Shattering Heart

Shattering Heart
SEASON 2 ( S2 ) : Silverbell Farms


__ADS_3

Ini adalah novel sekuel dari Shattering Heart.


Novel ini bercerita tentang Lizzie, anak Aleandra dan Dimitri😊


Kisah ini berawal setelah 6 bulan Aleandra dan Dimitri menikah.


Di up setiap hari


🍎🍎🍎


6 bulan kemudian


Pada suatu pagi yang cerah di bulan Agustus sinar matahari masuk melalui jendela dan kabut lembut menyelimuti desa Zelenogradsk. Antonina Tushenka membuka tirai jendela.Di depannya terhampar pemandangan desa yang terbentang luas ,indah, dan cantik. Antonina dan suaminya, Petro belum mempunyai anak.


Petro Tushenka memiliki tubuh tinggi besar,bermata biru,hidung yang tidak terlalu mancung,rambut pirang , berkulit putih dan memiliki bintik-bintik merah di pipinya bekerja sebagai petani. Keluarga mereka memiliki perkebunan Silverbell Farms. Sayuran dan buah-buahan yang mereka tanam sudah terkenal diseluruh desa Zelenogradsk, karena memiliki kualitas yang sangat baik.


Antonina, istrinya bekerja sebagai ibu rumah tangga kadang-kadang juga membantu suaminya bekerja di kebun. Ia adalah wanita penyayang dan sabar. Dia berperawakan tinggi semampai dengan rambut kecoklatan dan bermata abu-abu. Mereka sudah tinggal di desa ini sejak mereka dilahirkan. Taman di depan rumahnya merona di tumbuhi oleh mekarnya bunga-bunga dengan berbagai macam warna.


Kabut pagi kemudian perlahan-lahan pergi meninggalkan desa dan matahari mulai muncul di kaki langit. Suara kicauan burung dan kokok ayam terdengar semakin keras menandakan pagi telah datang. Desa Zelenogradsk sekarang sudah diterangi oleh mentari pagi yang menyingkap suasana pedesaan sesungguhnya . Indah dan damai.


Antonina keluar rumah menghirup udara pagi yang segar. Tercium aroma pepohonan dan juga harumnya bunga yang terbawa oleh angin. Kehidupan sepasang suami istri Thusenka hari ini akan terasa berbeda, karena mereka akan memiliki sesuatu yang mereka idam-idamkan selama ini dan juga akan mengubah kehidupan mereka.


Ketika Antonina akan kembali masuk ke rumahnya untuk menyiapkan makan pagi samar-samar terdengar suara bayi menangis. Pada awalnya dia tidak mempedulikannya dan dia kira itu hanya suara angin, tapi tangisan bayi itu semakin keras dan dia sangat yakin kali ini tidak salah dengar. Dicarinya asal suara bayi itu dan matanya terpatri ke arah pohon apel di kebun belakang rumahnya dan di bawahnya ada sesuatu seperti sebuah keranjang. Dia segera mendekati pohon apel. Antonina tidak mempercayai apa yang telah dilihatnya.


Seorang bayi perempuan yang cantik sedang menangis, lalu digendongnya bayi itu dan dia berusaha mencari orang yang sudah meletakkannya ini di sini. Antonina menemukan selembar kertas. Ia mengambilnya dan membacanya.


Nama anak ini adalah Lizzie.


Pandangan matanya menelusuri setiap sudut perkebunan di sekitar rumahnya, tapi tidak menemukan orang yang dicurigai. Bayi itu terus menangis dalam buaiannya.


''Anak manis jangan menangis. Pasti kamu lapar ya?''


Bayi itu segera di bawa masuk ke dalam rumah. Antonina segera menyiapkan susu untuk si bayi, karena di rumahnya tidak memiliki susu bayi, dia terpaksa memberikan susu sapi segar yang baru saja di peras oleh suaminya ketika fajar akan menjelang.Petro yang baru saja memberikan makan untuk kuda-kudanya terkejut melihat ada bayi di rumahnya.


''Bayi siapa ini?''


Bayi itu tertawa melihat Petro seolah-olah bayi itu tahu kalau Petro adalah ayahnya.


