
Vladimir dikejutkan oleh kedatangan Fanya yang tiba-tiba di rumahnya ketika hari sudah mulai gelap. "Fanya,’’serunya tidak percaya.
"Malam Vladimir! Boleh aku masuk?’’
"Tentu saja. Silahkan masuk!’’.
"Aku mengira kamu akan datang besok’’.
"Itu benar, tapi aku ingin membuat kejutan untukmu,’’katanya dengan wajah bahagia.
Malam ini Fanya terlihat cantik seperti biasanya dan ia begitu bahagia. Sebentar lagi ia akan membuat gadis itu bersedih dengan mematahkan hatinya dan akan melenyapkan senyuman di wajahnya. Vladimir merasa tidak tega untuk mengatakan kebenarannya, tapi ia harus memberitahu Fanya agar gadis itu tidak tersakiti lebih jauh lagi.
"Silahkan duduk!’’
Fanya duduk di samping Vladimir dan tangannya di kaitkan di lengan kekasihnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Vladimir.
"Aku sangat merindukanmu. Saat aku tahu , kamu memintaku untuk bertemu, aku sangat senang sekali dan aku tidak sabar ingin bertemu denganmu. Oh ya aku membawakan sesuatu untukmu. Pasti kamu dan orangtua Lizzie akan senang."
Fanya segera meraih tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam tas, lalu ia berikan kepada Vladimir. ‘’Apa ini?’’
"Bukalah!’’
Vladimir membukanya dan di dalamnya ia mendapati bermacam-macam foto Lizzie saat Lizzie masih kecil.
"Itu album foto Lizzie. Ayahku menemukan album itu di antara reruntuhan rumah Lizzie hanya album itu yang selamat meskipun agak sedikit gosong di bagian pinggirnya."
Vladimir melihat satu persatu foto Lizzie dengan berbagai gaya dan di dalamnya juga ada foto Fanya.
"Paman dan bibi pasti senang melihat foto ini, karena mereka belum pernah melihat seperti apa Lizzie waktu kecil."
"Kita sama-sama memberikan album ini kepadanya besok pagi dan sekalian aku ingin bertemu dengan Lizzie."
"Baiklah. Itu ide bagus. Terima kasih."
"Aku hanya ingin kalian memilikinya."
Vladimir mengelus tangan Fanya dan tersenyum lembut kepadanya. "Apa kamu sudah makan malam?’’
‘’Aku sudah makan’’.
‘’Kalau begitu sebaiknya segera beristirahat. Kamar untukmu sudah aku siapkan. Mari ku bantu membawakan barangmu."
Vladimir memutuskan untuk bicara dengan Fanya besok, karena malam ini bukan yang tepat untuk membicarakan perasaannya dan lagi pula Fanya sudah terlalu lelah dan butuh banyak istirahat.
Fanya duduk terpaku dengan wajah hampir menangis saat Vladimir mengatakan tidak mencintainya dan memintanya untuk mengakhiri hubungan mereka. Mereka berdua sekarang berada di taman bunga belakang rumah yang sekelilingnya di tumbuhi oleh bunga wisteria biru.
Vladimir mengajak Fanya jalan-jalan di taman tidak lama setelah mereka menemui orangtua Lizzie dan memberikan album foto, sedangkan Lizzie sedangkan Lizzie sedang keluar bersama Ivander.
Vladimir menatap Fanya dengan tatapan bersalah, ia tahu gadis itu sedih, tapi ia sudah tidak dapat membohongi dirinya sendiri. Akhirnya Fanya menangis tersedu-sedu membuat Vladimir menjadi semakin bersalah. Ia tidak pernah berpikiran sekali pun untuk menyakiti perasaannya sebaliknya ia ingin membuatnya bahagia dan selalu tersenyum. Mungkin sekarang Fanya akan memiliki pikiran jahat tentang dirinya yang senang mempermainkan perasaan wanita.
"Maafkan aku, Fanya!’’
Fanya tidak menjawab dan tangisannya semakin kencang. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menangkan Fanya.
"Kamu boleh marah padaku dan pukul saja aku sekalian. Aku memang jahat. Fanya, aku mohon bicaralah sesuatu. Jangan diam saja!’’
Selama setengah menit Fanya berhenti menangis dan memandang kesal kepada Vladimir,lalu kembalu terisak menangis.
"Fanya,’’panggilnya dengan suara pelan.
"Kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Pasti kamu sudah tahu kalau aku mencintaimu,’’kata Fanya di sela isak tangisnya.
