Shattering Heart

Shattering Heart
(S2): Pengakuan Vladimir


__ADS_3

Lizzie duduk termenung di kamarnya sudah satu minggu berlalu sejak ia menyadari perasaannya kepada Vladimir dan selama ini ia berusaha menghindar darinya. Akhir-akhir ini Vladimir sering berada di dekat kakeknya. Seperti kemarin malam Vladimir mengajaknya untuk makan malam, tapi Lizzie menolaknya dan setiap kali pria itu mengajaknya jalan keluar, ia kembali menolaknya. Lizzie tahu ia telah membuat pria itu kecewa.


Lizzie hanya tidak ingin perasaannya berkembang terlalu jauh untuk pria itu sebisa mungkin ia ingin membuang jauh-jauh perasaan cintanya untuk Vladimir, karena Lizzie tahu pria itu tidak mungkin membalas cintanya. Vladimir mencintai Fanya dan mereka berdua saling mencintai. Ia tidak mungkin merebut Vladimir dari Fanya, karena Fanya adalah sahabatnya.


Lizzie tidak ingin persahabatannya dengan Fanya hancur gara-gara seorang pria, oleh karena itu ia harus melupakan perasaannya kepada Vladimir. Apakah ia bisa, jika pria itu selalu berada di sekitarnya dan sepertinya itu akan sulit pikir Lizzie.


Lizzie memilih untuk membersihkan setiap sudut kamarnya untuk mengalihkan pikirannya dari Vladimir. Suara ketukan dipintu mengejutkanya. Lizzie tambah terkejut ketika Ivander berada di depan pintu kamarnya.


" Ivander,"serunya terkejut.


" Hai Lizzie! Apa kamu tidak akan mengizinkan aku masuk?’’


"Oh tentu saja.Silahkan masuk!"


Ivander langsung masuk dan melihat ke sekeliling kamar Lizzie.


"Cukup bersih," komentarnya.


"Aku baru saja membersihkannya."


"Kapan kamu datang?"


" Tadi pagi."


Ivander duduk di sofa dan Lizzie bertanya-tanya dalam hati kenapa Ivander datang menemuinya tanpa memberitahunya terlebih dahulu kemudian ia duduk di depan Ivander.


"Juliana dan Amber mana?"


"Mereka tidak ikut."


"Sayang sekali. Aku sangat merindukan mereka."


"Aku senang kamu baik-baik saja."


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja. Ada apa tiba-tiba datang menemuiku?"


"Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja."


" Hanya itu?"


"Ya sebenarnya aku mencemaskanmu."


"Aku? Memangnya kenapa?"


Ivander kemudian teringat dengan perkataan Jack dua hari yang lalu saat pria itu berkunjung ke rumahnya.


" Aku ditugaskan oleh Nicola untuk menyelidiki saudara kembar Anthony Lennox. Nicola merasa saudara kembar Anthony adalah pelaku yang sebenarnya."


"Ini tidak mungkin."


Jack pun menceritakan tentang pengkuan Milly kepada Nicola.


" Saudara kembar Anthony yang bernama Grigor Lennox tinggal di Zelenogradsk. Kami sedang mengawasi rumahnya."


"Apa pria itu akan kembali menyakiti Dimitri dan keluarganya?"


"Aku tidak tahu. Kami akan selalu mengawasi gerak-geriknya."


"Ivander,"seru Lizzie yang membuat Ivander terkejut.


" Ada apa?"


"Tidak apa-apa."


Setelah terdiam sebentar Ivander meremas bahu Lizzie.


"Kamu harus hati-hati. Jangan bicara dengan orang asing yang tidak kamu kenal."


Lizzie dapat melihat jelas kekhawatiran Ivander.


"Berjanjilah?"


"Baiklah. Tapi ada apa?"


"Aku hanya ingin kamu selamat saja."


Ivander kemudian meninggalkan kamar Lizzie yang membuat gadis itu kebingungan.


