
Vladimir melepaskan pelukannya dan menatap Lizzie dengan serius. Ia membelai wajah Vladimit, wajah yang dirindukannya selama ini dan akhirnya berada dekat dengannya. Vladimir perlahan-lahan mendekatkan wajahnya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lizzie, kemudian menciumny dengan lembut. Gadis itu dapat merasakan sentuhan hangat di bibirnya dan ia membalas ciumannya. Air mata menetes disudut matanya.
Kemudian terdengar suara ketukan dan mereka berdua cepat-cepat melepaskan diri. Dokter dan perawat masuk untuk memeriksa Lizzie. Perawat menempelkan termometer di kening Lizzie dan hasilnya suhu badannya sudah kembali normal dan besok sudah di perbolehkan pulang. Lizzie senang akhirnya sudah bisa pulang.
"Terima kasih banyak!"
Dokter dan perawat keluar.
"Apa kata dokter?’’kata Vladimir.
"Aku sudah sehat dan besok sudah bisa pulang."
"Benarkah itu?Syukurlah’’
Vladimir langsung memeluk Lizzie. Ponselnya berbunyi. Lizzie tersenyum ketika melihat siapa yang meneleponnya.
‘’Ini dari Nicholas."
Lizzie menerima telepon itu dan bicara dengan ayahnya.
"Halo Nicholas, sekarang aku sehat. Jangan khawatirkan aku lagi! Aku akan pulang besok. Ok sampai jumpa."
Lizzie menutup teleponnya.
"Lizzie, itu tadi Tuan Liebert?’’tanya Vladimir.
"Iya. Kamu sudah pernah bertemu dengannya kan?’’
"Iya. Aku sudah bertemu dengannya, tapi waktu itu aku tidak tahu, kalau itu kalian saling kenal."
"Dia orangnya sangat baik."
"Aku tahu."
Tangan Vladimir masih membelai-belai rambutnya dan mereka beberapa saat saling menatap dan Lizzie mulai merasakan detaknya jantungnya kembali cepat. Ketika Vladimir akan menciumnya lagi, tiba-tiba pintu terbuka.
"Oh. Maaf. Aku sudah menganggu kalian,’’kata pria itu kaget.
"Tidak apa-apa. Ayo masuklah!’’
"Vladimir, kenalkan ini Eddy, anak dari Reiko dan Nicholas."
Vladimir langsung berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Senang bertemu denganmu."
"Aku juga. Dan bagaimana kabarmu, Lizzie?’’
"Aku sudah baikan."
"Syukurlah. Maaf aku baru menjenguk kakak sekarang. Aku disibukan dengan kegiatan sekolah."
"Tidak apa-apa. Aku senang kamu datang."
"Tuan Kalashnikov ternyata Anda memang tampan, seperti yang dikatakan Lizzie."
Pipi Lizzie merona merah dan Vladimir melirik Lizzie.
Setelah mereka menyimpan koper di kastil Liebert, Aleandra dan Dimitri kembali ke rumah sakit dan pergi ke kamar Lizzie setelah berbicara dengan dokter.
"Apa yang dikatakan dokter tentang diriku. Apa tidak ada masalah?’’
‘’Jangan khawatir. Dokter bilang kamu baik-baik saja dan butuh istirahat yang banyak, dan besok kamu sudah boleh pulang. Sekarang Ibu mau pulang dulu, mau istirahat dulu sebentar. Badan ibu pegal-pegal semua."
"Baik Bu."
"Vladimir bisakah kamu menjaga Lizzie malam ini untukku. Besok aku akan kembali."
Vladimir tersenyum.‘’Tentu saja dengan senang hati."
‘’Sebaiknya aku juga pulang,"kata Eddy.
"Kalian mau pulang?’’
"Iya. Sekarang kamu sudah ada yang menemani. Bukankah sekarang ada Vladimir di sini, jadi tidak akan kesepian lagi,’’kata ibunya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Lizzie merona merah. Setelah mereka berdua pergi, sekarang dikamar itu hanya ada mereka berdua. Lizzie dan Vladimir jadi terlihat canggungdi kamar itu dan terjadi keheningan beberapa saat. Vladimir kemudian mendekati Lizzie.
Lizzie menyadari dari tadi Vladimir terus menatapnya tanpa henti. Ia menjadi gugup dan malu ditatap seperti itu. Lizzie memain-mainkan jarinya di atas selimut.
Vladimir tersenyum melihat Lizzie salah tingkah.
"Sampai kapan kamu akan berada di sini?’’kata Lizzir tiba-tiba.
"Mungkin sampai minggu depan."
