Shattering Heart

Shattering Heart
(S2): Air mancur Cupid END


__ADS_3

Akhirnya Lizzie tiba di rumah keluarga Corbin. Ia tersenyum saat melihat rumah Fanya  dan ia terkejut melihat kesibukan yang terjadi di sana. Apakah akan ada pesta di rumah Fanya? Tanyanya dalam hati. Rumah Fanyavterlihat sangat ramai. Meja-meja telah dihias dengan taplak meja berwarna emas dan pinggirannya telah dihias oleh pita dan bunga.


Di kejauhan Lizzie memlihat ibu Fanya sedang memberi instruksi kepada seorang wanita yang sedang membawa bunga. Lizzie berlari menghampirinya. ‘’Selamat siang nyonya Corbin!’’


"Ah Lizzie, akhirnya kamu datang juga. Fanya sudah menunggumu di kamarnya. Aku senang kamu datang. Terima kasih sudah memenuhi undangan Fanya."


"Aku akan menemuinya."


Lizzie langsung masuk ke dalam rumah dengan hati senang . Kamar Fanya terbuka dan Lizzie kembali terkejut melihat penampilan Fanya yang sangat cantik dengan gaun muslin berwarna peach. Seorang wanita sedang menata rambutnya.


"Fanya,"serunya.


Fanya menoleh dan ia tersenyum senang melihat Lizzie. Fanya menyuruh wanita yang mendandaninya untuk meninggalkannya berdua dengan Lizzie.


"Aku senang kamu sudah datang. Duduklah di mana pun kamu mau."


Lizzir memilih untuk duduk di tepi tempat tidur.


"Apa yang terjadi di sini?"


Fanya tersenyum misterius. "Apa kamu tidak dapat menebaknya?’’


Lizzie nampak berpikir sebentar.’’Tidak."


"Hari ini aku akan bertunangan dengan Eric Andrews,’’kata Fanya. Jantung Lizzie serasa melompat keluar. Ia tidak percaya apa yang didengarnya tadi.


"Kamu akan bertunangan dengan Eric Andrews?’’


"Ya,’’kata Fanya.


"Tapi bagaimana bisa bukannya kamu mencintai Vladimir?’’


"Aku dan Vladimir sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Ternyata selama ini Eric  diam-diam mencintaiku. Saat Eric tahu , aku dan Vladimir putus, dia segera melakukan pedekatan denganku selama satu bulan terakhir ini. Eric sangat mencintaiku dan menyayangiku. Ia kemudian melamarku seminggu yang lalu dan aku menerimanya.  Apa yang dikatakan Vladimir benar. Suatu hari nanti aku akan menemukan seorang pria yang benar-benar mencintaiku dan aku sudah menemukannya dan pria itu adalah Eric."


Fanya tersenyum lembut.’’Memang sulit melupakan Vladimir , tapi aku sudah berusaha untuk melupakannya sedikit demi sedikit dan  cinta Eric telah mengisi kekosongan hatiku . Dia telah membuatku kembali tertawa dan tersenyum dan dia juga selalu mencurahkan semua perhatiannya kepadaku .  Aku merasakan cinta yang tulus darinya. Vladimir tidak ditakdirkan untukku. Ketika kamu sakit, dia sangat mencemaskanmu dan selalu menungguimu di rumah sakit. Aku bisa melihat bahwa Vladimir sangat mencintaimu. Akhirnya aku menyadari, Vladimir tidak akan pernah bisa mencintaiku sebesar dia mencintaimu. Selama aku menjadi kekasihnya, aku tidak pernah mendapatkan tatapan cinta seperti itu darinya."


"Apa kamu mencintai Eric?’’


Lizzie sudah tahu jawabannya dari binar-binar bahagia di mata Fanya.


‘’Aku mencintainya,’’jawab Fanya tanpa ada sedikit keraguan dalam suaranya. ‘’Selama satu bulan ini , Eric sudah membuatku jatuh cinta dengan segala perhatian dan ketulusan yang diberikannya hanya untukku."


"Ini benar-benar membuatku terkejut. Kamu akan menikah dengan teman sekelas kita."


"Sekarang Vladimir milikmu. Sebaiknya kamu terima saja perasaannya jangan sampai kamu menyesal nantinya."


