Shattering Heart

Shattering Heart
(S3): Salah paham


__ADS_3

"Sebaiknya aku mandi dulu."


"Apa kamu bisa berjalan sekarang."


"Entalah akan aku coba."


Lizzie pergi ke kamar mandi dengan kaki yang di seret dan diikuti oleh Vladimir dari belakang. Setelah keduanya selesai mandi, mereka makan bersama di halaman villa sambil menikmati langit yang penuh bintang.


πŸ€πŸ€πŸ€


Sherly menelepon ke ponsel Vladimir, tapi selalu tidak aktif. Akhirnya dia menelepon ke rumahnya. Nicola yang kebetulan sedang lewat di depan telepon menerima telepon itu dan Sherly menanyakan Vladimir berada di mana. Nicola mengatakan padanya kalau sekarang ini Vladimir sedang tidak ingin diganggu.


Nicola kemudian menutup teleponnya.


"Wanita itu sepertinya menyukai anakku. Vladimir kamu harus segara mengumumkan hubunganmu dengan Lizzie, kalau tidak wanita itu dan wanita lain akan terus mengejarmu."


Lizzie datang pagi-pagi sekali ke rumah Vladimir.


"Pagi Lizzie!’’kata Nicola.


"Pagi!’’


"Bagaimana kabarmu hari ini?’’


"Baik."


"Vladimit masih ada di kamarnya. Temui saja dia di sana?’’


"Terima kasih."


Lizzie naik ke lantai 2 dan mengetuk pintu kamar Vladimir.


"Masuk!’’


"Pagi!"


"Lizzie."


"Ini bekal makan siang untukmu. Kamu harus memakannya."


Vladimir mengambil bekal makan siang dari Lizzie dan Vladimir membukanya.


"Jangan dibuka di sini. Nanti saja kalau kamu sudah akan makan siang."


"Baiklah kalau itu maumu."


"Sudah siap untuk pergi?’’


"Iya. Kamu sudah makan?’’


"Sudah. Kalau begitu temani aku makan."


Vladimir menarik lengan Lizzie dan di sana Nicola sudah menunggu unuk makan pagi bersama.


"Pagi!’’


"Pagi! Jam berapa pesawatmu pergi jam 10 tepat."


"Sebaiknya kamu cepat makan dan kamu juga Lizzie."


"Sebenarnya aku sudah makan di rumah."


"Tidak apa-apa kalau kamu mau makan lagi di sini. Kamu harus menjaga Vladimir dengan baik, karena sekarang ini ada seorang wanita yang menyukainya."


Lizzie langsung melihat ke arah Vladimir.


"Benarkah itu?’’


"Jangan pedulikan kata-kata Ayah tadi. Kenapa Ayah juga harus bicara omong kosong?"


"Ayah tidak bicara omong kosong. Itu memang kenyataannya."


"Lizzie, percayalah padaku apapun yang terjadi. Aku tidak mungkin mencintai wanita lain."


"Aku akan mencoba untuk mempercayaimu."


Mereka makan dan tidak ada lagi yang bicara. Suasana jadi hening.


"Aku sudah selesai makan. Aku akan pergi sekarang."


"Vladimir, hati-hati di jalan!’’


Vladimir meraih tangan Lizzie dan pergi ke depan rumah.


"Mau mengantarku sampai bandara?’’


"Apa itu tidak apa-apa?’’


"Tentu saja. Ayo naik."


Di dalam mobil mereka tidak saling bicara.


"Lizzie, kenapa hari ini kamu jadi pendiam?’’


"Kamu juga."


"Selama aku pergi jaga kesehatanmu. Aku nanti akan sering meneleponmu."


"Kamu juga jaga kesehatanmu, jangan sampai telat makan."


"Terima kasih atas nasihatmu."


Mobil terus melaju dengan kencang menuju bandara. Mereka tidak perlu memakan waktu lama untuk mencapai bandara. Mereka berdua turun dari mobil. Vladimir masih memegang erat tangan Lizzie. Zoya sudah menunggu di depan bandara.


"Halo Lizzie, apa kabar?’’


"Baik."


"Pesawat Β sebentar lagi akan segera pergi. Sebaiknya kita segera masuk ke dalam pesawat,"kata Zoya.


Vladimir menatap Lizzie dan berpamitan kepadanya.


"Lizzie, aku sudah harus pergi. Kamu harus segera pulang ke rumah. Jangan berkeliaran sendiri di luar!"


"Baiklah. Vladimir, jaga dirimu baik-baik di sana. Sampai jumpa!’’


