
Sementara itu tidak jauh dari rumah keluarga Thusenka, dua pria asing masih memperhatikan suasana di sekelilingnya. Masih ada beberapa orang yang berkeliaran di sana terutama beberapa polisi yang masih berjaga di sana. Mereka berdua terlihat gugup dan ketakutan atas perbuatan mereka yang baru saja dilakukan.
Mereka berdua begitu terkejut saat bos mereka memberitahu mengenai Lizzie adalah cucu Sergei Romanov dan memerintahkan mereka untuk membunuh Lizzie. Tanpa pikir panjang mereka akhirnya segera pergi ke rumah keluarga Thusenka secepat mungkin sebelum pria asing tersebut menemui keluarga Thusenka. Di sana mereka disambut hangat oleh Antonina dan Petro, tapi tidak lama kemudian sambutan hangat itu tidak lagi terjadi setelah mereka mengetahui maksud dan tujuan kedatangan mereka.
"Aku tidak akan mengatakan di mana Lizzie sekarang?’’teriak Antonina.
Pria dengan janggut panjang kemudian memukulnya sampai Antonina terjatuh ke lantai. Petro yang melihat itu menjadi emosi dan memukul pria itu sampai bibirnya berdarah.
"Dengar Tuan Thusenka, aku tidak ingin membuat keributan dan masalah di sini, jika kalian mengatakan di mana anak itu,’’kata pria berjanggut itu dengan nada penuh kekesalan.
"Kami tidak akan menyerahkan Lizzie kepada kalian, karena kami tahu kalian hanya akan menyakitinya dan mungkin juga membunuhnya seperti yang telah kalian lakukan pada orang tua kandungnya dulu.Aku yakin kalian telah disuruh seseorang untuk membunuh Lizzie , bukan? Katakan siapa orang itu?’’kata Petro dengan penuh kemarahan.
"Kami tidak perlu mengatakan siapa yang menyuruh kami. Kami hanya melaksanakan perintah dari pimpinan kami dan dari mana Anda tahu kalau kami adalah penyebab kematian orang tua kandung anak itu?’’
"Kami hanya menebak saja."
"Sekarang katakan di mana anak itu?’’tanyanya dengan menondongkan pistol ke arah Petro.
Antonina yang berada di samping suaminya terlihat sangat ketakutan.’’Cepat katakan!’’teriak pria berjanggut itu.’’Kalau tidak aku akan membunuh kalian."
"Ayo bunuh saja! Aku tidak akan mengatakan keberadaan Lizzie sekarang."
Petro dan Antonina berharap-harap cemas dan sesekali melirik ke arah pintu berharap Lizzie jangan dulu kembali ke rumah.Lalu Alex mengarahkan pistolnya kepada Antonina.’’Aku akan membunuh istri Anda, jika Anda tidak mau mengatakannya."
"Kamu jangan bunuh mereka dulu, kita perlu mengetahui keberadaan anak itu,’’kata pria yang satunya lagi.
"Aku tahu itu."Tatapan tajamnya kembali kepada Petro dan Antonina.
"Sekali lagi kami tidak akan mengatakannya kepada kalian."
"Rupanya kalian begitu keras kepala."
Antonina meremas kemeja belakang suaminya.
’’Apa yang sebaiknya kita lakukan?’’tanyanya dengan berbisik.
’’Aku akan melakukan sesuatu, jadi tenanglah."
Petro yang melihat pria berjanggut berbicara dengan partnernya langsung menerjangnya, Petro berusaha untuk merebut pistol dari tangannya, sedangkan Antonina berusaha membantu suaminya, tapi sayang pria yang satunya menghalangi Antonina untuk membantu suaminya. Mereka bergumul di lantai selama beberapa menit dan tidak lama kemudian terdengar letusan pistol.
Mereka berdua berhenti dan ada genangan darah yang muncul. Antonina berteriak dan merasa was-was siapa yang telah tertembak. Akhirnya ia mengetahui siapa yang tertembak , yaitu suaminya. Antonina menangis histeris dan memukul pria berjanggut. Letusan pistol kedua pun terdengar. Antonina terjatuh ke lantai dengan luka tembakan di dada.’’Kenapa kamu membunuhnya juga,’’ujar pria yabg satunya lagi.