"Sebentar sekali."
"Kenapa? Apa kamu menginginkanku lebih lama di sini?’’
Lizzie menatap Vladimir, wajahnya langsung kembali merah, cepat-cepat ia menundukan kepalanya tidak ingin Vladimir melihat wajahnya yang memerah.
"I-iya,’’kata Lizzie malu-malu.
"Sayangnya aku tidak bisa berlama-lama di sini. Meskipun hatiku ingin lebih lama di sini dan lebih lama bersamamu. Bagaimanapun juga aku harus kembali ke Rusia. Pekerjaanku di sana banyak. Kamu tahu kan itu.Kapan kamu akan kembali ke Moskow?’’
"Entalah. Mungkin setelah kursusku selesai, lalu kembali ke Moskow untuk melanjutkan kuliahku yang tertinggal mungkin aku akan masuk pada tahun pelajaran baru."
Lizzie merasakan lagi kalau Vladimir sedang menatapnya lagi. Ia sudah tidak tahan lagi ditatap olehnya seperti itu, kemudian Lizzie menoleh ke arah Vladimir dan pandangan mereka bertemu, lalu Lizzie cepat-cepat membuang mukanya.
"Ada apa Lizzie?’’
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa?’’
Vladimir menyentuh dagu Lizzie dan membuat wajah gadis itu kembali menoleh ke arah Vladimir.Tubuh Lizzie jadi gemetar. Vladimir menjadi khawatir.
"Lizzie, kamu tidak apa-apa? Apa kamu sakit lagi? Aku panggilkan dokter ya."
Lizzie cepat-cepat memegang tangan Vladimir untuk menahannya pergi.
"Aku tidak apa-apa. Aku tidak sakit, jadi tidak perlu memanggil dokter."
Vladimir masih memasang wajah khawatir, kemudian menyentuh kening dan wajah Lizzir. Lizzie bisa merasakan hangatnya tangan Vladimir keseluruh tubuhnya.
‘’Jangan mengkhawatirkanku. Aku sehat-sehat saja."
Lizzie berusaha menyakinkan Vladimir. Vladimir lalu menggenggam tangan Lizzie dengan erat.
"Aku tadi ketakutan telah terjadi sesuatu padamu. Syukurlah kamu baik-baik saja. Oh ya, aku hampir lupa memberikan sesuatu padamu."
Vladimir mengambil bungkusan kecil berwarna pink dari jaketnya dan menyerahkannya pada Lizzie, kemudian Lizzie membukanya.
"Ini....’’
"Itu untukmu. Kamu suka?’’
"Ya. Aku suka sekali. Gelang ini sangat cantik."
"Biar aku memasangkannya untukmu."
Lizzie memperhatikan gelang yang sudah terpasang di tangannya.
"Vladimir terima kasih. Hari ini kamu sudah memberiku banyak hadiah."
"Boneka dan gelang itu sebagai hadiah ulang tahunmu, walaupun hari ulang tahunmu sudah lewat. Boneka Teddy itu anggap saja sebagai diriku, kalau aku sudah kembali ke Rusia. Kamu bisa memeluknya, ketika kamu merindukanku, karena aku juga akan merindukanmu setelah pulang."
Vladimir berdiri dan Lizzie menahannya dengan memegang tangan Vladimir.
"Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku."
Vladimir kembali duduk. "Aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya mau mengambil air minum."
Lizzie pun kembali tersenyum dan Vladimir tiba-tiba mencium bibir Lizzie dengan lembut. Lizzie terkejut kemudian matanya menutup dan melingkarkan tangannya di leher Vladimir, membalas ciumannya. Vladimir tidak dapat menahan dirinya tanpa disadarinya ia terus ******* bibir Lizzie tanpa henti. Akhirnya Vladimir mulai bisa menguasai dirinya dan melepaskan ciumannya.
"Maaf. Apa aku sudah menyakitimu?’’
"Ti-tidak,’’kata Lizzie malu-malu.
Vladimir tersenyum dan memegang erat tangan Lizzie, kemudian terdengar lagi ketukan di pintu. Seorang pegawai rumah sakit memberikan makan malam untuk Lizzie.
Lizzie hanya memandangi makanan itu tanpa sedikit pun disentuh.
"Kenapa kamu tidak memakannya?’’
"Kamu harus makan supaya cepat sembuh atau aku yang akan menyuapimu."
Akhirnya Lizzie memakannya walaupun tidak sampai habis.
"Kenapa kamu tidak habiskan?’’
"Aku sudah kenyang. Habiskan saja olehmu. Kamu kan belum makan."
