
Ivander menatap rumah keluarga Thusenka yang begitu tenang , hangat dan damai. Ia dapat membayangkan bagaimana reaksi mereka jika ia mengatakan yang sebenarnya tentang Lizzie. Sebenarnya ia tidak ingin menganggu ketenangan keluarga itu.
Bagi Ivander keluarga Thusenka adalah keluarga yang baik dan pantas menjadi keluarga Lizzie yang sebenarnya. Ia tidak salah telah memberikan Lizzie delapan tahun yang lalu pada mereka. Ivander menarik nafas dalam, merapikan pakaiannya sebelum mengetuk pintu.
Antonina muncul di balik pintu. Ia terlihat anggun dan cantik. Wajah keibuannya sangat terlihat jelas. Ia tersenyum lembut menyambut kedatangan Ivander.’’Selamat pagi nyonya Thusenka! Maaf kedatangan saya menganggu Anda."
"Selamat pagi! Anda siapa?’’
"Oh maaf. Saya belum memperkenalkan diri. Saya Ivander Armaturov."
"Ah jadi Anda adalah orang yang bernama Ivander. Lizzie sering bercerita tentang Anda. Ayo silakan masuk!’’
Ivander mengikuti Antonina menuju ruang tamu.’’Silakan duduk!’’
"Terima kasih."
"Anda mau minum apa?’’
"Apa pun juga boleh."
"Baiklah. Saya akan segera kembali."
Ivander menghela nafas. Detak jantungnya semakin cepat. Beberapa saat lagi ia harus mengatakan yang sebenarnya pada mereka, mungkin nanti kehidupan mereka yang tenang dan damai ini tidak akan sama lagi pikirnya. Ivander merasa bersalah, jika harus merusak kehidupan bahagia mereka di sini.
Antonina muncul dengan membawa nampan berisi secangkir teh dan kue-kue kering buatannya. Ia duduk di depan Ivander masih memasang senyuman ramah kepadanya.
"Silakan di minum!’’
Dengan canggung Ivander meminum teh itu.
"Apa Lizzie sudah merepotkan Anda ketika datang kerumah Anda?’’tanya Antonina tiba-tiba.
"Sama sekali tidak nyonya Thusenka. Kami senang dengan kedatangan Lizzie kerumah saya. Dia anak yang baik."
"Syukurlah! Kadang Lizzie selalu bersikap nakal. Ada kepentingan apa Anda datang kemari?’’
Wajah Ivander berubah jadi serius.’’Boleh saya tahu dimana suami Anda? Saya ingin bicara kepada kalian berdua. Ini mengenai Lizzie."
"Apa ada masalah dengan Lizzie?’’tanyanya dengan terkejut.
"Jangan cemas. Lizzie baik-baik saja. Saya ingin mengatakan sesuatu kepada kalian mengenai Lizzie."
"Baiklah. Aku akan memanggilnya. Suamiku ada di kandang kuda. Tunggu sebentar."
Antonina menghilang di balik pintu, sekali lagi Ivander menghela nafas panjang, lalu meminum tehnya yang beraroma mint. Tidak lama kemudian suami istri Thusenja telah muncul kembali. Ivander bisa melihat kebingungan di wajah mereka berdua.
"Saya Petro,"ujarnya kepada Ivander.
"Saya Ivander Armaturov, maaf sudah menganggu kerja Anda."
"Sama sekali tidak. Apa yang ingin Anda bicarakan dengan kami Tuan Armaturov? ‘’tanya Petro.
"Saya tidak tahu harus mengatakannya dari mana, ini cerita yang sangat panjang."
Suami istri Thusenka saling menatap heran. ‘’Tapi Anda harus tahu kebenarannya."
"Kebenaran apa yang Anda maksud?’’tanya Petro tidak mengerti.
"Begini ini mengenai Lizzie putri kalian. Saya tahu siapa orang tua Lizzie sebenarnya."
Antonina dan Petro sangat terkejut.’’Anda tahu siapa orang tuanya?’’tanyanya sedikit berbisik.
"Iya saya tahu. Orang tua Lizzie adalah Dimitri dan Aleandra Romanov. Mereka sekarang sedang koma di rumah sakit. Ada seseorang yang telah mencoba membunuh mereka."