Fanya mengedipkan matanya kepada Emily.


"Tapi….’’


"Aku tidak mau dengar alasanmu lagi untuk tidak menerima Vladimir karena aku. Lihatlah aku ! Hidupku sekarang sudah bahagia bersama Eric."


Fanya tersenyum kembali saat masih melihat keraguan di mata Lizzie.


"Aku ingin sekarang kamu mengejar kebahagiaanmu dengan orang yang kamu cintai. Apa kamu masih mencintainya?’’


"Aku mencintainya,’’kata Lizzie malu-malu dan pipinya terasa panas saat membayangkan wajah Vladimir.


"Kalau begitu kamu harus mengatakannya kepadanya."


Lizzie tersenyum, lalu mengangguk.


"Amor vincit omnia,’’kata Fanya.’’Cinta akan mengalahkan segalanya."


"Cintamu memang sudah mengalahkanku dalam mendapatkan Vladimir, tapi aku sudah mendapatkan pria yang baik dan mencintaiku dengan tulus."


Lizzie memeluk Fanya dan menangis. Ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Fanya. Baginya Fanya hanya ada satu-satunya di dunia. Lizzie menghapus air matanya kemudian tertawa bersama dengan Fanya.


‘’Apakah Vladimir tahu kamu akan bertunangan hari ini?’’


"Ya. Vladimir tahu dan dia memberiku ucapan selamat."

__ADS_1


Pesta pertunangan Fanya berjalan dengan lancar dan Fanya terlihat sangat bahagia. Di pesta itu , Lizzie dapat berjumpa kembali dengan teman-teman lamanya dan guru-gurunya. Pesta pertunangan Fanya kemudian dijadikan sebagai tempat reuni.


🍎🍎🍎


Sudah satu minggu berlalu sejak kepulangan Lizzie dari Zelenogradsk dan sampai sekarang ia masih belum ada kesempatan untuk berbicara dengan Vladimir dan Lizzie juga sudah merindukannya.


Akhir-akhir ini Vladimir terlihat sangat sibuk  dan jarang mengunjungi Sergei. Sebenarnya Lizzie sangat ingin menghubunginya, tapi ia merasa takut untuk menganggunya, jadi ia lebih memilih diam sampai ia melihat Vladimir di rumah kakeknya.


"Kamu kenapa?’’tanya Sergei saat mereka berada di halaman belakang menikmati matahari sore di musim gugur.


"Tidak ada apa-apa,’’Lizzie lesu.


"Benarkah?’’tanya Sergei tidak percaya.


"Sungguh. Sebaiknya kita masuk ke dalam. Aku sudah merasa kedinginan,’’kata Lizzie mencoba menghindari pertanyaan kakeknya.


Lizzie berdiri, lalu mendorong Sergei yang duduk di kursi roda masuk ke dalam rumah. Baru saja mereka masuk, Lizzie melihat Vladimir dengan pakaian santainya datang menghampiri . Ia menyunggingkan senyumannya dan ia terlihat luar biasa tampan.


Vladimir menyapa mereka dan Lizzie merasa senang akhirnya ia dapat melihat Vladimir kembali. Selama seminggu ini, ia merindukan pria itu.


"Aku ingin bicara denganmu,’’kata Vladimir kepada Sergei.


"Baiklah."


Lalu Sergei menatap Lizzie.


"Lizzie, tolong tinggalkan kami berdua!’’


‘’Baik."


Lizzie berbalik pergi , tapi sebelumnya ia sempat melihat ke belakang melihat Vladimir yang sedang bicara dengan kakeknya. 


 "Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?’’tanya Sergei saat mereka telah tiba di ruang keluarga.


"Aku sudah memutuskan untuk pindah kerja ke cabang firma hukum ayah di Boston."


Sergei menghela napas panjang dan raut wajahnya kecewa dengan keputusan Vladimir. ‘’Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu?’’tanya Sergei.


"Bagaimana dengan Lizzie? ‘’


Vladimir tersenyum sedih. "Sepertinya aku akan menyerah untuk mendapatkannya."


"Apa kamu sudah tidak mencintainya?’’


"Aku mencintainya dan akan selalu mencintainya."


