Shattering Heart

Shattering Heart
(S2) : Pengasuh Lizzie


__ADS_3

Jack yang telah kembali dari London, datang menemui Nicola di Lenixton manor pada sore harinya . Ia merapatkan mantelnya dan juga syalnya. Angin musim gugur yang dingin membuatnya merasa kedinginan. Langit terlihat kelabu. Ia melangkah secepat yang bisa. Daun-daun kering berterbangan tertiup angin.


Seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. Jack di bawa langsung menemui Nicola di ruang kerjanya. Sebelum datang kemari ia sudah memberitahukan kedatangannya kemari.  Suasana ruang kerja itu terlihat nyaman dan hangat. Jack langsung saja duduk di depan perapian dan mengosok-gosokkan tangannya.’’ Informasi apa yang sudah kamu dapatkan?’’tanya Nicola.


"Aku bertemu dengan saudara perempuannya Irvin Fretzie di sana. Ia bersikeras kalau adiknya tidak mencoba membunuh Dimitri dan Aleandra juga tidak membakar mansion. Dia juga bercerita kepadaku bahwa Dimitri bicara dengan seorang pria bernama Ivander Armaturov."


"Siapa dia?’’


"Aku tidak tahu dan sepertinya nona Fretzie juga tidak tahu siapa dia. Tapi menurutku , mungkin saja pria itu salah satu teman kepercayaannya kalau tidak mana  mungkin Dimitri mempercayakan anak dan istrinya kepada pria itu untuk diselamatkan."


Nicola nampak berfikir, lalu berkata,’’ sepertinya dia tahu kalau dirinya dalam bahaya. Aku yakin itu. Pantas saja sikap Dimitri waktu sedikit aneh tidak seperti biasanya. Dia terlihat gelisah dan seperti ketakutan akan sesuatu."


"Apa Dimitri tahu siapa orang yang akan berniat membunuhnya?’’


"Aku rasa tidak. Kalau dia tahu pasti dia akan mengatakannya padaku dan memberitahu polisi. Dia tidak akan mengambil resiko membiarkan istri dan anaknya dalam bahaya dengan membiarkan orang yang berniat jahat kepadanya berkeliaran begitu saja."


"Mungkin pembunuhnya adalah musuh bisnisnya atau mungkin ada orang yang iri dengan kesuksesan dia."


"Itu mungkin saja. Tapi siapa?’’


"Entalah Nicola, aku sama sekali tidak ada bayangan siapa."


"Kalau Irvin entalah, dia mungkin saja punya motif untuk membunuh Dimitri, tapi selama ini dia selalu bersikap baik pada Dimitri dan Dimitri pun menyukai  pelayan itu."


"Mungkin saja Irvin mempunyai dendam pada Dimitri dan berencana untuk membunuhnya."


"Kasus ini membuatku pusing, tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan kebenarannya."


Nicola memejamkan matanya, lalu ia teringat wajah Irvin tanpa ekspersi ketika ia dimasukkan ke penjara, yang ia ingat dia mencoba mengatakan sesuatu padanya, tapi ia tidak mengerti, apa yang dia katakan kepadanya. Akhirnya Irvin dibebaskan, karena tidak ada bukti yang kuat.Jack dan Nicola terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Aku ingin kamu menyelidiki siapa itu Ivander,’’katanya tiba-tiba.


"Baiklah, aku akan menyelidikinya."Jack berdiri dan kembali memakaikan mantelnya.’’Aku akan menghubungimu lagi."


"Baiklah. Aku akan mengantarkanmu sampai pintu depan."


🍎🍎🍎


Lizzie terbangun di suatu pagi yang cerah di bulan Desember dan mentari pagi menembus ke jendela kamarnya yang mungil. Hembusan angin yang dingin mengayun-ayunkan tirai jendela kamarnya ketika ia membuka jendela. Setelah membersihkan diri dan turun ke bawah ia menemukan rumahnya dalam keadaan ceria. Terdengar suara tawa riang di dapur disertai bau harum masakan ibunya.


Lizzie begitu senang ketika melihat nenek Marina Moskal datang berkunjung segera dipeluknya dengan hangat. Wajah mungil Lizzie terlihat berbinar senang. Ia begitu merindukannya dan sudah lama ia tidak bertemu dengannya, karena Marina pergi ke luar kota selama beberapa minggu. Ia membawakan banyak hadiah untuk Lizzie


"Ini indah sekali."


"Kamu suka."


"Tentu saja."


Sebuah topi cantik berwarna abu-abu berhiaskan pita dan bunga cukup membuat Lizzie senang. Apa lagi ketika ia mendapati boneka Barbie lengkap dengan pakaiannya-pakaiannya yang sangat indah.