Petro dan Antonina kembali terkejut. ‘’Dan sekarang orang yang telah mencoba membunuh orang tuanya ada kemungkinan sedang mengincar nyawa Lizzie, jadi kalian harus menjaganya baik-baik."
"Membunuh Lizzie?’’pekik Antonina.’’Ini tidak mungkin."
"Siapa Anda sebenarnya?’’tanya Petro.
"Saya hanyalah orang kepercayaan Tuan Dimitri yang diperintahkan untuk menyelamatkan anaknya, tapi kalian tidak perlu cemas, karena pembunuh itu belum tahu tentang keberadaan Lizzie di sini."
"Ini gila,’’teriak Petro.’’Tapi mengapa mereka menginginkan kematian Lizzie?’’
"Sayangnya saya juga tidak tahu apa motif pembunuh itu sepertinya dia menginginkan semua kematian keluarga Tuan Dimitri."
Antonina hanya duduk dan diam. Ia begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Ivander. Hatinya cemas mengenai keselamatan Lizzie
"Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Lizzie? Aku tidak ingin ada orang yang menyakitinya."
Mata Antonina memerah, genangan air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya.
"Satu-satunya jalan kalian harus pergi dari sini, karena cepat atau lambat para pembunuh itu akan dapat menemukan Lizzie di sini."
"Apa pergi dari sini? Itu tidak mungkin. Kami tidak dapat meninggalkan desa ini, bukankah begitu Petro?’’tanyanya pada suaminya untuk meminta persetujuan.
"Benar, kami tidak bisa pergi dari sini. Rumah kami di sini."
"Saya mengerti kalau kalian begitu mencintai rumah kalian di sini, tapi hidup Lizzie sekarang dalam bahaya, apa kalian ingin Lizzie mati terbunuh?’’
"Tentu saja tidak. Itu sangat mengerikan,’’kata Antonina.
"Tapi pembunuh itu belum tahu Lizzie ada di sini?" tanya Petro.
" Sepertinya belum, tapi entahlah aku tidak yakin. Aku tidak bisa menjaminnya."
"Kalau begitu Lizzie masih aman di sini."
"Yang dikatakan suamiku benar."
"Mungkin Anda benar. Aku terlalu ketakutan, tapi tidak ada salahnya untuk tetap waspada," kata Ivander.
"Pasti Lizzie akan sangat sedih kalau harus meninggalkan desa ini dan apa Lizzie mau pergi dari sini dan jawabannya pasti tidak mau,’’kata Antonina.
Ivander cepat-cepat merobek notesnya dan menuliskan sesuatu di secarik kertas itu.
__ADS_1
’’Ini,’’ujarnya dan memberikannya pada Petro.
"Apa ini?"
"Itu alamat villa Tuan Dimitri yang baru ia beli dan tak seorang pun tahu tentang alamat villa itu. Kalian bisa pergi ke sana. Tolong sembunyikan alamat itu jangan sampai jatuh ketangan orang lain."
" Baiklah."
Petro segera melipat kertas itu dan menyembunyikannya di bawah karpet, karena disitulah yang terpikirkan olehnya tempat yang aman.
‘’Bagus.Sebaiknya kalian pergi ke sana untuk mengisi liburan musim dingin untuk menghindari hal-hal buruk yang nanti akan terjadi. Urusan saya di sini sudah selesai. Saya juga berencana akan pergi dari desa ini secepatnya."
Suami istri Thusenka memandang dengan tatapan bingung juga terkejut. Ivander memutuskan pulang lewat halaman belakang rumah keluarga Thusenka yang mengarah ke hutan.
Sepeninggal Ivander, baik Petro maupun Antonina duduk terdiam di kursi memikirkan perkataan Ivander. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka tidak menyangka kalau kehidupan mereka yang tenang akan terganggu.
🍎🍎🍎
Lizzie yang sedang bermain dengan Fanya di belakang bukit rumahnya, tidak tahu mengenai rencana kepergiannya dari desa ini suatu hari nanti. Lizzie terlihat begitu bahagia. Ia sudah tidak sabar ingin segera menghadiri upacara pernikahan guru mereka. Ia memejamkan matanya dan membayangkan ibu gurunya akan terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin.
