
Vladimir berdiri dan mendekati jendela dan pandangannya menerawang jauh ke langit biru.
Lizzie tengah bersiap-siap untuk pergi menemui Vladimir.
"Kamu akan pergi sekarang?’’kata Aleandra, ibunya.
"Iya, aku akan pergi sekarang."
"LIzzie semoga kamu dapat berbaikan lagi dengannya."
"Terima kasih, Bu. Aku pergi."
Lizzie kemudian pergi dan tiba-tiba Aleandra memanggilnya.
"Lizzie."
"Ada apa lagi?’’
"Tidak ada apa-apa. Hati-hati di jalan!’’
Lizzie menganggukan kepalanya. Aleandra merasakan sesuatu yang tidak enak pada Lizzie, tapi Aleandra cepat-cepat menghilangkan pikiran itu.
Lizzie sudah sampai di firma hukum Kalashnikov dan segara menuju ke kantor Vladimir.
"Zoya, Vladimir ada?’’
"Dia ada. Kamu ingin bertemu dengannya?’’
"Iya."
"Tunggu sebentar!"
Zoya masuk ke kantor Vladimir.
"Tuan Kalashnikov, ada Lizzie di luar, dia ingin bertemu dengan Anda."
Vladimir terkejut dan wajahnya berubah sedih.
"Suruh dia masuk!"
"Baik."
Lizzie kemudian masuk ke kantor Vladimir dengan perasaan takut. Ia Melihat Vladimir sedang mengetik.
"Ada keperluan apa kamu ke sini?’’
"Aku ingin menjelaskan tentang masalah kemarin."
"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi. Bagiku itu sudah cukup jelas."
"Tapi itu....’’
Vladimir menatap dingin Lizzie dan tatapan dinginnya sangat membuat Lizzie sakit hati.
"Sudahlah Lizzie, kamu tidak perlu lagi menjelaskannya lagi. Kalau kamu datang ke sini hanya untuk itu, sebaiknya kamu pulang saja. Saya sedang sibuk tidak ada waktu untuk mendengarkan omong kosong kamu."
Mata Lizzie mulai berkaca-kaca dan air matanya mulai menetes. Ia cepat-cepat menghapusnya.
"Vladimir, aku mohon dengarkan dulu penjelasanku. Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kamu mendengarkanku."
Vladimir menatap Lizzie dengan dingin dan penuh marah. Ia berdiri dari kursinya dan mendekati Lizzie.
"Kalau kamu tidak keluar dari sini. Aku yang akan keluar dari sini."
Vladimir mengambil jasnya dan pergi dari kantornya. Lizzie tidak dapat menahan lagi air matanya tumpah, akhirnya Lizzie menangis dan Zoya datang untuk menghibur Lizzie.
"Lizzie, sudahlah. Sekarang ini susana hatinya sedang tidak bagus. Sebaiknya kamu datang lagi saja besok. Mungkin besok dia sudah lebih tenang."
Lizzie menuruti perkataan Zoya dan pergi dari sana. Ketika Lizzie akan keluar dari pintu depan, ia mengurungkan niatnya untuk pergi. Lizzie menunggu di lobi, menunggu Vladimir kembali.Tidak lama kemudian, ia melihat Vladimir masuk ke dalam gedung dan Lizzie menghampirinya, tapi Vladimir malah menatapnya dengan tatapan dingin dan tidak mempedulikannya.
Vladimir masuk ke dalam lift dan Lizzie menatapnya dengan wajah sedih dan pilu. Ia kembali duduk di lobi dan melamun. Vladimir duduk kembali di belakang meja kerjanya dan meneruskan pekerjaannya. Zoya masuk membawa setumpukan kertas kepada Vladimir dan menyimpannya di meja.
"Dia masih di bawah."
"Siapa?’’
"Lizzie."
"Aku sudah menyuruh dia pulang tadi. Maaf Tuan Kalashnikov, bisa saya memberikan saran. Sebaiknya Anda mendengar penjelasan gadis itu sebentar saja."
Vladimir langsung menatap Zoya dengan dingin. Akhirnya cepat-cepat ia keluar dari kantor Vladimir.
"Maaf Lizzie, sepertinya saya tidak dapat membantu."
Ketika hari sudah sore, Lizzie melihat Vladimir dan Zoya keluar dari lift dan akan menuju tempat parkir. Lizzie cepat-cepat pergi ke sana dan menunggunya, kemudian Lizzie melihat Vladimir datang.
"Vladimir."