🍎🍎🍎


Vladimir berbaring di tempat tidurnya sambil memegang sebuah foto. Di foto itu Fanya tersenyum bahagia. Ekspresi wajah Vladimir melembut, ketika melihat Fanya yang tersenyum seperti itu. Ia beruntung sekali dapat mengenalnya dan pasti akan bahagia kalau Fanya akan menjadi istrinya. Vladimir yakin Fanya akan menjadi istri yang baik suatu hari nanti.


 Ketukan di pintu membuatnya terkejut. Kakaknya, Regina berdiri diambang pintu. Seperti biasa kakaknya itu selalu terlihat cantik dengan perutnya yang membesar. Kakaknya telah menikah dengan sahabatnya dan mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Dalam hal ini ia telah berhasil menjodohkan mereka. Vladimir tersenyum geli ketika mengingat perjodohan kakaknya. Ia tidak membayangkan kalau usahanya akan berhasil.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?’’


 "Rahasia."


 "Kamu ini,’’kata Regina gemas sambil mengacak-acak rambut Vladimir.


 "Ah kakak,’’serunya kesal sambil merapikan kembali rambutnya.


 "Sepertinya adikku tersayang ini sedang merindukan seseorang."


Vladimir segera merebut foto Fanya yang sudah dipegang kakaknya.’’Itu bukan urusan kakak."


 "Kapan kamu akan melamarnya? Kamu dan Fanya sudah lama menjadi sepasang kekasih. Apa lagi yang kamu tunggu?’’


 Wajah Vladimir terlihat muram, lalu memandang foto Fanya. "Aku sudah mengambil keputusanku terhadap Fanya."


 "Apa kamu akan menikahinya?’’

__ADS_1


 "Nanti aku akan memberitahu kakak kalau aku sudah berbicara dengan Fanya."


 "Baiklah. Aku harap kamu mengambil keputusan yang terbaik."


"Aku tahu karena ini juga menyangkut kehidupanku."


Setelah Regina pergi, Vladimir kembali melihat foto yang di pegangnya.’’Fanya,’’gumamnya. Setelah berpikir sejenak ia mengambil teleponnya yang berada di meja di samping tempat tidurnya, lalu ia menelpon Fanya.


🍎🍎🍎


Ketika hari beranjak sore Vladimir memarkirkan mobilnya di depan Romanov mansion. Ia berencana mengajak kembali Lizzie untuk makan malam. Baru saja ia turun, ia melihat Lizzie turun dari sebuah mobil dengan seorang pria yang membawakan belanjaan. Ia keluar dari mobilnya dan menghampiri keduanya.


"Selamat sore!’’


Lizzie dan Ivander terkejut melihat Vladimir yang tidak disangka akan datang menemuinya.


"Apa yang kamu lakukan disini?’’


"Tadinya aku ingin mengajakmu makan malam."


"Maafkan aku Vladimir! Aku tidak bisa. Hari ini aku berencana akan makan malam bersama di sini dengsn keluargaku "


"Sayang sekali."


"Kalau kamu mau, kamu bisa makan malam bersama dengan kami, bagaimana?Lizzie akan memasakan makan malam untuk kita."


  Lizzie terkejut dengan ajakan Ivander. Ivander menoleh kepada Lizzie.’’Tidak apa-apa kan ?’’tanyanya penuh arti.


"Te….tentu saja. Kalau kamu mau kamu boleh bergabung bersama kami,"kata Lizzie.


Vladimir tersenyum lebar .


"Aku menerima undangan kalian."


"Jadi bisakah kamu membantuku membawakan belanjaan ini?’’kata Ivander .


"Tentu saja."


Vladimir segera mengambil barang belanjaan dari Ivander.  Lizzie memperhatikan Vladimir yang sedang duduk bersama dengan Ivander di ruang tamu. Setelah makan malam , mereka berbicara kembali di ruang tamu ditemani oleh sebotol wiski.


Vladimir tersenyum tipis, lalu menyesap minumannya lagi. Ia melirik jam tangan.


"Maaf sepertinya aku harus segera pulang,karena besok aku harus bekerja kembali."


"Baiklah. Hati-hati di jalan!" kata Dimitri.


Vladimir mengambil jasnya yang  tersampir di kursi.


