Shattering Heart

Shattering Heart
(S3): Pergi ke Italia


__ADS_3

Ponsel Vladimir berdering dan ia cepat-cepat menerima telepon itu.


"Selamat siang!"


"Selamat siang! Malam ini kamu punya waktu? Aku ingin mengundangmu makan malam bersama kami,"kata Aleandra.


"Malam ini aku punya banyak waktu. Tentu saja aku akan memenuhi undangan makan malam kalian."


"Terima kasih. Kamu datang saja jam 7 malam. Bagaimana?’’


"Baiklah. Terima kasih atas undangannya."


Vladimir menutup teleponnya dan melamun.


"Lizzie, aku harap di mana pun kamu berada. Kamu harus baik-baik saja. Ya Tuhan, di mana Lizzieku sekarang. Aku sangat merindukannya dan ingin sekali bertemu dengannya. Tolonglah pertemukan kami kembali. Aku tidak bisa hidup tanpa dia."


Air mata tidak terasa jatuh dari sudut matanya.


πŸ€πŸ€πŸ€


Venice, Italia


"Pagi Lizzie!’’


"Pagi! Itu makan pagimu."


Lizzie langsung duduk di meja dan menyantap makananya.


"Sven di mana? β€˜β€™


"Dia pagi-pagi sekali sudah pergi ke restoran."


"Oh."


"Cepat habiskan makanmu, sebentar lagi kita akan pergi ke sana."


Lizzie cepat-cepat menghabiskan makan paginya, lalu mereka pergi ke sana dengan berjalan kaki sambil menikmati indahnya kota Venice di pagi hari. Semua warga di sini sudah memulai aktivitasnya. Lizzie melihat orang yang menaiki gondola.


"alau ada kesempatan aku ingin menaiki gondola menyusuri kanal mengelilingi kota Venice."


"Tentu saja kamu dapat melakukannya dan lebih romantis lagi kalau kamu naik gondola bersama kekasihmu."


"Sepertinya itu tidak mungkin dilakukan."


"Kenapa?’’


"Karena Vladimit tidak ada di sini dan lagi pula aku ingin menjauh dulu darinya. Aku ingin memberi sedikit hukuman untuknya, karena dia tidak datang untuk menolongku. Aku masih kesal kepadanya."


Tidak lama kemudian Lizzie tiba di restoran milik Hendrik dan Sven. Mereka membereskan toko dan mengeluarkan meja dan kursi. Restorannya terletak di tepi pinggir kanal. Tiba waktunya untuk makan siang, pengunjung sudah mulai berdatangan dan Lizzie sibuk membantu Hendrik masak, sedangkan Sven dan pegawai lainnya sibuk melayani para tamu.


πŸ€πŸ€πŸ€


Moskow


Jam 7 malam tepat Vladimir sudah tiba berada dikediaman Romanov dan ia disambut oleh Aleandra dan Dimitri. Sudah 3 minggu ia tidak datang kemari. Rasanya di rumah ini sepi tanpa adanya kehadiran Lizziw disini. Mereka menuju ke ruang Makan dan makanan enak sudah dihidangkan di atas meja.


" Apa kamu belum mendapatkan kabar dari Lizzie?"tanya Dimitri cemas.


"Sama sekali belum ada."


"Aku takut hal yang buruk terjadi kepadanya,"kata Aleandra. Air matanya sempat menetes, tapi cepat-cepat ia menghapusnya


Tidak lama kemudian mereka mulai makan malam dengan tenang. Setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Mereka membicarakan segala kemungkinan tentang keberadaan Lizzie.


"Apa Lizzie pergi ke Jerman menemui Reiko dan Nicholas?"tanya Aleandra.


"Lizzie tidak ada di sana. Aku sudah menghubungi mereka,"kata Dimitri.


Vladimir meminta ijin kepada mereka untuk melihat kamar Lizzie. Aleandra dan Dimitri mengijinkannya. Di dalam kamar Lizzie tidak ada yang berubah. Ditempat tidurnya ada boneka Teddy bear pemberiannya. Tempat tidurnya rapi, karena sudah 3 minggu tidak ditempati. Vladimir menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar dan duduk di pinggir tempat tidur.


Vladimir mengelus-elus tempat tidur di mana Lizzie tidur, kemudian mengambil foto Lizzie yang berada di samping tempat tidurnya. Ia membelai foto Lizzie dengan wajah sedih.


"Lizzie, kamu berada di mana? Kumohon kembalilah padaku. Aku merindukanmu."