Vladimir tidak mempedulikan Lizzie dan berjalan melewatinya dan langsung menuju mobilnya. Lizzie langsung mengejar Vladimir dan menghalanginya untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Lizzie, apa yang kamu lakukan. Cepat minggir aku mau masuk."
"Aku tidak akan membiarkan kamu masuk sebelum mendengarkan penjelasanku,’’kata Lizzie dengan nada galak tidak kalah dari Vladimir.
"CEPAT MINGGIR. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu. Aku masih sangat marah padamu, bayang-bayang kamu memeluk teman priamu itu masih melekat dalam ingatanku. Aku tidak rela melihat wanita yang kucintai memeluk pria lain, itu membuatku sakit hati. Sekarang aku tidak ingin melihatmu lagi untuk sementara waktu selama bayangan itu belum lenyap dari ingatanku."
Wajah Lizzie sudah dipenuhi oleh air mata.
"Jadi kamu tidak ingin melihatku lagi. Baiklah kalau itu yang kamu inginkan. Mulai sekarang kamu tidak akan melihatku lagi. Selamat tinggal, Vladimir."
Lizzie, berlari meninggalkan tempat parkir. Ketika Lizzie akan keluar dari gedung, Lizzie bertemu dengan Dave.
"Lizzie, kamu kenapa?’’
Dave melihat Lizzie menangis dan terus pergi tidak menjawab pertanyaannya. Dave memegang tangan Lizzie.
‘’Tunggu! Apa kamu bertengkar dengan kekasihmu? Apakah ini mengenai kejadian itu? Aku kira kamu sudah menjelaskan padanya tentang ini."
"Aku berusaha menjelaskan kepadanya. Sepertinya dia tidak ingin mendengarkanku. Sekarang dia sudah membenciku, jadi aju mohon lepaskan tanganmu."
Dave melepaskan tangan Lizzie dan membiarkannya pergi. Ia menunggu Vladimir di pintu gerbang. Tidak lama kemudian mobil Vladimir datang dan Dave memberhentikan mobilnya.
Vladimir keluar dari mobilnya dengan wajah marah.
"Kamu mau apa?’’
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepada Anda."
"Cepat katakan. Apa yang ingin kamu katakan?"
"Lizzie tidak pernah mencintaiku. Ia hanya mencintai Anda dan aku sudah ditolak olehnya, jadi aku dan Lizzie tidak mempunyai hubungan apa-apa. Kami hanya berteman tidak lebih dari itu."
"Kalau kalian berteman, mengapa kalian berpelukan dengan mesra?’’
"Kami berpelukan sebagai seorang teman, karena kedatanganku waktu itu untuk berpamitan dengan Lizzie, karena aku memutuskan untuk pulang ke Amerika. Itu hanya pelukan selamat jalan untukku tidak lebih dari itu. Lizzie benar-benar sangat mencintai Anda. Sekarang cari dia atau Anda akan menyesal seumur hidup Anda."
Vladimir langsung naik ke mobilnya dan mencari Lizzie. Lizzie berjalan lunglai disepanjang jalan. Sekarang ia telah dibenci oleh Vladimir Rasanya sangat mengerikan dibenci olehnya. Lizzie tidak ingin Vladimir membencinya, karena itu membuatnya benar-benar sangat sedih dan menyakitkan.
Vladimir mencari-cari Lizzie di sepanjang jalan sambil melihat kiri kanan, lalu Vladimir menelepon ke ponselnya, tapi tidak aktif. Vladimir menghubungi Aleandra dan Aleandra mengatakan Lizzie belum pulang.
"Lizzie, kamu ada dimana? Maafkan aku, Lizzie. Aku yang salah."
Vladimir panik mencari Lizzie dan mendatangi setiap tempat yang sering dikunjungi olehnya. Sudah lebih dari sejam Vladimir tidak dapat menemukan Lizzie. Ia teringat dengan satu tempat, lalu membelokan mobilnya dan langsung menuju tempat itu.
Lizzie sedang duduk diayunan dan tiba-tiba ada orang yang mendekatinya dengan membawa sebuah pisau dan ia pun terperanjat ketakutan.
Vladimir mendatangi taman kota dan mencarinya disana dengan wajah lelah.
Vladimir duduk di mana Lizzie biasa duduk. Tidak terasa air mata menetes dan Vladimir cepat-cepat menghapusnya.
"Lizzie sebenarnya kamu ada di mana? Aku ingin bertemu denganmu. Aku merindukanmu. Lizzie, maafkan aku!"
