
Kiel, Jerman
Bulan ini adalah bulan yang sangat dingin. Salju turun sejak pagi dan baru berhenti setengah jam lalu dan jalanan sudah di penuhi oleh salju. Orang-orang pun sudah memulai membersihkan jalanan dari salju yang sudah menumpuk banyak. Gadis itu menggigil kedinginan dan ingin segera berada di apartemennya yang hangat dan duduk di depan perapian ditemani secangkir coklat susu panas.
Langit sudah mulai gelap padahal jam baru menunjukan jam 4 sore. Lampu-lampu jalan dan rumah sudah dinyalakan. Gadis itu mempercepat langkahnya dan terpeleset.
’’Aduuuuhhh,’’erang gadis itu kesakitan.
Gadis itu jatuh terduduk di jalanan yang sangat licin, lalu berusaha berdiri dengan memegang batang pohon kecil yang ada disampingnya, dan gadis itu berhasil berdiri, lalu mengusap-usap bokongnya yang sakit. Apartemennya sudah dekat hanya 20 meter lagi dari tempat gadis itu terjatuh. Ia mempercepat jalannya lagi, ketika sudah sampai di depan gedung apartemennya. Ia melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam, lalu tersenyum, karena gadis itu mengenali siapa pemilik mobil mewah itu. Ia cepat-cepat masuk ke dalam apartemen.
"Selamat sore, Nona!’’kata penjaga apartemen.
"Selamat sore!”kata gadis itu sambil tersenyum.
"Ada tamu untuk Anda, dan menunggu Anda di ruang tunggu."
"Terima kasih banyak."
Gadis itu langsung menuju ruang tunggu,dan melihat seorang pria sedang duduk, kemudian tersenyum.
"Halo Ayah!"
Pria itu berdiri dan tersenyum kepada anak perempuannya, lalu gadis itu berlari kearahnya dan memeluknya.
"Apa kabar ? apakah kamu sehat?"kata pria itu.
"Aku baik, dan Ayah?"
"Aku juga baik,”kata pria itu sambil mengacak-acak rambut anak perempuannya.
"Mengapa Ayah datang ke sini?"
"Ayah merindukanmu dan akan menjemputmu pulang ke rumah. Minggu depan adalah hari ulang tahunmu. Ayah dan ibu sudah menyiapkan pesta ulang tahun untukmu."
"Benarkah?"
Pria itu menganggukan kepalanya.
"Bagaimana dengan kursus bahasa Jermanmu?"
"Kursusku baik-baik saja dan tidak ada masalah."
"Bagus. Siapkan barang-barang kamu dan kita pergi sekarang. Ibumu sudah menunggu kamu di rumah."
Gadis itu pergi ke atas untuk mengambil barang-barangnya. Tak lama kemudian mereka keluar dari gedung apartemen dan sopir membukakan pintu mobil untuk mereka, lalu mereka pun pergi.
7 bulan yang lalu di Moskow, Rusia sebelum hari pernikahan Lizze dan Dimitri
Lizzie dan Vladimir berada di kapal pesiar untuk merayakan Lizzie menerima lamarannya, meskipun hanya semalam, tapi itu adalah pelayaran yang indah dan tidak akan terlupakan. Di sanalah Lizzie mengungkapkan perasaan kepada Vladimir untuk kesekian kalinya. Hati Masumi berbunga-bunga, dia tidak pernah menyangka kalau Lizzie begitu mencintainya.
"Akhirnya mimpiku selama ini menjadi kenyataan,‘’pikir Vladimir.
Lizzie dan Vladimir turun dari kapal dan tanpa sepengetahuan mereka, Veronica dan Dave sudah menunggu dengan cemas di pintu keluar. Akhirnya Veronica melihat Vladimir keluar, dan wanita itu sangat terkejut, ketika melihat Lizzie berada bersamanya dan mereka berpelukan. Wajahnya berubah jadi pucat begitu juga dengan Dave dan mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Vladimir dan Lizzir tidak menyadari kalau mereka berdua sedang di perhatikan oleh mereka. Dave tidak mempercayai apa yang dilihatnya tadi.
"Lizzie, apa yang sebenarnya sudah terjadi antara kamu dan pria itu, "kata Dave dalam hati. Dave cemburu melihat kedekatan mereka berdua. Dengan perasaan kesal, Dave akhirnya pergi dari pelabuhan.
Tiba-tiba Vladimir berhenti berjalan dan memegang tangan Lizzie lebih erat sampai gadis itu kesakitan.
"Ada apa?’’
