
Anastasia menatap Aleandra yang tak sadarkan diri sejak 8 tahun yang lalu . Sejak terjadi percobaan pembunuhan di kediaman keluarga Romanov. Ia masih ingat terakhir ia melihat Aleandra. Saat itu Aleandra dan Dimitri sedang merayakan hari ulang tahun Dimitri di mansion Romanov. Banyak tamu yang datang.
Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Semua orang hadir di acara itu, tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Setelah seminggu pesta ulang tahun itu, tragedi itu terjadi. Seseorang mencoba membunuh mereka.
Anastasia meneteskan air matanya. Ia sangat merindukan adik angkatnya. Ia ingin Aleandra bicara lagi dengannya, tertawa bersama seperti dulu. Pintu ruang kamar perawatan terbuka.
Marina, ibu Aleandra muncul dari balik pintu ruang kamar perawatan. Ia terkejut melihatku, lalu mengajaknya untuk bicara di luar.
"Kapan kamu datang?"tanya Marina.
"Baru saja. Apa belum ada tanda-tanda Aleandra akan bangun dari komanya?"
Marina menggelengkan kepalanya. "Luka Aleandra cukup berat, tapi Aleandra masih beruntung nyawanya ada kemungkinan bisa diselamatkan."
"Itu memang benar. Semoga Aleandra sadar dari komanya. Bagaimana kabar Aleandra Elsie?
"Dia baik. Besok Aleandra dan Ivan akan datang dari Spanyol."
"Aku dengar Aleandra dan Ivan sudah memiliki anak laki-laki."
"Benar. Namanya Sergio. Kemarin baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-4."
"Semoga Lizzie juga cepat ditemukan."
Marina kembali murung." Di mana pun Lizzie berada semoga dia baik-baik saja. Aku takut jika Aleandra dan Dimitri sadar dari komanya, mereka akan sangat sedih, karena Lizzie tidak ada."
"Semoga Lizzie sudah kembali sebelum mereka sadar."
Pintu kamar perawatan di sebelah terbuka. Sergei duduk di kursi roda keluar bersama Nester, pelayan pribadinya. Kesedihan dan lelah di wajahnya sangat kentara. Ia baru saja melihat Dimitri yang masih koma.
"Tuan Romanov,"sapa Marina.
Sergei mendekati mereka. "Bagaimana Aleandra?"
"Masih sama."
"Dimitri juga."
"Semuanya akan segera membaik. Jangan putus harapan," kata Marina.
Sergei mengangguk lemah. "Aku akan melihat Aleandra."
Nester kembali mendorong kursi rodanya dan masuk ke kamar di mana Aleandra berada
🍎🍎🍎
Malam harinya Lizzie yang sedang menikmati indahnya malam musim panas melalui jendela kamarnya dikejutkan oleh suara ibunya.
"Lizzie ada telepon dari Fanya."
Lizzie langsung keluar dari kamar dan turun ke bawah dengan berlari dan menimbulkan suara berderak keras di lantai atas.’’Halo Fanya!’’
"Malam Lizzie! Aku hanya ingin memberitahumu kalau Tuan Kalashnikov mengundang kita untuk minum teh besok."
"Benarkah?"
Wajah imut Lizzie langsung berbinar bahagia.
"Benar. Kita berdua akan di jemput oleh sopirnya."
"Fanya, ini sangat menyenangkan.Aku akan memberitahu ayah dan ibu tentang ini,’’serunya senang.Dia sudah dapat membayangkan hari yang menyenangkan di rumah keluarga Kalashnikov.
"Kalau begitu sampai jumpa besok."
"Iya. Fanya , terima kasih."
Setelah menutup teleponnya Lizzie langsung menemui ayah dan ibunya di ruang keluarga.
"Ayah, ibu, besok aku diundang minum teh oleh Tuan Kalashnikov. Aku boleh pergi ya?’’
Matanya membulat dan berbinar-binar.
"Siapa Tuan Kalashnikov?’’
"Masa ayah dan ibu tidak tahu , dia itu teman lama nenek Marina Moskal. Dia tinggal di pinggir desa dibalik bukit hutan spruce."
‘’Oh maksudmu Tuan Nicola Kalashnikov. Pengacara terkenal itu yang menempati Lenixton manor,’’jawab Petro.
"Sepertinya begitu. Jadi kalian mengizinkan aku pergi kan?’’
"Kamu boleh pergi,’’kata ibunya.
