
Sinar matahari yang menerobos melalui tirai jendela kamar membangunkan Lizzie di pagi harinya. Dia bangun dengan mata yang masih mengantuk,lalu membuka tirai jendelanya. Bibir mungilnya tersenyum senang.
"Selamat pagi semuanya!''teriaknya. Penuh semangat Lizzie segera mandi dan berpakaian, karena hari ini mereka sekeluarga akan pergi liburan ke pantai. Hari-hari yang ditunggunya akhirnya tiba juga.''Pagi Ayah, Ibu!''
" Pagi Lizzie! Hari ini kamu terlihat cantik,''puji ayahnya dan wajah Lizzie merona merah.
Pagi itu Lizzie sarapan pagi dengan lahap dan cepat, dia sudah tidak sabar ingin segera pergi. Petro mengeluarkan mobilnya dari garasi dan ketika mobil itu berhenti, Lizzie segera naik.''Cepat ayah, kita pergi!''katanya dengan suara tidak sabar.
"Iya sayang, sabar sedikit."
Lizzie tidak lupa memasang sabuk pengamannya dan kakinya bergerak-gerak karena gembira.''Semua sudah siap,''kata Petro.
"Aku sudah siap,''kata Lizzie.
Mobil yang membawa keluarga Thusenka perlahan-lahan keluar dari halaman rumah. Angin menerpa wajahnya ketika jendela mobil di buka.''Pagi nyonya dan tuan Watson!''sapanya dari jendala mobil sambil melambaikan tangan mungilnya.
"Pagi Lizzie! Selamat bersenang-senang di pantai ya,''teriak Xena Watson.
"Ah anak itu terlihat gembira sekali. Akhirnya dia dapat pergi liburan ke pantai juga,''kata Xena kepada suaminya.
"Dia memang anak yang sangat ceria. Kedatangannya ke desa ini delapan tahun lalu memang membawa kebahagiaan bagi Antonina dan Petro. Tidak salah kalau mereka mengadopsi anak itu."
"Benar, tapi aku mengkhawatirkan jika suatu saat keluarga Lizzie akan meminta dia kembali dan itu pasti akan membuat mereka berdua sedih. Mereka sudah menyayangi dan mencintai anak itu."
"Kamu benar. Semoga saja keluarga Lizzie tidak pernah tahu tentang keberadaannya disini."
"Aku setuju."
Xena dan Danko Watson kembali membersihkan halaman lagi.
🍎🍎🍎
Suasana ruang makan terlihat nyaman di pagi hari yang cerah di bulan Juni. Makanan lezat telah terhidang di meja makan. Nicola mengambil tempat duduknya dan menuangkan segelas kopi.''Pagi ayah!''
"Pagi Regina!''
Regina Kalashnikov adalah anak pertama Nicola berumur 20 tahun. Dia wanita yang sangat cantik dengan rambut pirang panjang lurus. Matanya bermata abu-abu gelap dan memiliki tubuh ramping. Pria mana pun pasti akan jatuh cinta kepadanya.Tidak lama istri Nicola muncul.
"Pagi sayang!''sapa istrinya sambil mengecup bibir suaminya.
''Pagi!''
Juliet Kalashnikov adalah istri Nicola. Kecantikan ibunya menurun pada Regina, sehingga mereka berdua terlihat mirip satu sama lain. Mereka terlihat seperti adik kakak dari pada terlihat sebagai ibu dan anak.
"Aku dengar Vladimir datang semalam,''kata Nicola.
"Benar. Dia datang kesini hampir tengah malam. Aku kira dia tidak akan menyusulku kemari, karena tugas sekolah musim panasnya banyak,''jawab Juliet.
"Sekarang dimana dia?''
"Pelayan bilang dia sudah pergi pagi-pagi sekali. Aku tidak tahu kemana dia akan pergi."
"Anak itu, baru saja datang, tapi sudah pergi lagi entah kemana, bahkan aku belum sempat bertemu dengannya."
"Mungkin dia sedang mencari gadis-gadis cantik di desa ini,''ujar Regina sekenanya.
"Reginaaa, jangan bicara seperti itu pada adikmu!"Ayahnya memperingatkannya.