"Aku tahu, kamu mencintaiku dan aku percaya itu."
"Lalu kenapa?’’teriak Fanya.
:Sudah aku katakan kepadamu kalau aku mencintai wanita lain dan sejak awal aku memang tidak mencintaimu."
Fanya masih memandanginya dengan jengkel dan kemarahannya siap meledak.
:Aku tahu seharusnya sejak awal aku tidak pura-pura mencintaimu, tapi waktu itu aku juga tidak tahu bagaimana perasaanku kepadamu. Aku pikir aku mencintaimu, tapi setelah aku bertemu dengan dia lagi, aku tahu aku tidak bisa melupakannya. Sekali lagi aku minta maaf telah menyakiti perasaanmu."
"Siapa dia? Siapa wanita yang sudah berhasil membuatmu jatuh cinta kepadanya?’’
Vladimir nampak ragu-ragu untuk memberitahunya. "Kenapa kamu diam saja?’’tanya Fanya kesal.
"Kamu benar-benar ingin tahu?’’
"Iya."
"Wanita itu adalah Lizzie."
Fanya membelalakan matanya tidak percaya.
"Lizzie,"serunya
"Benar."
Fanya langsung berdiri dan langsung berlari menuju rumah.
"Fanya, kamu mau kemana? Tunggu!’’
Fanya berlari sangat cepat dan Vladimir berusaha menyusulnya di belakang. Fanyamelihat banyak orang yang berlalu-lalang di dalam mansion , tapi ia tidak mempedulikannya.
Lizzielah yang ia cari dan Fanya menemukannya sedang duduk di ruang keluarga bersama Ivander yang baru saja pulang. Fanya berjalan mendekatinya dengan marah dan ia langsung menampar wajah Lizzie membiat Ivander dan Vladimir terkejut.
Lizzie yang mendapat tamparan keras dari Fanya terkejut dan tidak mengerti kenapa Fanya tiba-tiba datang dan langsung menamparnya. Lizzie sangat terkejut dengan kedatangan Fanya.
Bekas tamparan Fanya membekas di wajah Lizzie Fanya menarik pakaian Lizzie dan mengguncang-guncang tubuhnya.
"Kenapa kamu lakukan ini kepadaku? Apa salahku kepadamu ?’’teriak Fanya dan dadanya naik turun karena marah.
"Apa maksudmu?’’
"Kamu sudah merebut Vladimir dariku. Kamu adalah sahabatku, tapi kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Apa tidak ada pria lain? Kenapa harus Vladimir?’’ teriak Fanua marah dan air mata sudah kembali membasahi wajahnya.
"Fanya, hentikan!’’’teriak Vladimir.’’Sudah cukup!’’
Vladimir menatap Fanya tajam menusuk membuatnyA ketakutan. ‘’Jangan salahkan Lizzie! Dia tidak merebut apa pun darimu. Sekarang lepaskan Lizzie!’’
Fanya akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya di pakaian Lizzie dan berlari keluar rumah dengan perasaan sedih dan marah.
"Fanya, tunggu!’’
Vladimir berusaha mengejar Fanya, tapi gadis itu sudah menghilang darinya. Fanya memang pelari yang sangat hebat, tadi pun ia sangat kewalahan mengejarnya.
__ADS_1
Lizzie begitu marah kepada Vladimir, karena sudah membuat hubungan persahabatannya dengan Fanya jadi rusak, bahkan ia tidak sempat menjelaskan semuanya pada Fanya kalau ia tidak pernah merebut Vladimir darinya.
" Seharusnya kamu tidak memutuskan hubungannya dengannya. Sekarang carilah Fanya! Minta maaf kepadanya dan kembalilah kepadanya!"
"Aku akan mencari Fanya dan bicara dengannya, tapi aku tidak bisa kembali lagi kepadanya, karena kaulah wanita yang aku cintai."
"Gara-gara kamu, Fanya jadi membenciku dan aku dituduh sebagai perebut kekasih orang lain."
Vladimir menarik tubuh Lizzie ke dalam pelukannya dalam sekali tarikan. Gadis itu berontak berusah melepaskan diri. Saat Vladimir menjauhkan tubuhnya dan memaksa Lizzie memandang lurus ke matanya, ia berkata,’’aku akan selalu mencintaimu. Ingat itu."
Vladimir pergi dengan terburu-buru memyusul Fanya.
🍎🍎🍎
Juliet langsung menghampiri Vladimir saat pria itu membuka pintu dan menyeretnya untuk duduk di sampingnya.’’Ada apa lagi, bu?’’