Air mata Vladimir menetes dan membasahi foto itu, kemudian ia mencium foto Lizzie dan memeluknya sambil menangis. Akhirnya ia dapat menangis setelah selama 3 minggu di tahannya. Vladimir kembali meletakan foto Lizzie kembali ke tempatnya dan cepat-cepat menghapus air matanya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Vladimir kemudian turun ke bawah dan berpamitan pada orang tua Lizzie dan ia pulang dengan wajah sedih .


πŸ€πŸ€πŸ€


Venice,Italia


Lizzie masih berada di restoran. Disela-sela istirahatnya Hendrik sering melihat Lizzie melamun dan menangis sambil memandangi foto Vladimir.


"Anak itu ternyata merindukan kekasihnya."


Hendrik mendekati Lizzie dan duduk di sampingnya.


"Lizzie, kamu menangis ya?’’


"Ti-tidak. Aku tidak menangis."


"Jangan bohong. Tadi kamu menagis. Kamu tidak perlu malu."


"Maaf."


"Kalau kamu merindukan orang itu kenapa kamu tidak telepon dia saja."


"Sebenarnya aku ingin melakukannya, tapi jika aku teringat dia tidak perduli dengan keadaanku sewaktu aku diculik dan tidak mau menyelamatkanku, hatiku menjadi marah."


"Maafkan saja dia. Sepertinya kamu sangat mencintainya dan aku yakin kalau Vladimir juga mencintaimu. Kalian berdua tidak dapat dipisahkan. Buktinya kamu menangis, karena kamu merindukannya. Lizzie, ayo ikut denganku sebentar. Kita jalan-jalan di sini, mungkin itu akan membuatmu lebih baik."


Lizzie mengikuti Hendrik dari belakang.


"Kita akan pergi kemana? Bagaimana dengan restoran?’’


"Nanti juga kamu akan tahu. Tenang saja ada Sven yang akan mengurusnya, lagi pula sekarang tidak banyak pengunjung."


Setelah beberapa menit berjalan, mereka berhenti di depan sebuah jembatan.

__ADS_1


"Lizzie, lihatlah jembatan apa itu?’’


"Tidak tahu."


"Jembatan itu adalah jembatan paling romantis di Venice. Namanya Venice Rialto Bridge. Ada pepatah ifΒ  you kiss your lover under Rialto bridge, then your love will be everlasting love. Banyak sepasang kekasih yang jauh-jauh datang ke sini hanya untuk mengunjungi jembatan itu dan berciuman di sana."


"Benarkah?’’


"Kalau masalah benar atau tidak aku tidak tahu. Itu hanya legenda dari jembatan itu, tapi banyak orang yang mempercayainya. Sebaiknya kamu coba saja dengan kekasihmu. Siapa tahu itu benar."


Lizzie hanya tersenyum, kemudian mereka meneruskan perjalanan lagi, kali ini mereka pergi ke Piazza san Marco dan di sana Hendrik membeli makanan untuk burung merpati. Piazza san Marco merupakan lapangan terbuka untuk umum dan tepat berada di depan gereja St. Mark’s Basilica gereja paling terkenal di Venice.


Lizzie terlihat senang, karena di sana banyak burung merepati dan ketika ia memberikan makanan ke burung-burung itu, Lizzie langsung diserbu oleh burung-burung merpati itu. Burung itu ada yang berdiri di bahunya, di kepalanya, di tangannya dan di pahanya. Lizzie tidak bisa bergerak, karena burung-burung itu mengerumuninya dan ia tertawa.


"Lizzie, syukurlah kamu sudah kembali ceria lagi."


Lizzie tersenyum.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."


Setelah makanan untuk merpati habis, Lizzie dan Hendrij memutuskan untuk pergi dari sana. Hari sudah menjelang malam. Hendrik menyuruh Lizzie untuk pulang. Sebelum pulang, ia menyempatkan diri untuk melihat pemandangan kota Venice di malam hari dan menghirup udara malam. Sambil memandangi kota Venice, Lizzie memikirkan Vladimir. Jauh dilubuk hatinya ia sangat ingin bertemu dengannya.


"Seandainya dia disini bersamaku, pasti akan sangat menyenangkan."


Air mata mulai menetes kembali dan Lizzie dengan cepat menghapusnya. Iapulang melewati jembatan Rialto.


"Apa benar legenda itu ya?’’


