Shattering Heart

Shattering Heart
(S2): Kembalinya ingatan Ivander


__ADS_3

Sergei duduk termangu di kursi malasnya yang menghadap kesebuah halaman belakang mansionnya. Di luar semakin gelap dan juga dingin, suasana begitu sunyi hanya terdengar desiran suara pohon tertiup angin kencang. Tanpa ia duga teringat kembali pada pasangan suami istri Thusenka. Mereka berdua bukanlah tamu yang mencolok di pesta itu, tapi pertemuannya dengan mereka membuat ia merasa tertarik dan merasa ada sesuatu tentang mereka yang tidak bisa ia jelaskan.


Suara ketukan di pintu mengejutkannya. Seorang pelayan membawakan air putih dan menyimpannya di sebuah meja yang terletak di tengah-tengah kamar. Pelayan itu memberi hormat dan mengucapkan selamat malam ketika akan meninggalkan kamarnya. Sergei tersenyum ramah.


Pintu tertutup dan kamar kembali hening. Rasa haus yang menjalari tenggorokannya membuatnya meminum air putih banyak-banyak yang dibawakan pelayan tadi. Sergei merasa segar kembali setelah meminumnya. Ia pun pergi ketempat tidur dan berharap ia akan bermimpi indah bertemu dengan cucunya di dalam mimpi.


Sementara itu Di desa Helenogradsk, Lizzie dan Milly baru selesai menonton film yang disewa oleh Milly sewaktu pergi membeli keperluan dapur. Pop corn terlihat berceceran di ruang keluarga yang hangat. Lizzie masih bermalas-malasan di sofa yang empuk dan Milly sudah menyuruhnya untuk pergi ke kamarnya.’’Biarkan aku disini sebentar lagi!’’


"Tapi Lizzie ini sudah larut malam."


"Aku tahu. Besok kan hari libur."


"Kamu harus istirahat sekarang. Cuaca akhir-akhir ini semakin buruk kamu harus menjaga kesehatanmu."


Dengan enggan Lizzie akhirnya menuruti perintah Milly .Sebelum pergi ke kamar ia mengedarkan pandanganya kesekitar ruang keluarga.’’Sepi sekali.:


‘’Hah...’’


"Rumah ini terasa sepi sekali tanpa kehadiran ayah dan ibu."


Milly kemudian memeluk Lizzie.’’Kamu pasti merindukan mereka , bukan?’’


Lizzie hanya mengangguk pelan.’’Besok mereka akan kembali dan membawakan banyak oleh-oleh untukmu." Lizzie tersenyum.


"Milly, kamu baik sekali. Terima kasih."


Lizzie menaiki tangga , lalu terdengar suara dentuman pintu kamar tertutup.


Suara cicit burung di pagi hari membangunkan Lizzie dengan mata yang masih mengantuk ia meninggalkan tempat tidurnya dan segera membasuh wajahnya dengan air hangat. Dari arah dapur telah tercium aroma harum masakan yang dibuat oleh Milly. Hidung mungilnya mengendus-endus dan perutnya mulai merasa lapar.


Milly tersenyum ketika Lizzie sudah berada di dapur. Di meja makan telah terhidang sup krim ayam yang sangat harum dan beberapa potong roti yang masih panas karena Milly baru saja mengeluarkannya dari oven.’’Pagi Lizzie!’’


‘’Pagi!’’


"Makanlah! selagi semuanya masih panas."


Lizzie segera melahap semangkuk sup krim ayam sampai habis.’’Kamu tahu Milly, sup buatanmu ini sangat enak bahkan lebih enak dari buatan ibuku."


"Benarkah? ‘’tanyanya sambil tersenyum manis pada Lizzie.


"Benar. Kapan-kapan buatkan aku lagi sepertinya aku sudah sangat kecanduan dengan sup buatanmu ini."


"Kamu jangan terlalu berlebihan seperti itu. Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?’’


"Aku akan menggembalakan beberapa ekor domba tuan Andrews bersama Fanya."


"Di cuaca dingin seperti ini?’’


"Benar. Aku sudah berjanji akan membantu tuan Andrews, karena ia sedang sakit demam. Tidak ada orang yang menggembalakan dombanya."


‘’Kamu baik sekali."