Lizzie melihat Vladimir dengan wajah keheranan. Akhirnya ia menyadari kenapa Vladimir berhenti berjalan. Lizzie melihat Veronica yang sedang berdiri tidak jauh di depannya. Ia pun terkejut dan berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Vladimit dengan sekuat tenaga, tapi tidak bisa terlepas karena genggamannya begitu kuat.
Akhirnya Lizzie menyerah. Vladimir berjalan lagi dengan langkah cepat dan Maya berusaha untuk menyeimbangi jalannya Vladimir. Ia berhenti di depan Veronica dan menatapnya dengan pandangan dingin dan marah. Veronica sangat gugup, tubuhnya gemetaran dan kedua tangannya dengan keras mencengkeram tas kecil yang dibawanya.
"Vladimir, kenapa Lizzie bisa bersamamu?’’
Vladimir tidak menjawab, masih menatap Veronica dengan marah, lalu ia pergi begitu saja dari hadapannya. Lizzie hanya diam melihat kejadian itu dan sekali lagi melihat ke belakang. Veronica masih berdiri di sana tidak bergerak sama sekali. Mereka berdua kemudian menuju tempat parkir, ketika Vladimir membukakan pintu mobil untuk Lizzie, tiba-tiba saja Veronica memegang lengan Vladimir dengan wajah penuh air mata.
"Lizzie, masuklah ke dalam mobil,’’kata Vladimir sambil menatap Veronica.
Lizzie masuk ke dalam mobil. Ia melihat Vladimir dan Veronica masih bertatapan satu sama lain. Sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Lepaskan tanganmu,’’kata Vladimir dengan suara ketus. Veronica tetap tidak melepaskan tangannya.
"Vlad, kamu harus menjelaskan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bersikap seperti ini padaku?"
"APA KAMU TIDAK MENDENGAR KATAKU TADI. LEPASKAN TANGANKU. KAMU SUDAH MEMBERINYA UANG UNTUK MENJAUH DARIKU."
Lizzie yang duduk di bangku mobil terkejut mendengar Vladimir berteriak. Akhirnya Veronica melepaskan tangan Vladimir, lalu ia cepat-cepat masuk kedalam mobil. Selama dalam perjalanan Lizzie hanya diam begitu juga dengan Vladimir. Selama setengah perjalanan, mereka tidak bicara.
"Lizzie,’’panggil Vladimir tiba-tiba.
Lizzie terkejut dan membetulkan posisi duduknya.
"Apakah kamu baik-baik saja?’’
"Iya, aku baik-baik saja. Dan kamu?"
__ADS_1
"Iya. Aku juga baik,’’ kata Vladimir sambil menganggukan kepalanya.
"Lizzie, aku minta maaf atas kejadian tadi. Apa teriakanku tadi mengagetkanmu?’’
"Tentu saja. Itu sangat mengagetkanku.’’
Vladimir tersenyum dan melihat ke arah Lizzie.
"Kalau begitu sekali lagi aku minta maaf.’’
"Kamu tidak perlu minta maaf kepadaku, karena kamu tidak mempunyai salah kepadaku.’’
Vladimir tersenyum kembali.
"Terima kasih, Lizzie. Aku akan langsung mengantarkanmu pulang dan kamu harus istirahat dengan baik.’’
Lizzie menganggukan kepalanya. Ia memberanikan diri untuk bertanya mengenai Veronica.
"Hmmm, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Veronica tadi?’’
Vladimir mengenggam tangan Lizzie.
"Jangan khawatir aku akan menyelesaikan masalah ini dan kamu tidak perlu melakukan apa-apa.’’
Lizzie menganggukan kepalanya lagi. Tidak lama kemudian mereka tiba di depan Romanov mansion. Vladimir keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Lizzie. Ketika Lizzie akan masuk, Vladimir tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak memeluk tubuh Lizzie. Gadis itu dapat merasakan hangatnya tubuh Vladimir.
Lizzie membenamkan wajahnya dalam pelukan Vladimir dan pelukannya semakin erat sampai-sampai Lizzie tidak bisa bernafas. "Aku tidak bisa bernafas."
Vladimir langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf Lizzie.Tadi aku sudah kehilangan kontrolku."
"Tidak apa-apa,’’kata Lizzie sambil tersenyum.
"Sebaiknya kamu masuk sekarang."
Lizzie berada dikamarnya sambil mengingat-ingat kejadian di pelabuhan dan wajahnya kembali jadi merah, kemudian ia menutup mukanya dengan bantal, karena malu, lalu ia jatuh tertidur. Dalam tidurnya, Lizzie menyebut nama Vladimir berkali-kali.
