
1 bulan kemudian
Sudah satu bulan sejak Dimitri terbangun dari komanya. Ia begitu terkejut saat diberitahu telah koma selama delapan tahun lamanya. Ia juga terkejut Aleandra juga koma dan belum sadarkan diri. Ia mengira selama ini istrinya baik-baik saja. Pernah suatu kali Dimitri memaksa untuk menemui Aleandra satu hari setelah sadar dari komanya. Para dokter melarang Dimitri untuk tidak beranjak dari tempat tidurnya.
"Aku ingin menemui istriku."
"Anda bisa menemuinya nanti. Anda belum pulih benar dan harus istirahat,"kata dokter.
"Aku sudah berada di tempat tidur selama 8 tahun. Aku tidak ingin istirahat lagi."
Dimitri berusaha berdiri, tapi tubuhnya menolak dan lemas. Ia hampir terjatuh, jika perawat tidak segera menangkapnya.
" Semua otot di tubuh Anda sudah lemas, karena sudah tidak digunakan selama 8 tahun. Anda setelah ini akan membutuhkan terapi agar otot Anda kembali seperti semula."
Dimitri mau tidak mau menuruti perkataan dokter, meskipun saat ini ia ingin sekali berlari ke kamar sebelah untuk melihat istrinya. Sekarang ia merasa begitu tidak berdaya, tapi keberuntungan masih berpihak kepadanya. Ia selamat dari percobaan pembunuhan dan berharap Aleandra segera sadar.
Setelah dokter dan perawat pergi, Dimitri kembali melamun dan memikirkan masa depan keluarganya. Ia sudah kehilangan waktu selama 8 tahun. Itu waktu yang sangat lama. Dimitri merasa seperti dilahirkan lagi dari kematian. Ia kemudian teringat dengan Lizzie. Senyuman mengembang di wajahnya. Dimitri membayangkan Lizzie sudah tumbuh besar dan berharap Lizzie selamat.
Lamunannya buyar ketika ayahnya datang bersana Nester. Saat pertama kali melihat ayahnya satu bulan yang lalu, Dimitri terkejut, Sergei terlihat semakin tua, tapi ia senang ayahnya masih sehat.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Sergei.
"Aku sudah mulai membaik. Terapi selama satu bulan sudah membuatku tubuhku lebih baik. Aku bisa berjalan tanpa bantuan siapa pun lagi."
"Itu bagus. Mungkin sebentar lagi dokter akan mengizinkanmu pulang."
" Aku mengharapkan itu supaya aku bisa menemui Lizzie."
Raut wajah Sergei menjadi muram, ia belum menceritakan kepada Dimitri yang sebenarnya tentang Lizzie. Dimitri hanya tahu Lizzie bersama Ivander.
"Ada apa ayah?"
"Ah tidak apa-apa hanya saja..."
Perkataan Sergei terpotong, karena suara ketukan di pintu. Nicola bersama keluarganya datang menjenguk.
"Apa kami menganggu?"tanya Nicola.
"Tentu saja tidak. Aku senang bisa bertemu kalian lagi,"seru Dimitri senang.
"Sepertinya proses penyembuhanmu sangat cepat. Aku senang.".
" Terima kasih."
Dimitri melirik ke arah pemuda yang berdiri di samping Nicola dengan wajah tak percaya.
"Kamu Vladimir?"tanya Dimitri tak percaya.
" Ini aku." Vladimir menyengir.
__ADS_1
" Terakhir aku melihatmu 8 tahun yang lalu. Saat itu kamu masih anak-anak sekarang kamu sudah tumbuh menjadi pemuda tampan."
"Benar sekali,"kata Nicola.
Semuanya kembali terdiam. Dimitri menatap satu persatu orang yang ada di sana.
"Ada apa?"
"Begini aku sedang menyelidiki kasusmu. Saat ini kami belum mengetahui siapa yang mencoba membunuhmu dan istrimu. Hanya kamu yang tahu siapa orang itu. Kami punya dugaan siapa pelakunya, tapi kami tidak punya cukup bukti."
"Benarkah? Menurut kalian siapa?"
Nicola melirik ke arah Sergei.
"Viktor atau Anthony Lennox,"kata Sergei dengan wajah muram.
Satu bulan yang lalu Sergei diberitahu oleh Nicola tentang kecurigaan mereka terhadap Victor dan Anthony. Saat itu Sergei tidak percaya kalau diantara mereka pelakunya. Nicola kemudian menjelaskan awal kecurigaan mereka. Mau tak mau Sergei akhirnya mencurigai mereka. Sebelum ada bukti yang kuat, ia tidak ingin menuduh mereka. Terlebih lagi mereka adalah orang kepercayaannya sendiri.
Sadarnya Dimitri dari koma dirahasiakan oleh Sergei dari Viktor dan Anthony Lennox. Ia takut kalau kecurigaan mereka terbukti benar, Dimitri akan dibunuh lagi.
