
"Vladimir bodoh, kenapa harus melayani wanita genit itu seharusnya kamu tinggalkan saja dia. Tingkahnya padamu sudah membuatku sangat kesal. Rasanya aku ingin memukul gadis dan mencambak rambutnya yang panjang itu."
Lizzie hanya bisa menatap mereka dengan kesal dan penuh kemarahan.Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menyenggol wanita itu dan tubuh wanita itu oleng dan terdorong ke arah Vladimir dan Vladimir menangkap tubuh wanita itu dan wanita itu tersipu malu. Lizzie yang melihat itu menjadi semakin kesal. Vladimit akhirnya melihat ke arah Lizzie dan melihat gadis itu menatapnya dengan wajah galak, kemudian Vladimir cepat-cepat melepas tubuh wanita itu, lalu segera mendekati Lizzie.
"Kamu asyik sekali bicara dengan wanita itu?’’
"Kamu cemburu?’’
"Kalau iya kamu mau apa?’’
Vladimit tersenyum dan memeluk pinggang Lizzie.
"Lepaskan aku?’’
Lizzie meronta-ronta, tapi tidak berhasil melapaskan diri dari Vladimir.
"Kamu jangan marah lagi. Aku hanya bicara saja dengan dia, apa itu tidak boleh?’’
"Itu boleh saja, tapi aku tidak suka sikap genitnya padamu. Apa kamu tidak memperhatikan sikapnya padamu tadi?"
"Iya, saya tahu itu, tapi aku masih menjaga jarak dengan dia. Sudah jangan marah lagi. Sebaiknya kita sudahi saja berenang kita. Kita pergi ketempat lainnya. Bagaimana?’’
"Baiklah."
Mereka berdua meninggalkan kolam renang dan berganti pakaian, kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka berkunjung ke St.Koloman, sebuah tempat keagamaan.
Setelah puas melihat-lihat, mereka berjalan-jalan di sepanjang kota Schwangau.Tidak terasa hari sudah gelap. Vladimir melihat Lizzie sudah kelelahan menemaninya seharian. Vladimir memutuskan untuk pulang. Ia menyuruh Lizzie untuk menghubungi rumah untuk menjemput pulang.Tidak lama kemudian mobil jemputan datang dan mereka masuk ke dalam mobil.
Lizzie kelihatan sangat lelah sekali dan tertidur. Vladimir menyandarkan kepala Lizzie di dadanya dan memeluknya dengan erat. Mereka sudah sampai di depan kastil, tapi Lizzie masih tertidur dengan nyenyak, kemudian Vladimir menggendong Lizzie dan membawanya langsung ke kamar.
"Terima kasih. Kamu sudah mau menemaniku hari ini,’’bisik Vladimir di telinga Lizzie.
Vladimir menyelimutinya dan mengecup keningnya.
"Selamat malam, my love!’’
🍀🍀🍀
"Pagi!’’kata Lizzie
"Pagi!’’kata mereka semua bersamaan.
Lizzie duduk di samping Vladimir dan mulai sarapan pagi.
"Kalian berdua kemarin pergi k emana saja sampai pulang malam?’’kata Nicola.
"Kami jalan-jalan disekitar kota ini saja,’’kata Vladimir.
"Hanya itu saja?’’tanya Nicola memandang penuh selidik ke arah Vladimir.
"Iya. Hanya itu saja."
Setelah selesai makan, Vladimir membawa Lizzie ke kamarnya. Ia membuka pintu kamar dan menyuruh Lizzie masuk. Lizzie duduk di sofa .
Vladimir berjalan ke samping tempat tidur dan membuka laci meja kecil di samping tempat tidur dan dari laci itu Vladimir mengambil sesuatu yang berwarna abu-abu.
"Lizzie, ini untukmu."
"Ini kan recorder rekaman. Kenapa kamu memberikan ini untukku?’’
"Aku sudah merekam suaraku di sana. Aku merekam nyanyian lullaby di recorder itu, jadi ketika kamu ingin aku menyanyikan lagu itu sebelum tidur, kamu nyalakan saja recorder itu, karena mulai besok aku tidak bisa menyanyikan lagu itu langsung padamu."
Mata Lizzie menjadi merah dan berkaca-kaca dan tidak dapat menahan air matanya. Vladimir menatap Lizzie dengan penuh cinta dan kasih sayang, lalu menghapus air mata gadis itu dengan lembut dan kemudian menariknya dalam pelukannya.