"Horeeee...’’
Lizzie langsung menghambur pada orang tuanya.’’Terima kasih Ayah, Ibu."
🍎🍎🍎
Sore harinya terdengar suara petir di luar dan angin bertiup dengan kencang membuatnya khawatir. Suara-suara pepohonan yang tertiup angin dan tetesan-tetesan hujan di atap membuat Lizzie cemas. Lizzie takut keesokan harinya cuaca akan buruk dan rencana minum teh di rumah Tuan Kalasnikov akan batal.Tapi pikiran itu segera hilang ketika pagi hari tiba, cuaca sangat cerah.
Lizzie melompat-lompat kegirangan. Dia langsung berpakaian dengan rapi dan turun ke bawah, langsung menyantap sarapan paginya. Tidak lama berselang sebuah mobil terpakir di halaman rumahnya."Ibu , aku pergi dulu ya."
"Hati-hati di sana ya dan jangan nakal."
"Aku tahu. Sampai jumpa!"
Lizzie mengecup pipi ibunya, lalu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Pagi Fanya!’’
"Pagi Lizzie!’’
"Kemarin malam aku sangat mengkhawatirkan cuaca akan buruk dan aku merasa lega melihat cuaca hari ini sangat cerah."
"Kau pasti takut kalau rencana minum teh di rumah bata."
"Benar." Mereka berdua tertawa terkikik pelan.
Nicola,Juliet istrinya dan Regina berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati acara TV. ‘’Sayang, sebentar lagi aku akan kedatangan tamu-tamu kecilku."
"Tamu-tamu kecil?’’tanyanya heran.
"Benar."
"Siapa tamu-tamu kecil itu?’’tanya Regina.
"Sebentar lagi juga kalian akan tahu dan di mana Vlad?’’
"Dia sudah kembali ke Moskow tadi pagi,’’jawab Juliet.
"Pantas saja aku tidak melihatnya saat sarapan pagi ."
Mobil yang membawa Lizzie dan Fanya memasuki halaman manor. Mata kanak-kanak mereka terpana melihat rumah Tuan Kalashnikov yang besar dan mewah.Mereka masuk mengikuti salah satu pelayan rumah.Pelayan itu membawanya ke ruang tamu.
’’Tunggu disini!"
Mereka berdua menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian Nicola yang dikuti istri dan anak perempuannya muncul. Kedua gadis kecil itu langsung berdiri.
’’Kenalkan ini Lizzie Thusenka dan Fanya Corbin,’’kata Nicola pada istrinya dan juga Regina.
"Selamat siang nyonya!’’sapa Lizzie dan Fanya.
"Siang!’’sapa Juliet ramah.
Nicola dan Juliet menyuruh mereka berdua mengikutinya ke kebun belakang yang luas dan indah. Taman itu dipagari oleh pohon-pohon poplar dan cemara. Di bawahnya bunga-bunga pansy, violet, aster dan bluebells tumbuh subur di sana. Tidak jauh dari pagar pohon terdapat sebuah kolam ikan yang cukup besar. Sebuah meja makan sudah tertata rapi di sana. Kue-kue yang lezat dan menggoda selera terhidang disana. Mata Lizzie berbinar ketika melihat kue-kue itu.
’’Silahkan duduk!’’perintah Nicola.
"Anak-anak yang cantik dan manis,’’kata Juliet. Kedua wajah anak itu merona merah.
"Aku sudah menyiapkan banyak kue untuk kalian bertiga terutama kue pai plum kesukaanmu, Lizzie."
"Terima kasih."
Juliet menuangkan teh ke dalam cangkir keramik yang paling indah yang pernah dilihat Lizzie dan Fanya, sehingga ada rasa takut dalam diri mereka, jika mereka sampai memecahkannya.
"Ayo diminum! Teh ini rasanya enak sekali."
"Teh ini memang enak,’’komentar Lizzie.
"Dan juga harum,’’ujar Fanya.
"Syukurlah kalau kalian menyukainya. Ini adalah teh terbaik di Rusia,’’kata Juliet.
"Jadi bagaimana liburan musim panas kalian? Apa menyenangkan?’’tanya Nicola.
"Sangat menyenangkan ‘’jawab Fanya sambil melirik Lizzie.
"Beberapa hari yang lalu aku pergi ke pantai dengan Ayah dan Ibu,’’kata Lizzie sambil memakan kue pai plumnya.
