Shattering Heart

Shattering Heart
(S3): Pulang


__ADS_3

Hari keberangkatan Lizzie ke Moskow akhirnya tiba juga. Hari ini ia sudah berpakaian rapi dan siap untuk pergi. Waktu sudah menunjukan pukul 07.00. Lizzie keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi. Reiko sudah menunggunya di ruang Makan.


‘’Selamat pagi!’’


‘’Selamat pagi, Lizzie! Apa kamu sudah siap untuk pulang ke Moskow?"


‘’Iya. Aku sudah siap."


‘’Selama dalam perjalanan kamu harus berhati-hati. Aku tidak ingin kejadian 2 bulan yang lalu menimpamu lagi."


‘’Aku akan berhati-hati. Aku akan menjaga diri saya. Kamu tidak usah khawatir."


Lizzie kemudian menghabiskan sarapan paginya dengan terburu-buru. Setelah selesai makan, Lizzie langsung berpamitan kepada Reiko dan pada semua pelayan di kastil. Sopir sudah menunggunya di depan kastil. Lizzie kemudian masuk ke dalam mobil dan sekali lagi melambaikan tangannya kepada Reiko dan para pelayan


Lizzie tidur sangat nyenyak di pesawat. Setelah melakukan penerbangan selama berjam-jam, akhirnya keesokan paginya ia sampai di bandara. Di sana sudah ada yang menjemputnya. Sesampainya di rumah, Lizzie disambut oleh para pelayan dan orangtuanya.


‘’Selamat datang Nona Lizzie!’’sapa salah satu pelayan itu.


"Selamat datang, Lizzie!"sapa ayah dan ibunya.


Lizzie tersenyum dan masuk ke dalam mansion diikuti oleh para pelayan. Salah satu pelayannya membawakan barang-barangnya ke kamarnya.


"Bagaimana kabarmu?"tanya Dimitri.


"Baik. Ayah. Dan kalian?"


"Kami bail."


"Aku sangat lelah. Sekarang aku ingin pergi ke kamarku dan beristirahat."


"Baiklah. Ibu akan mengantarkanmu ke kamar."


Aleandra mengantarkan Lizzie ke kamarnya. Setelah Lizzie masuk kamar, Aleandra kembali meninggalkannya. Ini pertama kalinya ia tinggal di mansion keluarganya lagi. kamarnya sangat besar, meskipun tidak sebesar kamarnya di Jerman. Kamarnya menghadap kebun bunga. Lizzie melihat ke sekeliling halaman belakang rumah dari balkon kamarnya. Ia kembali masuk kamar dan langsung naik ke tempat tidur.


‘’Akhirnya aku pulang ke Moskow dan Aku sudah berada lebih dekat dengan Vladimir. Sekarang dia lagi apa ya? Apa dia sedang ada di kantornya seperti biasa?’’


Lizzie kemudian jatuh tertidur.


Vladimir yang berada di kantornya bersin-bersin dan mengusap hidungnya berkali-kali.


‘’Sepertinya ada yang sedang membicarakanku."


Menjelang sore Lizzie bangun, lalu mandi dan berpakaian. Ia memutuskan unuk berjalan-jalan di luar. Tidak lupa memakai wig dan kacamata hitamnya. Ia takut di luar sana masih ada yang mengenalinya. Lizzie kemudian turun dari kamarnya dan mencari ayah dan ibunya untuk berpamitan. Lizzie menemukan mereka di ruang kerjanya sedang berbicara dengan ibunya.


‘’Ayah, Ibu. Aku akan pergi jalan-jalan."


"Baiklah. Hati-hati di jalan!"


Lizzie kemudian keluar dari ruang kerja ayahnya dan memulai perjalananya untuk melihat-lihat kota. Ia sengaja berjalan kaki, karena ingin melihat-lihat keadaan sekelilingnya dengan tenang. Setiap kali ada orang yang lewat, ia merasa sedikit was-was kalau orang itu akan mengenalinya.


Tujuan pertama yang didatangi adalah taman kota yang sering dikunjunginya. Lizzie duduk di bangku dan matanya melihat ke sekeliling taman sambil mengingat-ingat masa lalunya, lalu ia pergi ke gedung di mana kantor Vladimir berada. Di depan gedung sangat ramai. Ia ragu apakah ia harus masuk atau tidak. Selama beberapa saat Lizzie memandangi gedung itu. Setelah puas memandanginya, ia pergi dari sana dan berjalan-jalan di kota sampai waktu menjelang malam.