"Kalau begitu jangan pergi. Tetaplah di sini!’’


"Ini  adalah alasan utama kenapa aku pindah ke Boston,  karena aku tidak ingin berada dekat-dekat dengannya. Ini akan sangat menyedihkan bagiku, jika aku terus berada di dekatnya sementara Lizzie tidak membiarkanku untuk mencintainya."


"Aku ingin melihat kalian berdua menikah."


"Aku tidak bisa menikah dengannya, jika Lizzie tidak mau menerimaku dalam hidupnya."


"Tolong pikirkan lagi! Siapa tahu Lizzie merubah pikirannya."


Vladimir mendesah panjang.’’ Kemungkinan itu sangat kecil. Lizzie lebih mempedulikan persahabatannya  dari pada aku. Kadang aku merasa cemburu kepada Fanya, karena Fanya lebih berarti baginya dari pada diriku."


Sergei tersenyum.’’Jadi kamu sekarang cemburu kepada Fanya? Ayolah Vladimir ! Kamu harus mengerti hubungan antara keduanya. Fanya adalah sahabatnya dan Lizzie menyayanginya."


"Aku tahu itu."


"Sebelum kamu pergi , ajaklah Lizzie untuk berbicara sekali lagi tentang hubungan kalian, jika Lizzie tetap menolakmu, kamu boleh pergi ke Boston kalau dia menerimamu, kamu harus menikah dengannya."


Vladimir tidak ingin membuat Sergei kecewa dan akhirnya ia menjawab,‘’baiklah. Aku akan bicara dengannya."


"Terima kasih,’’katanya dengan tersenyum lebar.


🍎🍎🍎


Vladimir menemukan Lizzie sedang berbicara dengan Milly di ruang keluarga.’’ Lizzie, aku ingin bicara denganmu."

__ADS_1


"Aku akan meninggalkan kalian berdua,’’ujar Milly.


Vladimir mengallihkan perhatiannya kepada Lizzie. Mata mereka bertemu dan Vladimir tidak pernah melepaskan tatapannya membuat Lizzie serasa berhenti bernapas. 


‘’Temui  aku besok  sore jam tiga tepat di air mancur cupid. Ada yang ingin aku katakan kepadamu. Aku akan menunggumu besok sore di sana. Jika kamu tidak datang itu artinya aku tidak akan menganggumu lagi."


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Vladimir langsung pergi. Saat Lizzie telah sadar dari keterpesonaannya terhadap Vladimir , pria itu telah pergi tanpa ia sempat mengatakan satu kata pun.


Keesokan sorenya , Vladimir duduk di pinggir air mancur cupid di halaman belakang Romanov mansion. Sesekali ia melihat jam tangannya seharusnya Lizzie sudah tiba lima menit yang lalu.


Dengan tubuh menggigil kedinginan, ia tetap menunggu gadis itu di sana.  Vladimir merapatkan mantelnya sampai leher dan berharap Lizzie segera datang. Menit demi menit berlalu, Lizzie belum juga datang . Vladimir mengosok-gosokkan tangannya dan meniup tangannya menjaganya untuk tetap hangat. Kepalanya menengadah ke atas melihat langit.  Sudah satu jam berlalu ia menunggu Lizzie yang tidak kunjung datang.


Vladimir tersenyum sedih. Sekarang ia sudah tahu jawabannya. Gadis itu tidak akan mau pernah menerima perasaannya meskipun hatinya sedih telah di tolak oleh wanita yang ia cintai, ia akan mengikhlaskan Lizzie pergi dari hidupnya. Vladimir tidak menyangka kalau cinta pertamanya akan berakhir begitu saja.


Vladimir menghela napas panjang  bersiap-siap untuk pergi. Ia sudah tidak bisa menunggu terlalu lama lagi, karena pesawatnya yang akan membawanya ke Boston akan segera berangkat. Vladimir berdiri dan sebelum ia meninggalkan taman, ia sekali lagi melihat ke sekeliling taman dan berharap Lizzie akan muncul dan memanggilnya. Ekspresi wajahnya terlihat sedih dan dengan berat hati, Vladimir meninggalkan taman sambil berkata,’’Selamat tinggal!’’


