
‘’Ayah, cek ini untukku? Kenapa ayah memberikanku banyak uang?"
‘’Cek itu untuk kamu. Uang itu untuk uang saku kamu."
‘’Tapi ini terlalu banyak."
‘’Itu tidak masalah. Itu hadiah ulang tahun dari ayah."
‘’Terimaksih banyak, Ayah."
Lizzie hanya bisa menerimanya walaupun tidak enak hati diberi uang yang sangat besar dari ayahnya. Ia kemudian kembali ke kamarnya dan di sana sudah ada hadiah-hadiah ulang tahun dari teman-temannya menunggu untuk dibuka.
🍀🍀🍀
Keseokan harinya di kantor Vladimir.
‘’Aku sudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan Tuan Nicholas Liebert. Sekarang dia ada di Schwangau, Jerman. Sekarang dia lagi bersama keluarganya di sana."
‘’Benarkah? Apa kamu sudah mendapatkan nomor teleponnya yang saya dapat hubungi?"
Zoya menyerahkan sebuah amplop coklat ke Vladimir.
‘’Di dalam amplop itu tertulis informasi tentangnya. Anda juga di sana dapat menemukan nomor telepon yang dapat Anda hubungi. Kalau begitu saya permisi dulu."
Vladimir kemudian membuka amplop itu dan mengeluarkan 2 lembar kertas dari amplop itu, lalu membacanya. Setelah membacanya ia mengambil telepon yang berada disampingnya dan memulai menekan beberapa nomor. Terdengar suara nada sambung dan Vladimir menunggu jawaban seseorang di sana.
Vladimir menyuruh Zoya untuk menyelidiki keberadaan Nicholas, karena ia harus mengembalikan jam tangan berlian yang terbawa olehnya saat mereka bertabrakan di jembatan.
Lizzie yang baru saja turun dari kamarnya di lantai atas bermaksud untuk mengambil obat flu, tiba-tiba mendengar suara telepon berdering dan ia langsung menerima telepon itu.
‘’Selamat pagi!"
Vladimir terhenyak mendengar suara seorang wanita di telepon.
"Se-selamat pagi! Apakah saya bisa bicara dengan Tuan Liebert.
"Tentu saja. Saya bicara dengan siapa?"
"Vladimir Kalashnikov."
Lizzie bagai disambar petir ketika pria yang berbicara dangannya sekarang di telepon adalah Vladimir. Tubuhnya seketika membeku, tangannya yang memegang telepon gemetaran, wajahnya mulai berkaca-kaca dan tidak terasa air mata sudah mengalir dipipinya dan kemudian cepat-cepat dihapusnya.
"Halo Nona! Apa Anda masih di sana?"
"Iya. Saya masih di sini. Saya akan segera memanggil Tuan Liebert."
Lizzie cepat-cepat menyimpan teleponnya dan segera memberitahu Nicholas. Ia menemukannya di ruang kerjanya sedang mengetik.
"Ada telepon untukmu dari Vladimir Kalashnikov."
Nicholas menatap Lizzie dengan tatapan tajam dan serius.
"Benarkah! Aku tidak menyangka dia akan menelepon ke sini."
Nicholas menerima telepon dari Vladimir. Mereka berbicara lama sekali. Lizzie hanya memperhatikan Nicholas berbicara dengan Vladimir. Ia duduk di sofa membaca majalah sambil makan kue kering. Beberapa menit kemudian Nicholas selesai bicara dengan Vladimir. Lizzie menuntut penjelasan kepada Nicholas kenapa bisa sampai mengenal Vladimir.
"Bagaimana kalian saling mengenal?"
"Aky sudah satu kali bertemu dan berbicara dengannya, tapi dia tidak tahu siapa aku."
"Oh begitu. Jadi besok lusa aku akan pergi ke Moskow dan bertemu dengannya?"
"Untuk apa?"
"Jam tanganku terbawa olehnya, jadi aku akan ke sana mengambilnya. Aku bisa saja menyuruhnya untuk mengirimkannya ke sini, tapi aku berubah pikiran. Aku ingin berbicara dan bertemu dengannya sekali lagi dan kebetulan aku juga ada urusan bisnis disana beberapa hari lagi. Aku tidak akan mengatakan pada dia tentangmu. Kamu jangan khawatir tentang itu."
"Terima kasih."
Lizzie kembali ke kamarnya dan naik ke tempat tidurnya. Di sana ia kembali menangis.
"Aku akhirnya dapat bicara dan mendengar suaranya lagi setelah 2 bulan aku meninggalkanya. Aku senang bisa mendengar suaranya lagi, tapi disisi lain aku merasa bersalah telah meninggalkannya begitu lama.Apa dia masih marah padaku? Kalau aku kembali, apa dia akan memaafkanku? Vladimir, aku sangat merindukanmu. Apa tadi dia mengenali suaraku ya? Semoga saja tidak,"bisik hatinya.