"Tapi itu benar kan. Vladimir suka gadis-gadis cantik bahkan sekarang sudah banyak wanita cantik yang mengantri di belakang untuk di jadikan kekasihnya, tapi aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya, dia suka wanita cantik, tapi dia tidak memilih satu pun para wanita cantik itu."
"Itu karena sudah ada Angela di hatinya,''jawab ibunya.
"Apa Vlad mencintai Angela? Aku rasa dia tidak mencintainya. Aku yakin 100 %,''tukas Regina.
''Hush, kamu jangan yakin dulu seperti itu. Mungkin saja Vlad memang mencintainya, tapi dia tidak berani mengakuinya,'' jawab ibunya.
"Sudah-sudah jangan membicarakan itu lagi. Biar dia sendiri yang memutuskan wanita mana yang dia sukai. Kalian jangan ikut campur kehidupan pribadi Vlad. Kalian kan tahu, dia paling tidak suka kalu ada orang yang mencampuri urusan pribadinya."
"Tapi kalau untuk masalah pendamping dia kela, aku harus ikut campur,''protes Juliet.
"Aku setuju sama ibu. Aku juga tidak ingin mendapatkan adik ipar sembarangan."
"Ah kalian ini. Urusi saja urusan kalian sendiri."
"Ayaaahhh...''kata mereka bersamaan, tapi Nicola tidak mempedulikan protes ibu dan anak perempuannya.
🍎🍎🍎
Di dalam mobil Lizzie terlihat senang sekali. Dia bernyanyi dengan gembira. Laut sudah mulai terlihat dari jalan dan sudah tercium aroma laut dari dalam mobilnya.''Ayah, ibu lihat! Lautnya indah sekali ya."
"Iya, sayang''jawab ibunya. Mata beningnya terus menatap lautan biru yang ada didepannya. Hatinya sudah tidak sabar ingin segera turun dari mobil. Tidak berselang lama mobil yang dikendari Petro berbelok menuju tempat parkir. Lizzie turun dari mobil dengan wajah senang dan menarik-narik lengan ibunya untuk mengikutinya menuju pantai dengan tidak sabar.
Di atas laut burung-burung camar berterbangan dan paruhnya berkilat keperakan di bawah sinar matahari. Salah satu burung camar itu berhasil menangkap ikan dan langsung memakannya. Lizzie berlari-lari di pantai dengan riang gembira dan dengan susah payah ibu dan ayahnya mengikutinya dari belakang.
"Ayah, Ibu lautan memang sangat menakjubkan bukan? Ternyata lebih indah dari yang aku lihat di buku."
Lizzie menghirup aroma laut dalam-dalam. Antonina dan Petro hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku Lizzie. Suasana pantai terlihat sangat ramai. Petro mendirikan payung dan menggelar kain.
" Kita makan siang dulu, setelah itu kamu bisa bermain sepuasnya,''perintah ibunya.
"Baik."
Setelah makan siang yang lezat dan menyenangkan. Lizzie bermain air di pantai bersama ayahnya dan ibunya menjaga barang bawaan mereka. Antonina tersenyum senang melihat ayah dan anak saling kejar-kejaran di pantai. Suara tawa Lizzie terdengar jelas dan Antonina tidak rela kalau kebahagiaan mereka suatu hari nanti akan direbut oleh orang-orang yang tidak mereka kenal.
Petro dan Lizzie sedang berusaha membuat bangunan dari pasir dan hasilnya sangat jelek dan bangunan itu rubuh diterpa ombak. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari kerang. Hasilnya Lizzie menemukan banyak kerang dari pada ayahnya.
"Ibu lihat! Aku berhasil menemukan banyak kerang. Kerang-kerang ini sangat cantik bukan? Aku menyukainya. Mungkin aku akan menjadikannya hiasan dikamarku dan aku akan memberikan sebagiannya lagi untuk Fanya."
"Kerang-karang itu memang sangat cantik,''jawab ibunya dengan penuh kasih sayang.
"Ibu, aku haus."
Antonina mengambil botol air dari dalam tas dan ternyata isinya sudah kosong.
"Maaf Lizzie. Kita kehabisan air. Sebentar ya ibu beli dulu. Kamu tunggu di sini bersama ayah. Jangan pergi kemana-mana. Ibu segera kembali."
"Baik Bu."