Baru saja Vladimir melangkah dua langkah dari air mancur cupid, ia mendengar seseorang memanggilnya. ‘’Vladimir! ‘’teriak seseorang . Vladimir langsumg membalikkan badannya, ia melihat Lizzie berdiri tidak jauh darinya dengan napas memburu.


"Lizzie."


Mata biru Vladimir berseri melihat kedatangan Lizzie. Gadis itu tersenyum kepadanya. Rona merah nampak jelas di wajahnya. Lizzie berjalan menghampirinya . ‘’Maafkan aku datang terlambat,’’katanya. 


Perlahan-lahan senyuman tersungging di wajah tampan Vladimir. ‘’Aku kira kamu tidak akan datang."


Lizzie menatap malu-malu kepada Vladimir. ‘’Tadi aku ketiduran dan sempat tersesat di taman mencari air mancur cupid yang kamu maksudkan."


"Jadi itu sebabnya kau datang terlambat?’’.


Lizzie menganggukan kepalanya ‘’Maaf."


Mata biru Vladimir  menatap tajam Lizzie membuat gadis itu salah tingkah.’’ Aku menyuruhmu datang ke sini karena ada yang ingin aku katakan."


Vladimir terdiam sebentar. ‘’Aku mencintaimu,’’katanya. ‘’Kali ini aku tidak mengharapkan kamu mau membalas perasaanku. Aku hanya ingin kamu tahu sebelum aku pergi meninggalkan Rusia."


"Kamu akan pergi?’’tanyanya dengan suara serak. Matanya mulai berkaca-kaca dan ia berusaha agar air matanya tidak tumpah.


Vladimir mengangguk.’’Aku akan ke Boston dan tinggal di sana."


Vladimir membelai rambut Lizzie dan tatapan matanya terlihat sayu.’’Jaga dirimu baik-baik ! Selamat tinggal!’


Vladimir kemudian berbalik pergi dan Lizzie mengamati kepergian Vladimir. Air mata yang sejak dari tadi telah terkumpul di matanya akhirnya tumpah.


"Kamu belum mendengar  jawabanku,’’teriak Lizzie


Vladimir berhenti berjalan, lalu membalikkan badanya.


‘’Apa kamu tidak ingin tahu apa jawabanku?’’


Keduanya saling menatap dari kejauhan. ‘’Aku mencintaimu Vladimir Alexein, ’’teriak Lizzie dengan sekuat tenaga sampai-sampai burung yang hinggap di pohon berterbangan keluar.  Vladimir berjalan dengan cepat dan hanya dalam beberapa langkah saja, ia sudah ada di depan Lizzie. ‘’Apa benar yang kamu katakan tadi?’’


‘’Ya. Aku mencintaimu dan aku mohon jangan pergi!’’


Lizzie menggunakan lengan  mantelnya untuk menghapus air matanya. Vladimir tersenyum dan wajahnya berseri-seri, ia menarik Lizzie ke dalam pelukannya dan membelai rambutnya. ‘’Aku senang mendengarnya dan terima kasih sudah mencintaiku."


Lizzie melepaskan pelukannya dan menatap Vladimir dan kedua tangannya di kalungkan ke sekeliling leher Vladimir.


  ‘’Jangan pergi!’’katanya.


Lizzie menyentuhkan bibirnya ke bibir Vladimir.  Vladimir  kemudian meletakan tangannya di sekeliling pinggang Lizzie dan menariknya lebih dekat. Ia membalas ciuman Lizzie yang membuat gadis itu  melupakan keadaan sekelilingnya. Sampai ssesuatu yang dingin menyentuh wajah mereka. Beberapa butir salju hinggap di wajah mereka dan kemudian mereka pun tertawa.Mereka berdua mendongkakkan kepalanya ke langit dan melihat salju pertama turun dengan senyuman bahagia di wajah mereka. [ ]


TAMAT


🍎🍎🍎


My dear Readers!♥


Season 2 sudah tamat. Terima kasih sudah mengikuti novel ini dari awal sampai akhir🤗.


Terima kasih Like,vote,dan komennya ya😘😘😘.


Semoga kalian suka sama akhir ceritanya.😁

__ADS_1


Sampai jumpa lagi !👋👋👋


__ADS_2