Shattering Heart

Shattering Heart
( S2 ): Liburan musim panas


__ADS_3

Pada suatu pagi hari yang cerah di bulan Juni , Lizzie cepat-cepat mencuci mukanya dan berganti pakaian. Dia begitu bersemangat, bahagia dan penuh ketertarikan menyambut liburan musim panas yang akan segera tiba. Ayah dan ibunya sudah berjanji akan membawanya jalan-jalan ke pantai.


Pagi itu Lizzie sarapan pagi dengan ceria. Antonina dan Petro sudah hampir melupakan masalah tentang keluarga Lizzie sebenarnya. Meskipun dihati keduanya masih dipenuhi rasa ingin tahu. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada keluarga Lizzie? Dan ada rahasia apa di balik semua ini.Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala Antonina dan Petro.


"Ibu, ayah, Aku pergi dulu!''


"Hati-hati di jalan ya!''


Sebelum pergi sekolah Lizzie mencium pipi orang tuanya. Hari ini adalah hari terakhir sekolah sebelum liburan musim panas selama sebulan. Liburan musim panas yang sudah ditunggu-tunggu olehnya.


''Pagi Fanya!''


''Pagi Lizzie!''


''Besok kita sudah mulai libur, jadi apa rencanamu untuk besok hari?''tanya Lizzie.


"Sepertinya aku belum punya rencana apa-apa."


"Bagaimana kalau kita berperahu di danau, pasti akan sangat menyenangkan?''


"Ide bagus. Aku akan membawa sedikit makanan untuk kita disana."


"Besok pasti hari yang sangat menyenangkan,''seru Lizzie dengan bersemangat.


Hari terakhir sekolah, teman-teman Lizzie begitu bersemangat dan bahkan tidak seperti biasanya mereka begitu bersemangat mengikuti setiap pelajaran yang diberikan. Begitu pun juga dengan Fanya yang wajahnya nampak ceria seceria matahari yang bersinar. Tidak terasa pelajaran sekolah untuk hari ini selesai.


Lizzie segera pergi keluar kelas begitu bunyi bel dibunyikan . Dia begitu gembira sekali dan berharap musim panas tahun ini akan menjadi musim panas terindah dalam hidupnya. Saat dia pulang ke rumah, nyonya Watson sedang berkunjung ke rumahnya.''Siang nyonya Watson!''


"Siang Lizzie! Bagaimana hari terakhir sekolah di musim panas ini ?''


"Sangat menyenangkan."


"Semoga musim panas akan menjadikan harimu menyenangkan."


"Terima kasih nyonya Watson. Permisi!''


Lizzie segera berlari menuju kamarnya dan dia melemparkan tasnya ke tempat tidur, lalu duduk di depan jendela memandangi kebun sayuran di belakang rumahnya. Angin musim panas menerpa wajahnya. Ingatannya melayang pada musim panas tahun lalu yang menurutnya adalah musim panas terburuk yang pernah di alaminya.


Saat itu adalah hari pertama liburan musim panasnya, Lizzie di tinggal sendirian di rumah karena ibu dan ayahnya sedang mengunjungi bibi Pricillia saudara perempuan ayahnya di desa tetangga yang sedang sakit. Lizzie di undang minum teh oleh Mary. Tidak hanya Lizzie saja yang di undang ,Fanya, Erick Andrews,Paul Sprigfield,dan Barbara Donnel juga diundang.


Awal dari musibah Lizzie di musim panas berawal dari Paul yang menantangnya lomba renang di danau yang berada di belakang rumah Mary.


''Hei Lizzie, kamu mau lomba renang denganku? Atau kamu takut berenang di sana ? Paul tersenyum dan bagi Lizzie senyuman Paul itu seperti ejekan dan ia tidak bisa menerimanya.


"Aku bisa berenang di sana."


"Kalau begitu buktikan."


Lizzie berdiri dari kursinya dan Fanya segera menahannya.


''Lizzie, apa kamu akan benar-benar akan berenang di sana. Apa kamu sanggup berenang sampai ketepian danau di sana? Sebaiknya kamu jangan dengarkan perkataan Paul."