" Jadi apa pelakunya salah satu diantara mereka?"tanya Nicola.
Semua orang menunggu jawabannya dengan penasaran.
Dimitri kemudian bercerita dan teringat 8 tahun yang lalu. Ia sering mendapat surat ancaman akan dibunuh. Awalnya Dimitri tidak menghiraukannya, karena ia pikir itu hanya dari musuh saingan bisnisnya, jadi wajar kalau ia memiliki musuh dalam usaha bisnisnya, tapi semakin lama surat ancaman itu semakin mengelisahkan hatinya. Ia takut, jika ancaman itu menjadi kenyataan.
Apa yang ditakutkan Dimitri pun terjadi. Pelaku itu datang dan masuk ke ruang kerjanya. Dimitri tidak melihat jelas wajah si pelaku, karena seluruh wajahnya ditutupi oleh topeng dan suaranya disamarkan. Dimitri masih ingat apa yang dikatakan pelaku itu sebelum mencoba membunuhnya.
" Kamu tidak pantas hidup."
Pelaku itu menembaknya. Lengan Dimitri terkena tembakan, karena berusaha menghindar, lalu mengambil kesempatan untuk kabur. Ia berlari ke kamar Lizzie dan menyerahkan Lizzie kepada Ivander untuk diselamatkan saat api mulai menjalar keseluruh mansion. Pada saat itu Aleandra terbangun dan melihatnya membawa Lizzie.
" Apa yang terjadi? Kenapa kamu memberikan Lizzie kepada pria itu?"
" Dia Ivander, sahabatku. Lizzie akan aman bersamanya dan kamu juga harus ikut dengannya."
"Tapi ada apa?"
Aleandra terpekik kaget melihat lemgan Dimitri berdarah.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Sekarang pergilah kalian. Aku akan menyusul kalian."
Asap semaki tebal hampir memenuhi seluruh mansion. Api hampir melahap habis. Dimitri begitu panik menyuruh Ivander dan Aleandra untuk segera pergi.
"Aku harus menolong Milly. Tadi aku masih melihatnya di dalam."
"DIMITRI,"teriak Aleandra.
Dimitri tidak menghiraukan teriakan Aleandra. Ketika ia akan menolong Milly, pelaku menangkap Dimitri dan membenturkan kepalanya berkali-kali ke tembok sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
__ADS_1
Setelah itu Dimitri tidak tahu apa yang terjadi. Ia begitu terkejut ketika diberitahu Aleandra koma Ia mengalami cedera berat di kepalanya menurut pengakuian Bibi Ester, Aleandra masuk ke dalam memcarinya, lali seseorang mendoringnya dari bali asap tebal. Selama ini ia mengira Aleandra pergi dengan Ivander dan Lizzie.
"Aku tidak tahu."
"Apa maksudmu tidak tahu?" tanya Sergei.
"Aku tidak tahu wajah pelakunya, karena pakai topeng."
"Jadi begitu rupanya,"kata Nicola.
"Kenapa kalian mencurigai Viktor dan Anthony?"
"Itu karena..."
Perkataan Nicola terpotong, karena ia sudah berjanji kepada Sergei untuk tidak mengatakan apa pun tentang Lizzie.
"Katakan! saja Nicola! Sudah saatnya Dimtri tahu,"kata Sergei.
"Tahu apa?"tanya Dimitri.
"Lizzie sudah kami temukan,"kata Nicola.
"Di mana dia?"
Nicola pun menceritakan tragedi yang menimpa keluarga angkat Lizzie.Seakan ada sebongkah batu besar yang menghantam kepalanya setelah mendengar cerita Nicola.
" Tidak. Itu tidak mungkin. Lizzie baik-baik saja, kan?"
" Kami tidak tahu keberadaan Lizzie dan juga Ivander."
Mata Dimitri memerah menahan air matanya yang hendak jatuh. Ia tidak sanggup jika Lizzie meninggal.
"Kami sudah mencarinya kemana-mana , tapi jejak mereka seakan hilang begitu saja. Itu sebabnya kami mencurigai Viktor dan Anthony, karena mereka tahu keberadaan Lizzie, meskipun belum tentu mereka pelakunya."
"Jadi seperti itu."
Dimitri kemudian teringat dengan villa yang baru ia beli. Ada kemungkinan Ivander berada di sana. Dimitri kemudian memberitahu tentang villa itu
" Ada kemungkinan mereka berada di sana."
" Aku akan menyuruh orang untuk memeriksanya.Dan ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan padamu. Kamu dan Viktor berdebat pada hari itu. Apa yang kalian perdebatkan?" tanya Nicola.
" Ah itu kami berdebat soal pinjaman uang. Viktor ingin meminjam uang padaku untuk membuka bisnis properti yang baru, tapi aku menolaknya."
"Jadi begitu."
"Jika kalian menemukan Lizzie segera beritahu aku."
"Tentu saja." [ ]
__ADS_1