Shattering Heart

Shattering Heart
Surat cerai


__ADS_3

Anastasia bersama Aleandra datang berkunjung ke rumah orangtuanya. Kedatangannya disambut oleh Marina dan Michael. Awalnya ia terkejut melihat orangtua Aleandra sebenarnya, meskipun Anastasia juga tidak bisa membenarkan tindakan mereka memberikan anaknya hanya untuk sejumlah uang,tapi itu semuanya sudah berlalu.


Anastasia tidak yakin apakah Aleandra akan memaafkan orangtuanya. Jika ia ada di posisi Aleandra, tentu saja ia akan merasa sangat kecewa dan juga marah.


"Selamat datang!"sapa Marina dengan tersenyum. Senyumannya mirip dengan Aleandra.


Anastasia masuk dan duduk di ruang tamu. Bibi Polina memgantarkan teh dan kue-kue kering, lalu Aleandra bercerita kepada orangtuanya mengenai apa yang terjadi pada saudara kembarnya.


"Ini salah kami, jika saja tidak terjadi salah paham sejak awal mungkin sekarang Alenadra sudah hidup bahagia bersama suami dan anaknya,"sesal Michael.


Marina menghapus air matanya."Andai saja aku tidak memyetujui penawaran ayahmu mungkin hal ini tidak akan terjadi. Aleandra yang malang."


"Tidak ada gunanya kalian menyesal sekarang. Semuanya sudah terjadi," kata Anastasia.


"Kami tahu. Semoga Aleandra dan cucu kami segera ditemukan."


"Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menung."


Mereka pun terdiam. Marina masih menangis menyesali semua yang dilakukannya di masa lalu. Ia sudah merasa menjadi seorang ibu yang buruk.


Satu minggu kemudian


Dimitri langsung mencari Sofia setelah  pulang dari kantor.


"Ayah, dimana Sofia?’’


‘"Aku rasa dia ada di dalam kamarnya."


Tanpa membuang waktu akhirnya Dimitri menumuinya di kamar.


"Aku ingin bicara padamu."


"Akhirnya kamu mau bicara juga denganku setelah satu minggu ini kamu terus mendiamkanku."


"Ini , tolong tanda tangani,’’katanya sambil menyerahkan selembar kertas pada Sofia.


"Apa ini?’’tanyanya kebingungan.Sofia membaca kertas yang diberikan oleh Dimitri


"Ini....’’


Tangan Sofia gemetar.


"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku."


Sofia mengeleng-gelengkan kepalanya dan matanya mulai memerah.


"Aku tidak ingin menandatanganinya. Pokoknya aku tidak mau. Kamu adalah milikku, aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun juga terutama pada Aleandra. Kamu ingin cerai denganku, karena kamu ingi bersama dengan Aleandra, bukan?"


"Kita tidak bisa terus-terusan seperti ini."


"Lalu bagaimana dengan Lizzie?’’


"Aku yang akan mengurusnya, jadi kamu tidak perlu cemas akan hal itu. Bukannya kamu sangat membencinya, jadi kamu tidak perlu mengurusnya."


"Apa karena ini masalah Lizzie sehingga kamu ingin bercerai denganku?’’


"Ini tidak hubungannya dengan Lizzie. Aku harap kamu mau menandatanganinya. Ini demi kebaikan kita berdua, kalau kita terus bersama seperti ini , hidup kita tidak akan bahagia yang ada hanya penderitaan saja."


Dimitri keluar dari kamar dan Sofia menatap selembar kertas itu dengan marah dan air mata mulai membasahi pipinya.Kertas itu dia lempar dengan kesal, lalu ia keluar dari kamar.


Sergei duduk di pinggir tempat tidurnya sambil memengang buku hariannya. Di dalam buku harian itu tersimpan semua rahasianya selama ini.


"Aku sudah memutuskan kalau hari ini aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Dimitri."


Sergei kembali menatap buku hariannya.Sofia yang tidak sengaja mendengarnya terkejut.


