
Matahari sudah berada diatas kepala,tapi masih belum menemukannya. Akhirnya Vladimir duduk dikursi yang ada di Piazza san Marco sambil memperhatikan orang yang lalu lalang dengan harapan Lizzie akan lewat. Setelah satu jam menunggu di sana bayangan Lizzir pun tidak ada, akhirnya ia pergi dan mencari tempat lain. Vladimir sudah tidak mempedulikan rasa lelah dan kakinya yang pegal yang ada dipikirannya sekarang adalah Lizzie.
"Aku harus segera menemukannya secepatnya. Lizzie, kamu ada di mana?’’
Lizzie berada di gereja St. Mark’s Basillica sedang duduk termenung dan berdoa di sana. Langkah Vladimir berhenti di depan gereja St. Mark’s Basillica dan memandangi gereja itu dari luar, setelah lama berdiri, ia masuk ke dalam gereja dan duduk tidak jauh di mana Lizzie sedang duduk sekarang. Pandangan Vladimit lurus ke depan dan tidak menyadari Lizzie duduk tidak jauh di samping Vladimir. Lizzie yang telah selesai berdoa pergi dari gereja itu dan Vladimir masih tetap berada di sana.
Diluar gereja, Lizzie berhenti sebentar dan memandangi gereja itu beberapa saat, akhirnya ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan gereja itu. Hari ini di Venice keadaannya sangat ramai, banyak wisatawan yang datang kemari. Ia memperhatikan rombongan turis dari Jepang yang baru saja sampai di Venice.
Lizzie melihat jam tangannya dan waktu sudah menunjukan jam 2. Ia berjanji akan datang ke restoran jam 1.
‘’Aduh, gawat, aku sudah telat satu jam, pasti aku akan dimarahi oleh mereka."
Lizzie berlari-lari menuju restoran dan menyenggol orang beberapa kali. Akhirnya ia sampai di depan restoran dengan napas yang tersengal-sengal dan langsung menuju ke belakang restoran.
"Sven, maafkan aku. Aku datang terlambat."
"Sebaiknya kamu menemui Hendrik sepertinya dia sedang menunggumu dari tadi."
Lizzie langsung menemui Hendrik di dapur dengan perasaan bersalah dan takut.
"Maafkan aku. Aku datang terlambat. Aku keasyikan jalan-jalan di luar sehingga lupa waktu. Aku bersalah dan maafkan aku,’’kata Lizzie.
"Lizzie, duduklah!’’
Lizzie duduk dikursi yang disediakan oleh Hendrik.
"Dengarkan aku baik-baik dan jangan menyelaku ketika aku belum selesai bicara."
"Baik."
"Aku baru saja menelepon salah satu temanku yang berada di Moskow dan dia memberitahu kalau bosku sudah ditangkap polisi dan juga beberapa anak buahnya. Vladimirlah yang membuat mereka ditangkap."
"Vladimir?"
"Benar. Ternyata waktu itu dia datang dengan membawa uang untuk menyelamatkanmu dan dia sangat kecewa pada mereka, karena mereka sudah membohonginya. Mereka tidak mengatakan pada Vladimir kalau kamu sudah kabur dan sudah tidak ada lagi bersama mereka. Saat itulah polisi datang dan menangkap mereka semua. Ketika Vladimir akan meninggalkan rumah itu, bosku menembaknya, tapi dia selamat karena ada orang yang menolongnya."
Mata Lizzie sudah mulai berkaca-kaca dan air mata sudah menetes di pipinya.
"Be-benarkan itu? Vladimir datang untuk menyelamatkanku dan dia hampir mati karena berusaha menyelamatkanku?"
"Benar. Sekarang kamu tidak perlu marah dan kesal lagi padanya. Dia sangat mencintaimu. Sekarang dia pasti sedih mencarimu kemana-kemana."
Lizzie menangis dan air matanya tidak mau berhenti mengalir.
"Sudah, jangan menangis lagi. Sekarang teleponlah dia dan katakan di mana kamu sekarang."
"Aku akan segera menghubungi dia."
Lizzie cepat-cepat mengambil ponselnya dan mencari nama Vladimie, lalu menekan tombol panggil, tapi ponselnya tidak aktif, kemudian ia mencoba untuk menghubungi kantornya dan Zoya menerima panggilan dari Lizzie.