Lizzie kemudian mempercepat langkahnya untuk pulang ke rumah. Setelah tiba di rumah ia disambut oleh salah satu pelayan dan menyuruhnya untuk pergi ke ruang makan, karena makan malam sudah dihidangkan dan orangtuanya sudah menunggu di sana.


"Selamat malam!"sapa Lizzie.


"Selamat malam!"


Lizzie langsung duduk di meja makan dan makan malamnya sudah disiapkan.


"Kemana tadi kamu pergi?"tanya ibunya.


"Aku pergi ke taman kota dan ke gedung firma hukum. Vladimir dan ayahnya."


"Apa kamu bertemu dengan Vladimir?"tanya Dimitri.


"Tidak."


Lizzie kembali memakan makan malamnya dengan tenang dan wajahnya terlihat sangat lelah.


"Aku sudah selesai makan dan sekarang akan kembali ke kamarku. Selamat malam Ayah, Ibu!"


"Selamat malam!"


Lizzie meninggalkan orangtuanya sendirian di ruang makan dan kembali ke kamarnya. Ia menyalakan lampu kamarnya, melempar tasnya ke atas sofa, membuka pakaiannya dan pergi ke kamar mandi. Sebelum tidur, Lizzie menyempatkan diri membaca novel yang sudah lama tidak selesai dibacanya. Beberapa menit kemudian ia sudah mulai mengantuk dan matanya sudah terasa berat. Lizzie jatuh tertidur dengan masih memegangi buku.


🍀🍀🍀


Lizzie bangun pagi-pagi sekali dengan wajah segar. Hari ini ia akan mengunjungi teman-temannya di kampus.Jantung Lizzie berdebar lebih kencang, karena sebentar lagi akan bertemu dengan merena yang sudah lama tidak ditemuinya.


Lizzie berjalan menuju pintu masuk universitasnya. Ia berjalan dengan gugup dan dia melangkah dengan cepat. Sekarang Lizzie sudah berada di depan pintu masuk ruang klub biologinya. Ia melihat teman-temannya berada di sana. Lizzie menggeser pintu pelan-pelan.


"Halo!"sapa Lizzie.


Di sana teman-temannya berdiri dan menatap tamunya yang tidak terduga. Mata mereka terbuka lebar, karena terkejut dan berdiri tidak bergerak, kemudian dari belakang teman-temannya terdengar suara seorang pria.

__ADS_1


"Ada apa? Siapa yang datang?’’kata Jean.


Teman-temannya tidak menjawab pertanyaan Jean, lalu Jean menghampiri teman-temannya. Ia pun sama terkejutnya dengan yang lainnya dan majalah yang di pegangnya langsung jatuh ke lantai. Selama beberapa saat mereka saling pandang satu sama sekali, tidak ada yang berbicara, kemudian Lizzie memulai berbicara untuk memecahkan keheningan diantara mereka.


‘’Permisi. Bolehkah aku masuk?’’


Mereka tersadar dari keterkejutannya dan mempersilahkan Lizzie masuk. Lizzie menebarkan pandangannya ke sekeliling ruang klub. Klubnya tidak banyak berubah. Ia senang sekali bisa berada di sini lagi yang dia kira tidak akan pernah datang lagi ke sini. Teman-temannya yang sejak tadi menatap Lizzie masih belum mempercayai penglihatannya. Apa dia benar-benar Lizzie atau mimpi?


"Jean coba cubit aku. Apa aku sedang mimpi atau tidak?’’kata Sara yang berdiri di samping Jean.


‘’Kalau ini mimpi, kita berdua sudah melihat mimpi yang sama,"kata Jean.


Jean mencubit pipi Sara.


‘’Aaaaawwwwww. Ternyata ini bukan mimipi,"seru Sara.


Teman-teman yang lain memcubit pipi mereka sendiri. Sara kemudian pergi ke bagian belakang klub membawa minuman dan makanan ringan. Jean masih saja berdiri, lalu Sara menyuruh Jean segera duduk.


‘’Apa kamu Lizzie?’’tanya Maribel yang sejak dari tadi menatap Lizzie tanpa berkedip di pojok ruangan.


‘’Iya. Aku Lizzie. Aku belum meninggal dan masih hidup."


‘’Boleh aku menyentuhmu?’’tanya Maribel.


‘’Aku juga boleh menyentuhmu?"tanya Sara dan Jean.


‘’Tentu saja boleh."


Mereka mendekati Lizzie dan menyentuhnya berkali-kali.