"Dan kamu, Fanya?’’
"Aku membantu ibuku membersihkan seluruh rumah walaupun itu melelahkan tapi menyenangkan. Aku dan Lizzie juga membantu mengembalakan domba dan kami hampir saja menghilangkan salah satu diantara domba-domba itu. Kami juga berperahu di danau."
"Rupanya kalian memiliki liburan musim panas yang menyenangkan;’’kata Nicola.
"Aku harap musim panas kali ini akan menjadi musim panas terbaik dan tidak terlupakan,’’kata Juliet.
Lizzie kembali meminum tehnya. Mereka menghabiskan waktu di taman terdengar tawa riang dari arah mereka.Nicola dan Juliet membawa kedua anak itu berkeliling taman. Di taman ini juga memiliki taman bunga mawar . Mata Lizzie dan Fanya berbinar-binar karena takjub.
‘’Taman ini benar-benar sangat indah, andai saja di rumahku ada taman seperti ini, pasti akan sangat menyenangkan. Aku bisa berada seharian diluar,’’kata Lizzie. Nicola dan Juliet tersenyum.
Fanya juga begitu terpesona dengan keindahan taman Lenixton manor dan di sana terdapat air mancur indah dengan suara gemericik air menambah suasana menjadi nyaman. Setelah mengelilingi taman, mereka makan siang bersama. Regina sangat menikmati dapat bermain bersama mereka. Mereka juga diajarkan sedikit bermain piano.
Kedua anak itu sudah membawa keceriaan di rumah ini yang sudah beberapa hari terlihat sepi dan suram. Kedatangan mereka berdua seperti membawa kehangatan dan kegembiraan pada rumah keluarga Kalashniko.
" Lizzie, Fanya ikut aku ke kamar, ada yang ingin kakak berikan untuk kalian,’’kata Regina.
Mereka berdua hanya menatapnya bingung dan mereka berdua membuntutinya dari belakang.
"Kamar yang indah,’’komentar Lizzie.
"Benar kamar yang sangat indah,’’ujar Fanya.
Kamar itu terlihat bersih dan rapi, mereka takut mengotorinya. Mereka berjalan di kamar itu dengan hati-hati.
"Ini untuk kalian."
Regina memberikan sepasang boneka Teddy bear berwarna coklat muda pada mereka berdua.
"Ini untuk kami?’’tanya Lizzie. Ini kedua kalinya Lizzie mendapat boneka Teddy Bear.
"Tentu itu untuk kalian. Apa kalian tidak suka?’’
"Kami menyukainya,’’seru mereka bersamaan.
__ADS_1
"Terima kasih,’’kata Lizzie dan Fanya, lalu dikecupnya kedua pipi Regina oleh mereka.
Hari sudah menjelang sore, cuaca diluar berubah buruk, petir saling bersahutan.Angin kencang bertiup, hujan turun dengan deras. Pohon-pohon melambaikan dahannya sampai bawah hampir terlihat akan patah.
’’Sepertinya malam ini kalian harus menginap disini,’’kata Nicola.
"Menginap? Tapi kami belum minta izin Ayah dan Ibu,’’kata Lizzie khawatir.
"Aku juga,’’kata Fanya.
"Kalau begitu kalian harus menghubungi orang tua kalian dan katakan pada mereka kalau kalian malam ini akan menginap di rumahku."
"Baiklah,’’Kata kedua anak itu.
Lizzie menelepon ke rumahnya begitu pun juga Fanya. Lima menit kemudian mereka sudah kembali.’’Bagaimana?’’tanya Nicola.
"Orang tuaku mengizinkanku begitu juga dengan Fanya,’’kata Lizzie.
‘’Bagus."
"Sayang mereka nanti akan tidur dimana? Kamar tamu belum di bersihkan."
"Mereka berdua akan tidur di kamar Vladimir.:
"Kamar Vladimir?’’
"Iya, sekarang kamar itu kosong bukan? Jadi mereka tidur di sana saja."
"Terserah kamu saja. Aku tidak tahu apa pendapat anak laki-lakimu, ada dua gadis yang akan tidur dikamarnya.:
"Mereka hanya gadis kecil berumur 8 tahun, bukan gadis dewasa,’’kata Nicola menegaskan.