Lizzie dan ayahnya berjemur dipantai menunggu ibunya kembali. Antonina kebingunagn mencari toko yang menjual minuman mineral. Setelah berjalan beberapa menit akhirnya dia menemukan sebuah supermarket kecil. Wajahnya terlihat lega sekaligus senang. Di sana dia mengambil beberapa botol air mineral dan tanpa sengaja dia menabrak seorang pemuda berumur sekitar 17 tahunan yang saat itu sedang membeli beberapa keripik kentang.
"Maaf nyonya. Anda tidak apa-apa?''tanya pemuda itu.
"Saya tidak apa-apa terima kasih."
Pemuda itu membantu Antonina mengambil botol yang terjatuh dan kemudian diberikan padanya.
"Terima kasih."
Cepat-cepat Antonina membayarnya dan tidak lama pemuda tampan itu keluar dari mini market.
"Dia anak yang tampan,''komentarnya dalam hati.
Pemuda itu sesaat memperhatikan Antonina dari belakang sampai menghilang di belokan.
"Vladimir, apa yang sedang kamu lakukan di sana? Kenapa kamu berdiam diri? Apa yang sedang kamu perhatikan? Apa tadi kamu melihat wanita cantik?''
"Bukan begitu, tadi aku sedang memperhatikan seorang ibu yang sudah aku tabrak di dalam."
"Oh ternyata begitu. Ayo kita pergi! Teman-teman sudah menunggu kita."
Kedua pemuda itu akhirnya pergi dan sekali lagi Vladimir melihat ke belakang. Sebuah senyuman misterius mengambang di wajahnya.
Antonina tersenyum ketika melihat Lizzie sedang duduk santai." Ini airnya,''seru ibunya.
"Ah ibu kenapa lama sekali. Aku sudah kehausan nih."
"Maaf ya sayang, tadi ibu kelamaan mencari tempat yang menjual air minum."
Lizzie langsung meminumnya dan langsung menghabiskan setengah dari botol itu. "Ayahmu dimana?''
"Di sini."
"Mana?"
__ADS_1
Lizzie membuka topi yang menutupi wajah ayahnya dan ternyata Lizzie sudah mengubur ayahnya dengan pasir dan yang terlihat hanya wajahnya saja yang dia tutup dengan topi.
"Lizzie, kenapa kamu lakukan itu pada ayahmu?''
"Habis aku tadi tidak ada kerjaan, jadi aku mengubur ayah dengan pasir dan ayah tidak marah."
"Kamu ini, ''kata ibunya gemas sambil menekan lembut hidungnya.
Hari pun sudah menjelang sore mereka bersiap-siap untuk kembali pulang. Selama perjalanan pulang Lizzie tertidur pulas, karena kelelahan setelah seharian bermain di pantai.
''Hari ini adalah hari yang menyenangkan bukan? Kita sekeluarga dapat berlibur bersama,''kata Petro.
"Benar dan aku berharap kita akan berlibur bersama lagi.Bagaimana kalau besok kita berdua pergi menemui si tua Ferguson?''
"Apakah kita harus besok pergi kesana?''
"Lebih cepat lebih baik."
"Terserah kau saja." Mobil itu terus melaju di jalanan yang tenang dan sepi.
🍎🍎🍎
Mereka tiba dirumah ketika hari sudah malam. Kizxie terlihat terlelap tidur dan Petro mengendongnya ke kamar, lalu mencium keningnya.
''Selamat malam sayang! Semoga kamu mimpi indah."
Malam itu Lizzie tidur dengan nyenyak dan senyuman senang menghiasi wajahnya yang mungil memimpikan liburan pergi kepantai bersama orang tuanya.
Lizzie terlihat ceria dan wajahnya segar dengan pipi yang merona merah ketika bangun keesokan paginya dan menemukan orang tuanya telah siap untuk pergi.
"Ayah dan ibu akan pergi keluar. Kamu tunggu rumah ya. Kami tidak akan pergi lama."
"Memangnya kalian akan pergi kemana?'
''Kami akan menemui si tua Ferguson,"kata ibunya.
"Aku ikut,''kata Lizzie merajuk.
"Kamu tidak boleh ikut.Kamu di sini saja undanglah Fanya atau siapa saja ke sini."
Lizzie memperlihatkan wajah cemberutnya.