Vladimir mengecup bibir Lizzie.

__ADS_1


"Bagaimana kalau ada orang yang melihat?’’


"Biarkan saja. Aku hanya mencium kekasihku."


Lizzie tersipu malu.


"Sampai jumpa!’’


Setelah pesawat pergi, Lizzie kembali kedalam mobil dan langsung pulang ke rumah.


πŸ€πŸ€πŸ€


Sherly datang ke rumah Vladimir dan disambut oleh Nicola, kemudian Sherly menanyakan keberadaan Vladimir. Nicolah memberitahunya kalau Vladimir pergi ke Yunani. Dengan hati senang Sherly berencana untuk menyusulnya ke sana.


Vladimir dan Zoya berada di pesawat. Ia mengeluarkan bekal makan siang yang diberikan Lizzie.


"Ternyata Anda sempat juga membawa bekal makan."


"Bekal ini Lizzie yang berikan."


"Oh ya. Ternyata Lizzie sangat perhatian pada Anda."


"Tentu saja."


Vladimir penasaran bekal makan siang seperti apa yang Lizzie buatkan untuknya, kemudian Vladimir membukanya dan ia tersenyum ketika melihat bekal makan siangnya. Zoya juga tersenyum ketika melihat bekal makan siang Vladimir.


β€˜β€™Ternyata seorang pengacara terkenal di beri bekal makan siang untuk anak-anak."


Zoya tertawa ditahan dan Vladimir juga ikut tertawa, lalu mulai memakannya.


"Bagaimana pun ini buatan tangan dari wanita yang kucintai."


Vladimir memakan bekal makan itu sampai habis.


"Bagaimana? Apa rasanya enak?’’


"Sangat enak."


"Sepertinya Lizzie sudah siap menjadi Ibu rumah tangga yang baik."


πŸ€πŸ€πŸ€


Vladimir dan Zoya sudah berada di Yunani keesokan harinya. Mereka langsung menuju hotel.


"Tuan akan tiba disini sekitar dua jam lagi. Kita bertemu di lobi dua jam lagi."


Vladimir pergi ke kamarnya dan berbaring sebentar sebelum memulai pekerjaannya. Ia memejamkan matanya dan tidur terlelap. Vladimir dibangunkan oleh suara ketukan di pintu. Dengan mata yang masih mengantuk, ia turun dari tempat tidurnya dan membuka pintu.


"Ternyata kamu, Zoya. Ada apa?’’


Zoya menatap Vladimir dengan pandangan kesal.


"Apa Anda sudah lupa janji kita untuk bertemu dengan Tuan Anda pikir ini jam berapa?’’


Vladimir melihat jam tangannya dan terkejut, karena sudah kurang 5 menit dari jam yang ditentukan.


"Astaga! Kenapa kamu tidak segera menghubungiku?’’


"Aku sudah menelepon Anda, tapi selalu tidak ada jawaban."


Vladimir melihat ponselnya dan di sana banyak panggilan tidak terjawab dari Zoya.


"Sebaiknya Anda bersiap-siap sekarang."


"Ambil berkas-berkas yang ada di meja."


Vladimir masuk ke kamar mandi untuk cuci muka, kemudian mereka pergi ke lobi hotel. Di sana Tuan dan asistennya sudah menunggu dan Vladimir memberi salam kepadanya.


Setelah selesai melakukan pembicaraan dengan Tuan, Vladimir kembali ke dalam kamarnya dan mulai memeriksa betkas-berkas. Tidak terasa hari sudah malam, Vladimir masih asyik bekerja, lalu di kejutkan dengan suara ketukan di pintu. Ia berjalan mendekati pintu sambil memegang kertas ditangannya.


"Kamu."


"Selamat malam Vladimir! Apa aku menganggumu?’’


"Tidak. Silahkan masuk! Apa yang kamu lakukan di sini Sherly?’’


"Kebetulan aku di sini ada sedikit urusan pekerjaan, kamu tahukan kalau Ayah membuka cabang toko pakaian di dekat sini. Makanya saya datang ke sini untuk melihat-lihat toko Ayahku. Tadi sore aku melihat Anda di lobi sedang serius bicara dengan seseorang. Sebenarnya waktu itu aku ingin menyapamu, tapi kelihatannya kamu tidak bisa diganggu. Lalu aku menyanyakan kamarmu ke resepsionis dan akhirnya aku di sini untuk menemui. Bagaimana kalau kita makan malam bersama?’’


"Baiklah. Kita makan malam bersama. Bisa kamu menungguku sebentar lagi pekerjaanku sebentar lagi akan selesai."