"Kamu jangan menangis, kalau kamu menangis aku jadi ikut sedih. Nanti aku pasti akan merindukanmu. Aku akan rindu suaramu, pelukanmu, dan ciumanmu."
"Kalau begitu akan merekam suaraku, jadi kalau kamu rindu bisa mendengarkan suaraku."
"Terima kasih. Aku akan sering-sering meneleponmu dan kita juga bisa chattingan via Facebook."
‘’Eeehhh. Kamu juga punya. Aku tidak percaya kalau kamu punya itu."
"Kenapa tidak percaya?’’
"Karena kamu sibuk bekerja, jadi mana ada waktu untuk chatting dengan orang lain."
"Aku juga butuh hiburan dan bertukar pikiran dengan orang lain. Jadi apa nama Fb? Apakah kamu menggunakan nama aslimu?’’
"Aku tidak menggunakan nama asliku. Di FB menggunakan nama Rose."
"APAAAAAA?"
Vladimir langsung berdiri dari sofa dan membuat Lizzie terkejut.
"Vladimir, ada apa? Kenapa kamu berteriak? Apa ada yang salah dengan nama yang aku gunakan."
Lizzie kebingungan menatap Vladimir yang terkejut.
"Vladimir."
Vladimir tersadar dari keterkejutannya dan duduk lagi di sofa.
"Maaf, tadi aku sudah berteriak di depanmu."
"Tidak apa-apa. Sebenarnya ada apa? Aku tidak mengerti."
"Nama yang kamu gunakan tidak ada yang salah hanya saja....’’
"Hanya saja....’’
__ADS_1
"Hanya saja nama Rose tidak asing bagiku."
"Apa maksudmu?’’
Lizzie menatap bingung Vladimir.
"Lizzie, aku adalah Edena."
"Eh....’’
Kini giliran Lizzie yang terkejut.
"Selama 2 bulan ini ini ternyata kita selalu berhubungan lewat chatting yang sering kita lakukan."
"Tunggu, maksudmu nama FBmu adalah Edena dan kita selama ini mengobrol dengan nama Edena dan Rose."
"Iya Lizzie. Kamu benar. Rose itu kamu kan?"
"Iya. Aku adalah Rose dan kamu adalah Edena. Jadi selama ini kita bicara tanpa tahu siapa kita sebenarnya. Ini suatu kebetulan yang mengerikan menurutku. Mana mungkin bisa ada hal yang seperti ini. Ini tidak mungkin. Aku masih belum dapat mempercayainya."
"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Pantas saja ketika pertama kali aku bicara denganmu, aku sudah bisa merasakan kenyamanan dan bisa bertukar pikiran dengan bebas jika bersamamu. Aku juga merasakan telah mengenalnya begitu lama. Aku senang ternyata Rose itu adalah kamu."
"Aku juga senang Edena itu adalah kamu, karena aku juga merasakan yang sama dengan apa yang kamu rasakan."
"Aku benar-benar tidak tahu kalau aku sedang bicara dengan wanita yang aku cintai."
Vladimir langsung menarik Lizzie dalam pelukannya lagi. Ia berjanji dalam hati kali ini dia tidak akan pernah melepas Lizzie lagi. Mereka berdua seharian menghabiskan waktu di kamar Vladimir dan tidak ada seorang pun yang berani menganggu mereka.
"Lizzie, aku ada permintaan?’’
"Permintaan apa?’’
"Besok kamu jangan mengantarku ke bandara. Kalau kamu ikut aku tidak rela meninggalkanmu di sini. Sebenarnya hatiku tidak rela meninggalkanmu di sini, jadi kumohon jangan mengantarku itu akan membuatku semakin berat meninggalknmu di sini."
"Baiklah. Aku tidak akan mengantarmu. Setelah kamu sampai di Moskow segera hubungiku. Kapan kamu akan pergi?’’
"Pagi-pagi sekali. Vladimir, jaga kesehatanmu dan jangan terlalu banyak bekerja dan juga kamu harus ingat waktu makan."
"Baiklah. Aku akan ingat kata-katamu."
Kemudian meraka berpelukan dan Vladimir mendekatkan wajahnya ke Lizzie. Jantung Lizzie berdetak lebih kencang setiap kali Vladimir mendekatkan wajah kepadanya. Dalam hitungan detik Vladimir sudah menyentuh bibir Lizzie dan memeluknya dengan erat. Perlahan-lahan Cladimir melepaskan ciumannya. Beberapa saat mereka saling menatap.