"Baiklah!''
"Nanti paman Javor yang akan mengawasimu di rumah, jadi kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa meminta tolong padanya. Dia sepanjang hari ada di perkebunan."
"Aku mengerti."
"Bagus. Cepat habiskan sarapan pagimu!''
Lizzie yang tinggal sendirian di rumah duduk termenung di teras rumah. Lama-kelamaan dia merasa bosan. Fanya yang diharapkannya akan datang sedang pergi ke rumah bibinya. Mary dan Fransesca pun tidak ada dirumah. Untuk menghilangkan rasa bosannya dia mulai membersihkan rumah. Lantai rumah disapu, mencuci pakaian, mengepel lantai dan memberikan makan hewan peliharaan yang ada di rumahnya.
"Fuuuuhhh...''
Lizzie mengelap keningnya.''Akhinya selesai juga,''katanya senang.''Rumah sudah bersih pasti ibu dan ayah akan senang."
Suara bel rumah berbunyi dan di depan pintu telah berdiri Fransesca Doyle. Dia terlihat sangat cantik hari ini.
"Silahkan masuk!''
Fransesca mengambil tempat duduk yang nyaman di rumah teman kecilnya.''Orang di rumahmu mengatakan kamu sedang pergi."
"Itu benar. Aku pergi ke pasar bersama dengan Mary, tapi kami sejam lalu telah kembali. Sayang adikku Mary tidak bisa ikut, karena dia terjatuh dari tangga teras rumah dan kakinya terkilir''.
"Itu sangat buruk. Semoga kakinya cepat sembuh. Rasanya pasti sakit karena aku pernah mengalaminya. Sebentar aku ambilkan minum dulu."
Lizzie membawa segelas jus jeruk dingin dan beberapa potong kue pai apel.
"Orang tuamu sedang pergi ya?''
"Iya. Mereka mau mengunjungi si tua Ferguson di desa tetangga."
"Tidak biasanya orang tuamu mengunjunginya."
"Benar. Sebenarnya aku ingin ikut, tapi mereka melarangku, jadilah aku sendirian di rumah ini. Bagaimana kalau kita pergi belakang melihat paman Javor bekerja?Sekalian aku mau mengantarkan makanan untuknya.
Udara di luar sudah mulai menghangat ketika Cassei dan Mary pergi menemui Javor di ladang yang sedang mengangkut jerami ke dalam kereta bugi."Halo paman Javor!''
"Halo Lizzie!"
"Aku bawakan makanan untuk paman."
"Terima kasih, Lizzie!"
"Paman Javor, pasti paman sudah tahu kan temanku Fransesca Doyle."
"Aku tahu. Dulu aku pernah bekerja pada orang tuanya. Halo nona Doyle!''
"Panggil aku Fransesca saja."
"Baiklah Fransesca. Sekarang kamu sudah tumbuh besar. Bagaimana kabar orang tuamu?''
"Mereka baik-baik saja. Terima kasih."
"Paman biar aku bantu mengangkut jerami ke kereta, kata Lizzie.
"Tidak perlu biar paman saja yang melakukannya."
"Akuingin bantu paman boleh ya."
Lizzie menatap Javor dengan pandangan memohon.
"Baiklah. kamu boleh membantu, jika kamu lelah, kamu dapat berhenti kapan pun."
"Baik."
Mereka berdua akhirnya dengan senang hati membantu Javor di perkebunan.
🍎🍎🍎
Antonina dan Petro telah tiba di rumah si Tua Ferguson kedatangan mereka di sambut oleh cucu perempuannya yang bernama Barbara Ferguson.
''Silahkan masuk!''.Mereka duduk dan melihat ke sekeliling rumah.
"Rumah yang nyaman,''pikir Antonina.''Perkenalkan saya Antonina dan ini suami saya, Kevin Thusenka. Kami ingin bertemu dengan Tuan Ferguson."
"Oh kalau yang kalian maksud adalah kakek saya, dia sudah meninggal satu minggu yang lalu."
Wajah Barbara terlihat sedih.
"Me..meninggal?''
Antonina tidak dapat menutupi rasa terkejutnya begitu pun juga dengan Petro.
"Benar,''jawab Barbara. Rasa kecewa tergurat jelas di wajah mereka.