Ini pertama kalinya ia mendapatkannya, sudah lama ia menginginkannya tapi ibunya tidak pernah juga membelikannya meskipun ia sudah memintanya berkali-kali dengan alasan harganya yang cukup mahal. Lizzie pun sudah tidak sabar ingin segera memberitahukan Fanya tentang hadiah yang ia dapat dari nenek Marina Moskal.


Pagi itu Marina makan pagi bersama dengan keluarga Thusenka. Bagi Lizzie pagi ini adalah pagi dan hari yang indah dan membahagiakan. Setelah makan pagi pun Lizzie terlihat senang berbicara dengan Marina dan berlama-lama berada di sisinya.


Lizzie sudah menganggapnya sebagai neneknya sendiri, karena ia begitu merindukan kehadiran seorang nenek disisinya. Marina pun terlihat senang bisa kembali bertemu dengan Lizzie. Bagi dirinya Lizzie sudah dianggap cucunya sendiri ketika pertama kali melihat Lizzie sewaktu masih bayi. Bayi mungil yang cantik, itulah kesan pertama yang ia pikirkan ketika pertama kali bertemu dengannya.


Ia berharap memiliki cucu perempuan seperti Lizzie selain cantik juga pintar dan baik. Jam menunjukkan jam 10 pagi, Lizzie bergegas pergi untuk menemui Ivander, teman barunya. Ia sudah membayangkan akan melewatkan waktu yang menyenangkan bersamanya. Setelah berpamitan kepada ibunya dan juga nenek Marina, ia pun langsung segera pergi.


Pagi menjelang siang itu Lizzie menikmati perjalanannya menuju rumah Ivander. Langit yang begitu cerah membuat hatinya merasa sangat senang. Pemandangan disekitar menjadi terlihat jelas tidak ada kabut sedikit pun meskipun angin dingin kadang-kadang bertiup dengan kencang, tapi itu tidak membuat menghalanginya untuk menikmati pemandangan disekitarnya.Tidak ada badai ynag mengusik di pagi itu, bagi Cassei segalanya terlihat sangat indah.


Rumah Ivander masih belum terlihat ketika ia sudah setengah jalan memasuki hutan birch . Dari kejauhan Lizzie dapat melihat bukit yang terhampar luas dipenuhi oleh pohon maple. Lembah-lembah yang sangat indah dengan air danau yang terlihat bekilau dari kejauhan. Sesaat ia terpesona dengan pemandangan yang disajikan di depannya, karena sebelumnya ia tidak pernah melihatnya sejelas ini.


Lizzie pun dapat melihat menara gereja dari kejauhan di balik bukit nampak begitu tenang dan hening. Ia menghirup udara dalam-dalam dan dapat mencium aroma hutan yang membuatnya merasa rileks.


Ia sangat menyukai aromanya dan tidak henti-hentinya ia menghirup udara segar di sekeliling hutan. Lizzie kembali berjalan dan tidak lama ia melihat sinar lampu dari sebuah rumah mungil yang merupakan satu-satunya tetangga yang di miliki Ivander itulah pikiran yang terlintas dikepala mungilnya.


Beberapa meter lagi barulah ia tiba di depan rumahnya. Lizzie begitu takjub saat memandangi rumah itu meskipun saat ini tidak ada bunga satu pun yang mekar, tapi dirinya mengingat saat sebelum musim gugur tiba. Halaman rumah ini  ditumbuhi oleh berbagai macam bunga. Lizzie merapikan dirinya dan mengetuk pintu dengan pelan. Seorang wanita membukakan pintu dan tersenyum manis kepadanya. "Pasti kamu Lizzie, bukan?’’

__ADS_1


"Benar. Selamat pagi!’’


"Selamat pagi! Ayo masuk! Suamiku sudah menunggumu."


Lizzie langsung menebarkan pandangan ke seluruh rumah ketika ia masuk. Rumah yang nyaman dengan perapian yang menyala dan susana terasa sangat hangat. Dinding-dinding yang terbuat dari batu seolah tidak membuat rumah itu terlihat jelek malah sebaliknya kesan yang ia dapat rumah itu begitu indah dan unik.


Sepoci teh dan juga kue sudah terhidang di meja. Lizzie tersenyum ketika dilihatnya Ivander yang sudah duduk dikursi.‘’Senang bisa bertemu denganmu lagi."


"Aku juga. Rumah ini indah."


"Rumah ini memang indah, sayangnya pemiliknya tidak mau menjual rumah ini."


