Shattering Heart

Shattering Heart
(S3): Jalan-jalan ke kebun binatang


__ADS_3

‘’Senang bisa bertemu denganmu lagi. Syukurlah kamu masih hidup. Kamu tahu betapa menderitanya Vladimir ketika mengetahui kamu sudah meninggal."


"Sudahlah jangan bicarakan itu lagi."


"Sekarang kamu sangat senang bisa bertemu dengan Lizzie lagi. Sepertinya kesedihanmu selama 2 bulan sekarang sudah menguap."


"Kapan Ayah dan Ibu datang?’’


"Baru saja. Kalian dari mana?’’


"Kami baru jalan-jalan di taman."


Mereka bertiga pergi ke ruang keluarga dan bicara di sana panjang lebar.


"Aku sudah melakukan perjalanan jauh. Sekarang aku mau istirahat dulu. Kalian bicara saja berdua. Pasti kalian tidak ingin diganggu bukan?’’kata Nicola sambil mengedipkan matanya ke Vladimir.


Nicola dan Juliet meninggalkan ruang keluarga dan di sana hanya tinggal mereka berdua. Mereka duduk di depan perapian yang sedang menyala. Lizzie melepaskan mantel Vladimir dan memberikan kepadanya.


Vladimir menyentuh wajah Lizzie.


"Sepertinya badanmu sudah tidak dingin lagi."


Lizzie menatap perapian yang menyala dengan tatapan tajam.


"Sebaiknya aku juga pergi ke kamarku. Aku ingin meluruskan badanku sebentar."


"Baiklah. Aku antar."


Vladimir membukakan pintu kamar Lizzie, kemudian mereka masuk. Lizzie naik ketempat tidur dan Vladimir keluar  dari kamar Lizzie dan masuk ke kamarnya.


🍀🍀🍀


Hari ini ulang tahun Nicholas. Seisi rumah sudah disibukan dengan persiapan pesta ulang tahunnya, karena akan ada tamu-tamu penting Nicholas yang akan datang. Lizzie juga ikut disibukkan untuk mempersiapkan pesta Nicholas.


"Lizzie, sebaiknya kamu cepat berpakaian, sebentar lagi penata rias akan segera datang. Apa pakaianmu sudah disiapkan?’’tanya Aleandra.


"Iya Bu, pakaianku sudah siap."


"Bagus. Sekarang ganti pakaianmu dan tunggu di kamar sampai penata rias datang."


Lizzie menuruti perkataan ibunya dan masuk ke dalam kamar. Ia mulai mengganti pakaiannya dengan gaun berwarna pink sampai mata kaki dan berlengan pendek. Sementara itu Vladimir dan orangtuanya juga sedang sibuk berganti pakaian di kamarnya.


Para penata rias sudah berdatangan dan langsung menuju kamar Lizzie dan ibunya. Para penata rias itu mulai mendandani Lizzie secantik mungkin. Vladimir sudah berada di bawah bersama ayahnya dan Nicholas sedang menyambut tamu yang sudah mulai berdatangan.Tidak lama kemudian Elisa datang dan memberi salam kepada mereka.


Elisa sudah tiba di kamar Lizzie dan mengetuk pintu.


"Masuk!’’


Elisa masuk dan melihat Lizzie yang sudah selesai berdandan.


"Lizzie."


Lizzie tersenyum dan langsung memeluk Elisa.


"Terima kasih sudah datang."


Tamu-tamu sudah banyak yang berdatangan, Nicholas dan Reiko sibuk menyambut tamu-tamunya. Vladimir selalu melihat ke atas, menunggu kedatangan Lizzie. Di sini sudah ramai dan bising, tapi tiba-tiba terjadi keheningan. Vladimir melihat ke kiri ke kanan mencari jawaban kenapa tiba-tiba suasana jadi hening, akhirnya Vladimir mengetahui alasannya.


Mereka melihat Lizzie yang sedang turun. Gadis itu sangat cantik luar biasa. Vladimir sampai tidak berkedip menatap Lizzie. Jantung Vladimir berdetak lebih cepat. Lizzie melihat Vladimir dan tersenyum kepadanya dan Vladimir membalasnya. Ia menyadari pria-pria yang ada di sini sedang menatap Lizzie dan dihatinya timbul perasaan cemburu. Ia tidak ingin Lizzie ditatap seperti itu oleh pria lain. Cepat-cepat Vladimir mendekati Lizzie. Ia tidak ingin Lizzie di dekati oleh pria manapun.