"Boleh saya tahu kenapa kalian ingin bertemu dengan kakek saya?''
"Kami ingin bertanya sesuatu kepadanya, tapi kalau dia sudah meninggal, mungkin pertanyaan kami tidak akan terjawab."
"Kami turut berduka cita."
"Terima kasih."
"Tapi apakah dulu kakek Anda berteman dengan keluarga yang berasal dari keluarga kaya?'' Barbara tampak berpikir .
"Sepertinya tidak, kakek tidak pernah cerita tentang hal itu. Kakekku memang banyak cerita mengenai perjalanan hidupnya padaku sebagai dongeng pangantar tidur, tapi kalau yang Anda tanyakan itu, kakek tidak pernah cerita."
Antonina terlihat kecewa lagi.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?''tanya Barbara dengan pandangan penuh selidik.
"Tidak ada. Kami hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan yang mungkin diketahui oleh Tuan Ferguson. Maaf kami telah menganggu istirahat Anda.Kami permisi pulang!''
__ADS_1
"Ba..baik."
"Sekali lagi maaf sudah menganggu, ''kata Petro.
"Tidak apa-apa. Kami sudah lama tidak menerima tamu."
Mereka berdua meninggalkan rumah si Tua Ferguson .
"Sudah kamu jangan terlihat kecewa begitu. Mungkin ini lebih baik jika kita tidak mengetahui apa-apa tentang keluarga Lizzie."
"Mungkin kamu benar. Sebaiknya kita pulang saja, pasti Lizzie sudah menunggu kepulangan kita."
Menjelang sore mereka telah tiba di rumah. Kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh Lizzie.
"Selamat datang ayah, ibu!''
"Apa kamu telah berbuat nakal selama kami pergi?''tanya Petro.
"Tidak. Aku tidak berbuat nakal. Aku membersihkan rumah dan membantu paman Javor di kebun''.
"Oh ya , anak baik." Petro mengelus-elus kepala Lizzie.
"Bagaimana perjalanan kalian?''
"Tidak begitu menyenangkan."
"Kenapa?''
"Karena kami tidak dapat bertemu dengan Tuan Ferguson."
"Memangnya kenapa?''
"Karena dia sudah meninggal''.
"Oh...Itu sungguh menyedihkan. Dia orang yang sangat baik. Semoga arwahnya di terima disisi-Nya. Amin."
Antonina tersenyum lembut.
''Cissy, bisa bantu ibu menyiapkan makan malam?''
"Baik."
Lizzie pun akhirnya di sibukkan oleh ibunya menyiapkan makan malam .
🍎🍎🍎
Suara telepon berdering di rumah Barbara Ferguson. Dengan langkah terburu-buru Barbara menuju ruang keluarga dan kakinya tersandung.
''Aaaawww....''
Sambil memegangi kakinya yang tersandung, dia berjalan dengan satu kaki dan akhirnya di menghempaskan diri ke sofa. Tangan satunya lagi mengambil telepon.''Selamat malam! Barbara Ferguson disini."
"Barbara, ini aku."
"Tuan Victor."
"Bisakah kamu kembali ke Moskow besok, aku tahu liburanmu di sana dengan keluargamu masih ada dua hari lagi. Besok si kecil Karina membutuhkanmu, karena pengasuhnya telah aku pecat dan aku belum menemukan pengasuh penggantinya."
"Anda memecat Milly, tapi kenapa?''
"Dia tidak becus mengasuh Karina. Kemarin dia hampir saja membuatnya tenggelam di kolam renang karena kelalaiannya. Istriku dan aku akan pergi keluar kota besok lusa untuk beberapa hari, jadi bisakah kamu kembali besok?Aku akan mengganti dua hari liburanmu nanti."
Barbara tampak berpikir.''Baiklah. Saya akan pulang besok, lagi pula urusanku disini sudah selesai."
"Aku turut berduka atas meninggalnya kakekmu."
"Terima kasih tuan Victor."
"Aku menunggu kedatanganmu besok. Selamat malam!''
"Selamat malam!''. Barbara mendesah.''Kasihan Milly.Pasti dia sekarang sangat sedih. Padahal keluarganya sudah mengabdi selama bertahun-tahun pada keluarga Romanov.
