Shattering Heart

Shattering Heart
(S2): Hidup baru


__ADS_3

2 tahun kemudian


Sinar terang yang menembus jendela kamar membuat Lizzie terbangun. Samar-samar ia melihat seseorang sedang membukakan tirai jendela kamarnya dan sinar matahari pagi di bulan April masuk seluruhnya ke dalam kamar. Lizzie bangun sambil mengucek-ucek matanya dan ia melihat Juliana berdiri di depan jendela dengan wajah tersenyum.


"Selamat pagi Lizzie!’’


"Pagi!’’


Juliana duduk di samping Lizzie dan menatapnya dengan wajah lembut penuh keibuan. "Sebaiknya kamu segera berganti pakaian. Sarapan pagi sudah siap. Kami menunggumu di bawah."


"Baik."


Sebelum pergi Juliana mengecup keningnya lalu tersenyum kembali.


Lizzie menatap kepergian Juliana dari kamarnya. Sudah 2 tahun berlalu sejak orang tua angkatnya meninggal dan ia belum bisa melupakan kejadian itu. Kenangan buruk itu selalu mengikutinya kemana pun ia pergi dan yang membuat hatinya sakit dan perih mereka meninggal, karena dirinya.


Lizzie memejamkan matanya membayangkan desa Zelenogradsk dan Siverbell Farms . Ia sangat merindukan tempat itu dan juga sangat merindukan sahabat baiknya, Fanya. Bagaimana keadaan Fanya sekarang? Apa masih tinggal di sana? Berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya. Sudah satu tahun ia memulai hidup baru di sini bersama dengan Ivander dan Juliana.


Lizzie ingin sekali pergi ke desa Zelenogradsk menjenguk Fanya , tapi Ivander selalu melarangnya, karena ada kemungkinan akan ada orang yang mengenalinya dan itu akan membahayakannya. Ia ingin sekali semuanya segera berakhir dan bisa kembali bertemu dengan orang-orang yang disayanginya kembali , yaitu Fanya, paman Javor, dan kakek Sergei yang ternyata adalah kakek kandungnya. Ia juga ingin melihat Silverbell Farms yang sudah lama ia tinggalkan.


Ivander telah menceritakan segalanya tentang jati dirinya yang sebenarnya 2 tahun lalu ketika ia telah diselamatkan olehnya. Awalnya ia tidak ingin mempercayainya, Lizzie begitu marah dan benci kepada orang yang sudah membunuh orang tua kandungnya meskipun ia tidak mengenalnya dan juga orang tua angkatnya yang selama ini telah merawat dan menyayanginya. Bagi Lizzie, Petro dan Antonina adalah orang tua yang sebenarnya, karena hanya mereka yang ia kenal sebagai orang tuanya.


Sesak di dada kembali di rasakannya saat kembali teringat kematian mereka yang tragis dan dalam semalam kehidupannya telah berubah drastis. Lizzie masih merasa bersyukur masih ada  yang menyayanginya. Juliana dan Ivander Jeffreys telah merawatnya sebelas tahun ini. Mereka sudah menganggapnya sebagai anak mereka meskipun sekarang mereka sudah memiliki anak perempuan berusia 1,5 tahun dan Lizzie sudah menganggap Amber sebagai adiknya. Ia sudah lama menginginkan seorang adik dan ia menemukan sosok seorang adik dalam diri Amber.


Lizzie berdiri di depan cermin mengamati dirinya yang telah selesai berpakaian. Sekarang ia berusia 10 tahun. Tinggi badannya sudah bertambah beberapa sentimeter. Rambut pirangnya yang sedikit ikal di biarkan tergerai.


Suasana ruang makan di rumah Ivander di desa Vyatskoye seperti biasa terlihat ramai dan hangat. Amberlah yang membuat suasana di ruang makan itu ramai dengan celotehannya. Amber langsung melompat turun dari kursinya ketika melihat Lizzie datang.


 "Lizzie." Lalu berlari ke dalam pelukannya.


"Pagi Amber!’’


 "Pagi!’’


Amber mencium pipi Lizzie dengan wajah senang, lalu menuntunnya supaya duduk di sampingnya.


"Aku baru saja mendapat kabar dari Frank mengenai kakekmu dan ayahmu,’’kata Ivander. Frank adalah mata-mata Ivander yang bekerja sebagai pelayan di mansion Sergei.