Lizzie melihat sepasang kekasih tengan berciuman di jembatan itu. Wajahnya memerah dan cepat-cepat pergi dari sana.


πŸ€πŸ€πŸ€


Moskow


4 hari kemudian


Paginya Vladimir dibangunkan oleh suara teleponnya.


"Tuan Kalashnikov, Saya sudah mengetahui keberadaan Nona Lizzie."


Vladimir langsung bangun dari tempat tidurnya.


"Benarkah?’’


"Iya."


"Di mana dia?’’


"Nona Lizzie sekarang ada di Venice, Italia."


"Apaaa?"


"Nona Lizzie pergi ke sana dengan dua orang pria. Namanya Hendrik dan Sven."


"Terima kasih atas informasinya."


Vladimir menutup teleponnya dan pergi ke kamar mandi, lalu berpakaian dan cepat-cepat menemui ayahnya di ruang makan.


"Ada apa? Pagi-pagi sudah berteriak."


"Aku tahu di mana Lizzie berada."


"Benarkah?’’


Nicola langsung menyimpan koran yang dibacanya di atas meja makan.


"Iya."


"Di mana dia?’’


"Di Venice, Italia."


"Italia? Kenapa Lizzie bisa berada di sana?’’


"Aku juga tidak tahu."


"Apa kamu sudah memberitahu orangtua Lizzie?’’


"Belum. Aku akan segera memberitahu mereka."


"Kapan kamu akan menjemput Lizzie di sana?’’


"Secepatnya setelah persiapanku ke sana selesai."


"Cepat bawa dia pulang dan segera nikahi dia. Jangan mengulur waktu lagi. Nanti Lizzie akan menghilang lagi darimu."


"Aku akan segera menikahinya setelah aku bertemu Lizzie di sana."


"Bagus."


Vladimir cepat-cepat menghabiskan makanannya dan pergi ke kamarnya, lalu ia menelepon Dimitri untuk memberitahu keberadaan Lizzie.


"Selamat pagi!"


"Selamat pagi, Vladimir!"


"Aku sudah menemukan Lizzie."


"Benarkah? Sekarang Lizzie ada di mana?"


"Lizzie ada di Venice."


"Benarkah?"


"Iya."


"Kapan kamu akan pergi ke sana?"


"Aku tidak tahu. Secepat mungkin aku akan pergi ke sana."

__ADS_1


"Mungkin dua hari lagi kami akan pergi ke sana. Kamu bisa ikut dengan kami."


"Eh, benarkah?"


"Iya."


"Baik. Aku akan ikut. Terima kasih."


"Sama-sama."


Vladimir menutup teleponnya dan segera memberitahu rencana kepergiannya ke Italia dan Nicola menyetujuinya. Ia datang ke kantor hari ini dengan suasana hati yang senang. Ia tersenyum pada setiap orang yang berada di sana dan para pegawai juga jadi keheranan karena sudah 3 minggu ini Vladimir selalu memasang wajah sedih.


"Zoya, 2 hari lagi aku akan pergi ke Italia untuk menjemput Lizzie."


"Lizzie, ada di Italia?’’


"Benar."


"Tapi bagaimana bisa dia sampai ada di sana?’’


"Jangan tanyakan itu padaku, karena aku juga tidak tahu."


"Semoga di sana Anda akan segera menemukan Lizzie "


"Semoga saja.Terima kasih."


πŸ€πŸ€πŸ€


Hari kepergian mereka ke Italia sudah tiba. Hari ini Vladimir sedang sibuk mengecek barang yang akan di bawanya ke sana. Nicola tidak ikut ke sana karena tidak enak badan.


"Kamu sudah siap berangkat?’’


"Iya."


"Segara temukan dia di sana."


"Aku tahu."


"Hati-hati di jalan!’’kata Juliet.


Vladimir pergi dan menuju rumah orangtua Lizzie.Tidak berapa lama kemudian, Vladimir sudah berada di sana. Sara dan Maribel.


"Kalian ikut juga."


"Tentu saja. Kami ingin segera bertemu dengan Lizzie."


"Sebaiknya sekarang kita masuk mobil. Kita akan segera berangkat."


Mereka semua masuk ke dalam mobil dan kedua mobil yang mengangkut mereka meninggalkan halaman rumah dan melaju kencang menuju bandara. Setelah sampai di bandara mereka masuk kedalam pesawat. Di dalam pesawat mereka bebas duduk dimana saja. Vladimir duduk didekat jendela dan melihat ke arah luar.