‘’Kamu memang benar-benar Lizzie dan bukan hantu,’’ kata Jean.


"Jadi tadi kalian menganggap aku hantu ya."


‘’Tentu saja kami akan beranggapan seperti itu, karena kamu tiba-tiba muncul. Setelah kami tahu kamu sudah meninggal,’’kata Sara.


"Aku mengerti, tapi sekarang kalian sudah tahu kalau aku masih hidup."


‘’Bagaimana kamu masih hidup?"


‘’Itu ceritanya sangat panjang. Sebenarnya aku tidak naik bus itu, yang naik bus itu adalah orang lain."


‘’Apaaa? Apa maksudmu dengan orang lain,’’kata Sara.


‘’Orang yang menaiki bus itu adalah orang yang sudah merampokku. Perampok itu membawa tasku."


‘’2 bulan ini aku tinggal di Jerman bersama dengan keluarga Liebert yang sudah menolongku, karena aku sempat hilang ingatan."


"Jadi waktu itu kamu tidak ingat apa-apa?"tanya Jean.


Lizzie menganggukan kepalanya.


‘’Lalu kenapa kamu tidak segera memberitahu kami kalau kamu masih hidup. Apa kekasihmu tahu kalau kamu masih hidup?’’tanya Sara


‘’Maafkan aku tidak memberitahu kalian, karena kalau kalian aku beritahu, Vladimir akan bertanya pada kalian di mana aku berada."


‘’Apa kamu tahu setelah kami tahu kamu sudah meninggal, kami semua sangat sedih dan yang paling sedih dan menderita atas meninggalnya kamu adalah Dave,"jawab Sara.


‘’Maaf. Aku sudah membuat kalian sedih dan khawatir."


‘’Sudahlah, tidak apa-apa. Syukurlah kamu baik-baik saja,’’kata Jean.


‘’Bagaimana kabar kalian?"tanya Lizzie.


"Kami baik-baik saja,"jawab Maribel.


"Bagaimana kalau kalian datang ke rumah?"


‘’Ide yang bagus. Kami akan datang ke sana. Kapan kami bisa kesana?’’tanya Sara.


‘’Bagaimana kalau besok?"


‘’Baiklah,’’ kata Sara dan yang lainnya pun menyetujuinya.


"Apa kalian tahu kabar Dave?"


"Dia baik-baik saja sekarang. Dia sudah pulang ke Amerika."


"Aku senang mendengar dia baik-baik saja dan Bagaimana kabar Tania?"


Tania adalah kakak kelas Lizzie dan ketua klub biologi. Jean, Sara, dan Maribel saling berpandangan, kemudian memasang wajah sedih.


‘’Sepertinya kamu belum tahu, kalau Tania sudah meninggal 1 bulan yang lalu,"jawab Jean.


‘’APAAAA? Aku sama sekali tidak tahu. Aku pikir Tania baik-baik saja."

__ADS_1


Lizzie mulai menangis.


‘’Sudah Lizzie jangan menangis. Kami juga sangat sedih ketika diberitahu Tania sudah meninggal,’’kata Maribel.


"Apa yang terjadi dengan Tania?"


"Tania terkena serangan jantung. Kamu tahu kan sejak kecil Tania punya penyakit jantung."


"Aku tahu. Aku sangat sedih dan tidak bisa bertemu untuk terakhir kalinya."


Tidak lama kemudian terdengar suara gaduh di luar, lalu mereka masuk ke dalam.


‘’Sara, aku bawa...,’’kata Anne.


Anne tidak meneruskan kata-katanya ketika dia melihat Lizzie dengan ekspresi kejut.


‘’Halo Anne, apa kabar?’’sapa Lizzie.


Anne terkejut dan menjatuhkan barang belanjaannya ke lantai.


"Lizzie, kenapa kamu ada di sini bukannya kamu sudah meninggal?"tanya Anne.


Anne kemudian mendekati Lizzie dan terus menatapnya, lalu memegang kedua tangan Lizzie.


‘’Lizzie, apa yang terjadi denganmu?’’tanya Anne.


"Aku belum meninggal. Aku selamat dari kecelakaan itu, karena aku tidak pernah menaiki bus itu."


‘’Benarkah itu, Lizzie?’’tanya Anne tak percaya.


‘’Itu benar."


Anne menangis dan memeluk Lizzie.


‘’Syukurlah kalau kamu selamat. Aku kira kami tidak akan bertemu denganmu lagi,"kata Anne.