"Terima kasih untuk undangan makan malamnya."


"Lain kali kita makan malam bersama lagi. Lizzie antar Vladimir keluar,"kata Sergei.


Dalam hitungan detik, Vladimir telah menciumnya membuat Lizzie terkejut dan perlahan ia mulai menyukai apa yang di lakukan oleh Vladimir kepadanya


"Maafkan aku Fanya. Ini yang pertama dan terakhir," katanya dalam hati.  Lizzie menutup matanya menikmati setiap sentuhan bibir Vladimir di bibirnya.


Lizzie menatap kepergian Vladimir sampai mobil yang dikendarainya menghilang dari hadapannya. Ia masih berdiri di sana dengan tangan masih menyentuh bibirnya. Air mata perlahan menetes. Ia tidak mengerti kenapa Vladimir menciumnya bukankah pria itu mencintai Fanya dan segera akan menikah dengannya. Ia harus mengakhiri perasaan ini, karena ia tidak mau hubungan persahabatan mereka rusak, karena satu pria.


Lizzie berlari masuk ke dalam dan terkejut melihat Ivander yang masih ada di ruang tamu menatapnya cemas. Lizzie cepat-cepat menghapus air matanya dan berlari ke kamarnya tanpa mempedulikan kecemasan Ivander.


Keesokan paginya, Lizzie mendesah lega, karena ia tidak menemukan Vladimir di mana pun di rumah ini . Setelah merapikan pakaiannya yang kusut ,  Lizzie masuk ke kamar Sergei. Ia tersenyum senang melihat kedatangan Lizzie.


"Jadi cerita apa yang ingin kamu bacakan untukku?’’


Lizzie memperlihatkan buku cerita yang ia bawa." The enchanted castle."


"Baiklah. Bacakan untukku!’


Lizzie membacakan cerita itu dengan serius dan terhanyut ke dalam ceritanya sampai-sampai ia tidak mempedulikan di sekelilingnya. Sergei yang melihatnya hanya tersenyum dan ia teringat dengan Dimitri yang juga sering membacakan cerita untukknya.


Di depan pintu Vladimir memperhatikan Lizzie yang sedang membaca cerita untuk kakeknya. Sergei tersenyum kepadanya dan menyuruhnya untuk masuk. Tanpa mengeluarkan sedikit suara pun , Vladimir duduk di belakang Lizzie. Gadis itu menutup bukunya saat ia selesai membaca halaman terakhir dan tersenyum kepada kakeknya.


"Bagaimana menurut kakek? Bagus tidak?’’


"Cerita yang bagus,"jawab Vladimir.


Lizzie langsung menoleh ke belakang dan terkejut melihat pria itu sedang duduk di belakangnya dengan tersenyum  kepadanya.


"Apa yang kamu lakukan di sini pagi-pagi?"tanya Lizzie terkejut. Seharusnya ia tidak perlu merasa heran atau terkejut lagi melihat Vladimir yang akhir-akhir ini sering berkeliaran di Romanov mansion.


" Aku datang untuk menemuimu. Ada yang ingin aku bicarakan sebelum aku pergi ke kantor."


"Sepertinya sangat penting."


"Mungkin. Aku sudah memikirkannya sejak semalam."


"Kalian bicaralah di luar,"kata Sergei.


Lizzie keluar kamar di ikuti oleh Vladimir.  Ia terus saja berjalan tanpa mempedulikan pria itu sedang mengikutinya dari belakang. " Lizzie tunggu!’’teriaknya dan ia berhasil menyusulnya, dicengkeramnya tangan Lizzie.


"Kamu jalannya cepat sekali."


"Karena kamu berjalan terlalu lambat."


" Apa kamu mencoba menghindariku?’’


"Aku tidak menghindarimu."


Vladimir menatap Lizzie sejenak dan mencari sebuah jawaban . "Ah apakah gara-gara kemarin malam aku menciummu? Apa kamu marah?’’