"Kamu sangat cantik. Aku tadi hampir tidak mengenalimu dan yang membuatku kesal semua mata laki-laki yang ada di sini melihatmu. Aku tidak suka itu."


Lizzie tersenyum melihat Vladimir cemburu pada pria lain, lalu ia melihat ada beberapa sekelompok wanita yang dari tadi terus melihat ke arah Vladimir dan Lizzie bisa mendengar percakapan mereka yang mengatakan mereka suka kepada Vladimir. Raut wajah Lizzie langsung berubah jadi kesal.


"Kamu kenapa?’’


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya kesal saja."


"Kesal kenapa? Apa yang membuatmu kesal?’’


"Aku kesal semua mata wanita sedang memandangmu. Apa kamu tidak menyadarinya?’’


"Jadi itu yang membuatmu kesal."


Vladimir menatap Lizzie dengan tersenyum jahil. Ia kembali meminum minumannya, lalu mereka semua memasuki ke ruang pesta. Setelah pesta dimulai diadakan acara berdansa. Tamu-tamu mulai berdansa. Vladimir melihat seorang pria mendekati Lizzie untuk mengajaknya berdansa. Lizzie melihat Vladimir dengan tatapan yang sangat dingin membuat Lizzie merinding dan ia menolak untuk berdansa dengan pria itu. Vladimir mendekati Lizzie.


"Jangan coba-coba kamu berdansa dengan pria lain. Kamu hanya boleh berdansa denganku saja. Lizzie, maukah kamu berdansa denganku?’’

__ADS_1


Lizzie menyambut tangan yang diulurkan kepadanya.


"Kamu harus tahu sebenarnya aku tidak pandai berdansa."


"Tidak masalah. Kamu hanya perlu mengikuti langkahku saja."


Mereka berdua pergi berdansa dan tidak menyadari para tamu undangan sedang memperhatikan mereka berdansa. Tidak lama setelah mereka berdansa, Lizzie melihat seorang wanita yang memandang sinis padanya.


Vladimir menyadari dengan perubahan wajah Lizzie


"Ada apa?’’


"Sepertinya ada seorang wanita yang tidak suka aku berdansa denganmu."


"Benarkah? Kalau begitu jangan pedulikan dia."


Setelah acara berdansa selesai. Vladimir mengajak Lizzie keluar dan pergi ke halaman kastil dan mereka duduk disalah satu kursi yang ada di sana.


"Jadi besok lusa kamu akan kembali ke Rusia?’’


"Iya."


"Apa kamu sedih aku pergi?"


Lizzie menganggukan kepalanya. Vladimir kemudian mengulurkan tangannya pada Lizzie.


"Ayo kita berdansa!"


Lizzie menerima uluran tangan Vladimir dan mereka berdansa di bawah langit bertaburan bintang, kemudian Vladimir melingkarkan tangannya di pinggang Lizzie dan Lizzie melingkarkan tangannya di leher Vladimir. Mereka berdansa dalam diam dan berpandangan satu sama lain. Vladimir menempelkan keningnya dikening Lizzie dan gadis itu merasakan napas Vladimir yang hangat.


"Lizzie, aku mencintaimu."


Vladimir mencium kening Lizzie dan menariknya dalam pelukan Vladimir.


"Aku juga mencintaimu."


Vladimir semakin mempererat pelukannya dan dirasakannya Lizzie menggigil kedinginan.


"Sebaiknya kita masuk kedalam. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit lagi."


Mereka berdua kembali masuk ke dalam dan bergabung kembali dengan tamu lainnya. Selama berada di ruang pesta Vladimir tidak sedetik pun meninggalkan Lizzie sendirian. Setiap kali ada pria yang melirik Lizzie, Vladimir selalu membalasnya dengan tatapan dingin.


Setelah mandi dan berpakaian, Lizzie bersiap untuk tidur, kemudian ponselnya tiba-tiba berdering.


"Lizzie, kamu belum tidur?’’


"Belum."


"Sudah malam. Cepat pergi tidur."


"Kamu meneleponku hanya untuk mengatakan itu."


"Sebenarnya aku ingin mendengar suaramu. Aku sudah merindukanmu lagi."


"Kita baru saja bertemu, tapi kamu sudah merindukanku lagi. Kalau begitu datang saja ke kamarku. Kita bicara di sini."