"Lizzie, sebentar lagi kita akan bertemu. Tunggu aku sayang."


Pesawat sudah mulai meninggalkan landasan dan pesawat itu pergi membawa mereka ke Italia.


πŸ€πŸ€πŸ€


Venice,Italia


Lizzie masih tidur dan mengigau selalu memanggil-manggil nama Vladimir. Hendrik yang mendengar Lizzie mengigau hanya geleng-gelengkan kepala.


"Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Sudah jelas dia merindukan orang itu, tapi tidak ingin bertemu dengannya."


Hendrik menutup kembali kamar Lizzie.


Lizzie bangun pagi-pagi sekali dan mulai membersihkan apartemen. Setelah itu mereka pergi bersama-sama ke tempat kerja. Akhir-akhir ini Lizzie kelihatan murung. Dalam perjalanannya menuju ke restoran, Lizzie melihat ada persiapan pernikahan di gereja St. Marks Basillica. Ia membayangkan kalau dirinya akan menikah dengan Vladimir.


"Lizzie."


Lizzie tersadar dari lamunannya.


"Iya."


"Kamu kenapa? Pagi-pagi sudah melamun."


"Tidak ada apa-apa."


Lizzie kemudian meneruskan jalannya. Sepanjang hari di restoran ia tidak kelihatan bersemangat. Sebentar-sebentar menitikan air mata.


"Lizzie, sebaiknya hari ini kamu istirahat saja. Tidak perlu bekerja."


"Tapi....’’


"Tidak ada tapi-tapian. Pulanglah!’’


"Baiklah. Maaf."


Lizzie melepas celemeknya dan keluar dari restoran. Iya duduk-duduk di Piazza san Marco sambil memandangi burung-burung merpati yang berkeliaran dan sambil memikirkan Vladimir. Wajahnya berubah sedih setiap kali teringat pria itu, lalu Lizzie memutuskanΒ  mengelilingi kota Venice dengan berjalan kaki. Setelah jalan-jalan Lizzie merasa sangat lelah dan merasa tidak enak badan. Ia berbaring di tempat tidurnya dan tidak lama kemudian terlelap tidur.


πŸ€πŸ€πŸ€


Pada malam harinya Vladimir dan rombongan sudah tiba di Venice,Italia dan mereka langsung menuju hotel. Pemandangan Venice di malam hari sangat indah.


"Akhirnya kita sampai juga di sini,"kata Maribel.


"Iya,"kata Sara.


Vladimir melihat pemandangan kota Venice lewat kaca mobil sambil melamun.


"Lizzie, aku sudah lebih dekat denganmu sekarang. Kamu pasti berada disuatu tempat di kota ini. Kita akan segera bertemu. Aku akan mencarimu besok."


Akhirnya mereka sudah berada di hotel. Hotelnya sangat besar dan berdiri diatas air. Satu persatu mereka turun dari gondola.


Mereka segera masuk dan disambut oleh pelayan hotel, kemudian para pelayan itu mengantarkan tamu-tamunya ke kamar masing-masing. Vladimir kelihatan sangat lelah sekali, karena sudah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Setelah mandi dan berganti pakaian, ia langsung tertidur dengan lelap.


Keesokan paginya Vladimir bangun sangat pagi dan keluar rumah untuk menikmati kota Venice dan menghirup udara segar di pagi hari. Ia mulai menyusuri kota Venice berharap dia dapat melihat Lizzie di jalanan kota Venice, meskipun kemungkinannya sangat kecil.


Matahari sudah mulai terbit dan sinarnya sudah menerangi kota Venice dari gelapnya malam. Vladimir menikmati pemandangan matahari terbit dari grand canal dan sudah banyak orang yang sudah memulai aktivitas mereka sehari- hari. Ia tertarik untuk menaiki gondola dan menyusuri semua kanal yang ada di sana dan mengelilingi kota Venice.


Pandangan Matanya terus berkonsentarsi diantara orang –orang disini untuk menangkap sosok seorang perempuan bernama Lizzie Hari sudah semakin terang, Vladimir merasa lapar, karena dari pagi belum sarapan pagi. Setelah selesai berkeliling kota Venice dengan gondola, ia masuk ke dalam salah satu kafe yang sudah buka.

__ADS_1


Setelah selesai makan Vladimir kembali mencari Lizzie, meskipun ia sudah lelah tetap mencarinya. Dia bertekad apa pun yang terjadi harus segera menemukan Lizzie. [ ]


__ADS_2