"Tidak bisa. Aku harus melakukannya untuk membuktikan kalau aku bisa."


Lizzie segera mengganti pakaiannya dan siap lomba renang dengan Paul. Dia melihat ke seberang danau yang ternyata lumayan jauh. Ia menelan ludahnya beberapa kali dan dirinya juga merasa takut, tapi dia harus segera mengabaikan rasa takutnya dan membuktikan kalau dia bisa berenang sampai ketepian danau di dekat hutan birch. Lizzie mulai berenang. Fanya melihatnya dengan tatapan cemas.


" Lizzie hati-hati!''seru Fanya dengan wajah cemas.


Lizzie terus saja berenang berusaha untuk mengalahkan Paul yang bergerak cepat. Kaki dan tangannya terasa gemetar karena kedinginan. Tidak membutuhkan waktu lama ia akhirnya bisa mencapai seberang danau meskipun dia akhirnya kalah .


"Lizzie sebaiknya kamu segera kembali,''teriak Fanya cemas .


"Baik. Aku akan segera kesana,''teriaknya.


Lizzie kembali berenang dan hampir mencapai tepi danau, tapi tiba-tiba kakinya kram dan ia hampir tenggelam.Teman-temannya berteriak.


"Lizzieeeee."

__ADS_1


Tubuh Lizzie timbul tenggelam di air danau berusaha untuk tetap dapat bernapas.''Paul,cepat tolong dia,''teriak Fanya.


"Aku akan memanggil ayahku''kata Mary.


Paul berusaha agar Lizzie tidak tenggelam dan membawanya ke tepian, tapi tubuh Lizzie berat sehingga Paul dengan susah payah menariknya. Tidak lama kemudian ayahnya Mary datang dan segera menolong mereka. Lizzie tidak sadarkan diri dan membuat teman-temannya sangat cemas. Ayahnya Mary melakukan pernafasan buatan untuk Lizzie.


''Ayo Lizzie! Sadarlah!''kata tuan Doyle sambil memijat jantung Lizzie , sedangkan teman-temannya terlihat sangat cemas. Akhirnya air keluar dari mulutnya. Rasa lega terlihat wajah mereka.


''Kamu tidak apa-apakan ?''tanya Fanya cemas. Lizzie menganggukan kepalanya.


"Aku akan mengantarkanmu pulang, ''kata Tuan Doyle. Fanya melirik ke arah Paul.


"Ini semua gara-gara kamu, jika saja kamu tidak menyuruhnya untuk berenang pasti sekarang Lizzie akan baik-baik saja."


Paul hanya diam dan merasa bersalah. Dia akhirnya mendekati Lizzie.


"Maafkan aku ya! Aku tidak bermaksud membuatmu celaka."


"Sudahlah Paul, ini juga salahku, karena tadi aku tidak hati-hati."


Sesampainya di rumah keluarga Thusenka ,Antonina dan Petro terkejut melihat keadaan Lizzie yang basah kuyup. ''Apa yang terjadi?''tanya Antonina cemas.


" Lizzie hampir tenggelam di danau."


"Apaaa?''seru Petro dan Antonina bersamaan.


"Maafkan aku Bu, Ayah,''kata Lizzie dengan wajah merasa bersalah.


Petro segera mengendong Lizzie dan membawanya masuk ke dalam.


"Terima kasih sudah menolongnya,''ucap Antonina penuh rasa syukur dan terima kasih.


"Sama-sama. Lain kali jangan berenang lagi di sana."


"Aku mengerti Tuan Doyle."


Lamunan Lizzie buyar, karena terdengar ketukan keras dipintu.


"Lizzie , sedang apa kamu di dalam? Cepat bantu ibu bersih-bersih."


"Baik Bu."


Lizzie segera meloncat dari kursinya dan turun ke bawah. Setengah hari dia lewatkan untuk membantu ibunya di dapur mulai mencuci peralatan makan sampai membantunya memasak untuk makan malam. Dalam melakukan pekerjaannya, Lizzie melakukannya dengan baik dan cepat mempelajari segala sesuatu.