🍀🍀🍀
Keesokan harinya telepon di kantor Vladimir berdering.
"Ini Sergei. Sekarang sebaiknya kamu menyalakan televisi."
Vladimir menyalakan televisi dan di sana dia melihat sebuah berita kecelakaan bus. Di situ diperlihatkan daftar-daftar korban orang yang meninggal dan nama Lizzie Romanov ada di dalam daftar itu. Seakan-akan bumi berputar-putar dan runtuh menimpa Vladimir, dia tidak mempercayai apa yang didengar dan dilihatnya di televisi itu.
"TIIIIDDDAAAAKKK."
Zoya kaget mendengar teriakan Vladimir, lalu segera masuk ke kantornya dan menemukan Vladimir duduk di lantai di samping sofa. Tubuhnya bersandar pada sofa itu dan menangis.
"Tuan Kalashnikov, apa yang terjadi?’’
Vladimir mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke televisi. Zoya melihat berita kecelakan bus itu dan melihat nama Lizzie ada dalam daftar itu. Dia tidak mempercayai kalau Lizzie adalah salah satu korban yang meninggal.
"Pasti sebuah kesalahan belum tentu itu Lizzie, saya akan mencari kebenarannya sekarang juga."
Vladimir hanya duduk diam dan menangis. Bagi Vladimir sekarang dunia sudah berhenti berputar dan jantungnya seolah-olah berhenti berdetak. Pandangannya kosong dan tubuhnya kelihatan sudah seperti orang yang kehilangan jiwanya.
Berita kecelakaan bus yang melibatkan Lizzie sudah tersebar luas pada hari itu juga. Aleandra langsung pingsan begitu Lizzie berada dalam daftar itu. Dimitri yang wajahnya sudah basah oleh air mata menggendong istrinya dan membawanya ke kamar. Mereka menangis atas kepergiaan Lizzie yang secara tiba-tiba. Mereka masih belum mempercayai kalau Lizzie sudah meninggal. Nicola dan keluarganya pun tidak kalah terkejutnya ketika Lizzie diberitakan meninggal.
"Pasti anak itu akan sangat sedih ditinggalkan oleh wanita yang dicintainya."
🍀🍀🍀
Veronica yang melihat berita itu malah tertawa.
"Lizzie sudah meninggal dan Vladimir akan segera kembali padaku dan menjadi miliku,’’katanya dalam hati dan senyuman licik menghiasi wajahnya.
Vladimir masih duduk di sofa dan melamun. Zoya yang melihat keadaan Vladimir seperti itu merasa iba, dia belum pernah melihatnya seperti ini.
"Tuan Kalashnikov, saya sudah mendapatkan informasi tentang kecelakaaan bus itu ternyata memang benar nama Lizzie tercantum di daftar orang yang meninggal dan jenazahnya sudah ditemukan dan untuk memastikannya kita disuruh mengenali jenazahnya. Saya tahu dan mengerti perasaan Anda sekarang pasti Anda tidak bisa menerima ini, tapi Anda harus menerima kenyataaan ini."
"Ini tidak benar. Aku tidak akan pernah mempercayainya. Aku akan menganggap dia masih hidup di suatu tempat."
"Sebaiknya sekarang Anda ikut saya."
__ADS_1
Zoya menarik-narik tangan Vladimir. Akhirnya ia berhasil membuat Vladimir ikut dengannya. Keluarga Lizzie sudah berada di ruang jenazah . Vladimir dan Zoya juga sudah berada di sana kemudian mereka membuka kain yang menutupi jenazah itu. Mereka sangat terkejut jenazah itu hitam, karena hangus terbakar dan sudah tidak bisa dikenali lagi.
Vladimir sudah tidak sanggup lagi melihat jenazah wanita yang sangat dicintainya seperti itu.Tiba-tiba saja ia jatuh pingsan dan mereka membawanya ke ruang rawat, lalu Aleandra melihat gelang dan jam tangan di tangan jenazah itu.
"Aku mengenali gelang dan jam tangan ini. Ini milik Lizzie,’’kata Aleandra histeris.
Semua orang berpandangan satu sama lain.
"Benarkah itu?’’kata Dimitri tidak yakin.
‘’Iya. Tidak salah lagi. Aku yakin, karena jam tangan itu adalah hadiah ulang tahun dariku."
Mereka kemudian menangis lagi, karena mereka sudah mengenali jenazah itu adalah Lizzie. Aleandra kembali pingsan dan Dimitri tidak bisa menahan kesedihannya lagi setelah tahu itu benar-benar Lizzie.