''Oh itu, aku baru saja menemukannya di bawah pohon apel di kebun belakang rumah. Aku kasihan melihatnya terus menangis sepertinya dia lapar, jadi aku membawanya masuk."


Petro mengendong bayi itu dan bayi itu merasa nyaman dalam buaiannya. ''Aku rasa kita harus membawanya ke kantor polisi dan mencari orang tua kandungnya."


Pada pukul 9 pagi sepasang suami istri Tushenka pergi menuju kantor polisi dengan mengendong seorang bayi dan tentu saja tidak lepas dari perhatian orang-orang sekitarnya, karena para penduduk desa ini sudah saling mengenal satu sama lain.


Ada masalah sekecil apa pun atau ada hal yang aneh yang sedang dialami salah satu tetangga , mereka akan cepat mengetahuinya. Apa lagi sekarang penduduk desa melihat Antonina dan suaminya membawa bayi .Keterkejutan dan rasa ingin tahu yang besar terlihat jelas sekali di wajah mereka.


Jarak antara rumah dan kantor polisi cukup jauh. Mereka berkendaraan menggunakan bugi yang ditarik oleh kuda jantan. Hal yang tidak biasa pada suami istri Rothchild tidak luput dari perhatian Xena Watson yang merupakan tetangga terdekat keluarga Thusenka. Dia adalah sahabat Antonina .


Saat itu Xena yang sedang membersihkan kebunnya bersama suaminya, Thomas Watson melihat kereta bugi yang dikendarai oleh Petro melintas tepat di depan matanya. ''Hei, kamu lihat itu! Antonina membawa bayi. Menurutmu itu bayi siapa?''


''Mana aku tahu. Kamu jangan terus saja mengurusi orang lain, sekarang selesaikan pekerjaanmu, karena sebentar lagi acara minum teh akan dimulai."


Xena menatap suaminya dengan pandangan kesal. Tidak perlu waktu lama gosip mengenai bayi yang dimilki oleh pasangan suami istri Thusenka mulai tersebar ke seluruh desa. Mereka mulai berkasak-kusuk di mana-mana.Singkatnya bayi itu sudah menjadi bahan pembicaran seluruh desa Zelenogradsk.


Antonina dibantu oleh suaminya Petro turun dari kereta bugi dan masuk ke kantor polisi. Di dalam terlihat sangat sibuk sehingga kehadiran mereka sedikit terabaikan. Bahkan mereka harus menunggu agak lama sampai ada petugas dari kepolisian melayani mereka. Akhirnya seorang polisi berbadan tegap dan berkumis mendekati mereka.


''Ada yang bisa kubantu?''.


Sesaat Antonina melirik suaminya dan Petro mengerti kalau istrinya ingin dirinya melaporkan tentang bayi yang mereka temukan.


''Kami ingin melaporkan tadi pagi istri saya telah menemukan bayi ini di kebun belakang rumah kami dan kami ingin dicarikan siapa orang tuanya."


Polisi itu dengan cepat mengetik pernyataan dari Petro.


''Dan siapa nama bayi itu?''


Adelaine dan kevin saling berpandangan dan kemudian menatap bayi yang sedang digendong istrinya.''Lizzie,"jawab Antonina.


''Saya sudah mengetik semua laporan Anda mengenai bayi itu. Mungkin akan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menemukan orang tuanya atau pun keluarganya.Untuk sementara ini sebaiknya kalian merawatnya sampai keluarganya ditemukan, kalau kalian tidak ingin merawatnya, kalian bisa menitipkannya di panti asuhan."


''Panti asuhan?'' seru Antonina.''Tidak biar aku saja yang merawatnya. Aku tidak tega melihat bayi secantik dan selucu ini dititipkan di panti asuhan.Petro izinkan aku merawatnya. Kita anggap saja bayi ini sebagai anak kita. Bagaimana?''


''Baiklah. Kita berdua akan merawatnya."


''Oh, terima kasih sayang."


''Tuan Thusenka, tolong tanda tangani laporan ini."


Petro membubuhkan tanda tangannya dengan mantap dan tidak ada keragu-raguan. Mereka kembali pulang ke rumah. Sebelum pulang mereka pergi ke toko perlengkapan bayi dan selama perjalanan bayi itu berceloteh riang. Antonina terlihat senang dan menanggapi celotehannya. Bayi yang masih berumur 10 bulan itu memilki warna mata biru.