"Ini tidak boleh terjadi, aku tidak akan membiarkan dia memberitahu Dimitri. Tidak boleh,’’gumamnya dengan perasaan kalut yang telah menguasai dirinya.


Sofia pergi dari depan kamar Sergei dan masuk kembali ke dalam kamarnya, lalu dia mengeluarkan sesuatu dari dalam lacinya.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan Dimitri mengetahui tentang anaknya."


Diam-diam Sofia masuk ke kamar Sergei yang pintunya sedikit terbuka dan kedatangannya sangat mengejutkan Sergei.


"Kamu rupanya Sofia. Ada apa menemuiku pagi-pagi begini?’’


"Aku tidak akan mengizinkan ayah untuk memberitahu Dimitri tentang Lizzie."


"Sofia."


"Ayah pasti sudah tahu akibatnya kalau Dimitri sampai tahu bukan?’’


"Aku tahu."


"Jadi aku tidak akan membiarkan ayah memberitahunya.’’


Dengan berderai air mata Sofia mengeluarkan sebuah gunting dan langsung menghujamkannya pada Sergei. Sofia melihat kedua tangannya penuh dengan darah. Bibi Ester yang kebetulan lewat melihat kejadian itu dan sekuat tenaga berteriak .


Teriakannya mengema ke seluruh rumah dan mengagetkan semua orang.Sofia diam terpaku ditempatnya sambil masih memegang gunting ditangannya.Dimitri akhirnya terbangun dan mendapati beberapa pelayan berada di depan kamar ayahnya dan dia mencoba untuk menerobos masuk. Matanya terbelalak kaget melihat kejadian di depan matanya. "Sofia kau....’’katanya dengan nada sedikit tinggi.


"Bawa dia pergi dari di sini!’’perintah Dimitri kepada salah satu pelayannya.


"Baik."


Lalu perhatiannya mengarah pada ayahnya.


"Ayah bertahanlah! Sebentar lagi amabulan datang."


Nafas Sergej tersengal-sengal dan Dimitru terlihat panik. Tangan Sergei mencengkeram lengan Dimitri dan mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu.’’Di...mitri...’’


"Sudah ayah jangan bicara dulu."


"Bu..buku ha..harian."


Sergei pun akhirnya tidak sadarkan diri.’’Ayah...ayaaahhh...’’


Tidak lama kemudian ambulan datang dan membawa Sergei ke rumah sakit. Dimitri terus berjalan mondar-mandir menunggu kabar dari dokter.Pintu ruang operasi terbuka.


"Kami telah menghentikan pendarahannya, tapi ayah Anda sekarang koma."


"Koma?’’


"Benar."


Dokter itu berjalan sambil menempuk bahu Dimitru dan dia terduduk lemas dikurs, lalu seketika dia teringat dengan perkataan ayahnya sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.’’Buku harian, apa maksudnya?’’


Dimitri akhirnya pulang ke rumah setelah hari menjelang sore. Semua pelayan dirumahnya terlihat ramai membicarakan sesuatu.’’Ada apa ini?’’


Para pelayan itu menatap taku-takut pada Dimitri, lalu salah satu pelayan berjalan mendekatinya.’’Begini nyonya Sofia menghilang."


"Apaaa? Bukannya aku sudah menyuruh kalian untuk mengawasi sampai aku kembali dari rumah sakit."


"Maafkan kami tuan Dimitri."


Dimitri mendesah panjang.’’Tidak hanya itu saja nyonya Sofia juga membawa pergi nona Lizzie bersamanya.


"Apaaaa? Tapi bagaimana ini bisa terjadi?’’


Dimitri langsung pergi dari rumah dan memacu mobilnya dengan cepat. Selama dalam perjalanan Ia terlihat cemas dan gelisah memikirkan kemungkinan yang akan terjadi nanti.


’’Ya Tuhan, semoga Lizzie baik-baik saja."


Dalam beberapa menit Dimitri telah sampai di kediaman Hendrikova dan Sofia tidak berada disana. Ayahnya Sofia meminta penjelasan pada Dimitru apa yang telah terjadi, tapi Dimitri pergi begitu saja tanpa menjelaskan apa pun.