"Dengan senang hati,’’kata Sherly gembira.


Sherly menatap Vladimir yang sedang serius bekerja. Vladimir sudah menyelesaikan pekerjaannya.


"Ayo kita makan. Pasti kamu sudah lapar. Maaf sudah membuatmu menunggu."


"Itu tidak masalah."


Mereka berdua masuk kedalam lift dan mereka tidak menyadari ada orang yang sedang memperhatikan mereka.


"Vladimir, kali ini kena kamu. Aku menangkap basah kamu dengan seorang wanita. Ini pasti akan menjadi berita besar,’’kata orang itu tersenyum sinis.


Vladimir dan Sherly sudah berada di restoran hotel. Sherly kelihatan senang makan malam dengannya. Mereka menjadi pusat perhatian ketika mereka masuk ke restoran. Gadis itu sempat mendengar pembicaraan orang kalau dia dan Vladimir adalah pasangan serasi.


Mereka duduk dikursi di dekat jendela. Mereka menikmati makan malam mereka dan Vladimir tidak banyak bicara.


"Apa pendapatmu mengenai gosip tentang kita?’’


"Aku tidak memperdulikan gosip itu. Terserah mereka mau bicara apa. Bagaimana denganmu?’’


"Menurutku sebaiknya kita buat saja gosip itu jadi benar."


Vladimir berhenti makan dan menatap Sherly, kemudian kembali makan lagi.


"Kenapa kamu ingin gosip itu menjadi benar?’’


"Karena aku suka kamu."


Vladimir menatap Sherly kembali.


"Selama ini aku menyukaimu, tapi tidak ada keberanian untuk mengatakannya, tapi malam ini aku mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya padamu."


"Terima kasih, kamu sudah mau jujur dengan perasaanmu padaku. Aku juga menyukaimu."


"Benarkah?’’


Mata Sherly berbinar-binar ketika Vladimir mengatakan suka padanya.

__ADS_1


"Iya. Saya suka kamu,tapi....’’


"Tapi....’’


Vladimir menatap Sherly.


"Aku menyukaimu sebagai seorang teman tidak lebih dari itu."


Vladimir melihat Sherly kecewa.


"Maaf. Sudah mengecewakanmu. Aku tidak bisa membalas perasanmu. Aku senang sudah disukai olehmu, tapi aku tidak mencintaimu. Aku hanya menganggap kamu sebagai teman baik saya. Maaf Sherly."


"Apa kamu sudah mempunyai wanita yang kamu cintai?’’


"Iya."


"Aku mengerti."


Mereka melanjutkan makan malam dalam suasana hening. Vladimir dapat melihat kesedihan pada wanita itu. Sherly sudah salah mengartikan pertemanan mereka menjadi cinta. Sherly adalah teman kuliahnya dulu dan mereka sempat hilang kontak. Dua bulan lalu, ia tiba-tiba menghubungiku lagi, sejak saat itu mereka sering berkomunikasi.


Setelah makan malam, Vladimir kembali ke kamar, sedangkan Sherly duduk di lobi hotel, lalu Sherly melihat Zoya yang akan masuk lift.


"Bisa bicara dengan Anda sebentar?’’


Sherly membawa Zoya duduk disalah satu lobi hotel.


"Apa yang Anda ingin bicarakan dengan saya?’’


"Siapa wanita yang dicintai Vladimir?’’


Zoya tidak menyangka wanita ini akan menanykan ini padanya.


"Pasti kamu tahukan. Kamu sudah lama bekerja padanya. Tolong katakan siapa dia."


"Maaf. Aku tidak bisa mengatakan itu kepada Anda. Seandainya Anda tahu siapa wanita itu, apa yang akan Anda perbuat?’’


"Itu aku juga tidak tahu. Hanya saja aku penasaran, sebenarnya Vladimir itu sudah mempunyai kekasih atau belum, karena selama saya mengenalnya, aku tidak pernah melihat wanita yang dekatnya, jadi aku menyimpulkan kalau dia belum mempunyai kekasih."


"Semua pertanyaan Anda tentang Tuan Kalashnikov akan terjawab, jika waktunya sudah tepat. Jika tidak ada lagi yang ditanyakan. Saya mau pergi."


"Baiklah. Anda boleh pergi."


Zoya masuk ke dalam lift dan menuju kamarnya. Vladimir yang sudah mandi dan berpakaian menelepon Lizzie. Di kamar hotel Vladimir terus menghubungi Lizzie, tapi selalu tidak ada jawaban.