"Aku tidak sengaja melakukannya. Sungguh, jariku tidak sengaja menekan pelatuknya."
"Sekarang apa yang kita lakukan? Mereka sudah mati dan kita tidak dapat informasi mengenai anak itu berada. Kamu bodoh seharusnya kamu jangan membunuh mereka. Kita hanya perlu menekan mereka supaya mengatakan keberadaan anak itu."
"Mungkin anak itu sedang bermain. Kita tunggu saja dia di sini. Aku yakin sebentar lagi anak itu akan datang."
Beberapa menit mereka menunggu dan suara pintu terbuka terdengar oleh mereka dan suara Lizzie bergemu keseluruh rumah.
"Anak itu telah datang."
"Sssssttt...diamlah!’’kata pria berjanggut.
Mereka berdua bersembunyi dibalik pintu dan ketika Lizzie datang mereka langsung keluar dan mulai menyalakan api dan membakar seisi rumah.
"Dengan begini anak itu akan mati bersama orang tua angkatnya."
"Akhirnya kita dapat menyelesaikan tugas kita dan pimpinan kita pasti senang."
Mereka berdua tersenyum puas dan penuh kemenangan.
Pria berjanggut tersadar dari lamunannya ketika temannya menepuk bahunya. "Apa yang harus kita lakukan? Bos kita pasti marah, karena anak itu kembali lolos dari kematian."
"Aku tahu itu. Aku tidak mengerti kenapa anak itu bisa tidak ada rumah. Jelas-jelas kita melihatnya di rumah ketika rumah itu terbakar,’’ujar pria berjanggut dengan tatapan bingung ke arah rumah yang terbakar itu.
"Mungkin anak itu berhasil melarikan diri."
"Itu mungkin saja. Aku akan segera menghubungi bos kita tentang hal ini meskipun ia akan marah-marah pada kita."
Mereka secepatnya meninggalkan lokasi kejadian dan berhenti di tempat yang menurut mereka aman. Pria berjanggut segera mengeluarkan ponselnya dan kemudian terdengar suara seorang pria dari seberang telepon.
"Kerja kalian tidak becus."
"Maaf bos, lolosnya anak itu di luar perkiraan kami. Kami tidak menyangka kalau anak itu akan berhasil keluar rumah yang sudah dikepung oleh api."
"Sepertinya harus aku sendiri yang membunuh anak itu. Cepat kalian pulang dan temui aku."
"Baik bos."
Pria berjanggut menutup ponselnya.’’Bereskan semua barangmu kita pulang malam ini juga."
🍎🍎🍎
Sergei jatuh terduduk dikursinya. Setelah mendapat kabar dari Nicola. Rencananya Sergei akan pergi ke Zelenogradsk saat ini juga setelah mendapat kabar keberadaan Lizzie, tapi rencananya berubah, karena tiba-tiba sakit lututnya kambuh kembali. Sergei menelepon Nicola kalau ia tidak datang hari ini, tapi ia mendapat kabar buruk darinya .
Sergei hampir tidak mempercayai kalau cucu perempuannya kembali menghilang setelah kebakaran rumah yang menimpa orang tua angkatnya. Rasa sedih kembali mengrogoti hatinya. Rasa yang sama ketika mendengar anak laki-lakinya hampir tewas terbakar seolah-olah kejadian itu kembali terulang.
Badannya terasa menjadi lemas dan ia tidak sanggup bediri untuk menuju tempat tidurnya dan kembali duduk di kursinya. Ia memejamkan matanya menyerap semua kesedihan yang sudah dialaminya. Ia tidak dapat membayangkan jika cucunya menghilang selamanya atau bahkan sudah meninggal, rasa sakit kembali menusuk tepat ke jantungnya.
Selama ini ia mencoba memahami mengapa semua ini terjadi pada keluarganya. Keadaan tubuhnya yang sudah tua dan tidak sesehat seperti dulu membuatnya cemas. Ia tidak ingin meninggal sebelum bertemu dengan cucunya,jadi selama ini ia berusaha untuk hidup sehat kembali, makan dan tidur secara teratur dan bahkan ia berusaha untuk tetap berolah raga ringan. Semua itu ia lakukan untuk sedkit memperpanjang umurnya. Suara ketukan di pintu cukup membuatnya terkejut.’’Masuk!’’