"Meskipun sekarang berada satu rumah, tapi sepertinya jauh sekali. Jarak kamarmu dan aku jauh sekali. Kamu di lantai dua, sedangkan aku di lantai 3. Aku ingin pergi ke kamarmu, tapi kamarmu terlalu jauh dari kamarku butuh waktu 15 menit untuk mencapai kamarmu."


"Pakai sepatu roda saja, agar cepat sampai."


"Pantas saja setiap pelayan di rumah ini menggunakan sepatu roda."


"Iya. Tentu saja mereka pakai karena jarak dari satu ruangan keruangan lainnya jauh."


"Besok saja aku akan pergi ke kamarmu.Ini sudah malam sebaiknya kita tidur saja. Kamu juga butuh istirahat. Selamat malam!’’


"Selamat malam!’’


🍀🍀🍀


Vladimir pagi-pagi sekali diam-diam pergi ke kamar Lizzie. Di sana ia melihat Lizzie yang masih tertidur. Vladimir mendekatinya dan memperhatikan wajah Lizzie. Ia masih tidak mempercayai kalau Lizzie sekarang ada dihadapannya dan ada di dekatnya. Hati Vladimir dipenuhi oleh kebahagiaan yang meluap-luap.


Bibir Lizzie yang mungil dan tanpa sadar Vladimir menciumnya. Tidak lama kemudian Lizzie membuka matanya dan Vladimir sudah ada di depannya.


"Pagi!"


"Vladimir, apa yang kamu lakukan di sini?’’

__ADS_1


"Menunggumu bangun tidur. Tadi tidurmu nyenyak sekali."


"Sejak kapan kamu ada di sini?’’


"Sudah dari tadi."


Lizzie bangun dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Vladimir duduk di sofa dan membaca majalah. Setelah Lizzie berpakaian dengan rapi, mereka pergi ke ruang makan.


Setelah selesai makan, Lizzie dan Vladimir berpamitan dan Vladimir menarik keluar dan pergi menjauh dari kastil.


"Vladimir, kita mau pergi kemana?’’


"Kita akan berjalan-jalan. Aku ingin kamu hari ini menemaniku seharian. Sebelum aku pulang, aku ingin menghabiskan banyak waktu denganmu."


"Baiklah."


Di halte bus sepi hanya ada mereka berdua. Sejak pergi dari kastil, Vladimir masih menggenggam tangan Lizzie dan tidak melepaskannya, walaupun hanya sebentar. Ketika Lizzie berusaha melepaskan tangannya, Vladimir lebih mempererat genggamannya. Sekarang ini Lizzie benar-benar tidak tahu jalan pikiran Vladimir. Akhirnya bus yang ditunggu datang juga.


Mereka duduk dipaling belakang. Sepanjang perjalanan Vladimir tidak bicara. Sesekali Lizzie melihat Vladimir, tapi wajahnya tidak menujukkan ekspresi apa-apa.


Mereka turun di halte bis yang ke empat.


"Sekarang kita mau pergi ke mana ?’’


"Aku tidak tahu."


"Kenapa kamu tidak tahu? Bukannya kamu yang mengajakku jalan-jalan?’’


"Tapi aku masih asing dengan kota ini. Aku tidak tahu apa-apa. Terserah kamu saja kita pergi kemana. Kamu lebih tahu kota ini daripada aku."


"Baiklah. Kita pergi ke kebun binatang saja bagaimana?’’


"Baiklah. Terserah kamu saja."


Akhirnya mereka berdua pergi ke kebun binatang. Di sana Lizzie sangat antusias sekali melihat serigala dan berteriak-teriak pada Vladimir supaya Vladimir dapat melihatnya, setelah puas melihat serigala, Lizzie menarik Vladimir untuk melihat rusa, tupai, monyet, dan burung. Selama di kebun binatang Vladimir ditarik Lizzie ke sana kemari. Vladimir tidak mengeluh Lizzie melakukan itu kepadanya walaupun ia sudah lelah di ajak berkeliling kebun binatang. Disekitar mereka tidak ada seorang pun kecuali mereka berdua. Lizzie memfoto semua binatang yang ada di sini.


"Kenapa kebun binatang ini begitu sepitidak seperti kebun binatang lainnya?’’


"Tentu saja kebun bintang ini ada di hutan mungkin orang-orang yang mengunjungi kebun binatang ini ada di bagian lain hutan ini, jadi sepi."