Akhirnya Vladimir memakan sisa makanan Lizzie sampai habis.
"Sebaiknya kamu sekarang minum obat dan tidur."
Vladimir menyelimuti Lizzie.
"Baiklah sebelum tidur, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Baiklah, apa yang ingin kamu katakan."
Lizzie menatap Vladimir lekat-lekat.
"Kamu segalanya yang aku punya di dunia ini. Aku hanya mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Aku hidup hanya untukmu. Tanpa hidupmu, aku tidak dapat hidup lagi dan aku tidak dapat berpisah denganmu. Vladimir, aku mencintaim."
Vladimir tersenyum, lalu memberikan kecupan ringan di bibir Lizzie.
🍀🍀🍀
Lizzie bangun pagi-pagi sekali dan badannya sudah kembali sehat dan segar. Ia turun ke bawah dan pergi ke ruang keluarga dan menemukan Vladimir sendirian di sana sedang membaca sebuah buku di depan perapian yang menyala. Lizzie lalu duduk di dekatnya dan memperhatikan Vladimir yang sedang asyik membaca.
"Sepertinya hari ini cerah kamu mau jalan-jalan denganku di halaman rumah?’’
"Kenapa jalan-jalan di halaman rumah? Aku kira kamu akan mengajakku kesuatu tempat."
‘’Tadinya aku ingin mengajakmu kencan dan pergi kesuatu tempat, tapi niat itu kubatalkan, karena kamu baru saja sembuh, aku tidak ingin kamu sakit lagi. Jadi sebaiknya kita jalan-jalan di halaman kastil saja. Halaman kastil ini besar sekali dan kita juga bisa piknik di sana. Pemandangannya juga bagus. Kita bawa makanan ke sana."
‘’Baiklah. Aku akan menyuruh salah satu pelayan di sini untuk membawakan makanan."
‘’Kastil ini besar sekali. Apakah kamu pernah tersesat di sini?’’
‘’Pernah beberapa kali aku tersesat di kastil ini, ketika aku baru pertama kali tinggal di sini. Sebaiknya kita makan pagi sekarang. Mungkin orang tuaku sudah ada di sana."
Setelah makan Lizzie dan Vladimir pergi jalan-jalan di halaman rumah. Lizziememperlihatkan taman-taman yang tertata rapi. Di halaman belakang terdapat banyak patung dengan berbagai macam ukuran yang sudah tertutupi oleh tanaman merambat dan sudah ada banyak lumut. Di halaman belakang terdapat kolam air mancur yang sangat besar. Di sana juga ada kolam ikan yang sangat besar dan beberapa gazebo. Setelah mengelilingi halaman kastil, mereka berdua pergi ke salah satu gazebo itu dan duduk di sana untuk istirahat. Lizzie mengurut-ngurut kakinya yang pegal.
"Kamu kenapa? Apa kakimu sakit? Kemarikan kakimu yang sakit."
"Tapi....’’
"Cepat kemarikan kakimu yang sakit."
Lizzie ragu-ragu memberikan kakinya kepada Vladimir, kemudian ia mulai memijat kaki Lizzie. Ketika kedua tangan Vladimir yang besar menyentuh kakinya, tubuh Lizzie serasa disengat lebah dan dapat merasakan hangatnya tangan Vladimir. Lizzie menatap Vladimir yang sedang memijat kakinya.
__ADS_1
"Vladimir, apa ada yang aneh di wajahku?’’
Lizzie langsung membuang tatapannya dari Vladimir.
"Ti-tidak ada yang aneh."
"AAAAAAWWWWWW."
"Maaf. Sepertinya aku telah memijatmu terlalu keras."
"Tidak apa-apa."
"Lizzie, ikutlah pulang denganku ke Rusia."
"Eh....’’
"Aku tidak ingin jauh-jauh darimu lagi. Aku ingin kamu selalu berada di dekatku. Kalau rindu saya bisa meneleponmu dan bertemu denganmu, tapi kalau kamu ada di sini, aku akan kesulitan bertemu denganmu sepertinya mulai sekarang aku tidak bisa jauh-jauh darimu lagi. Aku pernah kehilanganmu sangat lama dan sekarang aku menemukanmu kembali dan tidak ingin kehilanganmu lagi."
"Vladimir....’’
Vladimir menatap Lizzie dengan wajah sendu dan mulai memijit kaki Lizzie lagi.
"Aku tidak bisa ikut denganmu pulang, karena aku harus menyelesaikan kursusku dulu. Setelah selesai, aku akan kembali ke Rusia. Jadi tunggu aku. Kamu mau menungguku sebentar lagi?’’