Seorang pelayan masuk membawakan air mineral untuk dan sekeranjang buah-buahan besar. Pelayan itu tersenyum ramah kepadanya. Sergei mulai menyukai pelayan baru Victor yang juga merangkap sebagai pengasuh Karina. Ia wanita yang lembut dan sangat perhatian. Tidak salah jika Victor memutuskan untuk menjadikan dia pengasuh anaknya. Untuk sementara Sergei terpaksa harus tinggal beberapa hari di mansion Victor sampai lulutnya sembuh.
Dalam hati Sergei berharap semoga saja pelayan itu tidak membuat kesalahan dan membuat ia di pecat dari pekerjaannya.
"Saya permisi dulu tuan!’’
"Alice,’’panggilnya.
"Ya Tuan."
"Apa Victor bersikap baik padamu?’’
"Tuan Viktor sudah bersikap baik padaku."
"Bagus. Apa kamu merasa nyaman bekerja di sini? Aku harap kamu merasa nyaman di sini."
"Jangan khawatir Tuan Sergei, aku menyukai pekerjaanku di sini."
"Senang mendengarnya." sergei tersenyum ramah dan lembut pada Alice.’’Kamu boleh pergi!’’
__ADS_1
Keesokan paginya Sergei bercerita kepada Victor mengenai cucu perempuannya yang masih hidup, karena ia pikir sudah saatnya Victor mengetahui segalanya. Victor yang diberitahu oleh pamanya hanya pura-pura terkejut Ia sudah mengetahuinya dari pengacara keluarganya Anthony Lennox. Sergei juga mengatakan kalau cucunya kembali hilang.
🍎🍎🍎
Jack Carver sedang menikmati sarapan paginya di penginapan Honeydeep. Ia baru saja kembali dari Moskow bertemu dengan Irvin Fretzie. Ia memaksa Irvin untuk mengatakan kebenaran kepadanya, meskipun pada awalnya sulit, tapi dengan sedikit paksaan akhirnya dia mau sedikit mengaku.
Irvin mengatakan kalau ia memang tidak bersalah . Jack yang mendengarnya merasa lega. Irvin kembali bercerita tentang kebakaran Romanov mansion. Seseorang telah memanggilnya untuk datang ke sana dan sesampainya di sana ia dibius hingga tidak sadarkan diri ketika tersadar ia sudah berada dalam tahan polisi.
Ia ditemukan dengan membawa pistol dan satu kompan bensin di dekat tubuhnya, tapi akhirnya Irvin dibebaskan, karena sesaat sebelum ia dibius sedang bersama kakaknya, Thalita.
Thalita dan Irvin berpisah saat terjadi suara tembakan dan ada asap yang muncul. Mereka masuk ke dalam untuk mencari asal suara tembakan dengan cara berpencar. Thalita berusaha mencari Irvin, tapi tidak ketemu, akhirnya Thalita pergi dari Romanov mansion untuk meminta pertolongan dan bertemu Irvin kembali dipenjara setelah dituduh sebagai pelakunya. Kesaksian Thalita yang membuat Irvin dibebaskan, tapi beberapa orang tidak mempercayainya.
"Menurutmu siapa yang sudah meneleponmu malam itu?"
"Aku tidak tahu. Suaranya disamarkan."
"Pelakunya ingin menjebakmu atau dia memilih secara acak diantara para pelayan di sana untuk dijadikan sebagai tersangka utama dan kebetulan kami yanh terpilih."
" Kemungkinan itu ada."
"Ini sungguh menarik. Apa ada yang kamu ingat pada malam itu? Misalnya sebelum kebakaran itu terjadi, apa ada sesuatu yang aneh disana?’’
Irvin mulai mencoba mengingat-ingat sesuatu yang mungkin bisa saja terlewatkan olehnya.’’Aku ingat sekarang, sore itu saat aku akan pulang, aku melihat Tuan Victor ada di sana dengan wajah marah."
