"Iya. Aku menyuruhnya untuk mengambil barangku yang tertinggal dan ketika aku tahu mansion itu terbakar aku segera pergi dan mencari Milly dan akhirnya aku menemukan Milly. Dia terjebak di dapur dan aku berusaha menolongnya. Pasti kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya kepadaku. Aku sama sekali tidak melihat orang yang mencurigakan saat itu. Sungguh. Aku hanya melihat Ivander membawa pergi Lizzie."
Lalu Vladimir menatap Milly yang wajahnya telah menjadi pucat dan tubuhnya gemetaran."Kamu baik-baik saja?’’tanya Vladimir cemas.
"A...aku baik-baik saja."
"Milly masih trauma dengan peristiwa itu,’’kata Ester.
"Milly, ketika kamu pergi ke sana apa kamu bertemu dengan orang yang mencurigakan."
Milly mengelenggkan kepalanya."Aku hanya melihat Tuan Dimitri berbicara dengan Ivander sambil menyerahkan bayinya kepada pria itu. Tuan Dimitri menyuruh Ivander untuk menyelamatkan bayinya setelah berkata seperti itu pria itu langsung pergi."
Vladimir terlihat kecewa, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam celananya.’’Apa kamu mengenal liontin ini?’’
"Itu punyaku,"seru Milly.
"Jadi ini punyamu?’’
Milly mengangguk. Aku kehilangan liontin itu saat kebakaran terjadi. Dari mana kau menemukannya?’’
"Bukan aku yang menemukannya, tapi Jack. Saat Jack menemukan liontin ini , dia berpikir mungkin saja orang yang memiliki liontin ini adalah saksi dari peristiwa kebakaran yang terjadi di Romanov mansion."
Tubuh Milly jadi tegang kembali. Jantungnya berdebar semakin cepat. Ia ingin sekali mengatakan kalau ia melihat pelakunya saat topengnya dibuka, tapi lidahnya terasa kelu dan tidak ada suara yang keluar. Ia takut, tapi ia juga selama ini bersalah dengan tidak mengatakannya. Milly tidak ingin hal yang buruk menimpa ibunya.Vladimir masih menatap Milly dengan pandangan curiga, lalu ia berkata,’’jika kamu ingat sesuatu datanglah kepadaku. Ini nomor teleponku,’’katanya sambil menyerahkan kartu nama kepada Milly.
"Baiklah. Aku akan menghubungi Anda jika aku mengetahui sesuatu."
"Sepertinya aku harus pergi. Terima kasih kalian sudah meluangkan waktu untukku."
"Rumah ini selalu terbuka untukkmu’’kata Ester.
Vladimir kemudian memacu mobilnya meninggalkan halaman rumah . Dari balik spion Vladimir masih melihat mereka sedang memandangi kepergiannya.
🍎🍎🍎
Lizzie yang telah tiba di desa Zelenogradsk segera melakukan perjalanan di sekitar desa, setelah Ivander memarkirkan mobilnya di dekat Silverbell Farms.Ia menatap desanya dengan penuh perasaan rindu dan haru, karena pada akhirnya ia kembali lagi ke sini meskipun hanya satu hari.
Selama 2 tahun sudah banyak perubahan yang terjadi di desa ini. Perternakan tuan Andrews terlihat lebih bagus sekarang dan domba-dombanya semakin banyak. Ia pun kembali teringat dengan musim panas beberpa tahun yang lalu saat ia dan Fanya mengembalakan domba-domba tuan Andrews.
Lizzie dan Ivander berjalan menuju rumah Fanya berharap ia akan bertemu dengan sahabatnya itu. Semilir angin berhembus menggerakkan dedaunan disekitarnya. Mereka berdiri di depan halaman rumahnya dengan tatapan nanar penuh kerinduan kepada sahabatnya itu.
"Fanya,’’gumamnya.
Ia ingin sekali bertemu dengannya, ia melangkahkan kakinya menuju rumah keluarga Corbin tiba-tiba Lizzie menghentikan langkahnya, merasa ragu.