Lizzie langsung menghentikan dari kegiatannya mengoleskan selai pada rotinya.


"Apa yang sudah dikatakan kepadanya?’’


‘’Tuan Sergei sakit. Kesehatannya sedang memburuk sekarang."


‘’Apa dia akan baik-baik saja?’’tanya Lizzie cemas.


"Semoga saja."


"Aku ingin sekali bertemu dengannya dan aku belum sempat mengenalnya. Apa aku bisa datang menemuinya?’’


"Tidak. Kamu tidak bisa. Orang yang ingin membunuhmu masih berkeliaran di luar sana dan mungkin saja orang itu sekarang sedang mengawasi rumah kakekmu. Aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya lagi."


"Dan ayahmu? Dia baik-baik saja sekarang."


Lizzie merasa senang ketika tahu ayahnya sudah sadar dari komanya. Ia ingin segera menemuinya dan memeluknya. Selama ini Lizzie hanya bisa memandangi dan memeluk foto ayah dan ibunya. Ia berharap ibunya juga segera sadar.


"Tapi sampai kapan kita akan terus bersembunyi? Aku sudah lelah,’’protes Lizzie.


Ivander dan Juliana menatap prihatin kepada Lizzie, lalu Juliana mengenggam tangan Lizzie .’’Jika keadaan sudah benar-benar aman pasti kau bisa menemui kakek dan orangtuamu. Kesempatan kamu bertemu dengan mereka yang  pasti ada."


‘’Tapi kapan keadaan yang sudah benar-benar aman?’’


"Aku tidak tahu. Bersabarlah!’’jawab Ivander.


’’Sekarang ini kamu tidak perlu mencemaskan keadaan kakekmu . Frank akan selalu memberikan kabar mengenai situasi di keluarga Romanov kepada kita. Sekarang makanlah sarapan pagimu. Bukankah kamu tidak ingin datang terlambat datang sekolah?"


Ivander tersenyum hangat  menenangkan dan Lizzie pun melahap sarapan paginya.Ivander meraih koran yang ada di sampingnya, lalu membacanya kembali.


"Lihat ini!’’serunya.


Ivander membalikkan korannya dan menunjukkan seorang pria tampan dalam koran itu.


"Kalian masih ingat dengan pria ini?’’tanya Ivander.


Lizzie memicingkan mata dan mengerutkan dahinya sedang berusaha mengingat pria yang ada di koran yang ditunjukkan oleh Ivander. Wajahnya tidak asing baginya.

__ADS_1


"Ini kan Vladimir."


"Iya itu Vladimir Kalashnikov, sepupumu."


Lizzie segera merebut koran dari tangan Ivander dan memperhatikan foto pria itu lebih dekat mencoba untuk lebih mengenalinya. Ia foto bersama ayahnya.


" Wajahnya sudah agak berubah sejak aku terakhir melihatnya dua tahun yang lalu. Aku hampir tidak me mengenalinya."


"Menurut info yang aku dapatkan sekarang Vladimir sedang kerja paruh waktu di kantor ayahnya dan tidak kusangka Tuab Kalashnikov memenangkan lagi sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan seorang pengusaha kaya dengan seorang mantan bawahannya dan ternyata pembunuhan itu di lakukan oleh si pengusaha. Sungguh hebat. Andai saja ia bisa memecahkan kasus keluargamu dengan cepat,’’ucap Ivander.


Lizzie mengembalikan koran itu ke tangan Ivander, lalu melahap makanannya .


🍎🍎🍎


Vladimir berjalan  menuju kantor ayahnya dengan percaya diri dan menebarkan senyuman senang. Ia sedang gembira, karena ayahnya telah kembali memenangkan kasus lagi. Ia akan menjadi pengacara terkenal seperti ayahnya. Tentu saja jalan menuju ke sana masih sangat panjang dan ia harus masih banyak belajar.


Keinginannya terbesar adalah ingin memasukkan pelaku yang mencoba membunuh pamannya, Dimitri dan Bibinya, Aleandra. Selama 10 tahun pelakunya masih belum tertangkap.


Viktor dan Anthony tidak bisa ditangkap, karena tidak ada bukti. Selama ini mereka merahasiakan kecurigaan mereka tentang keterlibatan Viktor dan Anthony. Mereka terkejut setelah melihat Dimitri keluar dari rumah sakit dalam keadaan segar bugar. Selama 2 tahun ini, Dimitri selalu setia menunggui istrinya di rumah sakit. Vladimir berkali-kali menangkap basah Dimitri sedang menangis sendirian.