"Tuan Victor?’’
"Benar. Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadanya. Ia berjalan mondar mandir di depan ruang kerja Tuan Dimitri dengan wajah marah dan juga kesal mungkin mereka berdua habis bertengkar."
"Lalu apa yang terjadi?’’
"Aku juga melihat tuan Anthony Lennox berada di sana berusaha menenangkan Tuan Victor. Aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, karena aku melihatnya dari balik pintu dan saat itu aku sedang terburu-buru untuk pulang."
"Aneh, karena selama ini Victor tidak mengatakan apa-apa soal kunjungannya menemui Dimitri pada saat malam percobaan pembunuhan terjadi. Dia bilang malam itu dia berada di rumahnya dan ada orang yang membenarkan hal itu."
"Siapa orang itu?’’
"Anthony Lennox."
"Tuan Lennox berkata seperti itu, tapi dia juga berada disana malam itu."
"Itulah yang membuatku aneh. Saat penyelidikan berlangsung Anthony mengatakan kalau pada malam kejadian ia bersama dengan Victor tidak pernah pergi mengunjungi Dimitri. Anthony juga bilang sepanjang malam mereka membicarakan tentang bisnis yang akan di jalankan oleh Victor dan Victor menyuruhnya untuk datang ke rumahnya untuk meminta pendapatnya."
"Aku rasa mereka berdua berbohong dan menyembunyikan sesuatu."
"Aku rasa juga begitu."
Mereka kemudian diam sibuk dengan pikiran masing-masing, lalu Jack berdiri.’’Aku rasa pembicaraan kita sampai di sini dulu. Aku akan segera mencari kebenarannya."
"Terima kasih Tuan Carver."
Wajah Irvin berbinar senang dan menatap kepergiannya.’’Semoga Anda berhasil Tuan Carver,’’gumamnya.
Jack tersentak dan lamunannya mengenai pembicaraannya dengan Irvin buyar, setelah ia mendengar ponselnya berdering dan ia melihat nama Nicola di layar ponselnya. ‘’Selamat pagi Nicola!’’
"Pagi! Kamu dimana sekarang?’’
"Di penginapan Honeydeep."
"Cepatlah datang ke Lenixton manor ada yang aku bicarakan denganmu."
Jack cepat-cepat menghabiskan sarapan paginya dan setelah itu ia langsung pergi dari penginapan.
🍎🍎🍎
Sementara itu Ivander dan Juliana sibuk merawat Lizzie yang terluka. Di bagian tangan Lizzie terdapat beberapa luka bakar yang tidak terlalu parah hanya luka bakar ringan sehingga mereka memutuskan untuk merawatnya di rumah. Ivander merasa bersyukur ia dapat menyelamatkan Lizzie tepat pada waktunya sebelum api itu benar-benar membakar tubuh mungilnya.
Seandainya saja kalau ia tidak lupa meninggalkan sarung tangannya di rumah keluarga Thusenka dan memutuskan untuk kembali lagi ke rumah itu , mungkin saat ini Lizzie sudah mati terbakar. Ivander menuju kamar di mana Lizzie berada. Mata abu-abunya terlihat muram dan sedih melihatnya terbaring di tempat tidurnya.
Sejak kebakaran rumahnya dan mengetahui orang tuanya sudah meninggal, Lizzie tidak bicara satu patah kata pun. Ivander juga melihat makanan kemarin malam dia atas meja kecil dipinggir jendela tidak disentuh sedikit pun olehnya. Ia mendesah, lalu menghampiri Lizzie.
"Kamu harus makan, jika ingin cepat sembuh. Aku tahu kejadian ini sulit untuk kamu terima."
Lizzie hanya diam saja meski Ivander tahu Lizzie mendengar apa yang dikatakannya. Ia yakin kejadian ini sudah membuatnya shock dan trauma dan yang dibutuhkan Lizzie sekarang adalah ketenangan dalam menjalani hidupnya.