"Apa yang terjadi?’’
"Terjadi apanya?’’
"Tadi Fanya pulang ke sini dan sepertinya dia habis menangis."
"Sekarang di mana Fanya?’’
"Dia sudah pergi."
"Apa maksud ibu sudah pergi?"
"Tadi dia langsung membereskan semua barangnya. Katanya dia akan kembali ke Zelenogradsk."
"Fanya pasti sangat marah kepadaku."
"Sebenarnya apa yang terjadi?’’
"Aku putus dengannya."
"Apaaa? Jadi kau sudah putus dengannya? Tapi kenapa? Bukannya hubungan kalian baik-baik saja?’’
"Sekarang sudah tidak lagi."
"Vladimir, bisakah kamu menceritakannya kepadaku. Apa yang sudah terjadi di antara kalian berdua?’’
Vladimir menghela napas panjang.’’Karena aku mencintai wanita lain."
Mulut Juliet mengangga karena terkejut. ‘’Aku mencintai Lizzie. Aku mencintai sebelum aku berhubungan dengan Fanya."
"Kamu mencintai Lizzie?’’
Vladimir mengangguk. Juliet seakan menyadari sesuatu, ia segera bangkit dari duduknya.
"Ibu harus pergi. Ada yang harus ibu lakukan."
Juliet mengecup pipi Vladimir dan kemudian pergi dengan terburu-buru. Vladimir hanya memandangi kepergian ibunya yang tiba-tiba dengan terheran-heran.
Nicola dan Vladimir sedang menonton acara berita di televisi saat Juliet pulang ke rumah. ‘’Selamat malam semuanya!’’sapanya dengan wajah senang.
"Kamu dari mana saja, Juliet?’’tanya Nicola cemas.’’Vladimir bilang kamu pergi dengan terburu-buru."
"Coba kalian tebak, tadi aku menemui siapa?’’
"Mana aku tahu,’’sahut Nicola.’’Memangnya kamu dari mana?’’
Vladimir langsung menegakkan tubuhnya tertarik dengan apa yang dikatakan ibunya.
"Untuk apa kamu menemuinya?’’tanya Nicola.
"Tapi aku sudah tidak sabar menyampaikan kabar baik kepadanya,’’kata Juliet cemberut.
"Sekarang katakan kabar baik apa yang kau sampaikan kepada William?’’
"Aku mengatakan kepadanya kalau Vladimir jatuh cinta kepada Lizzie,’’serunya senang.
Nicola yang mendengarnya terkejut begitu juga Vladimir sampai tersedak dengan popcorn yang sedang dimakannya. "Dan mereka senang mendengarnya berarti perjanjian lama kita masih berlaku’’.
Nicola sesaat terlihat bingung.’’Apaaa?’’seru Nicola terkejut. Vladimir yang tidak mengerti soal perjanjian yang disebutkan ibunya merasa ada yang mereka rahasiakan kepadanya.
"Apa maksud kalian dengan perjanjian lama yang dibuat?’’
Juliet dan Nicola saling berpandangan. "Sepertinya sudah saatnya kamu mengetahuinya. Dulu aku dan ibumu membuat semacam perjanjian dengan Dimitri sebelum koma , jika Dimitri memiliki anak perempuan maka kamu akan menikah dengannya."
"Apaaa…’’teriak Vladimir.’’Maksud kalian semacam perjodohan?’’
"Iya,’’kata Nicola dan Juliet bersamaan.
‘’Sayang, kenapa kamu tidak membicarakannya dulu dengan kami?’’tanya Nicola.
"Maafkan aku. Tadi aku terlalu senang saat tahu Vladimir mencintai Lizzie."
"Dan sekarang jelaskan kepadaku tentang perjodohan ini?’’tanya Vladimir kesal menatap kedua orang tuanya, karena mereka telah merahasiakan sesuatu darinya yang menyangkut kehidupannya.
Nicola menghampiri Vladimir dan menyuruhnya untuk duduk kembali.
"Dulu aku dan Dimitri menjodohkanmu dengan anak perempuannya, awalnya aku tidak setuju, tapi Dimitri bersikeras, akhirnya ayah menyetujuinya tapi dengan syarat. Jika kamu jatuh cinta kepada wanita lain , perjodohan kalian batal, karena ayah dan ibumu ingin kamu menikah dengan orang yang kamu cintai. Dimitri pun menyetujuinya dan jika anak perempuannya jatuh cinta kepada pria lain, ia juga tidak bisa memaksakan perasaannya. Maaf selama ini kami merahasiakannya darimu."