Pagi itu cerah dan bersalju, Lizzie mengenakan mantel merah menyala dan terlihat sangat menyolok diantara putihnya salju dengan hati riang ia pergi ke rumah tuan Andrews bersama Milly dan di sana ia bertemu dengan Fanya.


Fanya terlihat cantik dimata Lizzie dengan balutan mantel pink berbulu. Sesekali desiran angin musim dingin bertiup membuat mereka merapatkan mantelnya. Pohon-pohon cemara yang berada di peternakan tuan Andrew menjulang tinggi seakan-akan mencapai langit dengan salju yang menaburi hampir seluruh bagian cemara itu dan angin yang bertiup seperti mengalunkan sebuah melodi musim dingin. Lizzie yakin kalau hari ini akan menjadi hari yang sangat menyenangkan yang akan dilewatkannya bersama Fanya ,sahabat terbaiknya dan juga Milly.


Mereka mulai menggiring domba-domba itu melalui suatu padang rumput terbuka yang kini telah di penuhi oleh salju. Aroma musim dingin begitu sangat terasa. Selama perjalanan Lizzie terus bercerita mengenai teman barunya yang bernama Ivander dan semakin membuat Milly penasaran siapa laki-laki itu sebenarnya, apa lagi dia adalah tetangga terdekat Milly, tapi belum pernah sekali pun ia bertemu dengannya.


Domba-domba itu di biarkan Lizzie untuk berjalan-jalan dipadang rumput meskipun saat ini ditutupi oleh salju. Milly memberikan minuman hangat untuk Lizzie dan Fanya.’’Kapan orang tuamu kembali?’’tanya Fanya


"Sore ini. Aku sudah merindukan mereka berdua."


"Aku yakin mereka akan membawakan oleh-oleh untukmu."


"Milly juga berkata seperti itu."


"Oh ya, tadi sebelum aku pergi ke rumah Tuan Andrews, aku sempat mendengar pembicaraan ibu dan ayahku di ruang keluarga. Ibu bilang kalau bu guru Diana Stanley dan pak guru Eric Stanfold akan menikah,’’kata Fanya dengan penuh antusias.


Lizzie membelalakan matanya dan mulutnya menganga lebar.’’Benarkah itu?Pasti ini akan menjadi berita yang sangat hebat dan membahagiakan. Aku tahu kalau mereka berdua saling mencintai. Pasti seisi sekolah akan ramai membicarakan hal ini."


Lizzie berdiri dan tertawa keras, lalu ia memutar-mutar badannya sambil tertawa.’’Kamu tahu ini berita paling membahagiakan. Aku harus segera menemui mereka berdua untuk mengucapkan selamat."


Lizzie duduk kembali diantara Fanya dan Milly.’’Aku juga tidak percaya ketika mendengarnya,’’kata Fanya.


"Kapan mereka akan menikah?’’


"Kalau yang aku dengar awal tahu depan."


"Itu sebentar lagi. Menurutmu nanti kita akan memberi hadiah apa?’’


Fanya terlihat berpikir sebentar, lalu menatap Lizzie kembali.’’Aku tidak tahu, tapi mungkin kita bisa memberikan hasil kerajinan tangan kita."


Lizzie melirik ke arah Fanya untuk meminta pendapatnya.’’Bagaimana kalau memberikan saputangan yang kamu sulam, Lizzie? Bukankah ibumu sudah mengajarkanmu bagaimana cara menyulam,"kata Milly.


"Ide yang bagus. Terima kasih Milly. Aku putuskan akan membuatnya. Bagaimana denganmu Fanya?’’


"Aku rasa aku akan membuat sulaman taplak meja. Bagaimana menurutmu?’’


"Itu bagus."


Mereka berdua tersenyum senang. Hari sudah siang mereka kembali menggiring domba-domba itu kembali ke perternakan Tuan Andrews. Di sana mereka mendapatkan hidangan makan siang yang luar biasa. Mereka sangat menyukainya. Lizzie duduk bersandar dikursi sambil memegangi perutnya yang sudah kenyang. Ia berterima kasih pada Tuan Andrews atas undangan makan siangnya yang lezat.