Ivander pergi dari kamar dan menutup pintunya perlahan-lahan. Setelah Ivander pergi, Lizzie bangun dan berjalan ke depan jendela memandang ke luar di mana salju mulai kembali turun. Matanya memerah dan berkaca-kaca dan ia tidak dapat menahan kesedihannya lagi. Butiran-butiran air mata kembali membasahi pipinya.’’Ibu...ayah...’’gumamnya disela isak tangisnya.
Lizzie tahu kalau hidupnya mulai dari sekarang tidak akan sama seperti dulu lagi. Tidak ada sambutan hangat dan penuh cinta dari orang tuanya ketika ia nanti pulang kerumah. Suasana hangat dapur rumahnya dan bau harum aroma masakan ibunya tidak akan pernah ia rasakan lagi. Lizzie pun menangis sejadi-jadinya.Ivander yang mendengar tangisan pilu Lizzie ikut menitikkan air matanya dan ia memukul dinding . Ia menyesal tidak dapat melindungi ataupun menyelamatkan orang tua angkat Lizzie.
🍎🍎🍎
Nicola telah berpakaian rapi ketika ia hendak sarapan pagi dengan keluarganya. Istri dan anak-anaknya menatapnya lekat. Nicola seolah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh istri dan anak-anaknya.
’’Aku akan pergi ke rumah Ivander bersama Jack, Tadi aku memutuskan untuk menghubunginya untuk menemaniku ke rumahnya."Nicola kembali menyuapkan pancake rasa stroberinya.
"Aku ikut,’’kata Vladimir tiba-tiba.’’Aku ingin bertemu dengan orang itu."
Vladimir menatap ayahnya dengan wajah memohon dan Nicola tidak sanggup untuk menolaknya.’’Baiklah. Kamu boleh ikut’’.
"Terima kasih ayah."
Setelah sarapan pagi mereka pergi ke rumah Ivander tidak lama setelah Jack datang. Mereka pergi menggunakan mobil Nicola memasuki hutan birch dan menyusuri hutan itu yang penuh dengan tumpukan salju sehingga menyulitkan mobil untuk berjalan, jadi mereka memutuskan untuk berjalan kaki. Tidak sampai sepuluh menit akhirnya mereka tiba di depan rumah Ivander yang terlihat sangat sepi.
Nicola mengetuk rumah itu tetapi tidak ada jawaban. Rumah itu terlihat gelap dan sepi.’’Sepertinya tidak ada orang dirumah,’’kata Vladimir.
"Sepertinya begitu,’’jawab Nicola sambil mengosok-gosokkan tangannya agar tetap hangat.
"Mungkin mereka sedang pergi keluar. Kita tunggu saja beberapa saat lagi,’’kata Jack.
Nicola dan Vladimir mengangguk setuju.Tapi setelah menunggu beberapa lama dan mereka sudah mulai kedinginan Jack berkata dengan mengigil kedinginan.’’Se..seba...baiknya ki...kita pu...pulang sa...ja.Ki..kita ke..kembali be..sok saja."
"Sebaiknya begitu saja."
Baru saja mereka akan pergi terdengar suara barang pecah dari dalam rumah.
"Kalian dengar itu,’’seru Jack.
"Aku juga mendengarnya,’’kata Nicola.
"Mungkin ada orang di dalam rumah,’’ujar Vladimir.
Jack mengetuk-ngetuk pintu dengan keras.’’Apa ada orang di rumah?’’
__ADS_1
Sedangkan Nicola dan Vladimir pergi ke bagian belakang rumah menempelkan wajah mereka di jendela untuk melihat keadaan rumah. Samar-samar mereka melihat seberkas cahaya dari sebuah ruangan yang tidak tertutup dengan rapat.
’’Aku rasa ada orang dirumah, sebaiknya kita bergabung kembali dengan Jack,’’kata Nicola dan Vladimir menyetujuinya.
Jack masih mengetuk-ngetuk pintu dengan keras dan ia sudah terlihat tidak sabaran .Angin musim dingin semakin kencang dan salju kembali turun dengan sangat lebatnya membuat mereka kedinginan setengah mati .’’Sebaiknya dobrak saja pintunya,’’saran Vladimir.
"Ide bagus,’’ujar Jack. Mereka berdua mencoba mendobrak pintu. Pada usaha yang ketiga kalinya mereka berhasil mendobraknya dan suasana di rumah itu gelap juga sepi hanya ada suara angin.