🍀🍀🍀
Vladimir yang sudah sadar dari pingsannya keluar dari kamar. Ia berjalan lunglai dan melamun. Dia berkali-kali menabrak orang ketika berjalan.
Bruuuukkkk
Vladimir terjatuh dan pria yang bertabrakan dengannya ikut terjatuh juga.
"Apa Anda baik-baik saja?’’kata pengawal itu.
"Aku baik-baik saja,"kata pria asing itu.
Pria asing itu melihat Vladimir yang masih duduk di lantai.
"Anda tidak apa-apa?’’kata pria itu.
"Oh maafkan saya. Aku baik-baik saja."
Pria itu sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Vladimir berdiri.
"Terima kasih,’’kata Vladimir.
Pria itu dan pengawalnya pergi dan Vladimir memperhatikan mereka beberapa saat, kemudian Zoya memanggilnya.
"Ternyata Anda ada di sini. Saya mencari Anda kemana-mana. Mereka menunggu Anda di sana. Ada apa Tuan Kalashnikov?’’
‘’Ah tidak ada apa-apa. Hanya saja tadi...sudalah, ayo kita pergi,’’kata Vladimir yang masih memperhatikan mereka berdua yang sudah berjalan jauh.
Zoya membawa Vladimir ke ruangan lain dan di sana sudah ada keluarga Lizzie dan keluarganya. Tidak lama kemudian seorang polisi membawa barang-barang Lizzie dan polisi itu mengeluarkan semua barang yang ada di dalam tas.
"Ini barang-barang Nona Lizzie,’’kata polisi itu.
Mereka lalu meihat-lihat barang itu dan mereka menyakini kalau semua itu milik Lizzie dan mereka juga melihat kartu identitas yang ada di dompetnya. Mereka semakin yakin kalau jenazah itu adalah Lizzie.
Vladimir lalu berjalan ke arah meja itu, kemudian mengambil ponsel Lizzie dan melihat isi ponselnya. Di sana Vladimir melihat banyak pesan yang dikirimkan olehnya.
"Bolehkan saya menyimpan ponsel ini?"
Semua orang yang ada di ruangan itu menatap Vladimir dengan wajah bingung.
"Tentu saja. Kamu boleh menyimpannya,’’kata Dimitri yang masih bersedih atas kematian Lizzie.
Vladimir duduk di kursi paling sudut di ruangan itu dan melihat-lihat ponsel Lizzie dengan wajah sedih. Zoya yang melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa, karena orang yang paling terpukul atas kematian Lizzie adalah Vladimir dan keluarganya.
🍀🍀🍀
Zoya mengantarkan Vladimir pulang lebih dulu ke rumahnya.
"Ini salahku, Zoya. Aku yang menyebabkan Lizzie meninggal."
"Ini bukan kesalahan Anda. Ini kecelakaan."
"Aku pernah mengatakan pada Lizzie tidak ingin melihatnya lagi dan sekarang kata-kataku menjadi kenyataan dan aku tidak akan bisa melihat dia lagi untuk selamanya."
Air mata mulai mengalir di wajah Vladimir untuk yang kesekian kalinya dan Zoya merasa kasihan padanya, karena selama dia bekerja dengan Vladimir, Zoya belum pernah melihatnya seperti ini.
"Kenapa Lizzie pergi ke Vyatskoye? Apakah dia ingin kabur ke sana, supaya tidak dapat bertemu denganku lagi?"
"Entalah Tuan Kalashnikov, saya benar-benar tidak tahu tentang itu. Kemungkinan besar seperti itu."
"Seharusnya aku tidak memarahinya dan menyuruhnya pergi dariku. Sekarang dia benar-benar pergi dariku untuk selamanya. Ini hukuman untukku."
Karena lelah Vladinir jatuh tertidur dalam perjalanan pulang.
"Tuan Kalashnikov." Zoya memanggilnya berkali-kali.
"O-oh ya, ada apa?’’
"Kita sudah sampai di rumah Anda? Sebaiknya sekarang Anda istirahat. Pasti Anda sudah sangat lelah sekali."
Vladimir turun dari mobilnya dengan wajah lelah dan kusut.
"Selamat malam!"
"Selamat malam, Zoya!"
__ADS_1
"Anda harus banyak istirahat malam ini."
Zoya kembali masuk ke mobilnya, lalu pergi meninggalkan rumah Vladimir. [ ]