Keesokon harinya, Lizzie pergi kuliah pagi-pagi sekali. Ketika ia datang, belum ada seorang pun di sana. Lizzie berada sendirian di kelas. Tiba-tiba dari belakang ada orang yang memanggilnya.
"Pagi Lizzie!"
Lizzie membalikan tubuhnya, lalu tersenyum.
"Pagi Dave! Kamu datang pagi-pagi sekali.’’
Kemudian Davr teringat kembali tentang kejadian di pelabuhan kemarin dan ia ingin sekali menanyakannya kepada Lizzie tentang kejadian itu, tapi niatnya dibatalkan, karena yang lainnya sudah datang dan menyapa Lizzie dan Dave.
"Bagaimana pelayaranmu kemarin? Apakah menyenangkan?’’tanya Mikhail, teman sekelasnya.
Lizzie tersenyum dan wajahnya merona merah.
"Sangat menyenangkan. Aku tidak akan melupakannya."
"Oh begitu. Baguslah.’’
‘’Dan Kamu, Dave, apa kamu berhasil menjemput Lizzie di pelabuhan?’’
‘’Eeh. Apa maksudmu? Dave menjemputku di pelabuhan? Tapi aku tidak melihatnya ada disana?’’kata Lizzie dengan wajah kebingungan.
‘’Haahh. Jadi kamu tidak bertemu dengannya di pelabuhan?’’sambil melirik ke Dave.
‘’Tidak sama sekali,’’kata Lizzie sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Dave hanya diam. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"Benarkah itu?’’kata Lizzie yang menuntut penjelasan dari Dave.
‘’Itu benar. Saya memang pergi ke pelabuhan, tapi...."
"Tapi apa?"tanya Lizzie.
"Tapi aku tiba-tiba ada keperluan mendadak, jadi aku tidak bisa bertemu denganmu di pelabuhan.’’
‘’Maafkan aku, Lizzie. Aku telah berbohong padamu,"kata Dave dalam hati.
"Oh rupanya begitu." Lalu terjadi keheningan diantara mereka berdua.
Diam-diam Lizzie memperhatikan Dave yang sudah menjadi teman sekelasnya sekitar 5 bulan terakhir ini. Ia keturunan Amerika-Rusia dan baru pindah kuliah sekitar 5 bulan yang lalu.
🍀🍀🍀
Sementara itu di kediaman Kalashnikov.
Vladimir dan Ayahnya sedang menikamati sarapan pagi dalam diam, kemudian ia memecahkan keheningan dengan mulai bicara dengan ayahnya.
"Ayah, aku akan membatalkan rencana pernikahan dengan Veronica."
__ADS_1
Nicola menghentikan kegiatan makannya dan menatap Vladimir dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu ingin membatalkannya?’’
"Aku sudah mencintai wanita lain, yang kupikir selama ini tidak mencintaiku ternyata mencintaiku dan aku ingin bersamanya."
"Siapa wanita itu?’’
"Ayah sudah mengenalnya. Dia adalah Lizzie Romanov."
"Lizzie?"seru Nicola terkejut."
"Iya ayah,’’kata Vladimir sambil menganggukan kepalanya.
"Ayah sangat senang, jika kamu mau menika dengannya. Ibumu juga pasti senang. Seharusnya Ayah tidak merencanakan pernikahanmu dengan anak salah satu klien Ayah. Maafkan Ayah."
"Ayah tidak perlu minta maaf."
Vladimir beranjak dari tempat duduknya, dan pergi meninggalkan ayahnya sendirian di ruang makan.
"Ini aku. Aku akan datang terlambat ke kantor. Ada urusan yang harus aku selesaikan."
"Baik Pak Kalashnikov. Saya mengerti,’’kata Zoya, sekretaris Vladimir.
Vladimir pun kembali menelepon seseorang dengan terburu-buru.
"Saya Vladimir Kalashnikov, bisakah saya bertemu dengan Anda sekarang."
"Baiklah saya tunggu Anda di rumah saya. Kebetulan saya juga ingin bicara dengan Anda,"kata seseorang di telepon itu.
"Baik. Saya akan ke sana sekarang."
Vladimit menutup teleponnya dan keluar dari rumah. Sopir sudah menunggu Vladimir di depan rumah dan membukakan pintu mobil .
‘’Antarkan aku ke rumah keluarga Yermolov."
‘’Baik Tuan."
Vladimir akhirnya tiba di rumah keluarga Yermolov. Seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. Pelayan itu membawa Vladimir menuju ruang tamu .