"Aku masih tidak percaya aku sudah dijodohkan dengan Lizzie ketika ia masih bayi."
"Kami tahu dan kami tidak akan memaksamu untuk menikahi dengannya."
"Aku menerimanya."
Vladimir tersenyum lebar.
"Eh,"seru Juliet dan Nicola bersamaa.
Vladimir beranjak dari tempat duduknya sambil melihat jam tangannya.’’Ini sudah larut malam. Sebaiknya aku tidur. Selamat malam!’’
"Malam!’’kata Nicola dan Juliet bersamaan.
🍎🍎🍎
Lizzie memejamkan matanya saat ia menghirup udara segar saat ia kembali menginjakkan kakinya lagi di desa Zelenogradsk. Lizzie akan menemui Fanya untuk meluruskan salah paham diantara mereka. Ia berharap semoga Fanya akan mengerti. Rumah Fanya sudah terlihat dan tidak banyak berubah. Lizzie merasa gugup saat ia semakin mendekati rumah Fanya. Kedatangannya yang tiba-tiba pasti akan mengejutkan Fanya dan kemungkinan besar Fanya akan langsung mengusirnya sebelum Lizzie sempat bicara.
Setelah dirinya siap, Lizzie mengetuk pintu dan tidak lama kemudian seseorang membukakan pintu. Lizzie merasa terkesiap melihat ibu Fanya. Ia masih terlihat seperti dulu cantik meskipun sekarang di wajahnya timbul garis-garis halus dan rambutnya sudah sedikit beruban, tapi hal itu tidak mengurangi kecantikan yang dimilikinya. ‘’Selamat siang!’’
"Siang!’’
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengan Fanya. Apakah dia ada?’’
"Anda siapa?’’
"Saya Lizzie."
"Lizzie,"serunya terkejut."Maaf aku tidak mengenalimu.Silahkan masuk!’’
Lizzie memasuki rumah Fanya untuk pertama kalinya selama sebelas tahun terakhir. Ruang tamunya telah banyak berubah dan kertas dindingnya telah diganti menjadi warna hijau muda dengan motif daun-daun bersulur kecil. Selain itu ruang tamu tersebut terlihat sangat segar banyak bunga-bunga yang disimpan di setiap sudut ruang tamu. Mayflower, marigold dan mawar merah.
Lizzie sangat merindukan masa-masa saat ia masih kecil, saat-saat bersama dengan Fanya. Tertawa dan menangis bersama dan banyak sekali kenangan manis dan indah diantara mereka berdua. Lizzie tidak pernah melupakan itu baginya kenangan itu adalah hartanya yang paling berharga, yaitu persahabatannya dengan Fanya.
"Mau apa kamu kesini?’’bentak Fanya membuat Lizzie terkejut membuatnya langsung menoleh kepada Fanya yang sedang menatap marah dirinya.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Aku tidak ingin bicara denganmu. Pergilah!’’
Fanya membentaknya dengan kasar dan itu membuatnya sedih . Apakah Fanya sudah begitu membencinya sehingga ia tidak ingin melihat atau berbicara dengan dirinya lagi?
"Aku mohon. Beri aku waktu lima menit untuk menjelaskan semuanya.Setelah itu aku akan pergi."
"Aku tidak butuh penjelasan apa pun darimu."
"Aku tidak akan pergi sebelum kau mau mendengarkanku."
"Kamu keras kepala sekali."
"Aku mohon,’’pinta Lizzie penuh harap.
Fanya menghela napas.’’Baiklah. Sekarang cepat katakan!’’
"Aku ingin minta maaf. Aku tahu kamu pasti sangat marah kepadaku saat ini, tapi sungguh aku tidak bermaksud mencuri siapa pun darimu. Aku dan Vladimir tidak ada hubungan apa-apa, karena aku telah menolak perasaannya."
"Benarkah?’’
Lizzie mengangguk dengan cepat.
"Kenapa kamu menolaknya? Apakah kamu tidak mencintainya?’’
Lizzie terdiam dan menelan ludahnya dengan susah payah.
"Aku mencintainya."
Pernyataaan Lizzie membuat Fanya terkejut dan Lizzie sudah tidak ingin membohongi Fanya lagi termasuk perasaannya. Biarlah Fanya tahu tentang perasaannya meskipun nanti ia akan semakin membencinya. Lizzie ingin mencoba jujur kepada sahabatnya dan juga kepada dirinya sendiri.
"Kalau kamu mencintainya kenapa kamu menolak Vladimir?’’