Tentu saja ia marah mana ada wanita yang tidak marah, jika ada pria yang tiba-tiba menciumnya tanpa seizinnya dan mencuri ciuman pertamanya meskipun ia menyukai ciuman itu sekarang Lizzie sangat menyesalinya. Ia seperti seorang pengkhianat terhadap sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Iya aku marah dan aku tidak suka. Kenapa kamu lakukan itu kepadaku? Bukankah kamu sudah memiliki seorang kekasih, jika kekasihmu tahu pasti dia akan sedih dan marah kepadamu."


"Iya kamu memang benar. Fanya akan marah jika kekasihnya mencium wanita lain, tapi aku tidak akan minta maaf kepadamu, karena aku secara sadar memang ingin menciummu dan aku senang ternyata aku berhasil melakukannya."


"Kamu…’’serunya kesal.


"Selama ini aku memang sudah berciuman dengan banyak wanita, tapi tidak diantara satu pun yang melibatkan perasaan, tapi kamu beda. Lizzie, aku mencintaimu."


Lizzie membelalakan matanya terkejut. Ia hampir tidak percaya apa yang dikatakan Vladimir.


"Apa kamu bilang?’’


"Aku mencintaimu,’’katanya dengan suara serak.


"Apa kamu sudah gila? Aku rasa semalam kamu salah makan."


"Aku kan semalam makan masakanmu dan mungkin kamu sudah menaburkan ramuan cinta untukku."


"Mana ada hal seperti itu. Pokoknya kamu tidak boleh mencintaiku. Tidak boleh."


"Kenapa?’’


"Itu sudah jelas. Kamu tidak boleh membuat Fanya sedih gara-gara patah hati dan bukannya selama ini kamu mencintai Fanya."


Sorot mata biru Vladimir meredup. Ia melepaskan tangan Cassei membuat gadis itu merasa kesakitan akibat cengkeraman kuat tangannya. "Aku tidak pernah mencintai Fanya."


Perkataan Vladimir membuat Lizzie terkejut.


"Apa maksudmu?’’


"Fanya adalah gadis yang sangat baik dan pantas dicintai. Awalnya aku mengira aku akan mencintainya begitu mudah, tapi aku tidak bisa melupakanmu. Kamu adalah cinta pertamaku dan aku sudah mencintaimu sejak dulu sebelum kamu memiliki kekasih."


"Seharusnya sejak awal , kamu tidak pernah menerima cintanya . Dia pasti akan sangat sedih. Vladimir, kamu sungguh keterlalulan’’.


"Aku akan bicara dengan Fanya secara langsung. Dia akan datang dua hari lagi dan kami akan bicara. Aku yakin Fanya akan mengerti. Lizzie, kamu tidak perlu menjawab perasaanku sekarang meskipun kamu menolaknya, aku akan tetap putus dengan Fanya."


"Aku mohon, jangan putus dari Fanya! Dia sepertinya sangat mencintaimu, jika kamu tetap melakukannya, Fanya akan sedih."


"Aku sudah tidak ingin membohongi perasaanku dan perasaan Fanya lagi, jika aku masih tetap bersamanya, itu sama saja membohongi perasaan kami masing-masing dan itu akan menyakiti Fanya lebih dalam lagi. Aku harap kamu mengerti."


Selama satu menit mereka terdiam dan suasana menjadi hening. Suara deringan ponsel Vladimir membuat mereka terkejut. Vladimir melihat nama ayahnya di layar ponselnya. Ia menerimanya dan terdengar suara ayahnya dari seberang telepon.


"Aku akan segera kesana."


Vladimir segera memutuskan sambungan teleponnya.


"Aku harus pergi. Ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Pikirkanlah perkataanku baik-baik! Sejujurnya aku tidak ingin menyakiti siapa pun terutama menyakiti Fanya."


Setelah mengatakan itu Vladimir pergi.  Lizzie menyandarkan dirinya di tembok berusaha menenangkan dirinya. Perasaannya sekarang tidak menentu. Ia memang mencintai Vladimir dan senang cintanya terbalas, tapi di sisi lain , ia juga tidak ingin membuat Fanya sedih.