Lizzie berlari kesana-kemari dan Vladimir kelelahan mengejar Lizzie yang begitu bersemangat. Tiba-tiba Vladimir terjatuh di tanah dan berbaring di tanah. Lizzie jadi panik dan berlari-lari mendekati Vladimir.


"Vladimir...Vladimir...Vladimir."


Tidak ada jawaban dari Vladimir. Lizzie memanggilnya lagi berkali-kali tetap tidak ada jawaban dari Vladimir. Lizzie mulai menangis dan mengguncang-guncang tubuh Vladimir. Air matanya mulai berjatuhan di pipi Vladimir. Tangan Vladimir memegang kepala Lizzie dan mengusap-usap rambut dan wajahnya dengan lembut


"Sudah jangan menangis. Aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah saja."


Lizzie memukul-mukul dada dan perut Vladimir dan duduk membelakanginya sambil menangis dan tangisannya semakin keras. Vladimir jadi khawatir dan cepat-cepat bangun, lalu langsung memeluk Lizzie dari belakang. Lizzie meronta, tapi pelukan Vladimir erat sekali dan Lizzie tidak bisa lepas dari pelukannya, akhirnya Lizzie menyerah.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih seperti ini. Sudah jangan menangis lagi. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maaf sudah membuatmu khawatir. Tadi aku bermaksud bercanda denganmu, tapi itu malah membuatmu jadi sedih. Ini salahku, jadi maafkan aku."


"Aku kira terjadi apa-apa denganmu. Kamu tahu tadi aku benar-benar ketakutan."


"Maaf. Sepertinya bercandaku sudah keterlaluan."


Lizzie membalikkan badan dan menangis di pelukan Vladimir, lalu mengusap-usap rambut Lizzie.


"Lizzie, sudah jangan menangis lagi nanti orang dapat mendengar tangisanmu. Mereka akan mengira aku sudah berbuat jahat padamu."


"Yang membuatku menangis kan kamu. Kamu janji tidak akan melakukan itu lagi."


"Iya saya berjanji."


Setelah tangisan Lizzie mereda, mereka berdiri dan mereka melanjutkan kembali melihat-lihat binatang yang ada di sini. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan dan mereka juga pergi ke Schwangau village, di sana mereka singgah di sebuah kafe dan mereka duduk di luar sambil memperhatikan orang yang lalu lalang.


Setelah beristirahat dan menikmati makan siang mereka pergi ke koniglich Kristall-Therme. Tempat ini adalah tempat spa. Maya merasa lelah dan memutuskan untuk pergi ke spa untuk merelaksasikan tubuhnya. Vladimir juga melakukan hal yang sama. Setelah itu mereka pergi ke kolam renang yang ada di tempat spa itu.


"Lizzie, kenapa kamu diam sajatidak berenang?’’


"Sekarang aku hanya ingin berendam dulu."


"Kalau begitu aku akan menemanimu berendam."


"Kamu tidak perlu menemaniku berendam. Pergilah berenang."


Vladimir akhirnya pergi berenang dan Lizzie memperhatikannya dari pinggir kolam renang. Lizzie tersenyum dan tertawa melihat Vladimir berenang. Baru kali ini Lizzie melihat Vladimir berenang. Gadis itu tersipu malu. Matanya selalu mengarah pada Vladimir dan tidak memperhatikan orang-orang disekitarnya. Saat Lizzie melihat ke sekeliling ternyata sudah banyak wanita yang memperhatikan Vladimir. Wajah Lizzie berubah menjadi cemberut dan kesal.

__ADS_1


"Kenapa mereka harus menatap Vladimirku seperti itu. Seperti tidak ada laki-laki lain di sini. Di sinikan banyak pria, kenapa wanita-wanita itu hanya melihat ke arah Vladimir? Aku akui dia memang sangat tampan. Aku senang mempunyai kekasih yang tampan,dan ada juga tidak senangnya, karena pria tampan banyak disukai wanita. Vladimir, kenapa kamu harus menjadi pria tampan,sehingga banyak disukai wanita?"gumamanya.


Lizzie tertunduk sedih.Tidak lama kemudian ia melihat seorang wanita muda yang sangat cantik mendekati Vladimir dan mereka berbicara. Lizzie tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka, karena jarak mereka jauh dari tempat Lizzie berada. Ia menatap marah kepada mereka berdua. Lizzie semakin kesal, karena wanita itu bersikap genit dan berusaha lebih mendekat pada Vladimir. [ ]


__ADS_2