"Ini aku, Lizzie."
"Lizzie, kamu kemana saja? Kenapa baru sekarang kamu menghubungi kami? Apa kamu baik-baik saja?’’
"Maafkan aku. Aku sudah membuat kalian khawatir. Sekarang aku ada di Venice dan aky baik-baik saja. Bisa aku bicara dengan Vladimir?’’
"Sayang sekali. Sekarang Tuan Kalashnikov sedang tidak ada."
"Benarkah. Apa dia sudah pulang ke rumah?’’
"Tidak. Dia sedang pergi mencarimu. Apa kamu tahu akhir-akhir ini dia sangat sedih dan menderita. Dia selalu mencarimu kemana-kemana hampir setiap hari dia sering melamun dan selalu menyibukan diri dengan pekerjaannya dan sering melewatkan waktu makan dan akhirnya Vladimir jatuh pingsan di kantornya karena kelelahan."
Lizzie mulai mengeluarkan air mata lagi.
"Benarkah? Aku benar-benar tidak tahu itu. Sekarang bagaimana keadaannya?’’
"Sekarang dia sudah tidak apa-apa. Lizzie, sekarang Tuan Kalashnikov ada di Venice sedang mencarimu di sana."
"Eh. Vladimir ada di sini sejak kapan?’’
"Sejak kemarin malam."
Lizzie langsung menutup teleponnya dan langsung berlari keluar.
"Lizzie...Lizzie...Lizzie."
__ADS_1
Lizzie sudah menutup teleponnya.
"Kuharap kalian berdua bisa bertemu di sana ,"gumam Zoya.
Hendrij keheranan melihat Lizzie keluar dari restoran dengan terburu-buru.
"Hei Lizzie, ada apa?’’
"Vladimit ada disini sedang mencariku. Aku harus bisa menemukannya."
Lizzie berlari sambil menangis.
"Vladimir, kamu ada di mana?’’
Lizzir terus berlari dan berlari dan akhirnnya dia berada ditengah-tengah Piazza san Marco dan Matanya berkeliling mencari Vladimir. Ia berkali-kali menghapus air matanya yang terus mengalir.
Vladimir baru keluar dari gereja dan menghirup udara sore. Ia berjalan menuju grand kanal dan melihat kesibukan orang-orang dari sana.
Lizzie masih berada di Piazza san Marco mencari-cari Vladimir selama beberapa menit, lalu ia mulai berjalan sambil memperhatikan orang-orang yang ada di sana. Hari sudah menjelang sore dan udara menjadi semakin dingin. Lizzie terus menyusuri jalanan di Venice, sedangkan Vladimir masih menatap grand kanal dengan wajah sedih.
"Sepertinya hari ini aku belum bisa menemukan Lizzie."
Vladimir melihat sebuah restoran tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia masuk ke restoran itu dan memesan makanan. Setelah selesai makan, Vladimir memainkan piano yang ada di restoran itu. Ia memainkan sebuah lagu kiss the rain by Yiruma. Vladimir pernah memainkan lagu ini untuk Lizzie ketika berada di Jerman.
Alunan suara musik piano Vladimir terdengar sampai ke luar. Lizzie yang berada tidak jauh dari restoran itu mendengar suara piano itu. Ia mengenali lagu itu dan kembali mengenang saat Vladimir memainkan lagu itu untuknya. Tiba-tiba Lizzie menyadari sesuatu.
"Mungkinkah yang memainkan lagu itu adalah Vladimir."
Lizzie cepat-cepat menuju ke restoran, tetapi dalam perjalanannya ke sana, Lizzie terhalang oleh rombongan turis yang panjang. Ia harus menunggu beberapa menit sampai rombongan itu berlalu. Lizzie kemudian berlari menuju restoran itu. Ketika ia sampai di sana lagu itu sudah berhenti dan orang yang memainkan lagu itu sudah pergi, lalu Lizzie menanyakannya kepada salah satu pelayan restoran dan pelayan restoran mengatakan tadi ada seorang pria memainkan piano di sini dan pelayan itu menyebutkan ciri-cirinya dan ciri-cirinya mirip dengan Vladimir. Lizzie mengucapkan terima kasih pada pelayan itu dan langsung pergi.
"Vladimir tadi di sini. Mungkin dia belum jauh dari sini."