__ADS_1


’’Aku rasa, aku tidak akan bisa berjalan pulang dengan perut kenyang ini,’’katanya dengan wajah polos.


Tuan Andrews bersama dengan istrinya tertawa.’’Apa aku perlu mengantarkanmu pulang?’’tanya Tuan Andrews masih memasang wajah geli.


Lizzie segera menegakkan tubuhnya.’’Tidak perlu...tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Sungguh."


Suara tawa riang memenuhi ruang makan keluarga Andrews yang hangat.


Fanya berpisah dengan Lizzie di tikungan jalan menuju rumahnya ketika angin besar bertiup dengan kencang. Lizzie bersama Milly kembali melanjutkan perjalanan. Ia merasa senang hari ini selain dapat bermain dengan Fanya. Ia juga dapat menikmati makan siang yang sangat lezat meski ia harus menghilangkan rasa takutnya terhadap Molly anjing Tuan Andrews yang terkenal galak.


Dalam perjalanannya kembali ke rumah, Lizzie merasa takjub dengan pemandangan disekitarnya, baginya semuanya terlihat sangat putih diselimuti oleh salju yang tampak dingin tidak bernyawa ditengah cahaya matahari siang yang begitu menyengat,bahkan dari kejauhan rumahnya terlihat seperti rumah kue yang ditaburi gula .


Tatapannya sendu ketika mata kecilnya melihat rumahnya yang begitu sepi dan dingin, biasanya dibalik jendela selalu ada cahaya dari perapian jika ayah dan ibunya berada di rumah. Lizzie melonjak terkejut ketika dilihatnya ada pergerakan seseorang di halaman rumahnya.Ia menarik tangan Milly dan mengenggamnya dengan kuat.’’Ada apa Lizzie?’’


"Ada orang dihalaman rumah?’’


Mata Milly bergerak cepat melihat ke sekeliling halaman rumah.’’Tidak ada orang. Mungkin hanya perasaanmu saja."


"Sungguh, tadi aku melihatnya berjalan cepat menuju halaman belakang rumah."


"Sebaiknya kita periksa."


"Tunggu! Bagaiamana kalau itu penjahat sebaiknya kita panggil seseorang saja untuk datang kemari."


Milly mengambil sebatang kayu yang tergeletak dijalan dan mulai  berjalan mengendap-endap ke halaman belakang rumah. Milly dan Lizzie berhenti berjalan dan bersembunyi dibalik semak-semak dan melihat seorang pria tengah memperhatikan keadaan rumah.


’’Apa yang harus kita lakukan? Apa dia seorang pencuri Milly?’’tanya Lizzie ketakutan.


Lizzie merasa ia mengenal pria itu.’’Itu kan..."


"Aku tidak tahu. Tunggu disini!’’


Setelah mengumpulkan keberaniannya Milly keluar dan menghadapi pria itu.


"Siapa kamu?’’tanyanya galak sambil mengacungkan sebatang kayu pada pria itu.


Pria itu pun terkejut  dan Milly akan memukul pria itu.’’Jangaaannn!’’ teriak Lizzie. Keduanya melihat Lizzie yang keluar dari tempat persembunyiannya.


‘"Lizzie,’’seru Milly.


"Jangan pukul dia, aku mengenalnya.:


"Sungguhkah itu?’’


"Benar Milly. Dia adalah Ivander Armaturov yang pernah aku ceritakan padamu."


"Dia adalah Ivander, temanmu?’’


’’Milly ada apa?’’tanya Lizzie cemas.’’Milly...Milly...’’


"Nona ada apa?’’tanya Ivander kemudian melihat tubuh Milly gemetar dan juga wajahnya pucat.


"MILLYYYYYY, ’’teriak Lizzie.


"Ah Lizzie ma..maaf." Milly tersentak dari lamunannya.


"Ada apa sebenarnya?’’


"Tidak...tidak apa-apa."


"Sungguh?’’


"Iya, aku tidak apa-apa."


Lizzie memeluk hangat Milly, lalu ia memandang pria tinggi dihadapannya.’’Sebaiknya kita masuk saja."