Secangkir teh hangat beraroma mint sudah terhidang di hadapan Lizzie.‘"Kenalkan ini istriku, Juliana."


"Senang berkenalan dengan Anda nyonya,’’katanya sambil mengulurkan tangannnya.


"Senang berkenalan denganmu juga."


Lizzie pun mengangguk.


Lizzie pun melewatkan waktu yang menyenangkan dengan mereka. Mereka berdua sangat senang dengan kehadiran Lizzieyang mampu membuat suasana menjadi lebih menyenangkan. Bahkan Juliana seperti tersihir dengan keberadaan Lizzie di rumahnya. Sejak kedatangannya kerumah, mata Juliana tidak pernah lepas dari Lizzie. Ia berpikir seandainya ia memiliki anak perempuan seperti Lizzie pasti akan sangat menyenangkan.


"Orang tuamu sungguh beruntung memiliki anak sepertimu."Wajah Lizzie merona.


"Orangtuaku memang sangat beruntung memilikiku,’’jawabnya.


"Pasti kamu sangat menyayangi mereka bukan?’’


"Tentu saja."


Ivander melirik ke arah istrinya. Ia tahu kalau Juliana mendambakan seorang anak, terutama anak perempuan. Lizzie sudah membuat istrinya semakin bertekad untuk memiliki seorang anak perempuan, tapi masa lalunya yang tidak jelas membuat ia merasa takut kalau jika nanti ia memiliki seorang anak. Bukannya ia tidak menginginkannya, tapi sebaliknya ia juga sangat menginginkannya.


Maka ia berusaha untuk mengingat tentang masa lalunya yang sedikit demi sedikit mulai diingatnya, tapi kebanyakan ingatan yang ia ingat bukan hal yang menyenangkan. Ivander merasa takut bagaimana kalau ia bukanlah orang baik. Setiap kali ia memikirkan itu tubuhnya merinding dan berharap dirinya bukan seorang penjahat seperti yang ia pikirkan selama ini.


Tidak terasa waktu kunjungan Lizzie ke rumah Ivander sudah berakhir. Ia harus segera pulang untuk makan malam bersama keluarganya. Lizzie pun berpamitan. Ivander dan Juliana terlihat sedih, ketika Lizzie akan pulang, karena mereka merasa kalau Lizzie tidak ada suasana rumah akan kembali sepi. Sebelum pergi Juliana mengecup pipi gadis mungil itu.


"Terima kasih. Pasti aku akan datang lagi."


Sebuah sapu tangan terjatuh dari saku bajunya dan Ivander memungutnya. Raut wajahnya berubah terkejut."Ivander, ada apa?’’


Suara istrinya menyadarkannya dari rasa terkejut.’’Tidak ada apa-apa."


Dengan cepat Ivander mengembalikannya pada Lizzie.’’Terima kasih."


Lizzie dengan cepat memasukannya ke dalam saku bajunya dan sekali lagi berpamitan, lalu pergi. Mereka memperhatikannya sampai sosok mungil Lizzie menghilang. Ivander duduk di depan perapian yang sedang menyala sedangkan istrinya membereskan meja makan.


Ia masih memikirkan kejadian tadi, karena melihat sebuah lambang keluarga di saputangan Lizzie Lambang keluarga yang di kenalnya yang sering muncul di ingatannya beberapa terakhir ini. Ia melihatnya di rumah seorang pria yang pernah ia kenal, tapi ia masih tidak ingat siapa pria itu dan atau pun keluarganya.


"Apa Lizzie ada hubungannya dengan pria itu?’’gumamnya.


🍎🍎🍎


Hari sudah senja ketika Lizzie kembali ke rumah. Matahari sudah menyembunyikan diri dibalik gunung.Udara mulai semakin dingin. Lizzie mempercepat jalannya ingin segera kembali ke rumah, duduk di depan perapian menghangatkan diri. Ia tersenyum ketika dari kejauhan terpancar cahaya yang berasal dari dalam rumahnya.


Lizzie pun berlari dan langsung membuka pintu yang langsung mengarah ke dapur. Ia terkejut ketika mendapati ibunya sedang berbicara dengan seorang wanita asing. Ia cantik berambut pirang kecoklatan yang dikepang dikedua sisinya.Mata abu-abunya terlihat berbinar ketika bicara dengan ibunya.


’’Maaf , aku kira ibu sedang tidak menerima tamu."


Antonina tersenyum dan menyuruhnya mendekat. Pelan-pelan dengan wajah yang terlihat ragu-ragu Lizzie berjalan mendekati ibunya.


"Lizzie, kenalkan ini Milly Constantine."