’’Halo! Apa ada orang di rumah ?’’seru Jack.
Vladimir menelusuri setiap sudut ruangan yang berada di dekatnya. Sekilas ia melihat sebuah gerakan yang berasal dari ruang keluarga. Ia pun masuk ke sana dan menemukan seorang gadis yang sedang bersembunyi di balik gorden.
’’Siapa kamu? Keluarlah! Percuma saja kamu bersembunyi di sana karena kakimu terlihat sangat jelas. Aku tidak akan menyakitimu."
Selama beberapa detik suasana kembali hening, lalu perlahan-lahan gadis itu keluar.
"Tolong ! Jangan sakiti aku!’’
Gadis itu terlihat sangat ketakutan , kemudian Vladimir memanggil ayahnya dan juga Jack.
’’Ayah, Tuan Carver kemarilah! Ada seseorang di sini."
Nicola dan Jack datang ke ruang tamu dan melihat seorang gadis muda berdiri dengan tubuh gemetar. Nicola mendekati gadis itu dan menatpnya lekat-lekat.’’Jangan takut! Kami bukan orang jahat."
"Be..benarkah ?"
Gadis itu masih tampak ketakutan, lalu memandang satu persatu wajah yang ada di ruangan itu dengan tatapan tidak percaya.
"Benar.Namaku Nicola Kalashnikov dan ini anakku, Vladimir, lalu ini adalah Jack Carver. Kami datang kemari untuk mencari Ivander Armaturov."
"Kenapa kalian mencarinya?’’
"Kami ingin menanyakan sesuatu kepadanya dan hanya dia yang bisa menjawab pertanyaan kami. Anda siapa nona?’’
"Aku Milly Constantine."
"Jadi kamu Milly? ‘’tanya Nicola.
"Iya."
"Milly, bisakah kau mengatakan dimana Ivander berada?’’
Milly diam dan memperhatikan mereka dengan tatapan curiga. Ia tidak menyangka akan ada orang yang mengenali Ivander dan bahkan mereka tahu kalau Ivander tinggal disini.
"Milly?’’
"Ah maaf. Saya tidak tahu kemana dia pergi. Aku datang ke sini untuk membereskan rumah ini atas perintahnya. Pagi ini saya mendapatkan pesan dari Tuan Armaturov dan dia mengatakan akan pergi ke suatu tempat untuk sementara."
"Pergi? Kemana?’’
"Saya tidak tahu, ketika membaca pesan itu, saya juga terkejut. Sungguh saya tidak tahu kemana mereka pergi."
Milly dapat melihat kekecewaan di wajah mereka.
"Sebenarnya apa yang kalian inginkan dari dia?’’
"Kami hanya menginginkan sebuah penjelasan dari Tuan Armaturov untuk meluruskan suatu masalah, jika dia sudah pergi, kami tidak bisa berbuat apa-apa,’’jawab Nicola selembut mungkin agar Milly tidak ketakutan.
"Milly, kami semua sudah mengetahui kalau Lizzie adalah cucu Sergei."
Milly nampak terkejut dan mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu, tapi ia kembali menutup mulutnya tidak jadi mengatakan apa pun. ‘’Kamu tahu siapa Lizzie dari Ivander dan kamu mengatakannya kepada ibumu."
"Dari mana kalian tahu?"
"Ibumu yang mengatakan kepada Sergei."
Milly jatuh terduduk. Ia tidak menyangka ibunya akan mengatakan semuanya kepada Tuan Sergei padahal ibunya sudah berjanji agar tidak memberitahu siapa pun. ‘’Pasti kamu sudah tahu apa yang sudah terjadi kepada gadis itu kan?’’
Milly mengangguk lagi. ‘’Aku tidak tahu bagaimana penjahat itu bisa menemukan siapa Lizzie sebenarnya, karena aku tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun kecuali ibuku. Yang tahua siapa Lizzie itu adalah Tuan Armaturov dan istrinya, aku dan ibuku. Tidak ada orang lain yang tahu.
Nicola, Vladimir, dan Hack saling berpandangan.