Di ruangan keluarga yang nyaman Lizzie dan Ivander duduk di sofa sambil menikmati teh hangat yang sudah siapkan oleh Milly. Sementara itu Milly menyalakan perapian. Tidak lama kemudian suara desisan kayu yang terbakar mulai terdengar, sebelum meninggalkan ruang keluarga ia melihat sekilas ke arah Lizzie dan juga tamu prianya.


Mereka berdua terlihat sangat tenang. Ia keluar dan berdiri di balik dinding dan sekali lagi menatap pria yang bernama Ivander. Jantungnya berdegup dengan kencang.


’’Tidak salah lagi dan aku yakin dia adalah Ivander yang aku lihat di mansion Romanov, tapi kenapa ia berada di sini? Apa tadi dia mengenaliku?"


Berbagai pertanyaan memenuhi benak dan kepalanya. Milly menuju dapur dan duduk di sofa yang berada di sudut ruangan.’’Jika itu benar Ivander, bagaimana ini?’’


Terdengar suara pintu depan tertutup dan Lizzie muncul di dapur sambil membawa nampan.’’ Apa temanmu sudah pergi?’’


"Baru saja. Bagaimana pendapatmu tentang Ivander?’’


"Aku rasa dia orang yang baik. Lizzie, apa benar pria itu namanya Ivander Armaturov?’’


"Benar. Memangnya kenapa?’’


"Tidak apa-apa. Sejak kapan kamu mengenalnya?’’


"Belum lama ini."


"Oh begitu. Aku rasa pernah melihatnya disuatu tempat, tapi aku tidak yakin. Sebaiknya kamu pergi ke kamar dan beristirahat."


Milly kembali duduk di sofa dan ia besok berencana menemui pria itu di rumahnya.


🍎🍎🍎

__ADS_1


Lizzie sedang sedang duduk di tangga yang menuju teras rumah memandangi pohon-pohon yang diselimuti oleh salju dilatarbelakangi oleh langit berwarna jingga keemasan dan matahari yang semerah delima mulai menghilang dari langit dan bersembunyi dibalik bukit. Ia mengerutkan dahi ketika sebuah mobil memasuki halaman rumahnya.


Lizzie terlihat sangat senang, wajah yang tadinya terlihat cemberut menjadi berbinar senang. Ia melompat berdiri dan segera memeluk orang yang baru saja keluar dari mobil.’’Ibu..’’


"Halo Lizzie!’’


Antonina mencium pipi Lizzie dan menuntunnya masuk.


"Aku senang kalian sudah kembali. Aku merindukan kalian."


"Kami juga merindukan kamu,’’kata ibunya lembut.


Perlahan-lahan Lizzie mulai menyentuh wajah ibunya. Kelelahan di wajah ibunya terlihat jelas di sana.


’’Ibu lelah yah. Sebaiknya istirahat saja."


Tiba-tiba Antonina memeluk Lizzie dengan erat, lalu berkata,’’ Ibu dan ayah sangat menyayangimu. Ingat itu."


Setelah berkata seperti itu ia mengeluarkan sebuah kalung nama yang bertuliskan namanya. Nama Lizzie terpahat indah di kalung itu.‘’Ini untukmu dari ayah dan ibu,"


"Bagus sekali."


"Kamu suka?’’


Lizzie mengangguk cepat.’’Biar ibu pasangkan. Kemarilah!’’


"Wah cantik sekali. Terima kasih ibu, ayah."


Lizzie melihat orang tuanya membawakan banyak oleh-oleh untuknya makanan, sepatu ,pakaian sampai mainan. Ia terlihat sangat senang terutama ayah dan ibunya telah kembali dan rumah ini tidak akan terasa sepi lagi.


🍎🍎🍎


Vladimir memakirkan mobilnya di samping peternakan Tuan Andrews. Ia turun dari mobilnya dan melihat ke sekelilin.


‘’Akhirnya aku kembali juga ke desa ini lagi."


Desa inilah kemunginanan cucu kakek Sergei ada pikirnya dan ia bertekad untuk mencarinya selama ia berada di desa ini. Vladimir kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi menuju mansion ayahnya. Nicola dan Juliet terkejut dengan kedatangan Vladimir yang tiba-tiba, karena beberapa hari yang lalu ia meninggalkan desa ini, tapi sekarang ia sudah kembali berada di sini.


’’Halo ayah! Halo Ibu!’’