"Ah dia sangat tampan sekali,’’kata wanita yang bernama Prissy salah satu pegawai ayahnya sambil terus melihat Vladimir masuk ke dalam kantor ayahnya.


"Benar. Tapi aku dengar ia sudah memiliki kekasih’’jawab Petrice. Seketika itu Prissy langsung menoleh ke arah temannya.


‘"Ah yang benar."


"Aku pernah melihatnya berjalan beberapa kali dengan seorang wanita cantik dan aku yang yakin itu adalah kekasihnya."


Prissy menggigit sapu tangannya dan nampak kecewa.’’Sayang sekali."


"Kamu ini tidak tahan melihat pria tampan, jadi kamu mau kemanakan kekasihmu itu? Apa hatimu sudah beralih kepada pria lain?’’


Prissy terlihat cemberut.’’Tentu saja tidak’’. Prissy tersenyum lebar.’’Aku tetap mencintai kekasihku’’. Setelah mengatakan itu ia kembali ke mejanya. Petrice hanya mengeleg-gelengkan kepalanya.


Vladimir segera duduk di depan ayahnya yang sedang sibuk berbicara dengan seseorang di telepon . Ia pun menunggu ayahnya sambil membaca koran melihat foto dirinya berada di sana. Sebuah senyum lebar kembali menghiasi wajahnya.


‘’Selamat untukmu!’’ucap Dimitri.


"Terima kasih."


" Bagaimana perkembangan kasus paman Dimitri?"


"Apa Anthony dan Victor masih tersangka kita?’’


Nicola menghela napas panjang."Selama ini ayah sudah memperhatikan mereka berdua dan tidak ada yang mencurigakan tentang mereka."


Nicola memberikan beberapa berkas yang berkaitan dengan Romanov mansion kepada Vladimir.


"Kamu harus mempelajarinya terlebih dahulu. Di dalamnya sudah termasuk laporan dari Jack."


"Apa ada perkembangan terbaru mengenai kasus ini?’’


"Hanya ada beberapa. Jack telah menemukan beberapa yang ganjil. Menurut Jack ada dua orang pria asing yang datang ke desa Zelenogradsk sebelum rumah keluarga Thusenka terbakar. Mereka berprofesi sebagai penjual alat pertanian bernama Alex dan Peter , tapi setelah kebakaran itu mereka berdua menghilang begitu saja. Jack sudah menanyai beberapa penduduk desa mengenai kedua pria itu dan mereka mengatakan kalau mereka tidak pernah menyingungg soal keluarga Thusenka atau pun Lizzie."


"Apa menurut ayah kedua pria itu ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Lizzie dengan keluarganya."


"Entalah. Semuanya masih terlihat samar-samar, tapi perasaan ayah sepertinya mereka berdua ada hubungannya, karena keberadaan mereka sangat mencurigakan di sana."


Vladimir mengernyitkan dahinya.’’Sekarang Jack berada di mana?’’


"Dia masih berada di desa Zelenogradsk."


"Aku akan pergi ke sana dan menemuinya dan mungkin aku juga akan menemui pelayan itu."


"Siapa?’’


"Milly Constantine dan ibunya. Mungkin mereka tahu sesuatu tentang kasus ini. Apa Jack sudah menanyai mereka."


"Iya Jack sudah menanyai mereka, tapi mereka tidak tahu apa-apa selain Ophelia mengetahui siapa yang membawa bayi Dimitri."


"Aku akan menanyakan sekali lagi kepada mereka mungkin aku dapat sesuatu dari mereka."


"Terserah kamu saja, tapi kamu harus berhati-hati. Jangan sampai ada orang yang tahu dulu mengenai ini. Kita biarkan penjahat itu memiliki pemikiran kalau dia sudah terbebas."


"Aku mengerti. Aku akan merahasiakannya."

__ADS_1


"Bagus."


Vladimir kembali melihat-lihat berkas yang ada ditangannya dengan serius. ‘’Ini pasti akan sangat menarik,’’gumamnya. Vladimir kemudian menutup berkasnya, lalu menatap ayahnya dengan serius.


"Apakah menurut ayah, Lizzie masih hidup?’’