"Lizzie, aku sudah menunggumu dengan sabar sepertinya kalau untuk menunggu lagi tidak masalah. Aku sudah terbiasa menunggumu."
"Maaf."
"Kamu tidak perlu minta maaf."
Lizzie menurunkan kakinya dari pangkuan Vladimor dan duduk di dekatnya.
"Kalau kamu merindukanku kamu bisa meneleponku kapan saja."
"Tapi tetap saja kita tidak dapat bertemu."
"Vladimir, kamu jangan cemberut . Ayo tersenyum."
Vladimir akhirnya tersenyum setelah dipaksa oleh Lizzie untuk tersenyum. Ia kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lizzie. Selama beberapa saat mereka saling berpandangan dan Vladimir menundukkan kepalanya, berbisik di telinga Lizzie. Gadis itu merasakan hembusan nafas Vladimir di pipinya. Jantung Lizzie serasa berhenti.
"Terima kasih. Kamu sudah mau mencintaiku dan membiarkan aku mendapatkan semua perhatianmu. Aku senang sekali mendapatkan itu semua."
Vladimir mengecup telinga dan leher Lizzie. Lizzie tidak bergerak sama sekali. Ia merasakan geli ketika bibir Vladimir menyentuh telinga dan lehernya. Vladimir menatap Lizzie dan tersenyum jahil.
"Aku lapar.Ayo kita makan siang."
Lizzie diam. Tidak mendengar Vladimir bicara.
"Lizzie...Lizzie....’’
"Eh."
Lizzie tersadar dari keterkejutannya.
"Kamu ini kenapa? Dari tadi aku panggil kamu diam saja. Kamu tadi sedang melamunkan apa?’’
"Ti-tidak ada apa-apa. Tadi kamu bilang apa?’’
"Aku sudah lapar."
Lizzie cepat-cepat menghubungi pelayan di rumah untuk membawa makan siangnya.
"Sebentar lagi makan siang kita datang."
"Lizzie, kalau aku sudah pulang ke Rusia, kamu jangan dekat-dekat dengan pria lain. Awas saja kalau kamu berani-berani dekat dengan pria lain."
"Vladimolor, apa kamu sedang mengancamku? Aku akan berkata hal yang sama denganmu. Kamu juga jangan dekat-dekat dengan wanita lain di sana."
Vladimir menatap Lizzie dan memegang dagunya.
"Aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak akan tertarik dengan wanita lain selain dirimu."
"Baguslah kalau begitu."
Tidak lama kemudian pelayan yang membawa makan siang datang.
"Terima kasih."
Pelayan itu menganggukan kepala, lalu pergi.
"Wah makanan ini kelihatannya enak sekali,’’kata Lizzie.
Lizzie makan dengan lahap sekali dan Vladimir tersenyum geli melihat Lizzie makan seperti itu. Setelah mereka makan siang, mereka melanjutkan mengelilingi halaman kastil sambil bergandengan tangan. Lizzie merasakan Vladimit mengenggam tangannya sangat kuat, sehingga tidak mudah melepaskan tangannya dari tangan Vladimir. Ia menggigil kedinginan dan Vladimir melepas mantelnya dan memakaikannya padanya.
"Pakailah ini, supaya kamu tidak kedinginan."
"Bagaimana denganmu? Kamu juga nanti akan kedinginan."
"Tidak apa-apa. Aku masih berpakaian tebal, jadi tidak perlu mengkhawatirkanku. Sebaiknya kita pulang ke rumah saja. Badanmu sudah sangat dingin. Aku tidak ingin kamu sakit lagi. Lihat tanganmu juga sudah sangat dingin dan memerah."
Vladimir meniup-niup tangan Lizzie supaya tidak kedinginan lagi dan Lizzie merasakan hembusan hangat di kedua tangannya, kemudian Vladimir juga menggosok-gosokkan tangan Lizzie dengan tangannya.
"Tanganmu sangat kecil dan imut."
Tiba-tiba Vladimir mencium tangan Lizzie berkali-kali dan berjalan menuju rumah sambil tetap memegang tangan Lizzie dengan erat, kemudian Vladimir memasukan tangannya dan tangan Lizzie kedalam saku celana Vladimir. Mereka berjalan dalam diam sampai tiba di rumah. Ketika mereka ada di di depan pintu depan rumah, ada seseorang yang menyapa mereka.
"Halo Vladimir, Lizzie, apa kabar?’’
Mereka berdua terkejut.
"Ayah, Ibu,"seru Vladimir terkejut. [ ]
__ADS_1