Setelah membantu ibunya di dapur , dia membantu mengepel lantai , membersihkan debu dan memberikan makan ayam-ayamnya. Tidak terasa hari sudah hampir gelap. Dikejauhan Lizzie melihat ayahnya telah memasuki gerbang rumahnya.


"Ayaaaahhh...''teriaknya sambil melambaikan tangannya.


Mereka berdua masuk bersama-sama ke dalam rumah. Bau harum makan malam menguar kesegala penjuru rumah. Menu makan malam kali ini adalah daging panggang dengan salad. Lizzie sudah meneteskan air liurnya dan mulai merasakan perutnya yang lapar dan makan dengan lahap yang dikuti oleh tatapan geli ayah dan ibunya.


Lizzie pergi ke kamarnya setelah makan malam selesai. Di bukanya jendela kamar dan langit malam penuh bertaburan bintang. Kunang-kunang mulai bermunculan dan membuat kebun menjadi terang.


Di wajahnya mengembang sebuah senyuman sedang membayangkan rencananya berperahu di danau bersama dengan Fanya. Dia sudah tidak sabar menunggu hari esok dan berharap besok cuaca sangat cerah. Lizzie menaruh boneka teru-teru bozu di luar jendela berharap esok hari tidak hujan.


🍎🍎🍎


Keesokan paginya saat Lizzie membuka jendela kamarnya cuaca sangat cerah dan gadis kecil itu merasa sangat senang. Ia dan Fanya pergi menuju danau melalui hutan birch dan di bawahnya mulai banyak ditumbuhi bunga bluebells ungu.


Lizzie tergoda untuk memetiknya, tapi dia mengurungkan niatnya dan hanya menciumi bunga-bunga itu, lalu memandanginya sampai puas.Akhirnya mereka tiba di danau dan mereka naik perahu dan Lizzie yang mendayung sampai ke tengah-tengah danau.Saat itu suasana danau terlihat sepi hanya seorang pak tua yang sedang memancing diseberang danau. Fanya membuka bekal makanannya begitu pun juga Lizzie.


"Fanya, sandwich buatan ibumu benar-benar sangat enak."


"Kamu boleh mengambilnya berapa pun yang kamu mau, karena aku membawa banyak."


Ketika mereka sedang menikmati bekal makan siang, angin berhembus dengan kencang. Riak air danau mulai membesar dan menggerakan perahu yang sedang di tumpangi mereka, membuat mereka terkejut dan juga ketakutan. Kedua gadis itu memutuskan untuk kembali kedaratan sebelum perahu yang mereka tumpangi oleng dan jatuh ke dalam air danau.


Mereka lebih memilih menghabiskan waktu di luar ruangan menjelajah desa , mengamati pohon dan bunga-bunga, dan sampai membantu Tuan Andrews untuk mengembalakan kambing-kambingnya di lapangan hijau terbuka. Tuan Andrews memiliki 20 ekor domba saat ini.

__ADS_1


Pada awalnya Lizzie dan Fanya tidak ada masalah saat mengembalakan domba-domba itu, tapi ketika domba-domba itu akan menyeberangi jalan , tiba-tiba ada motor yang lewat dan membuat mereka ketakutan. Domba-domba itu memisahkan diri sehingga Lizzie dan Fanya harus berusaha keras membuat domba itu berkumpul kembali.


Setelah setangah jam akhirnya Lizzie berhasil mengumpulkan semua dombanya, tapi ketika Fanya menghitungnya satu domba telah hilang. Wajah Lizzie langsung pucat dan segera mencari domba itu.


Setelah berputar-putar mencarinya , Lizzie dapat bernapas lega , domba yang tengah dicarinya sedang memakan rumput didekat aliran air danau. Ia tidak menyangka kalau mengembalakan domba tidak semudah yang dilihatnya. Domba-domba itu akhirnya masuk ke dalam kandang dan Tuan Andrews mengundang mereka untuk minum teh di rumahnya sebagai rasa terima kasih, karena sudah membantunya mengembalakan domba-dombanya.