" Ada apa? Bukankah kamu ingin bertemu dengannya?" tanya Ivander.
" Aku memang sangat ingin bertemu dengannya, tapi..."
"Tapi kenapa?"
" Aku tidak ingin Fanya mengalami nasib yang sama denganku. Aku tidak ingin orang jahat itu memaksa Fanya untuk memberitahu di mana aku berada. Lebih baik Fanya tidak tahu."
" Akhirnya kamu mengerti juga. Itu sebabnya kita jangan menampakan diri dulu pada orang yang kita kenal."
Lizzie pun akhirnya meninggalkan tempat itu dan baru saja ia akan pergi terdengar suara pintu dibuka. Cepat-cepat mereka bersembunyi di balik pohon poplar yang hampir mengelilingi rumah itu. Seorang gadis berambut kecoklatan keluar membawa sebuah keranjang makanan.
"Aku pergi dulu Bu."
"Fanya, hati-hati di jalan dan tolong sampaikan salam ibu kepada nyonya Watson."
"Baik."
Lizzie dan Ivander semakin menyembunyikan dirinya di balik pohon melihat Fanya membuka pintu pagar. Matanya berkaca-kaca hendak menangis ketika melihat Fanya. Ia ingin sekali menyapanya, tapi ia tidak bisa. Lizzie tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya. Ia hanya bisa melihat Emily dari kejauhan .
Lizzie keluar dari tempat persembunyiannya. Ia kembali berjalan dengan perasaan sedih. Ia senang dapat kembali bertemu dengan sahabatnya, tapi ia juga tidak bisa muncul di hadapannya. Ia sungguh lelah terus menerus hidup dalam pelarian dan bersembunyi . Entah sampai kapan keadaan ini akan terus berlanjut.
Lizzie dan Ivander terus melangkahkan kakinya dan sudah berada di Silverbell Farms. Ia merindukan tempat ini tempat ia dibesarkan. Tempat ini selalu indah seperti sebelumnya. Bunga-bunga sedang bermekaran menambah pemandangan disekitarnya menjadi lebih indah. Ia berjalan dan berputar-putar dengan senang.
Lizzie begitu senang Silverbell Farms tidak terlantar seperti yang ia pikirkan selama ini, kemudian ia pun bertanya-tanya kepada diri sendiri. Siapa yang telah merawatnya selama ini? Lizzie tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui jawabannya. Ia melihat paman Javor sedang membersihkan rerumputan.
__ADS_1
" Ayahmu yang mengambil alih Silverbell Farms, " kata Ivander yang membuat Lizzie terkejut.
"Benarkah?"
"Iya.Ayahmu jg yang sudah membangun kembali rumah orangtua angkatmu."
Gadis itu terdiam memperhatikan paman Javor merawat Silverbell Farms sendirian. Sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman. Rasanya ia ingin sekali menghambur kepelukannya dan mengatakan kalau ia baik-baik saja dan ingin mengucapkan terima kasih sudah merawat kebun bunga milik orang tua angkatnya.
Mereka kemudian pergi ke rumah Lizzie dibesarkan. Lizzie senang rumahnya kembali seperti semula. Butiran air mata terjatuh secara perlahan-lahan. Lizzie tidak dapat menahan kesedihannya. Ia kembali teringat dengan masa lalunya yang penuh kebahagiaan bersama orang tua angkatnya. Dipejamkan matanya dan ia dapat mendengar suara ayah dan ibunya.
Suara ibunya yang sedang memarahinya dan suara tertawa ayahnya yang begitu keras. Lizzie merindukan saat-saat hidup bersama mereka. Rasa marah dan benci muncul di hatinya. Ia tidak akan memaafkan orang yang sudah membuat hidupnya dalam kesedihan. Cepat-cepat ia menghapus air matanya.
🍎🍎🍎
Fanya mengetuk pintu rumah keluraga Watson dan Xena Watson membukakan pintu untuknya. Fanya memberikan senyuman ramah kepadanya. ‘’Selamat siang nyonya Watson!’’