"Itu karena kamu, Fanya. Kamu adalah seseorang yang kusayangi dan juga berharga bagiku. Aku tidak ingin menyakitimu dan membuatmu sedih dan aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya. Aku juga tidak ingin persahabatan kita rusak hanya karena pria. Persahabatan kita lebih berharga dari apa pun, Fanya."
Fanya menatap Lizzie tidak mengerti. ‘’Kenapa kamu mengatakan ini kepadaku?’’
Lizzie mendekati Fanya dan menatapnya lurus langsung kedalam matanya.
"Aku hanya ingin kamu tahu saja."
"Bukankah dulu kamu tidak suka kepadanya?’’
"Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta kepadanya. Kalau boleh memilih, aku tidak ingin jatuh cinta kepadanya dan saat aku mengetahui Vladimir memiliki seorang kekasih , aku sudah memutuskan untuk membuang perasaan ini jauh-jauh, karena kamu adalah kekasih Vladimir. Aku ingin melihat kalian berdua bahagia. Tapi suatu hari Vladimir mengatakan kalau ia mencintaiku dan waktu itu aku sangat terkejut dan tidak percaya; karena selama ini aku melihat Vladimir begitu mencintaimu."
"Tapi kenyataannya tidak. Dia jatuh cinta kepadamu dan aku tidak mengerti kenapa dia bisa jatuh cinta kepadamu. Aku ingin meminta satu hal kepadamu."
"Apa?’’
"Menjauhlah dari Vladimir. Kamu tahu , kalau aku mencintainya. Sebelumnya aku tidak pernah mencintai seseorang seperti ini, kalau kamu sahabatku , bisakah kamu membantuku membuat Vladimir kembali kepadaku? Aku mohon."
Fanya menatap Lizzie dengan tatapan tajam yang menusuk dan ini pertama kalinya Lizzie melihat Fanya terlihat putus asa seperti ini. Lizzie akhirnya mengangguk.’’Aku akan bicara dengannya.:
🍎🍎🍎
Sore hari Vladimir datang berkunjung ke kamar kakeknya dan ia menemukan Sergei sedang berbicara dengan Aleandra . Senyuman mengambang di wajahnya saat melihat Vladimir datang .
‘’Ayo Kemarilah!’’kata Sergei. Vladimir berjalan mendekatinya
"Apa aku menganggu?’’
"Tidak. Sama sekali tidak. Aku senang kamu datang."
"Bagaimana kabarmu?"tanya Aleandra.
"Baik. Terima kasih."
"Sepanjang hari ini aku merasa bosan. Mungkin karena tidak ada Lizzie. Biasanya dia selalu bisa membuatku terhibur ,tertawa dengan segala leluconnya dan cerita yang selalu ia bacakan untukku."
"Lizzie kemana?"
"Dia pergi menemui Fanya,"jawab Aleandra.
Vladimir sudah bisa menebak untuk apa Lizzie menemui Fanya.
Vladimir tersenyum. Ia sebenarnya juga sangat merindukan Lizzie. Tujuannya datang kesini selain melihat kakeknya, ia juga ingin melihat Lizzie. Sayangnya gadis itu tidak ada.
‘’Ayah dan ibumu sudah menjelaskan semuanya kepadaku tadi pagi. Kami senang kamu menerimanya."
"Lagi pula perjanjian itu tidak mengikatmu. Aku terkejut saat ibumu memberitahuku kalau kamu putus dengan Fanya dan kamu jatuh cinta kepada Lizzie. Ibumu sangat senang dan menyuruhku untuk segera mengadakan pesta pertunangan kalian,"kata Aleandra
Wajah Vladimir merona merah dan Sergei yang melihatnya tersenyum.
"Tapi sayangnya Cassei menolak perasaanku."
‘’Dia menolakmu? Bagaimana dia bisa menolak pria sepertimu. Apa alasan dia menolakmu?’’tanya Sergei.
"Fanya. Dia tidak ingin menyakiti perasaannya."
"Nanti aku akan bicara dengannya dan menyakinkannya supaya dia mau menerima perasanmu."
"Terima kasih kakek. Tapi jangan memaksanya."
"Aku mengerti. Vladimir sekarang hibur aku dengan bercerita untukku.:
"Aku tidak pandai bercerita.:
‘?"Ayolah hiburlah kakek tua ini’’bujuk Sergei.
"Baiklah. Aku harus bercerita apa?’’
__ADS_1
"Terserah kamu saja."
"Aku akan meninggalkan kalian berdua,"kata Aleandra. [ ]