''Fuuuhhh...hampir saja aku kehilangan domba itu dan akan menjadi musim panas yang buruk, karena aku hampir membuat binatang berbulu gemuk itu hilang,''kata Lizzie dalam perjalanannya pulang ke rumah.


"Kalau domba itu sampai hilang , kamu tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena kamu sudah berusaha dengan baik menjaganya."


Mereka kemudian bersandar di pagar perkebunan Tuan Andrews menikmati keindahan pesona senja.


''Disini sangat indah.Aku tidak tahu apakah akan ada tempat yang lebih indah lagi ,jika aku pergi dari desa ini,''kata Lizzie tiba-tiba sambil memandang berkeliling dengan pandangan penuh cinta seolah tidak ada tempat indah yang lain di bawah langit.


"Apakah suatu saat kamu akan pergi dari sini? Kalau benar begitu aku pasti akan kehilanganmu dan merindukanmu." Mata Fanya mulai berkaca-kaca.


" Fanya, aku tidak akan pernah pergi dari sini. Aku tidak mungkin meninggalkan tempat seindah ini walaupun harus ditukar dengan harta yang begitu banyak."


" Lizzie." Emily merangkulnya.''Kamu sahabat terbaikku yang pernah aku punya."


"Seharusnya kita menikmati hari ini dengan senyuman. Sudah sore sebaiknya kita pulang."


"Hmmm..baik."


Sepanjang perjalanan mereka bernyanyi sambil bersenda gurau dan sudah tiba saatnya mereka untuk berpisah." Sampai jumpa lagi!''


"Sampai jumpa lagi Fanya!''


Sesampainya di rumah Lizzie langsung menemui ibunya di belakang rumah yang masih sibuk memberikan makan ayam-ayamnya dan juga sapi , sedangkan ia membantu membereskan beberapa tumpuk jerami untuk kuda-kuda ayahnya.


Setelah makan malam Lizzie dan ibunya duduk diteras rumah sambil menikamati pemandangan malam desa dan juga langit yang dipenuhi bintang. Angin diluar semakin berhembus dengan kencang dan udara sudah semakin dingin.


''Sebaiknya kita masuk ke dalam. Ibu tidak ingin kamu masuk angin, kalau kamu sakit acara kita jalan-jalan ke pantai batal lagi."


"Aku tidak ingin sakit, kali ini aku tidak ingin acara jalan-jalan kita batal lagi seperti tahun kemarin."


Mereka berdua masuk dan Antonina mengantar Lizzie ke kamarnya, lalu menyelimutinya.


"Ini sudah malam, tidurlah!''


Sebelum pergi meninggalkan kamar, Antonina mencium kening Lizzie.


"Selamat malam Bu!''


Antonina mematikan lampu kamar tidur dan turun ke bawah menemui suaminya yang sedang menonton TV.


"Lizzie sudah tidur?''


"Sepertinya dia sudah tidur." Antonina terlihat gelisah.


"Sayang, ada apa?''


"Selama beberapa hari ini aku sudah memikirkannya."


"Memikirkan apa?''tanya suaminya yang terlihat semakin bingung.


"Aku ingin menemui si tua Ferguson untuk menanyakan dari mana dia mendapatkan sendok dan garpu itu."


"Kamu masih memikirkan itu."


"Iya. Sebenarnya aku masih merasa penasaran dengan keluarga Lizzie yang sebenarnya. Aku ingin tahu ia berasal dari keluarga seperti apa."


Petro mendesah panjang.''Kalau itu membuatmu merasa tidak penasaran lagi dan tidak jadi pikiran lagi, kita akan menemuinya setelah liburan kita ke pantai. Bagaimana?''


"Sungguh, kita akan menemui si tua Ferguson?''


"Benar."

__ADS_1


"Terima kasih sayang,''kata Antonina sambil mengecup bibir suaminya. [ ]


__ADS_2