Vladimir memutuskan untuk pulang dan melanjutkan pencarian Lizzie besok. Sore itu suasana dijalan banyak orang. Lizzie harus bersusah payah mencari Vladimir di dalam banyak kerumunan orang.
Lizzie terjepit diantara banyak orang dan dengan susah payah ia terlepas dan mencari tempat yang agak kosong.Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat Vladimir sedang berjalan. Lizzie berdiri terpaku ditempatnya berdiri, ingin berteriak, tapi suara tidak keluar. Lizzie mulai meneteskan air mata dan melihat Vladimir berjalan semakin menjauh.
Akhirnya Lizzie dapat menggerakan kakinya dan mulai mengejar Vladimir. Langkah Vladimir sangat cepat dan Lizzie berusaha untuk mengejarnya diantara kerumunan banyak orang. Ia terus berkonsentrasi pada sosok Vladimir di depannya, tapi beberapa orang menghalanginya dan ia kehilangan Vladimir.
Vladimir kembali terlihat dan Lizzie merasa senang.
Vladimir berhenti berjalan.
"Lizzie. Sepertinya aku mendengar suara Lizzie."
Vladimir menengok ke belakang mencari orang yang sudah memanggil namanya, tapi ia tidak menemukan orang yang memanggilnya. Vladimir kembali berjalan.
"VLADIIIIMIIIIR."
Vladimir berhenti berjalan lagi dan menengok ke belakang lagi. Lizzie sedang berusaha melewati orang-orang yang ada di depannya, karena banya orang, Vladimir tidak dapat melihat Lizzie yang berada diantara kerumunan orang banyak, Vladimir kemudian melanjutkan berjalan lagi dan akhirnya ia menaiki gondola.
Lizzie mulai panik telah kehilangan Vladimir lagi dan menebarkan pandangan kesegala arah. Air mata mulai membasahi wajahnya dan akhirnya ia terduduk lemas dengan wajah sedih dan lelah. Lizzie kemudian mengurung diri di kamarnya.
Hendrik dan Sven bingung dengan sikap Lizzie hari ini. Lizzie menangis sendirian di kamarnya, lalu ia mengambil tasnya dan mengeluarkan recorder dari tasnya dan menyalakannya. Lizzie mendengarkan Vladimir yang menyanyikan Brahms’ lullaby untuknya. Air matanya tidak dapat berhenti mengalir.
"Vladimir, aku ingin bertemu denganmu."
Sambil mendengarkan lagu itu Lizzie tertidur tanpa makan malam dan tanpa mengganti pakaiannya.
🍀🍀🍀
Vladimir pulang dengan wajah lelah.
"Dari mana saja seharian?’’Kata Aleandra.
"Aku mencari Lizzie."
"Kalau dilihat dari wajahmu sepertinya belum menemukannya."
" Seharian aku mencarinya, tapi aku belum menemukannya. Besok aku akan mencarinya lagi."
"Kami juga sudah mencarinya. Hasilnya sama denganmu. Vladimir, kamu sudah makan?’’
"Belum."
"Kalau begitu kita makan malam bersama."
__ADS_1
Mereka makan malam tanpa ada satu pun diantara mereka yang bicara. Vladimir sudah terlebih dahulu menyelesaikan makan malamnya dan berpamitan untuk pergi ke kamarnya. Setelah mandi dan berganti pakaian ia pergi ke balkon dan melihat pemandangan kota Venice yang diterangi oleh lampu-lampu. Vladimit melihat ke langit dan melihat bintang, meskipun bintang malam ini hanya sedikit.
Udara sudah semakin dingin. Vladimir masuk kembali ke kamarnya dan menjatuhkan diri di tempat tidur.
Keesokan paginya Vladimir seperti biasa bangun lebih awal dan segera mencari Lizzie. Ia bingung harus mencarinya kemana. Ia duduk melamun di Piazza san Marco. Keadaan di sana masih sangat sepi. Beberapa menit kemudian hari sudah terang dan sudah banyak orang yang berlalu lalang di sana.Tiba-tiba ada orang yang menyapanya dari belakang dan ia terkejut ketika melihat orang itu dan orang itu tersenyum padanya.
Lizzie bangun dengan mata sembab, karena semalaman terus menangis.
"Sebaiknya hari ini kamu di rumah saja,’’kata Sven.