Dimitri dikejutkan oleh suara teleponnya dan nama Sofia yang terlihat di layar Hpnya, dia pun segera menjawabnya.


"Sofia, kamu ada dimana sekarang? Apa Lizzie sekarang berada bersamamu?’’


"Lizzie sekarang bersamaku, kalau kamu ingin mengambilnya datanglah ke apartemenku."

__ADS_1


Sofia memberitahukan alamat apartemennya padanya dan dia segera menuju ke sana.Mobilnya berhenti disebuah apartemen mewah berlantai 5 dan dia cepat-cepat pergi ke apartemen Sofia yang berada di lantai paling atas. Ketika Dimitri akan menaiki lift dari belakang ada orang yang memanggilnya.’’Pak Romanov....’’


Dimitri sangat terkejut melihat Alexei berada disini.


’’Apa yang sedang kamu lakukan disini?’’


" Saya baru saja menemui temanku di sini."


Mereka berdua masuk ke dalam lift.’’Lalu apa yang sedang Anda lakukan disini?’’


"Aku mau menemui Sofia dia telah menculik Lizzie.:


"Eh...’’


Pintu lift terbuka dan Dimitri terburu-buru keluar dan Alexei mengejarnya dari belakang.


"Pak Romanov , sebenarnya apa yang telah terjadi?’’


"Ceritanya panjang. Sekarang aku harus menemui Sofia."


Mereka berdua telah berada di depan apartemen Sofia dan Dimitri menekan bel, tapi tidak ada yang membuka pintu , lalu ia mencoba membukanya. Pintu tidak terkunci. Mereka berdua masuk dan mencarinya


"Sofia...Sofia, ‘’panggil Dimitri.


Lalu Alexei mendengar suara tangis bayi di luar apartemen.


’’Pak Romanov, kemarilah!’’


Dimitri mendekati Alexei dan mereka berdua menuju pinggir jendela. Mereka berdua terkejut melihat Sofia berdiri di pinggir jendela.


"Akhirnya kamu datang juga. Kenapa kamu membawa orang lain kesini? ‘’


"Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja di bawah, sekarang kamu pergi dari sana."


"Tidak."


"Sofia, aku mohon."


"Kamu hanya mengkhawatirkan bayi ini dari pada aku, benar bukan?’’


"Kamu salah, aku juga mengkhawatirkanmu."


"Kamu bohong,’’teriaknya.


"Sofia, kemarikan bayi itu!’’perintah Dimitri dengan pandangan memelas pada Shiori.


"Tidak. Aku tidak akan menyerahkannya padamu."


"Sofiaaaa..."


Sofia mengangkat Lizzie dan akan menjatuhkannya.


"Sofia jangan, apa kamu sudah gila, kenapa kamu melakukan ini semua?’’


"Itu karena kamu Dimitri. Kamu tidak pernah mencintaiku sedangkan aku sangat mencintaimu."


"Tapi apa hubungan semua perasaanku dengan Lizzie. Dia tidak tahu apa-apa."


"Aku benci anak ini, sangat membencinya."


Perlahan-lahan Dimitri mulai mendekati Sofia dan mencoba untuk mengambil Lizzie darinya, tapi Sofia malah semakin menjauh.


"Jangan mendekat, kalau kamu mendekat aku akan menjatuhkan anak ini."


"Baik, aku tidak akan mendekat,’’kata Dimitri berusaha menenangkan Sofia.


Mata Sofia berkaca-kaca. Lizzie menangis dengan keras. Dimitri tidak bisa bergerak ditempatnya karena kalau dia bergerak Sofia akan terus menjauh.


’’Sofia, kembalikan Lizzie. Aku mohon!’’

__ADS_1


Tiba-tiba Sofia hilang keseimbangannya,  karena kakinya terpeleset dan hak sepatunya patah dan Sofia pun terjatuh sedangkan Lizzie terlepas dari dekapan Sofia .’’Tidaaaakkk...’’teriak Dimitri.[ ]


__ADS_2