''Sepertinya kamu adalah anak yang sangat istimewa yang dikirimkan Tuhan untuk kami."


Antonina mengecup pipi bayi itu dengan sayang.


Petro mengendarai kereta buginya pelan-pelan dan senyaman mungkin. Karena hari ini sangat cerah, Kevin ingin menikmati berjalan-jalan di luar. Sudah lama dia tidak pergi jalan-jalan bersama istrinya, karena pekerjaan di perkebunan sangat menyita waktunya sehingga tidak ada kesempatan untuk pergi berlibur atau jalan-jalan dengan keluarga. Kereta itu berderap dengan nyaman di jalan.


Pohon-pohon cemara dan poplar berderet sepanjang jalan dan bunga-bunga liar yang beraneka warna terlihat menghiasi jalan.Hembusan angin yang sejuk membawa aroma manis dari pohon apel yang sudah tampak di depan mata. Buah Apel yang ranum membuat orang ingin memetiknya ketika melewatinya.


''Petro, tangkap!''seru seseorang dari kebun apel.

__ADS_1


Mark Springfield, orang Amerika pemilik kebun apel itu melemparkan beberapa buah apel kepada Petro.''Semoga hari kalian menyenangkan,''teriak Mark.


''Terima kasih,''teriak Petro, lalu dia memberikan salah satu apel yang dilemparkan Mark kepada istrinya.


Kereta mereka sudah melewati bukit dan sebuah danau yang luas . Airnya berkilau karena tertimpa cahaya matahari. Kereta bugi yang dikendari Petro terus berderap melewati jembatan .Hembusan angin menggerakkan air danau tersebut. Danau itu dikelilingi oleh sekumpulan pohon birch, sehingga danau itu terlihat teduh.


''Sebentar lagi kita sampai rumah,''kata Petro.


Di depan rumah sudah berkumpul beberapa orang. Antonina dan suaminya terkejut ada banyak orang di rumahnya. Petro membantu istrinya turun dari kereta. Mereka mempersilahkan tamu-tamunya masuk. Orang-orang yang mengunjungi mereka adalah suami istri Watson,kakak beradik Javor dan Selena Bulka, dan Marina Moskal.


''Selamat siang !''


Antonina berkata dengan segera. Xena mendekatinya dan melihat bayi mungil yang sedang digendong.


Meskipun hubungan antara Xena dan Antonina tidak begitu akrab , tapi mereka selalu menjalin persahabatan, sedangkan Javor dan Selena adalah saudara kembar . Mereka berdua masih muda . Keduanya masih berumur 24 tahun dan Javor akan segera menikah dengan kekasihnya yang berasal dari desa tetangga.


Javor bekerja di perkebunan Silverbell Farms membantu Petro menggarap lahan perkebunan dan adiknya Selena bekerja di sebuah toko makanan. Marina Moskal seorang wanita tua yang tinggal di perbatasan desa. Dia sudah dianggap sebagai ibu oleh Antonina.


''Semua orang desa sudah membicarakan kalian, jadi aku ke sini untuk melihat bayi itu,''kata Selena.''Rasanya aku tidak percaya kalian akhirnya memiliki seorang bayi."


''Bayi ini anugerah untuk kami.''


Antonina menjawab pertanyaan Selena dengan tenang.


''Bayi yang cantik,''timpal Javor.''Selamat ya nyonya Thusenka!"


''Terima kasih, Javor."


''Tunggu ! Kalian bermaksud untuk mengadopsi anak ini,''tanya Xena sambil memandangi mereka. ''Kalau di lihat dari raut wajah kalian sepertinya iya."


''Itu benar Xena , kami berdua akan mengadopsi anak ini. Kamu tahu kan sudah lama kami ingin memiliki anak dan Tuhan telah mengirimkan anak ini pada kami,''kata Antonina dengan mata yang berbinar-binar memancarkan kebahagiaan.


''Tapi...tapi kalian tidak tahu anak ini berasal dari mana dan kita juga tidak tahu kalau anak ini berasal dari keluarga yang baik-baik,''tukas Xena.