"Menurutku juga begitu. Aku tidak bisa keluar dengan mata sembab seperti ini."
Lizzie makan pagi yang telah disediakan dan makan dengan lahap. Hari ini kegiatannya hanya membersihkan apartemen dan menonton TV. Ponsel Lizzie berbunyi.
"Halo!"
"Lizzie, ini aku, Hendrik. Bisakah kamu jam 8 malam pergi ke jembatan Rialto?’’
"Eh. Memangnya ada apa?’’
"Pokoknya kamu datang saja. Nanti juga akan tahu sendiri."
"Baiklah. Aku akan pergi ke sana."
"Ok."
Lizzie menutup teleponnya dan masuk ke dalam kamar dan tidur. Sore harinya ia bangun dan bersiap-siap untuk pergi ke jembatan Rialto. Lizzie pergi dari rumah ketika waktu menunjukan jam setengah delapan dan sudah berada di jembatan Rialto 15 menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Ketika jam sudah hampir jam delapan malam, Lizzie tidak melihat Hendrik datang.
"Dia kenapa belum datang? Padahal ini sudah hampir jam 8, tapi belum ada tanda-tanda kemunculan dirinya."
Tidak jauh dari Lizzie ada seorang pria yang sedang memperhatikannya dengan wajah tersenyum dan pria itu mendekatinya.
"Selamat malam, Lizzie!"
Lizzie membalikan badan dan betapa terkejutnya ketika dia mendapati Vladimir berada di sana dengan memegang satu buket bunga mawar merah. Vladimir mendekati Lizzie dan memberikan mawar itu padanya.
Lizzie, meneteskan air mata dan Vladimir menghapusnya dengan lembut. Ia langsung memeluk Vladimir dan Vladimir memeluk Lizzie sangat erat menumpahkan kerinduannya pada Lizzie.
Vladimir melepaskan pelukannya dan menatapnya lekat-lekat. Jantung Lizzie jadi berdetak semakin kencang karena terus ditatap oleh Vladimit dan jarak wajah mereka sangat dekat.
"Lizzie, aku cinta kamu."
Vladimir memegang bibir Lizzie dengan ibu jarinya dan beberapa detik kemudian bibir mereka sudah saling bersentuhan. Lizzie merasakan kehangatan ketika bibir mereka saling bertautan. Ia meneteskan air mata kebahagian, karena sudah menemukan kembali cintanya. Lizzie melingkarkan kedua tangannya di leher Vladimir, lalu mengangkat Lizzie dan mereka berputar.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?’’
"Hendrik yang menyuruhku datang ke sini untuk menemuimu."
"Rupanya begitu. Pantas saja dia menyuruhku datang ke sini. Bagaimana kamu bisa bertemu dengannya?’’
"Kami bertemu secara tidak sengaja di Piazza san Marco."
"Oh."
"Sebaiknya kita pulang. Mereka sudah menunggumu."
"Siapa?’’
"Nanti juga kamu tahu."
"Ayolah Vladimir beritahu aku."
Vladimir hanya tersenyum dan mengenggam erat tangan Lizzie. Lizzie berusaha membujuk Vladimir berkali-kali untuk mengatakan padanya, tapi Vladimir tetap diam dan akhirnya Lizzie menyerah dan juga memilih diam sepanjang perjalanan.
Mereka berdua naik gondola dan menyusuri kanal-kanal. Ini pertama kalinya Lizzie naik gondola semenjak kedatangannya ke Venice. Apa lagi sekarang ia naik bersama Vladimir menyusuri kanal-kanal di Venice pada malam hari sungguh romantis pikir Lizzie. Gondola itu berhenti di depan sebuah hot besar dan indah. Vladimir membantu Lizzie turun dari gondola.
Mereka masuk ke dalam hotel dan disambut dengan meriah oleh keluarga Lizzie. Gadis itu terkejut melihat orang-orang yang dirindukan dan disayanginya berada di sana. Lizzie memeluk orangtuanya.
"Maaf sudah membuat kalian khawatir."
"Sudahlah Lizzie, yang penting sekarang kamu pulang dengan selamat,’’kata Dimitri. Aleandra menangis dalam pelukan Lizzie, merasa lega putrinya baik-baik saja.
"Ayah maafkan aku."
"Itu tidak apa-apa. Ayah senang, kamu baik-baik saja."[ ]
__ADS_1