"Jangan pernah memberikan bibir ini pada pria lain. Kamu mengerti?’’
"Iya. Aku mengerti."
"Sebaiknya kita turun, mungkin mereka sudah menunggu kita di ruang makan."
Setelah selesai makan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga lantai satu. Mereka berbicara sampai malam, kemudian Vladimir berpamitan dan membawa Lizzie bersamanya. Ia menggenggam tangan Lizzie dengan erat, lalu membawanya ke lantai 2.
"Kalau tidak salah di ruang keluarga lantai 2 ada piano. Kita pergi ke sana."
"Lizzie, sebelum aku pulang besok, aku akan memainkan sebuah lagu untukmu."
Vladimir mulai memainkan piano dan memainkan sebuah lagu kiss the rain by Yiruma. Lizzie mendengarkan musik yang dimainkan oleh Vladimir dengan serius. Setelah Vladimir selesai memainkannya tanpa terasa air matanya jatuh.
"Kamu tidak apa-apa?’’
"Aku tidak apa-apa."
Vladinir menghapus air mata Lizzie dan kemudian tersenyum padanya.
‘’Jangan menangis lagi, kalau kamu menangis, aku juga akan merasa sedih."
Vladimir mencium kening Lizzie dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Sebaiknya kita tidur ini sudah malam. Besok pagi-pagi aku harus pergi."
Vladimir melepaskan pelukannya dan mengantar Lizzie ke kamarnya.
Mereka berjalan tanpa bicara sedikit pun. Lizzie masuk ke dalam kamarnya dan Vladimir mengantarkan Lizzie ke tempat tidurnya dan mulai menyanyikan Brahms lullaby untuk Lizzie. Lizzie sudah jatuh tertidur. Selama beberapa saat, Vladimir memandangi Lizzie dan menegcup keningnya.
"Selamat malam!"
Vladimir keluar dari kamar Lizzie dan langsung menuju kamarnya. Keesokan paginya mereka sudah siap untuk pergi. Vladimir tersenyum melihat Lizzie
"Jaga dirimu baik-baik."
Lizzie memeluk Vladimir dan ia menangis di pelukannya, kemudian Vladimir melepaskan pelukan Lizzie dan menghapus air mata gadis itu dengan lembut.
"Jangan menangis lagi. Tersenyumlah."
Lizzie tersenyum dan Vladimir membalas senyumannya. Tidak lama kemudian mereka pergi ke depan rumah dan masuk ke dalam mobil. Akhirnya mobil yang membawa mereka meninggalkan halaman kastil dan Lizzie terlihat sangat sedih.
"Lizzie, ayo masuk!’’kata Reiko.
Lizzie masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya. Ia menangis di tempat tidurnya.
Vladimir duduk termenung di dalam mobil dan pandangan matanya kosong dan melihat ke arah luar mobil. Hati dan pikirannya sedang tidak ada disini. Sekali lagi dia harus berpisah dengan belahan jiwanya.
"Vladimir, kamu jangan bersedih lagi. Sebentar lagi kalian juga akan bertemu."
"Aku tahu."
Akhirnya mereka tiba di bandara dan pesawat pribadi Nicholas sudah menunggu mereka, lalu mereka masuk ke dalam pesawat dan tidak lama kemudian pesawat meninggalkan bandara.
🍀🍀🍀
Moskow, Rusia
__ADS_1
Satu bulan kemudian
Lizzie berada di bandara dan matanya mencari-cari seseorang. Lizzie tersenyum, dia sudah menemukan orang yang tadi dicarinya.
"Halo Sara!"
"Lizzie, selamat datang. Akhirnya kamu kembali juga ke sini. Senang bisa bertemu denganmu lagi."
"Aku juga, Sara."
Mereka berdua berpelukan.
"Apa sekarang kita langsung ke rumahmu atau kamu pergi dulu ke suatu tempat? Kekasihmu sudah tahu kamu akan datang hari ini?’’
"Tidak. Dia belum tahu aku akan datang hari ini. Aku sengaja tidak memberitahu dia. Sebelum pulang ke rumah, aku ingin pergi ke makam Tania."
"Baiklah."
Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian mereka tiba di makam Tania. Lizzie meletakkan bunga di makamnya, lalu berdoa. Setelah selesai mereka kembali ke mobil dan pergi dari sana dengan diringi angin kencang.
"Sekarang kamu akan pergi ke mana lagi?’’
"Aku ingin mengunjungi seseorang. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya."
Mobil yang membawa mereka terus melaju dengan kencang dan tidak menunggu waktu lama akhirnya mereka tiba ditempat tujuan
Lizzie pergi menuju ke sebuah restoran. Ia sudah menemukan restoran yang dicarinya dan ia masuk ke sana. Sara mengikuti Lizzie dari belakang dan mereka mengambil tempat duduk di sudut ruangan. Lizzie memesan makanan.
Tidak lama kemudian pelayan membawakan dua piring spagethii untuk Lizzie dan Sara. Mereka memakannya dengan lahap. Setelah selesai makan, mereka masuk mobil dan pergi meninggalkan restoran. Lizzie dan Sara tidur pulas di mobil dan mereka tidak sadar kalau mereka sudah sampai di depan mansion, lalu sopir membangunkan mereka berdua."
"Nona Lizzie, bangunlah, kita sudah sampai di rumah."
Lizzie membuka matanya dan melihat ke sekeliling ternyata sudah ada di depan mansion. Lizzie membangunkan Sara yang sedang tidur di sampingnya.
"Sara, bangun. Kita sudah sampai."
Sara membuka matanya dan menguap berkali-kali.
"Lizzie, sebaiknya aku pulang ke apartemen."
"Besok saja pergi ke sana. Ini sudah malam. Kita sama-sama pergi ke sana."
Kedatangan Lizzie disambut oleh ayah dan ibunya. Malam ini Sara menginap di rumah Lizzie dan mereka menuju kamar masing-masing. Setelah mandi dan berpakaian Lizziw naik ketempat tidur sambil memikirkan Vladimir.
"Vladimir, sekarang kamu sedang apa? Aku rindu dan ingin segera bertemu denganmu."
🍀🍀🍀
Vladimir berada di kamarnya, baru menyelasaikan pekerjaannya dan bersiap-siap untuk tidur. Sebelum tidur memandangi foto Lizzie dan menciumnya.
"Lizzie, aku merindukanmu."
Vladimir mengambil ponselbya dan menelepon Lizzien
"Lizzie, kamu sedang apa?’’
"Aku sedang baca buku. Senang bisa mendengar suaramu lagi."
"Aku juga. Sebelum tidur aku ingin mendengar suaramu, jadi aku meneleponmu. Lizzie, aku ingin bertemu denganmu, tapi sayangnya kamu berada jauh dari sini."
"Hachiiiiih...hachiiiihhh."
"Lizzie, kamu tidak apa-apa?’’
"Aku tidak apa-apa hanya bersin saja, tadi aku sedikit kehujanan di jalan."
"Di sini hujan baru saja selesai. Ternyata Rusua dan Jerman turun hujanya bersamaan. Lizzie kamu harus jaga kesehatanmu jangan sampai sakit lagi."
"Terima kasih atas nasihatmu."
"Sekarang di sini sudah larut malam. Aku mau pergi tidur dulu."
"Baiklah. Selamat malam!’’
"Selamat malam!’’
Vladimir menutup teleponnya dan tersenyum.
🍀🍀🍀
Besok paginya setelah mereka makan pagi, mereka berdua pergi ke apartemennya Sara. Lizzie membawa banyak oleh-oleh untuk mereka. Mobil yang akan membawanya ke sana sudah menunggu di depan rumah.
Akhirnya mereka sudah sampai di depan apartemen. Mereka berdua masuk dan di sana ada Maribel yang sedang bersih-bersih. Mereka berdua tinggal bersebelahan.
"Lizzie,’’kata Maribel.
Mereka berpelukan.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi. Aku merindukanmu."
" juga merindukanmu."
"Sebentar lagi Jean dan Anne akan datang."
Kemudian pintu terbuka, Jean dan Anne masuk dan menemukan Lizzie di sana. Mereka lalu berlari ke arah Lizzie dan berpelukan, lalu mengadakan pesta penyambutan untuk Lizzie.
"Lizzie, kamu sudah menyelesaikan kursusmu?’’tanya Maribel.
"Tentu saja aku sudah menyelesaikan kursusku. Makanya aku cepat-cepat datang ke sini untuk bertemu dengan kalian." [ ]
__ADS_1