''Bagi kami itu tidak masalah yang penting kami menyayangi anak ini. Benarkan sayang?''


Antonina berusaha meminta persetujuan suaminya.


''Itu benar. Kami akan menyayangi anak ini seperti anak kami sendiri."


Petro berusaha membela istrinya di depan Xena.


''Sudahlah Xena, kamu jangan lagi mencampuri urusan mereka. Itu terserah mereka mau merawat anak itu atau tidak,''kata Danko melirik Xena, istrinya dengan geram. Xena menghela nafas kemudian berkata,''Sepertinya kalian sudah benar-benar memutuskan untuk merawat anak itu. Aku harap anak itu dapat berguna untuk kalian nanti. Jadi siapa nama anak itu?''Xena bertanya.


''Lizzie, " kata Antonina.


''Nama yang bagus,"kata Marina.


''Aku senang akhirnya kalian mempunyai seorang anak,''kata Marina tersenyum penuh kehangatan.


''Selamat datang di rumah kami, Lizzie!''seru Antonina


Bayi itu tergelak tertawa. Mereka semua pun akhirnya tertawa. Sekarang rumah Thusenka tidak sesepi dulu. Kini di rumah itu selalu terdengar tangisan Lizzie yang menambah suasana rumah itu menjadi terasa lebih ramai. Semilir angin berhembus seperti untain lagu menyambut kedatangan Lizzie ke desa ini.


🍎🍎🍎


Seorang pria bermantel hitam dan mengenakan kacamata hitam memperhatikan rumah keluarga Thusenka dari kejauhan dengan menggunakan teropong.Ia sudah dua hari mengawasi rumah itu. Angin berhembus kencang mengibarkan mantel dan rambut orang itu. Pria itu tersenyum.


''Sekarang anak itu sudah aman berada ditangan mereka. Selamat tinggal my Lady!''


Pria itu keluar dari tempat persembunyiannya di balik semak-semak. Pria itu berjalan kaki di jalan setapak yang menembus hutan kecil pohon birch yang letaknya tidak jauh dari rumah keluarga Thusenka. Dia tidak ingin mengambil resiko dengan berjalan di jalan utama yang dapat menarik perhatian orang-orang desa.


Hutan itu mengarah ke lapangan terbuka dengan beberapa rumah yang berdiri di sana. Beberapa buah pohon apel raksasa tumbuh di sepanjang jalan yang pohonnya dipenuhi oleh bunga-bunga bermekaran. Aroma harum bunganya merebak terbawa oleh hembusan angin.


Di kejauhan dibelakang lapangan terbuka terlihat air danau yang berkilau yang dikelilingi oleh pohon birch yang menjulang ke langit. Pria itu terus menyusuri jalanan yang berada di lapangan terbuka dan melewati kebun yang ditumbuhi pohon apel sampai akhirnya dia tiba di danau.


Dia berjalan di sepanjang danau sampai ke ujungnya dan akhirnya dia mencapai jalanan utama yang sudah jauh dari pemukiman penduduk desa. Dia masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan desa . Diwajahnya terlihat sedikit lega, karena tugasnya menyelamatkan bayi Aleandra dan Dimitri berjalan dengan lancar.


Setidaknya bayi itu ada yang merawatnya dengan baik. Mobil itu terus melaju keluar dari desa melewati sederetan rumah yang saat itu jalanan terlihat sepi karena sebagian penduduk sedang bekerja di perkebunan masing-masing. Satu jam kemudian pria itu sudah sampai di kota tujuannya yang tidak jauh dari desa Zelenogradsk.


🍎🍎🍎


Pria itu pergi ke sebuah penginapan kecil yang dia sewa selama satu minggu dan berencana akan kembali ke Moskow. Tapi di depan penginapan kecil itu telah ada beberapa orang berpakaian hitam sedang menunggunya.


''Siapa kalian? Dan mau apa kalian?''


Salah satu diantara mereka menodongkan pistolnya.


''Ikut kami!'' Dan dengan terpaksa pria itu mengikuti kemauan orang-orang yang berpakaian hitam. Mereka memasukan dengan paksa pria itu kedalam mobil. Mobil itu terus melaju menjauhi kota dan mereka memasuki sebuah kawasan hutan.