"Silahkan tunggu di sini,’’kata pelayan itu.
Tidak beberapa lama kemudian Tuan Yermolov datang dan Vladimir memberi salam kepadanya dan mempersilahkan Vladimir duduk kembali.
"Maaf. Saya sudah mengganggu Anda. Saya kemari bermaksud untuk membatalkan rencana pernikahan saya dengan Veronica."
"APAAAAAAA...,’’kata Tuan Yermolov.
"Saya tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak saya cintai. Kalau kami menikah hidup kami akan seperti ada di neraka. Kehidupan pernikahan kami pasti tidak akan bahagia. Saya tahu, Veronica mencintai saya, tapi saya tidak bisa membalas perasaannya. Ini salah saya. Seharusnya saya bersikap tegas akan perasaan saya terhadap Veronica. Seharusnya saya tidak menyetujui perjodohan ini."
"Apakah wanita yang kamu cintai itu adalah Lizzie Romanov?"
‘’Eh, dari mana Anda tahu itu?’’
"Veronica sudah mengatakannya kepada saya semuanya tentang kejadian di pelabuhan itu."
‘’Rupanya begitu, jadi Veronica sudah menceritakan semuanya kepada Anda."
"Jadi Vladimir, kamu sudah benar-benar memberikan hatimu kepada gadis itu. Saya tidak mengerti apa yang menarik dari Lizzie dibandingkan dengan Veronica, putriku. Apa yang membuat Anda benar-benar sangat mencintai gadis itu?’’
"Lizzie adalah cinta pertama saya, bahkan tanpa sadar aku sudah mencintainya sejak pertama kali kami bertemu. Saya sangat mencintai Lizzie. Dia adalah segalanya bagiku dan nyawaku. Hidupku tidak berarti tanpa dia. Meskipun Anda bertanya apa yang membuat saya mencintainya, saya tidak bisa menjelaskannya, karena saya juga tidak tahu alasan saya mencintainya. Mencintai seseorang tidak membutuhkan sebuah alasan. Itu akan terjadi begitu saja. Saya membutuhkan cinta dan kasih sayang dari wanita yang kucintai. Veronica tidak bisa memberikan itu semua dan saya juga tidak bisa memberikan kebahagiaan kepadanya. Jadi untuk kebaikan bersama, sebaiknya saya dan Veronica tidak akan ada pernikahan."
"Saya tidak menyangka sama sekali kalau kamu begitu mencintai gadis itu, tapi keputusanmu ini akan membuat putriku sangat sedih. Saya ingin melihat putriku hidup bahagia dan impiannya, yaitu menikah denganmu, tapi sekarang kamu sudah membuat hatinya hancur."
"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud membuat Veronica sedih dan mungkin suatu saat akan ada pria yang benar-benar mencintainya. Oh ya, saya juga ingin bertemu dan berbicara dengannya. Apa sekarang dia ada di rumah?’’
"Dia ada di rumah. Sejak kemarin dia mengurung diri di kamarnya?’’
Tuan Yermolov pun mengantarkan Vladimir ke kamar Veronica.
"Veronica, ini aku, Vladimir. Bisakah keluar kamar sebentar. Aku ingin bicara kepadamu."
Tidak ada jawaban dari Veronica, Kemudian Vladimir mendekatkan telinganya ke pintu dan mendengar suara isak tangisnya.
"Baiklah, kalau kamu tidak ingin bertemu denganku. Aku hanya ingin mengatakan kalau saya sudah bicara dengan Ayahmu untuk membatalkan rencana pernikahan kita. Maaf aku terpaksa melakukan ini. Semoga kamu bahagia."
Lalu Vladimir pamit kepada Tuan Yermolov. Vladimir berjalan menuruni tangga, tiba-tiba Tuan Yermolov memanggilnya.
"Tunggu sebentar."
Vladimir menghentikan langkahnya.
Apa keputusanmu itu sudah tidak bisa diubah lagi,’’ kata Tuan Yermolov dari atas.
"Maaf. Keputusan saya sudah tidak bisa diubah lagi."
Vladimir ke luar rumah, lalu masuk kedalam mobilnya. Sebelum menuju kantornya, Vladimir menyempatkan diri ke kampus Lizzie.
__ADS_1
Lizzie yang melihat kedatangan Vladimir tersenyum dan berlari ke arahnya. Mereka semua yang ada di sana terkejut dengan keakraban mereka. Dave cemburu melihat keakraban mereka. Mereka berbicara lama sekali, lalu Vladimir pun pergi menuju kantornya. [ ]