‘’Terima kasih. Kalian sudah mengkhawatirkanku. Sekarang kalian jangan mengkhawatirkanku lagi, karena aku sudah tidak apa-apa sekarang."


Lizzie kembali menceritakan semuanya kepada Anne tentang kecelakaan itu dan di mana ia tinggal selama ini."


‘’Bagaimana kita merayakan kembalinya Lizzie Kita buat pesta kecil di sini,’’kata Sara.


‘’Itu ide yang bagus. Mari kita lakukan,’’kata Anne.


Mereka mengadakan pesta penyambutan kembalinya Lizzie dengan meriah, meskipun di sana hanya ada 4 orang. Lizzie dan teman-temannya masih merayakan pesta penyambutan dirinya ketika ponselnya berbunyi.


Lizzie mengambil ponselnya di dalam tas dan menerima telepon itu, lalu ia kembali menyimpannya setelah menutup sambungan telepon.


"Sepertinya aku sebentar lagi segera pulang. Tadi Ayahku menelepon dan menyuruhku pulang untuk makan malam. Ayahku akan datang menjemput."


Setengah jam kemudian Ayah Lizzie datang menjemput dan Lizzie memperkenalkan Ayahnya kepada teman-temannya, karena selama ia memutuskan untuk kuliah lagi mengambil program master, teman-temannya belum sempat bertemu dengam Ayahnya, meskipun mereka sudah sering berkunjung ke mansion keluarganya.


‘’Kenalkan ini Ayahku?’’


"Senang berkenalan dengan kalian."


Mereka semua kemudian bersalaman, kemudian Lizzie dan Ayahnya keluar ruangan.


"Sampai jumpa besok!"


"Sampai jumpa!"


Di dalam mobil ibunya telah menunggu. Setengah jam kemudian mereka tiba di restoran. Mereka makan malam di sana dan Lizzie menceritakan pertemuannya dengan teman-temannya kepada ayah dan ibunya. Mereka mendengarkan cerita Lizzie dengan seksama. Setelah mereka makan malam, mereka pergi jalan-jalan di pusat perbelanjaan.


Ketika Lizzie sedang asyik melihat-lihat aksesoris rambut, ia bertabrakan dengan seseorang. Lizzie mengetahui orang yang di tabraknya adalah Fanya, Lizzie terkejut dan wajahnya berubah pucat. Ia cepat-cepat meminta maaf dan langsung pergi dari sana.


‘’Semoga saja Fanya tidak mengenaliku tadi."


Lizzie membetulkan letak kacamatanya. Ia tidak ingin memberitahu Fanya dulu. Lizzie ingin memberi kejutan untuk Fanya saat ulang tahunnya nanti. Lizzie menghembuskan napas lega, karena saat bertabrakan dengan Fanya, hari sudah benar-benar gelap dan semoga Fanya tidak melihat wajahnya dengan jelas.


Fanya masih di sana berdiri sambil memandang kepergian wanita yang menabraknya tadi dengan wajah heran.


‘’Wanita tadi mirip dengan seseorang, tapi siapa ya? Wajah itu sudah tidak asing lagi bagiku."


Fanya kembali berjalan dan seketika langkahnya berhenti, kemudian menoleh ke belakang.


‘’Ah itu tidak mungkin. Pasti itu bukan Lizzie. Mungkin itu hanya orang yang mirip dengannya."


Fanya kembali berjalan dan membuang pikiran itu jauh-jauh.


Setelah selesai berjalan-jalan, mereka pulang ke rumah dan Lizzie seperti biasa masuk ke dalam kamarnya dan langsung jatuh tertidur.


🍀🍀🍀


Fanya dan suaminya yang sudah berada di hotel dan pikirannya teringat akan pertemuaannya dengan wanita itu. Ia mulai mengingat-ingat wajah wanita itu dan semakin diingat wajah wanita itu wajahnya mirip dengan Lizzie

__ADS_1


‘’Apa mungkin di dunia ini ada orang yang benar-benar mirip, kecuali kalau mereka bersaudara kembar, tapi Lizzie tidak mempunyai saudara kembar. Kalau wanita itu Lizzie, itu tidak mungkin, karena Lizzie sudah meninggal. Bagaimana kalau Lizzie tidak meninggal waktu kecelakaan itu? Mungkin saja Lizzie masih hidup dan bagaimana kalau itu bukan jenazah Lizzie? Tapi semua barang-barangnya ada bersama jenazah itu. Aaarrrggghhh. Ini jadi semakin membingungkan,"pikir Fanya. [ ]


__ADS_2