Lizzie bersama dengan Fanya sudah mengajukan diri sebagai pengiring pengantin wanita dan mereka begitu senang ketika Bu guru Diana mengabulkannya untuk menjadi pengiring mempelai wanita. Akhir tahun akan menjadi sangat menakjubkan pikirnya. Mereka saling melempar salju dan membuat boneka salju dari yang kecil sampai yang besar. Mereka berdua begitu menikmati kebersamaan mereka, lalu berbaring di tanah yang penuh dengan salju sambil memandang langit biru yang cerah.
"Kamu tahu, kemarin aku bertemu dengan Vladimir di supermarket."
"Maksudmu anak laki-laki tuan Nicola?’’
"Benar. Mungkin dia sedang liburan musim dingin di sini."
"Semoga saja aku tidak bertemu dengannya di jalan."
"Kamu masih marah dengannya."
"Aku tidak marah hanya saja aku masih merasa kesal dengannya."
"Tapi dia orangnya sangat baik. Dia menolongku, ketika aku terjatuh di jalan dan hidungku berdarah."
"Benarkah? Apa kamu baik-baik saja?’’tanyanya cemas.’’Aku benar-benar tidak tahu kamu mengalami kecelakaan di jalan."
"Aku baik-baik saja. Saat itu Vladimir langsung membawaku ke rumah sakit, lalu mengantarkan aku sampai rumah.Kalau diperhatikan dia memang orang baik."
"Dia orang baik itu mungkin saja."
Lizzie berdiri dan membersihkan mantelnya yang di penuh salju.
"Aku rasa aku menyukainya."
"Oh Fanya, itu sungguh buruk kalau kamu sampai menyukainya."
Fanya tersenyum lalu memeluk Lizzie.’’Tapi aku lebih menyukaimu, sahabatku." Mereka berdua pun tertawa.
"Sepertinya sudah saatnya makan siang. Sebaiknya kita pulang!"
Fanya dan Lizzie cepat-cepat membereskan mainan mereka dan berjalan bergandengan tangan menuju rumah. Lizzie berpisah dengan Fanya di halaman belakang rumah Lizzie.’’Sampai jumpa lagi! ‘’teriaknya pada Fanya.
Lizzie cepat-cepat masuk ke rumah dan melihat kedua orang tuanya tengah sibuk membereskan barang-barang keperluan mereka untuk kepergian mereka dari sini, jika diperlukan. Antonina dan Petro tidak menyadari kedatangan Lizzie, sedangkan Lizzie menatap bingung kepada orang tuanya yang sibuk membereskan barang-barang.
"Ayah, ibu apa yang kalian lakukan?’’
Mereka langsung menoleh ke arah Lizzie. Antonina menghampiri Lizzie dan berusaha bersikap setenang mungkin. Ia tersenyum lembut dan memeluknya, lalu menatap lembut kepadanya.
’’Kami hanya membereskan barang.Kita akan keluar kota sementara sampai liburan musim dingin berlalu."
‘’Apaaaa?Tapi mengapa tiba-tiba? Aku tidak ingin pergi. Bu guru Diana akan menikah dan aku akan menjadi pengiring pengantinnya."
"Lizzie, tolong mengertilah! Ini semua demi kebaikanmu."
"Aku tidak mau pergi. Aku tidak ingin meninggalkan desa ini dan tetap berada di sini. Aku ingin menghadiri pernikahan Bu guru Diana." Lizzie merajuk.
"Maafkan kami, tapi kita harus pergi besok.:
"Pokoknya aku tidak mau,’’teriak Lizzie.
Lizzie berlari keluar rumah sambil menangis.
"Lizzieee.....’’
Antonina mencoba mengejarnya, tapi Petro menahan istrinya.’’Jangan kejar dia! Biarkan dia sendiri dulu. Sebaiknya kita masuk di luar sangat dingin, Lizzie pasti sebentar lagi akan kembali."
"Baiklah."
Sekali lagi Antonina melihat ke arah jalan Lizzie berlari, lalu masuk ke dalam rumah. Lizzie terus berlari sambil menangis tidak menghiraukan tatapan penduduk desa yang berpapasan dengannya. Ia terus berlari dan berlari sampai akhirnya berada di tepi sungai.
Lizzie duduk di sebuah batu besar dan menangis di sana. Wajahnya yang putih bersemu merah telah basah oleh air matanya. Berkali-kali ia menghapus air matanya. Mata biru mungilnya menatap pemandangan yang terhampar di depannya. Ia ingin sekali menghadiri pernikahan gurunya.