"Ayah yakin anak itu masih hidup di suatu tempat.Semoga saja dia baik-baik saja."


"Iya ayah. Semoga saja."


Vladimir tiba-tiba terbayang pertemuan demi pertemuan dengan Lizzie dan tanpa sadar Vladimir tersenyum mengingatnya.


"Hari ini aku akan menemui kakek Sergei. Aku dengar ia kembali sakit jadi aku ingin menjenguknya."


"Ayah juga akan datang menemuinya. Kasihan Sergei sampai saat ini ia belum pernah bertemu dengan cucunya."


"Ayah benar. Selama beberapa tahun ini kakek selalu terlihat muram."


Vladimir beranjak dari kursinya.’’Aku harus pergi. Sampai jumpa!’’


"Akhir minggu ini kamu harus pulang ke rumah. Kita makan malam bersama."


"Baiklah."


Setelah Vladimir pergi Nicola mendesah di kursinya.’’Semoga semuanya akan baik-baik saja,’’gumamnya.


🍎🍎🍎


Sergei duduk di kursi rodanya di halaman belakang rumahnya menikmati matahari sore. Mata tuanya menatap ke langit, lalu memejamkan matanya ketika angin sore berhembus. Vladmir yang berdiri tidak jauh dari kakeknya terlihat sedih. Kakeknya terlihat sudah semakin tua dan sejak dua tahun lalu ia sudah tidak bisa berjalan di tambah lagi bayangan kesedihan yang selalu tergurat jelas di wajahnya. Vladimir menghampirinya dan meletakan tangannya di bahu kakeknya.


"Kamu sudah datang?’’


"Iya aku datang."


Vladimir lalu mengambil kursi dan duduk di samping kakeknya sambil memandangi kebun bunga.


"Bagaimana keadaan kakek?’’


"Sudah lebih baik."


Sergei tersenyum kepada Vladimir.


Vladimir mengenggam tangan kakeknya. "Lizzie pasti ketemu, jadi kakek jangan sedih lagi dan aku yakin dia baik-baik saja."


"Terima kasih kamu memang anak yang baik. Nicola dan Juliet sangat beruntung memiliki anak sepertimu."


"Oh ya di mana paman Dimitri?"


"Seperti biasa ada di rumah sakit menemani Aleandra dan dia akan pulang saat malam tiba."


"Kasihan paman.Paman sangat mencintai Bibi Aleandra."


" Mereka berdua saling mencintai dan tak terpisahkan."


Sergei kembali mengingat masa lalunya saat ia nekat berbuat jahat kepada Aleandra dengan menculik Lizzie darinya. Setiap kali mengingat itu ada rasa penyesalan yang sulit dihapus.


🍎🍎🍎


Dimitri menatap Aleandra dengan pandangan sedih dan terluka. Kedua tangannya menggenggam tangan istrinya dengan erat. Tetesan air matanya berjatuhan.


" Mau sampai kapan kamu akan tidur seperti ini? Apa kamu tidak peduli lagi padaku? Aku mohon bangunlah! Saat ini aku sangat membutuhkanmu. Aku telah kehilangan anak kita dan aku tidak ingin kehilanganmu untuk selamanya. Jika itu terjadi, aku tidak ingin hidup lagi."


Seseorang menepuk bahunya. Marina, ibu Aleandra duduk di samping Dimitri.


"Jangan putus harapan! Aku yakin Aleandra akan sadar seperti hal dirimu. Waktu itu ayahmu terus menangisimu saat koma dan hampir hilang harapan kalau kamu akan sadar kembali. Aku yakin Aleandra juga akan tetap bertahan dan bangun dari komanya."


"Tapi sampai kapan?"


"Bersabarlah! Semuanya akan baik-baik saja. Aleandra adalah wanita uang kuat."


Dimitri mengangguk.


" Fokuslah untuk mencari Lizzie. Aku yakin dia masih hidup."


" Ibu benar."

__ADS_1


Dua tahun yang lalu saat orang suruhan Nicola mendatangi villanya tidak ada orang di sana hanya ada penjaga villa saja di sana. Dimitri merasa sangat kecewa dan untuk menemukan Lizzie jauh dari harapan.


Dimitri juga tidak yakin Lizzie bersama dengan Ivander dan mungkin saja saat ini Lizzie berada dijalanan sendirian membayangka hal itu membuat hatinya terpilin sakit. [ ]


__ADS_2