Orang-orang dari sekitar hutan yang mendengar letusan pistol segera berlari ke arah hutan dan mereka menemukan tubuh pria itu. Salah seorang dari mereka memeriksanya.


''Masih ada denyut nadinya walaupun terasa lemah. Dia masih hidup, kita harus segera membawanya ke rumah sakit," seru salah seorang penduduk sekitar.


Orang-orang itu segera memanggil ambulan dan polisi. Tidak lama kemudian polisi pun datang ke tempat kejadian. Mereka semua dimintai keterangan. Seorang inspektur polisi membuka dompet pria itu dan mengambil kartu identitasnya.


''Ivander Armaturov,''gumamnya, lalu ia menyuruh anak buahnya untuk mencari informasi mengenai Ivander kepada penduduk di sekitarnya. Inspektur Limonov dan beberapa polisi lainnya segera meninggalkan hutan dan langsung menuju rumah sakit.


Ivander di rawat di ruang ICU dan dokter yang menanganinya segera keluar setelah melihat kondisinya.

__ADS_1


''Dokter, bagaimana keadaannya?''Inspektur Limonov bertanya.


''Keadaannya kurang baik. Tapi dia beruntung peluru yang bersarang di dadanya tidak mengakibatkannya kematian."


''Barapa lama dia akan kembali sadar?''


''Maaf, kalau itu saya tidak tahu. Itu tergantung pasien sendiri yang terpenting sekarang kami sudah berusaha untuk menyelamatkan nyawanya."


''Bolehkah saya melihatnya ? Hanya sebentar saja."


''Baiklah. Silahkan!''


Di ruangan itu sunyi hanya terdengar mesin pernafasan yang menopang kehidupannya. Saat ini hidup Ivander tergantung pada mesin yang menempel di tubuhnya.


''Siapa sebenarnya Anda? Dan apa tujuan Anda datang ke kota ini?''


Inspektur Limonov menatapnya selama beberapa saat dan di kejutkan oleh bunyi ponselnya. Dia keluar kamar dan menerima panggilan yang dari tadi terus memanggilnya dengan tidak sabar. ''Limonov di sini."


''Inspektur Limonov, ini saya Tom. Saya sudah mendapatkan informasi mengenai pria yang ditembak itu."


''Benarkah itu Tom?'


''Benar. Dia tinggal di penginapan Honeydeep."


'' Aku akan segera kesana sekarang juga."


''Aku mengerti."


Inspektur Limonov ditemani dua orang polisi lainnya segera menuju ke penginapan yang dimaksud. Di sana Tom sedang serius memberikan berbagai macam pertanyaan kepada seseorang.


''Ah, inspektur, Anda sudah datang rupanya."


''Bagaimana Tom? Informasi apa yang sudah kamu dapatkan ?''


''Tuan Sebastian Brackley mengakui dia mengenal pria yang kita temukan di hutan. Namanya adalah Ivander Armaturov.Dia baru mengenalnya 3 hari yang lalu."


Inspekur Limonov mendengarkan dengan baik penjelesan Tom.''Dia juga bilang pria itu membawa bayi bersamanya."


''Bayi?''


''Benar. Tapi ketika aku menanyakan di mana bayi itu, tuan Barckley tidak mengetahuinya, karena ketika dia kembali dari bepergian bayi itu sudah tidak ada bersamanya lagi''.


Inspekur Limonov duduk di depan Sebastian yang terlihat gugup dan ketakutan. Sebastian Barckley pria berumur 45 tahun pemilik dari toko makanan berbadan sedikit gemuk dan memiliki rambut keriting.


''Bisakah Anda menceritakan pada kami secara lebih detail mengenai pria yang bernama Ivander ini?''