🍎🍎🍎
Nicola yang sedang menikmati sore hari ditaman ditemani secangkir teh dan beberapa kue kering kedatangan seorang tamu.
''Maaf Tuan, ada orang yang mencari Anda ''kata kepala pelayannya yang bernama Oscar.
"Siapa?''
"Jack Carver."
"Suruh dia menemuiku di sini."
"Baik tuan."
Nicola melihat kedatangan Jack dari balik cangkirnya , lalu tersenyum senang ketika Jack datang menemuinya.
"Halo Jack! Silahkan duduk!''
"Aku tidak akan lama di sini. Aku hanya mau memberi tahu kalau aku menerima tawaranmu."
"Benarkah?''
Nicola menyimpan cangkir tehnya di meja.
"Benar. Aku menerima tawaranmu."
"Terima kasih detektif Jack Carver. Aku tahu, kau orang yang bisa aku andalkan."
"Jangan panggil aku seperti itu lagi, karena aku sudah pensiun."
"Baiklah kalau itu maumu.Tunggu di sini aku akan mengambil berkasnya dulu."
Tidak membutuhkan waktu lama Nicola sudah kembali dengan membawa berkas di tangannya.''Ini berkasnya."
"Sepertinya aku harus segera pergi dan memulai penyelidikanku. Aku lakukan ini untuk membalas jasamu padaku dulu''.
''Terserah apa pun katamu, aku berterima kasih kamu sudah mau bekerja sama denganku dan jangan katakan pada siapa pun tentang hal ini karena kita melakukan secara sembunyi-sembunyi. Ini permintaan dari Sergei Romanov."
"Aku mengerti. Sampai jumpa!"
Nicola meminum tehnya dan memejamkan matanya menikmati angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya.
🍎🍎🍎
Tidak jauh dari desa Zelenogradsk, seorang pria yang sedang mencuci peralatan makan yang dibantu oleh istrinya tiba-tiba jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Ivander, ada apa? Apa kepalamu sakit lagi,''kata istinya cemas.''Sebaiknya kita istirahat saja."
Istrinya mendudukan suaminya di kursi makan. Tangan pria itu masih memegangi kepalanya dan dia merasakan sakit kepala yang teramat sangat.Pria itu melihat sebuah bayangan seorang laki-laki yang kepalanya bersimbah darah sambil mengendong seorang bayi.
Bawa bayi ini bersamamu! Selamatkan anakku. Aku mohon. Hanya kamu yang bisa aku percaya saat ini. Cepat pergi dari sini ! Jangan sampai mereka menemukanmu dan anakku. Sekarang cepat pergi dari sini! Mereka sebentar lagi akan datang.
"Ivander, sebaiknya aku panggilkan kamu dokter supaya dia dapat memeriksamu karena akhir-akhir ini kamu sering sakit kepala. Kamu tunggu disini sebentar."
Pria itu menahan tangan istrinya.
"Jangan! Aku akan baik-baik saja."
"Tapi, kamu sakit."
Ivander kembali melihat dirinya berlari tanpa tujuan sambil mengendong seorang bayi dan samar-samar dia mendengar suara letusan tembakan dari arah belakang dan tidak lama kemudian rumah besar itu terbakar dan api menelan seluruh rumah itu.
"Aku rasa sebaiknya kamu harus periksakan diri ke dokter,''kata istrinya yang masih menatapnya dengan penuh kecemasan.
"Juliana, aku bilang jangan ya jangan. Aku sekarang sudah tidak apa-apa. Rasa sakit kepalaku sudah mulai menghilang."
"Tapi aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu."
Ivander langsung memeluk istrinya.''Jangan cemas tidak akan terjadi sesuatu yang buruk dengan diriku." Ia berusaha untuk menenangkan istrinya.
''Siapa laki-laki itu dan kenapa aku bisa berada disana? Siapa aku sebenarnya?''tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Ivander teringat 8 tahun yang lalu terbangun di rumah sakit dalam keadaan amnesia. Inspektur Sheridan mengatakan kalau ia ditembak seseorang dan kepalanya dipukul yang menyebabkan ia hilang ingatan.
Setelah keluar dari rumah sakit, inspektur Sheridan akan terus mengawasinya dan jika ingatannya telah kembali ia harus memberitahunya. [ ]