Pada Akhirnya mereka menginap di rumah Lenixton manor di malam yang penuh badai ini.Suara angin terdengar dengan sangat jelas memukul-mukul kaca jendela. Kedua gadis kecil terbaring meringkuk di bawah selimut yang hangat. Menjelang jam dua dini hari pintu kamar terbuka di mana Lizzie dan Fanya tidur dan seorang pria masuk.
Dia membuka jaketnya dan langsung menghempaskan dirinya di tempat tidur.Kedua anak itu langsung berteriak kesakitan. Teriakan mereka terdengar ke seluruh manor. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Vladimir langsung berdiri.
’’Si..siapa kalian ? Kenapa kalian ada dikamarku,’’teriaknya.
Lizzie dan Fanya menatap ketakutan pada pria yang ada dihadapannya.
"Lizzie, Fanya ada apa?’’tanya Nicola panik.
"Malam ayah!’’
"Valdimir...’’serunya terkejut.’’Bukannya kamu sudah pulang ke Moskow?’’
"Itu benar, tapi aku memutuskan untuk kembali kemari, karena ada barangku yang tertinggal, jadi ayah bisa jelaskan tentang kedua anak ini, kenapa mereka ada di kamarku dan ditempat tidurku?’’tanyanya sambil melirik Lizzie dan Fanya
Vladimir menatap tajam ke arah Lizzie dan gadis kecil itu menyadari sesuatu. Lizzie pernah melihat pemuda ini di rumah teman Bibi Danielle. Pemuda yang menatapnya dingin.
"Aku pernah melihatmu di rumah teman Bibi Danielle,"seru Lizzie.
Vladimir nampak bingung, lalu memperhatikan Lizzie sekali lagi. Ia ingat beberapa minggu yang lalu saat sedang berkunjung ke kediaman Romanov untuk bertemu dengan kakek Sergei, sepupu ayahnya.
"Ah aku ingat. Jadi gadis kecil itu kamu."
"Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?"Tanya Nicola.
" Kami bertemu di rumah kakek Sergei. Jadi kenapa mereka ada di sini?"tanya Vladimir.
"Mereka tamu-tamuku. Mereka tidak dapat pulang, karena hujan badai, jadi aku menyuruh mereka untuk tidur di kamarmu, karena aku pikir kamu tidak akan kembali ke sini lagi."
Sekilas Vladimir menatap kedua gadis kecil dihadapannya, tapi mereka berdua masih memandangi Vladimir dengan rasa takut bahkan mereka menyembunyikan diri dibalik selimut.
"Vlad, kamu tidur dikamar yang lainnya , biar malam ini mereka tidur disini."
"Tapi ayah...’’
"Sudahlah, tidak ada salahnya mengalah sedikit pada mereka, kamu ini kan sudah besar, kamu malam ini tidur di kamar lainnya saja."
Vladimir melirik tajam pada Lizzie dan Fanya.
"Baiklah."
Regina yang melihat kejadian itu tertawa terkikik-kikik melihat raut wajah adik laki-lakinya, ketika melihat ada kedua gadis kecil tidur dikamarnya.
’’Apa yang kamu tertawakan Regy?’’tanyanya dingin dengan wajah cemberut.’’Minggir!’’
Kamar kembali tertutup. Lizzie dan Fanya menghela nafas panjang.
"Dia galak sekali,’’kata Lizzie.
"Kamu benar,’’kata Fanya sambil mengelus dadanya.’’Untung Tuan Kalashnikov segera datang kalau tidak pasti kita sudah dimarahinya habis-habisan,’’ujar Fanya.
"Sebaiknya kita tidur lagi saja."
Lizzie kembali mematikan lampunya kembali dan menyelimuti dirinya. Suara hujan masih terdengar dengan jelas diiringi suara petir yang mengelegar. Fanya dan Lizzie langsung berpelukan.
"Aku takut,’’kata Fanya.
"Aku juga. Kamar ini terlalu besar untuk kita,’’kata Lizzie dan matanya melihat ke sekeliling kamar.
"Sebaiknya lampunya dinyalakan saja,’’kata Fanya.
Lizzie kembali bangun dan menyalakan kembali lampunya.’’Ini lebih baik’’. Akhirnya kedua gadis kecil itu terlelap tidur.
Keesokan harinya setelah mereka sarapan pagi, sopir pribadi mengantarkan mereka berdua ke rumah masing-masing. Dalam benak Lizzie kebersamaannya di rumah Lenixton manor tidak akan akan terlupakan terutama dengan kejadian tadi malam. [ ]
__ADS_1