"Apa Lizzie sudah tidur? Tapi ini kan masih belum larut malam."


Vladimir menutup teleponnya dan berbaring di tempat tidur.


"Lizzie, kamu sedang apa? Aku merindukanmu. Aku tadi ingin mendengar suaramu, tapi kamu susah untuk dihubungi."


Vladimir mengambil ponselnya lagi dan menelepon ke rumah Lizzie. Pelayan mengatakan kalau Lizzie berada di kamarnya sejak dari tadi siang dan tidak keluar kamar dan sama sekali tidak menyentuh makan siang dan malamnya. Vladimir yang mendengar penjelasan pelayan itu menjadi khawatir dengan keadaan Lizzie.


"Lizzie,sebenarnya apa yang telah terjadi padamu?’’


Malam itu Vladimir tidak dapat tidur nyenyak. Keesokan harinya ia banyak melamun dan tidak konsentrasi pada pekerjaannya.


"Ada apa dengan Anda hari? Hari ini Anda terlihat banyak melamun. Apa telah terjadi sesuatu pada Lizzie?’’


"Kenapa kamu berkesimpulan ini ada hubungannya dengan Lizzie?’’


"Hanya Lizzie yang dapat membuat Anda seperti ini."


Vladimir tersenyum dipaksakan.


"Kamu benar. Sampai sekarang aku belum bisa menghubungi dia dan sejak kemarin siang Lizzie mengurung diri dikamarnya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya. Aku sangat mengkhawatirkannya."


"Rupanya begitu. Sebaiknya Anda pulang saja sore ini. Pekerjaann Anda sudah selesai sore ini. Sisanya serahkan pada saya. Saya akan kembali ke Tokyo besok."


"Benarkah? Saya boleh pulang sore ini?’’


Zoya menganggukkan kepalanya. Kemudian Vladimir kembali bersemangat menyelesaikan pekerjaannya supaya dapat pulang sore ini. Vladimir mencoba untuk menghubungi Lizzie lagi, tapi hasilnya sama seperti kemarin tidak ada jawaban darinya. Vladimir cepat-cepat membereskan barangnya dan langsung pergi dari hotel dengan terburu-buru.


Sherly mengetuk kamar Vladimir berkali-kali dan tidak ada jawaban. Zoya menghampiri Sherly yang sedang mengetuk kamar Vladimir.


"Tuan Kalashnikov sudah kembali ke Moskow."


"Benarkah? Kapan?’’


"Kira-kira 3 jam lalu."


"Bukannya dia pulang besok?’’


"Menurut rencana seperti itu, tapi dia ada urusan penting di Moskow, jadi cepat-cepat kembali."


"Terima kasih sudah memberitahuku."


Sherly pergi dari depan kamar Vladimir dan masuk ke dalam lift. Zoya yang memperhatikan Sherly merasa kasihan padanya.


"Seharusnya Anda tidak jatuh cinta padanya."


πŸ€πŸ€πŸ€


Keesokan paginya Vladimir berada di rumah Lizzie.


"Vladimir, bukannya kamu ada di Yunani. Kenapa bisa ada di sini?’’tanya Aleandra terkejut.


"Aku pulang lebih awal, karena saya mengkhawatirkan Lizzie."


"Kami juga mengkhawatirkan Lizzie. Sejak kemarin dia mengurung diri di kamar dan tidak makan."


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengannya?"


Aleandra lmenyerahkan beberapa koran pada Vladimir. Ia terkejut dengan berita utama koran hari ini.


"Mungkin Lizzie marah padamu, karena itu. Selama kamu di Yunani pasti kamu belum tahu berita hari ini di sini. Ketika kami membacanya, kami benar-benar terkejut dan kami tidak mempercayai berita ini. Apa berita ini benar?’’


Vladimir terkejut ketika melihat berita dikoran itu.


"Apa kalian tidak percaya padaku? Berita ini semuanya bohong tidak benar sama sekali."


"Di foto itu kamu dan seorang wanita keluar dari kamar hotel. Bagaimana Lizzie tidak marah padamu. Sebaiknya kamu segera menyelesaikan masalah ini."


"Aku akui wanita itu memang ada di hotel tempatku menginap, tapi aku tidak berbuat yang macam-macam dengannya. Dia hanya kebetulan sedang menginap di sana, karena dia juga ada urusan pekerjaan di sana."


"Sebaiknya kamu jelaskan itu pada Lizzie.’’


"Aku akan menjelaskan semuanya pada Lizzie."

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Vladimir berbunyi. [ ]


__ADS_2