‘’Jadi hanya kalian berempat yang tahu?’’tanya Vladimir. Milly kemudian mengangguk. ‘’Tidak berempat lagi tapi berlima. Ingat ibumu memberitahu kakek Sergei, lalu kakek memberitahuku, jadi berenam sebelum aku memberitahu ayah."
Valdimir berjalan mondar mandir di ruang tamu sambil berpikir , lalu ia menjentikkan jarinya.’’ Aku rasa kakek Sergei memberitahu seseorang mengenai Lizzie kepada orang lain."
"Kakek Sergei akan memberitahu siapa Lizzie kepada orang terdekat dan kepercayaannya. Misalnya seperti aku. Kakek Sergei menceritakan tentang cucunya yang masih hidup dan ada kemungkinan dia juga akan menceritakannya kepada orang terdekat dan orang yang sangat dipercayainya. Menurut kalian siapa?’’
Mereka kemudian saling berpandangan. ‘’Ini hanya dugaanku saja,’’kata Vladimir.
"Tunggu! ‘’seru Nicola.
"Mungkin kamu ada benarnya dan satu-satunya orang yang ia percaya dan dekat saat ini hanya orang itu."
"Siapa?’’tanya Jack, Milly, dan Vladimir bersamaan.
"Anthony Lennox dan Victor."
"Pengacara itu yang benar saja,’’kata Vladimir.
"Anthony dan Victor adalah orang kepercayaan kakekkmu . Sergei selalu menceritakan segalanya kepada mereka berdua dan salah satu di antara mereka mungkin menjadi otak pembunuhan dan penyebab kebakaran yang terjadi Romanov mansion, jika Anthonylah orangnya maka dia akan sangat membuatku kecewa karena Anthony adalah pengacara terbaik yang aku punya dan aku juga mempercayainya."
"Kalau Anthony yang melakukannya, motif apa yang di punya? Apa Anthony menyimpan dendam kepada paman Dimitri atau apa? Lalu jika paman Victor yang melakukannya motif apa yang dia punya? Mungkin bisa saja harta warisan. Yang aku tahu paman Victor sangat ambisius dan egois termasuk kepada anak-anaknya dan hubungan mereka berdua memang tidak terlalu baik . Mereka berdua selalu kedapatan sering berdebat."
"Entalah. Aku tidak tahu. Tapi sekarang ini dugaan kita tidak diperkuat dengan bukti kuat. Itu semua hanya berupa dugaan kita. Kita tidak boleh menuduh mereka sebelum ada bukti dan bisa saja dugaan kita salah,’’kata Nicola dan Vladimir menyetujuinya.
"Dan mungkin Tuan Sergei mempunyai orang kepercayaan lainnya. Itu bisa saja , kan?’’kata Jack.
’’Sepertinya sudah tidak ada yang bisa kita lakukan di sini. Sebaiknya kita pergi saja dari sini, mungkin kita sedang tidak beruntung hari ini’’ujar Jack.
‘’Aku rasa juga begitu. Baiklah Milly, kami permisi pulang dulu dan maaf atas pintunya. Saya akan menyuruh seseorang untuk memperbaikinya," kata Nicola. Milly hanya terdiam dan wajahnya sangat pucat.
"Milly, kau baik-baik saja kan?’’
"Ah i..iya aku baik-baik saja."
Ia tahu siapa di antara mereka berdua yang menjadi pembunuh , tapi ia tidak punya keberanian mengatakannya.
Milly mengantarkan mereka sampai pintu depan dan menatap mereka pergi sampai sosok ketiganya menghilang dari pandangannya. Ia mendesah lega dan kini wajahnya terlihat lebih rileks.
Valdmir memandang ke atas langit yang kelabu saat ia sudah berada di luar. Mata birunya terlihat kelam.’’Lizzie,’’gumamnya.
__ADS_1
🍎🍎🍎
Michael, ayah Aleandra yang sedang melihat keadaan Dimitri terkejut. Tiba-tiba saja Dimitri tersadar dari komanya. Michael cepat memanggil dokter dan kemudian mengabarkan kepada Sergei bahwa Dimitri telah sadar dari komanya. [ ]