Lizzie sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Ia tidak menyangka kalau kehidupannya akan menjadi semakin rumit saja sekarang ia harus terjebak dalam masalah perasaan Vladimir dan Fanya. Lizzie mendongkakkan kepalanya ke atas menahan air matanya yang akan jatuh.


🍎🍎🍎


Vladimir memarkiran mobilnya di sebuah rumah tua yang sudah lama tidak berpenghuni. Tumbuhan liar tumbuh di mana-mana dan banyak sekali kaca-kaca jendela yang pecah dan sebagian atap rumah sudah kehilangan atapnya. Angin berhembus dengan kencang menggoyangkan daun rumput-rumput liar tinggi disekitarnya. Vladimir membuka pagar besi tua yang sudah berkarat dan menimbulkan bunyi yang lumayan bising.


Ia sama sekali tidak tahu, apa yang membuat ayahnya menyuruh datang ke rumah tua yang seram ini. Vladimir mengitari halaman rumah itu yang terlihat sangat sepi.


"Halo! Apa ada orang?’’teriaknya. Vladimir melonjak terkejut, saat ia merasakan ada yang menyentuh bahunya. ‘’Ayah,’’panggilnya. Vladimir mendesah lega.


"Ayo ikuti aku!’’perintah Nicola.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kita harus bertemu di sini?’’


"Nanti juga kau akan tahu sendiri."


Vladimir mengikuti ayahnya dari belakang dan memasuki rumah tua itu lewat pintu masuk belakang. Ia dapat mencium bau apak yang menguar dari rumah tua itu. Dari kegelapan muncul seseorang yang ia kenal. "Tuan Carver,’’panggilnya.


"Kita bertemu lagi Vladimir."


"Apa yang Anda lakukan di sini?’’


"Begini. Nicola menyuruhku untuk menyelidiki dua orang yang mencurigakan di Zelenogradsk saat terjadi kebakaran di rumah keluarga Thusenka. Awalnya kami tidak menganggap mereka mencurigakan, tapi Nicola menyuruhku untuk menyelidiki mereka, karena mungkin saja mereka ada hubungannya dan ternyata Nicola benar, mereka berdua memang ada hubungannya. Mereka berhasil kami tangkap dan setelah sedikit pemaksaan , akhirnya mereka mengakui perbuatan mereka. Mereka yang telah membunuh orang tua angkat Lizzie dan membakar rumahnya atas perintah Grigor Lennox."


"Siapa mereka?"


"Peter Russels dan Alexander staadon."


Carver pergi ke ruangan sebelah dan membawa Alex dan Peter.


"Ini orangnya."


Vladimir memandangi mereka berdua satu persatu dengan rasa marah.


"Bagaimana kalian tahu bahwa mereka yang sudah membakar rumah Lizzie?" tanya Vladimir.


"Dari rekaman CCTV yang terpasang di pohon yang berada di halaman belakang rumah. Petro Thusenka diam-diam memasang kamera di sekitar rumahnya. Awalnya tidak ada seorang pun yang menyadari adanya kamera tersebut selama 10 tahun, karena letaknya berada di atas pohon dan tersembunyi. Jack menyadarinya ketika ia memeriksa rumab Lizzie sekali lagi,"jawab Nicola


"Jadi Anthony bukan pelakunya?"


"Jika menurut kesaksian Peter dan Alexander bujan Anthony, tapi Grigor."


"Kita telah salah menangkap orang. Apa mereka mengatakan Grigor ada di mana?"


"Di Moskow. Sebentar lagi polisi datang dan mereka sudah bersedia untuk menjadi saksi."


‘’Benarkah?’’katanya dengan suara penuh keragu-raguan. Nicola dan Jack mengangguk, lalu Vladimir menoleh kembali ke arah mereka dan menatap mereka dengan sangat tajam dan penuh ancaman.


‘’Jika kalian mengikari janji kalian untuk menjadi saksi , aku akan membuat kalian di hukum mati’’ ancam Vladimir. Peter dan Alex nampak ketakutan.


"Ka…kami berdua akan menjadi saksi kalian,’’kata Alex. Vladimir kemudian menyunggingkan senyuman puas. [ ]

__ADS_1


__ADS_2