Pohon-pohon mapel dan poplar yang berada di sepanjang sungai bergoyang-goyang di tiup angin dan menimbukan suara gesekan. Lizzie merinding kedinginan. Suara air sungai yang mengalir terdengar merdu disertai oleh kicauan burung. Ikan-ikan terlihat sangat jelas di sungai itu.
Lizzie kembali teringat kenangannya bersama Fanya pernah menangkap ikan di sungai ini ketika mereka baru saja berteman. Ia tersenyum ketika mengingat Fanya terjatuh disungai saat berusaha untuk menangkap ikan yang sangat lincah dan pada akhirnya yang berhasil menangkap ikan itu adalah Petro.
Lizzie mendesah dan butiran air mata kembali mengalir di wajahnya. Tanpa ia sadari seseorang telah berdiri di belakangnya.
"Hai gadis galak!’’
Lizzie langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia terkejut melihat pria itu, lalu Lizzue membuang wajahnya dan kembali menatap lurus ke depan.
"Kamu masih ingat aku?’’
"Kamu adalah Valdimir bukan?’’
"Tepat sekali. Ternyata kamu masih ingat aku. Namamu Lizzie, bukan? Kakakku Regina selalu membicarakan tentang dirimu sepertinya kakakku menyukaimu dan berharap mempunyai adik sepertimu. Hei, apa yang kamu lakukan di sini? Sepertinya kamu sedang menangis?’’
"Itu bukan urusanmu,’’jawabnya tidak perduli.
"Kamu masih marah padaku ya? Aku tahu aku salah, jadi maafkan aku."
Lizzie langsung kembali menoleh dan menatap tajam Vladimir.’’Jadi kamu mengakui ke salahanmu?’’
__ADS_1
"Iya. Apa kamu sudah merasa puas? Jadi kamu mau memaafkanku?’’
"Baiklah. Aku memaafkanmu."
Vladimir tersenyum senang.
"Kita berteman."
Vladimir mengulurkan tangannya pada Lizzie dan dengan ragu-ragu ia menjabat tangannya.’’Terima kasih sudah mau berteman denganku. Temanmu yang bernama Fanya sudah banyak cerita tentangmu. Ia bilang kamu adalah teman yang sangat menyenangkan dan juga baik. Sepertinya kalian berdua bersahabat dengan baik."
"Fanya adalah sahabat baiku."
Lizzie kembali menangis dan Vladimir dibuat bingung . Apa ia sudah berkata yang menyinggung perasaannya pikir Vladimir. Ia menepuk-nepuk bahu Lizzie dengan pelan.
"Sudah jangan menangis!’’
Tangisan Lizzie menjadi semakin keras.’’Kamu ini kenapa?’’
"Ayah dan ibuku memaksaku untuk pergi berlibur, tapi aku tidak ingin pergi,’’katanya sambil menangis terisak-isak.
"Sudah jangan menangis."
" Ibu hanya bilang kalau kami harus pergi besok. Aku sedih, jika harus pergi dari besok, karena aku tidak akan bisa menghadiri pernikahan guruku."
"Sayang sekali."
"Sudahlah jangan bersedih lagi "
Vladimir menghapus air matanya dengan lembut.’’Anak manis sepertimu jangan menangis terlihat jelek tahu. Tersenyumlah!’’
Vladimir mengecup kening Lizzie.
Lizzie merasa heran dengan sikap Vladimir , sikapnya pada dirinya tidak sama saat mereka bertemu di kamarnya atau di tepi hutan birch saat musim gugur. Mungkin yang dikatakan Fanya kepadanya ada benarnya, kalau Valdimir bukanlah orang yang menyebalkan, tapi orang yang baik pikirnya.
"Baiklah aku tidak akan menangis lagi."
"Nah begitu dong. Itu baru anak baik,’’katanya sambil mengacak-acak rambut Lizzie.
Vladimir mengambil sesuatu dari saku mantel coklatnya.’’Kemarikan tanganmu!’’perintahnya.
Lizzie pun mengulurkan tangannya. Vladimir meletakan sesuatu di tangannya.
"Apa ini?’’