''Baik saya akan mengatakannya. 3 hari yang lalu dia datang ke kota ini bersama dengan seorang bayi. Bayi itu terlelap tidur dalam gendongannya. Bayi perempuan itu sangat cantik.Dia menginap di hotel Honeydeep untuk satu minggu. Aku dan dia bertemu di lobi hotel ketika dia akan check in di sana. Saya bertanya padanya, apa bayi itu adalah anaknya? Dia menjawab, kalau bayi ini bukan anaknya, tapi keponakannya.Tidak membutuhkan waktu lama kami menjadi teman baik. Ivander orangnya sangat ramah dan mudah diajak bicara, seolah-olah aku sudah mengenalnya begitu lama, tapi sorot matanya terlihat sedih . Dia tidak pernah menceritakan tentang keluarganya sedikit pun. Dia hanya bilang berasal dari Moskow. Kedatangan dia ke sini, karena ada suatu kepentingan dan hari kedua dia d isini, dia pergi dengan bayinya dan dia kembali pada sore harinya , tapi bayinya sudah tidak ada bersamanya lagi. Dia bilang, bayi itu sudah ada yang merawatnya, karena dia tidak sanggup untuk merawatnya sendirian."


''Apa dia mengatakan di mana dia meninggalkan bayinya?''


''Tidak. Dia tidak mengatakan apa pun." Inspektur Limonov menatap tajam kepadanya. Pria itu terlihat gugup.


''Baiklah. Terima kasih sudah mau membantu kami. Selamat siang!''


Inspektur Limonov memicingkan mata, ketika keluar dari penginapan itu, karena matahari sore yang terik.


🍎🍎🍎


Matahari sore yang hampir terbenam di kaki langit membuat langit biru berubah warna menjadi warna jingga keemasan. Para penduduk desa sudah meninggalkan ladang mereka dan kembali ke rumah masing-masing. Antonina sibuk menyiapkan makan malam untuk suaminya.


Lizzie sedang terlelap tidur di keranjangnya. Wajahnya yang polos dan lugu telah membuat orang disekitarnya menjadi menyayanginya dan Lizzie kecil telah berhasil memikat keluarga Thusenka dan memberikan keceriaan bagi mereka.


''Halo Sayang!Bagaimana pekerjaanmu di kebun?''


''Baik.Hari ini kami memanen beberapa kentang dan juga tomat. Javor sangat senang kentang dan tomat yang dia taman berhasil dengan baik."


Petro mendekati keranjang bayi dan tersenyum lembut pada bayi di hadapannya.


''Halo Lizzie sayang!''


''Jangan sentuh dia sebelum badanmu bersih. Cepat pergi mandi! Aku sudah selesai menyiapkan makan malam untuk kita."


''Baik nyonya."


Makan malam pun berlangsung dengan khidmat.''Makan malam ini sangat enak seperti biasanya."


''Terima kasih. Hari ini aku sengaja menyiapkan makan malam istimewa untuk menyambut kehadiran Lizzie di rumah ini."


''Pantas saja menu makan malam ini terlihat berbeda."


Setelah mereka selesai makan ,Antonina segera membereskan meja makan dan Petro memberikan susu untuk Lizzie.


''Mungkin suatu saat nanti kita akan mengetahui asal usul anak ini, jika seandainya kita mengetahuinya, apa yang akan kita lakukan? Apa kita harus mengembalikan anak ini pada keluarga yang sebenarnya?''Petro bertanya dengan tiba-tiba pada istrinya.


Antonina terdiam, dia sama sekali belum memikirkan hal itu. ''Aku rasa keluarganya sudah tidak menginginkan dia lagi. Buktinya dia meninggalkan anak itu di rumah kita."


''Mungkin benar, tapi mungkin ada alasan kuat kenapa bayi ini di ditinggalkan disini'."


Antonina mendekati suaminya yang sedang mengendong Lizzie dan menatap hangat pada bayi itu.

__ADS_1


''Aku yakin bayi ini akan menjadi anak yang istimewa nantinya."


Desa Zelenogradsk di malam hari terlihat indah sama seperti di pagi hari. Lampu-lampu yang terpancar dari setiap rumah, gemerlap lampu dari kejauhan dan langit yang dihiasi oleh taburan bintang semakin memperindah desa itu di malam hari. Suara percikan air yang mengalir dan gesekan suara angin seperti mengalunkan sebuah melodi pengantar tidur. Desa yang indah dan tenang inilah yang akan menyimpan semua rahasia Lizzie. [ ]


__ADS_2