Vladimir memeluk orang tuanya.’’Aku merindukan kalian dan aku akan tinggal disini sampai akhir tahun."


"Kenapa kamu tidak memberitahukan kalau kamu akan datang kemari?’’tanya ibunya.


"Aku ingin memberi kejutan pada kalian,’’katanya.


Senyuman tipis mengambang di wajahnya yang tampan.’’Aku akan pergi ke kamar dulu untuk beristirahat."


Valdimir pun pergi meninggalkan ayah dan ibunya di pintu depan dengan wajah yang terheran-heran.


🍎🍎🍎


Ivander duduk termangu di depan perapian . Kilauan api terpantul dimatanya. Juliana istrinya menatap cemas suaminya. Ia merasa kalau suaminya sedang ada masalah, tapi setiap kali ia menanyakannya, ia selalu diam  dan berkata tidak ada masalah. Juliana duduk disampingnya dan mengusap punggungnya pelan.


’’Kalau ada masalah ceritakan saja padaku. Mungkin aku bisa membantumu. Ingat kamu adalah suamiku, jadi aku aku harap kamu dapat berbagi masalah denganku dan mencari penyelesainnya bersama-sama."


Ivander memeluk istrinya dan berbisik ditelinganya.


"Terima kasih, tapi aku akan baik-baik saja."


Ivander tersenyum agar istrinya tidak merasa cemas lagi. Ia pergi ke kamar meninggalkan Juliana. Perlahan tapi pasti ia dapat mengingat semuanya termasuk masa lalunya yang buruk. Semua ingatan itu kembali kepadanya saat ia membaca sebuah berita di koran tadi pagi tentang Sergei Romanov.


Media massa mulai membicarakan siapa ahli waris Sergei. Ada beberapa orang yang menyebutkan Sergei akan memewariskan hartanya pada Victor, keponakan satu-satunya yang ia miliki Kalau Dimitri benar-benar meninggal.


Ivander kembali mengingat semuanya termasuk cucu keluarga Romanov yang ia bawa pergi bersamanya. Saat itu juga ia pergi menuju rumah  di mana delapan  tahun yang lalu ia meninggalkan seorang bayi di sana dan tidak disangka ia bertemu dengan Lizzie di rumah itu yang tidak lain adalah bayi yang pernah ia tinggalkan dulu, karena ia tahu suami istri Thusenka tidak pernah memiliki anak lain selain Lizzie.


Ivander membuka jendela dan udara dingin segera menyergap masuk ke kamarnya. Ia merasa bingung dan takut jika ada seseorang yang akan menyakiti Lizzie dan mungkin saja juga istrinya. Ia takut kalau orang-orang yang dulu mengejarnya akan kembali mengejarnya setelah mereka tahu tempat tinggalnya. Ia merasa kehidupannya di sini mulai tidak aman.


Ivander memanggil istrinya untuk duduk bersamanya. Ia mengenggam tangan istrinya dan meremasnya dengan lembut. ‘’Mungkin sudah saatnya kamu mengetahuinya."


"Mengetahui apa?’’


Ivander pun mulai bercerita tentang semua masa lalunya kepada istrinya. Mulut Juliana ternganga, karena terkejut dan matanya membelalak.‘’Lalu di mana bayi itu? Kamu pasti tahu dimana , bukan?’’


"Aku tahu. Sekarang bayi itu berada ditempat aman dan hidup bahagia dengan keluarga barunya."


"Siapa bayi itu?’’


"Kamu mengenalnya, bayi itu adalah Lizzie."


Juliana langsung menutup mulutnya. Terkejut.


"Tapi itu bagaimana mungkin? Apa kamu yakin?’’


"Aku sangat yakin, karena aku meninggalkannnya di rumah keluarga Thusenja 8 tahun yang lalu."


"Aku tidak percaya ini. Bagaimana jika mereka tahu tentang Lizzie?"


Ivander kembali memperlihatkan wajah cemasnya.’’Mungkin mereka akan membunuhnya."


"Itu tidak boleh terjadi."

__ADS_1


"Semoga saja itu tidak terjadi. Untuk sementara ini aku akan berpura-pura masih hilang ingatan dan semoga saja Lizzie akan baik-baik saja." [ ]


__ADS_2