"Itu boneka jari. Kamu bisa memakainya di jari-jarimu. Mainkanlah saat kamu sedih itu akan membuatmu terhibur. Aku sering memainkannya jika sedang tidak ada kerjaan. Kakakku yang membuatnya. Boneka jari itu untukmu."
"Ini untukku?’’
"Iya, boneka jari itu untukmu. Oh ya setiap boneka jari ada namanya . Sapi namanya momo, kucing namanya Kitty, kelinci namanya chiko, domba namanya gizmo, dan beruang namanya Teddy."
‘’Momo, Kitty, Chiko, Gizmo, dan Teddy,’’ulang Lizzie.
"Benar sekali."
"Terima kasih sudah memberikannya untukku."
Lizzie cepat-cepat memasukkan semua boneka jarinya ke dalam saku mantel.
"Sebaiknya kamu pulang. Pasti orang tuamu sangat mencemaskanmu, lagi pula ini sudah sore."
"Baiklah aku akan pulang."
Lizzie berdiri dan membersihkan mantelnya yang terkena salju.’’Aku akan mengantarkanmu pulang."
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Tidak apa-apa. Ayo!’’
Vladimir meraih tangan Lizzie dan mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
"Itu rumahku,’’seru Lizzie ketika mereka telah sampai di depan rumahnya.
"Jadi itu rumahmu. Rumah yang nyaman dan sederhana."
"Apa mau masuk dulu? ‘’
"Tidak perlu. Lain kali saja. Ayo cepat masuk! Ayah dan ibumu pasti sudah menunggumu."
Lizzie berlari masuk ke dalam rumah , setelah Lizzie benar-benar masuk ke dalam rumah , Vladimir pergi menuju rumahnya dengan berjalan kaki.I tiba dirumahnya, tapi suasana rumah itu sangatlah gelap dan sepi tidak seperti biasanya.
’’Ayah....ibu....dimana kalian?’’
Tidak ada jawaban dan suasana rumah sangat hening yang terdengar hanya suara detak jam dinding. Lizzie memeriksa setiap ruangan , tetapi ayah dan ibunya tidak ditemukan. ia mulai berpikiran yang macam-macam. Mungkin saja orang tuanya telah pergi meninggalkannya sendirian.
’’Tidak...tidak...ayah dan ibu pasti tidak akan meninggalkanku di sini sendirian,’’gumannya. Suasana dapur pun terlihat sangat sepi dan dingin.
"Kemana mereka?’’
Lizzie kemudian mencari mereka di ruang keluarga dan melihat pintu sedikit terbuka. Pelan-pelan pintu itu dibuka.’’Ayah...ibu....kalian ada di sini?’’
Lizzie pun tidak menemukan ayah dan ibunya di sini. Ia pun bermaksud mencarinya di lantai atas, tapi ketika akan meninggalkan ruang keluarga, ia melihat sesuatu yang mengerikan di belakang sebuah sofa. Detak jantungnya berlompatan tidak karuan. Ia terlihat ketakutan.
Darah mengenang di lantai marmer yang putih. Lizxie berusaha melihat dengan jelas dengan mendekatinya. Ia pun berdiri terpaku dan tubuhnya gemetar. Bibirnya bergetar hebat. Air mata mulai berjatuhan ke pipinya.’’Tidak...ini tidak mungkin. Pasti ini hanya mimpi."
Tanpa ia sadari, Lizzie berjalan mundur dengan ketakutan yang luar biasa. Ia melihat ayah dan ibunya tergeletak di lantai tidak bergerak dengan berlumuran darah. Lizzie berusaha untuk pergi dari sana untuk mencari pertolongan, tapi ia tidak bisa keluar dari rumah itu karena rumah itu sudah di selimuti oleh asap tebal dan api mulai terlihat di sekeliling rumah.
Lizzie pun terperangkap di dalam rumah. Asap mulai memasuki paru-parunya dan ia mengalami kesulitan bernafas.
’’Uhuk....uhuk...uhuk...’’
Pandangan matanya mulai mengabur dan merasakan pening di kepala.
’’Toloooonggg....tolooonggg."
Ia berharap ada seseorang yang menolongya meskipun kemungkinannya sangat kecil ada orang yang mendengarnya. Di saat kesadarannya mulai hilang, ia melihat seseorang berdiri di sampingnya, lalu Lizzie pun pingsan. [ ]
__ADS_1