"Selamat siang Fanya!’’
"Maaf menganggu. Aku hanya ingin memberikan selai ini kepada Anda dari ibuku."
"Ah, tentu saja,’’katanya sambil membetulkan letak kacamatanya. Xena menerima keranjang yang diberikan Fanya kepadanya.
"Apa kau tidak ingin masuk dulu? Aku baru saja selesai membuat pai apel."
"Tidak terima kasih. Ibuku sudah menungguku di rumah."
"Baiklah. Lain kali saja dan sampaikan ucapan terima kasihku kepada ibumu."
"Baik."
‘’Permisi nyonya Watson! Aku pulang dulu."
Xena mengangguk lalu menutup pintu. Dalam perjalanan pulang, Fanya tak sengaja melihat seorang gadis yang seumuran dengannya sedang memasuki mobil yang tidak jauh diparkir dari rumah Lizzie. Saat Fanya melihat wajah gadis itu saat akan menaiki mobil, Fanya menjatuhkan keranjangnya.
"Lizzie."
Mobil berjalan menjauhi Silverbell Farms. Fanya yang baru sadar dari keterkejutannya langsung berlari mengejar mobil yang ditumpangi Lizzie.
"LIZZIEEEE,"teriaknya.
Mobil itu terus melaju dengan cepat dan Fanya terjatuh.
"Jika itu Lizzie kenapa dia datang menemuiku?"
Fanya menangis. Ia begitu merindukan sahabatnya.
🍎🍎🍎
Lizzie menjatuhkan dirinya di tempat tidur. Rasa lelah telah menyerangnya sejak kedatangannya ke desa Zelenogradsk. Ia merasa puas untuk mengenang masa lalunya. Kedua tangannya ditopangkan di belakang kepalanya dan matanya memandangi langit-langit di kamarnya. Ia juga teringat ketika melihat Fanya untuk pertama kalinya sejak mereka berpisah.
"Apa Fanya masih ingat padaku?" gumam Lizzie.
Angin sepoi-sepoi yang berhembus melalui jendela membuat rasa kantuknya semakin menjadi dan akhirnya Lizzie terlelap tidur.
Fanya telah kembali pulang ke rumahnya, lalu ia memberitahu ibunya, bahwa ia sudah melohat Lizzie.
" Itu tidak mungkin,"kata ibunya Fanya.
"Aku sangat yakin itu Lizzie. Aku mengenalnya."
"Jika itu memang Lizzie, artinya dia baik-baik saja."
"Tapi kenapa dia tidak datang menemuiku?" tanya Fanya sedih.
"Mungkin Lizzie mempunyai alasan."
"Apa mungkin dia sudah melupakanku?"
"Ibu rasa tidak. Sudahlah Fanya, ibu yakin Lizzie pasti akan menemuimu suatu hari nanti."
Fanya terdiam .
🍎🍎🍎
Vladmir memasuki Lenixton manor yang terlihat sangat sepi setelah ia kembali dari rumah Constantine.
"Selamat siang tuan Vladimir!’’sapa kepala pelayannya.
"Siang! Tolong suruh salah satu pelayan untuk membawakanku teh dan kue ke kamarku."
‘’Baik tuan’’.
Vladimir segera pergi ke kamarnya dengan buru-buru. Ia duduk di sofa yang berada di dalam kamarnya, lalu dipejamkan matanya.
"Milly,’’gumannya tiba-tiba.
__ADS_1
Vladimir merasakan ada sesuatu yang diketahui oleh gadis itu, tapi tidak ingin mengatakannya, karena sesuatu hal. Hal yang membuatnya sangat ketakutan. Instingnya yang mengatakan itu, karena selama ini ia selalu mempercayai insting yang timbul dari dalam dirinya. Vladimir mencurigai Milly karena gadis itu memiliki informasi yang tidak ingin dikatakannya. Milly pasti akan datang menemuinya tidak lama lagi ucapnya dalam hati. [ ]