"Ha...halo , namaku Lizzie."


"Aku Milly Constantine. Panggil saja aku Milly. Ternyata kamu adalah anak yang sangat manis dan cantik seperti yang dikatakan oleh ibumu." Segurat garis merah muncul di wajah Lizzie.


"Mulai besok Milly akan menjadi pengasuhmu,’’kata ibunya. Lizzie membelalakan matanya.

__ADS_1


"Pengasuh? Tapi aku kan sudah besar. Aku tidak memerlukan seorang pengasuh."


"Kamu memang sudah besar, tapi kamu masih anak-anak. Ibu tidak bisa memperhatikanmu setiap saat. Apa lagi setelah kejadian kemarin waktu kamu berenang di danau tanpa menghiraukan keselamatanmu."


"Pasti teman-temanku akan mentertawakanku kalau aku punya seorang pengasuh."


Lalu ia membayangkan kalau Mary dan Fransesca Doyle akan mentertawakannya dan akan menyebarkan gosip tentang dirinya. Lizzie mendesah.’’Apa Milly akan ikut aku ke sekolah nanti?’’


"Milly akan mengantar dan juga menjemputmu sekolah,’’jawab ibunya tenang, lalu melirik ke arah Milly.


"Baiklah."


"Anak baik."


Ibunya mengusap-usap kepala Lizzie.


"Aku akan datang besok pagi-pagi untuk mengantarmu sekolah. Kuharap nanti kita akan menjadi teman baik,’’kata Milly.


Lizzie mengangguk cepat. Ia merasa kalau Milly adalah orang yang sangat baik dan ramah , ia senang kalau bisa berteman baik dengannya. Entah kenapa jauh di lubuk hatinya ia pernah merasa mengenalnya.


"Sekarang bersihkan dirimu. Sebentar lagi kita makan malam bersama."


"Baik."


Lizzie segera meninggalkan dapur menuju kamarnya.


"Anak Anda benar-benar manis dan cantik. Aku menyukainya. Aku rasa akan bisa berteman baik dengannya."


"Lizzie adalah anak kesayangan kami dan aku yakin kalian akan cepat menjadi akrab."


Antonina tersenyum bangga.


"Apa Anda tahu nama anak Anda sama dengan nama cucu mantan majikan saya dulu."


"Benarkah?"


Milly mengangguk." Tapi sayangnya cucu majikan saya hilang entah kemana. Ah maaf, aku sudah banyak bicara depertinya aku harus segera pergi. Ibuku sudah menugguku di rumah."


"Tidak ikut makan malam bersama dengan kami?’’


"Tidak. Terima kasih atas tawaran Anda. Ibuku tidak ada yang menemani di rumah, jadi saya harus segera pulang."


"Baiklah. Sampaikan salam untuk ibumu dan semoga cepat sembuh."


"Terima kasih Nyonya."


Antonina mengantarkan Milly sanpai pintu depan.


"Hati-hati di jalan!’’


Setelah pintu di tutup ia terkejut melihat suaminya sudah berada di belakangnya.’’Apa itu pengasuh Lizzie?’’


"Benar."


"Aku rasa dia wanita yang sangat baik, tadi aku melihatnya sekilas."


"Aku rasa juga begitu. Dia tinggal bersama ibunya di belakang hutan birch."


Sinar mata Antonina tiba-tiba meredup ketika ia menceritakan kisah ibu Milly yang terkena luka bakar dan jatuh koma kepada suaminya.


"Kasihan sekali. Padahal dia masih sangat muda, tapi dia harus mencari uang untuk membiayai hidupnya."


"Sepertinya aku mempercayainya menyerahkan Lizzie ke tangannya. Aku yakin Milly dapat menjaganya dengan baik."


"Kalau kamu mempercayainya, aku juga akan mempercayainya." Mereka pun berpelukan.


Setelah makan malam Lizzie duduk di samping jendela kamarnya. Dipandanginya langit malam bulan Desember . Malam yang begitu kelam tidak ada satu pun bintang atau bulan yang menyinari langit malam dan ia berharap akan segera turun salju keesokan harinya.

__ADS_1


Lizzie menghirup udara segar malam hari berkali-kali dan ia dapat mencium aroma pohon-pohon disekitarnya lembab dan basah.Ia mencintai desanya yang indah, saat ini ia tidak rela menukarkan apa pun yang dimilikinya untuk meninggalkan desa tercintanya. Lalu ditutupnya jendela setelah mengucapkan selamat malam pada alam.Tubuh kecilnya kemudian meringkuk di balik selimut yang hangat.[ ]


__ADS_2