🍀🍀🍀
2 hari kemudian
Vladimir sudah berada di kantor untuk menyambut kedatangan Nicholas Liebert. Zoya memperhatikan Vladimir terlihat gugup dan gelisah dengan kedatangan Nicholas, walaupun dia tidak memperlihatkannya dan berusaha untuk tetap tenang.
Kemudian terdengar ketukan dan Zoya masuk dan memberitahukan kalau Nicholas Liebert sudah datang.
"Tuan Kalashnikov, senang bisa bertemu denganmu lagi di sini."
"Aku juga. Terima kasih mau datang menemuiku di sini."
"Kebetulan aku ada urusan bisnis di sini."
Nicholas tersenyum pada Vladimir.
Meskipun Zoya tidak tahu apa yang terjadi pada mereka berdua, dia tetap memperhatikan mereka berdua. Vladimir dan Nicholas sangat serius bicara, lalu Vladimir memberikan jam tangan berlian kepada Nicholas.
"Terima kasih sudah mau menyimpannya untukku. Aku pikir jam tangan ini sudah hilang. Jam tangan ini hadiah untuk istriku pada hari perayaan ulang tahun pernikahan kami nanti."
"Maaf baru bisa memberikannya sekarang, karena aku tidak tahu di mana aku harus menemuimu, karena aku tidak tahu nomor teleponmu."
"Tidak apa-apa. Sepertinya aku harus segera pergi."
Mereka kemudian bersalaman.
__ADS_1
"Aku mengundangmu dan keluargamu ke pesta ulang tahun pernikahanku. Aku harap, kamu bisa datang."
"Baiklah. Terima kasih atas undanganmu."
"Sekarang aku harus segera pergi. Sampai jumpa!"
"Sampai jumpa!"
Nicholas meninggalkan kantor Vladimir diikuti oleh sekretarisnya. Zoya terus menatap Vladimir dengan banyak pertanyaan. Sekarang hanya mereka berdua di kantor.
‘’Apa Anda kenal dengan Tuan Liebert?"
"Aku tidak kenal dia sebelumnya. Aku pernah bertemu dia di Praha dan saat itu aku juga tidak tahu siapa dia sebenarnya."
‘’Oh begitu rupanya. Pantas saja kalian tadi berdua begitu senang saat bertemu. Dia mengundang kita ke pesta ulang tahunnya. Apa aku harus pergi kesana?’’
"Tidak ada salahnya Anda pergi ke sana."
‘’Baiklah."
🍀🍀🍀
Lizzie berada di kamarnya sedang memikirkan sesuatu dan berjalan mondar-mandir sampai kepalanya terasa pusing, kemudian dia duduk di pinggir tempat tidurnya. Cepat-cepat ia mengambil ponselnya yang terletak di samping meja tempat tidurnya dan menekan tombol dengan terburu-buru. Tidak lama kemudian terdengar suara nada sambung.
"Halo Ayah! Besok lusa aku akan pulang ke Moskow."
"Benarkah?"tanya Dimitri tak percaya yang sekarang sudah berada di Moskow bersama Aleandra. "Dengan siapa kamu pergi?"
"Aku pergi sendirian."
"Oh begitu. Kami menunggumu kepulanganmu."
"Ayah, sampai jumpa besok lusa!"
Lizzie juga menelepon Nicholas tentang rencananya pulang ke Moskow. Ia segera membereskan barang-barang dan pakaiannya ke dalam koper, lalu turun ke bawah menemui Reiko yang sedang merajut pakaian di ruang keluarga.
"Reiko, besok lusa aku akan pulang ke Moskow."
"Pulang ke Moskow! Kenapa tiba-tiba kamu mau pulang?"
"Aku tadi sudah memikirkannya masak-masak, dan aku memutuskan untuk pergi ke sana. Aku ingin menemui Vladimir di sana."
Reiko menyimpan rajutannya di meja dan duduk di hadapan Lizzie.
"Apa kamu sudah yakin akan menemuinya?’’
‘’Iya. Aku sudah yakin. Aku tidak ingin terus bersembunyi dan lari dari masalah. Dia harus tahu kalau aku sebenarnya masih hidup."
‘’Bagus. Aku mendukungmu, tapi maaf aku tidak bisa ikut denganmu ke sana? Jadi kamu benar-benar akan menemuinya?"
"Aku hanya akan melihat dia dari kejauhan saja. Aku belum berani muncul di depannya."
"Aku takut dia masih marah padaku dan belum memaafkanku."
‘’Jadi kamu hanya untuk melihat dia dari jauh. Kalau kamu seperti itu terus, kapan kalian akan bersama."
‘’Maafkan aku. Aku pasti akan menemuinya secara langsung."
"Lizzie, kamu tidak perlu minta maaf. Semoga saja ketika kamu pulang dari sana dapat membawa berita baik."
‘’Terima kasih."
🍀🍀🍀
Zoya yang sedang nonton drama di TV mendapat pesan dari Anton
Nona Mizuki, saya menunggu Anda besok siang di depan stasiun Shibuya
Kemudian Zoya membalas pesannya dengan cepat.
Baiklah, saya akan datang. Sampai jumpa besok siang!"
Zoya merasa senang mendapat pesan dari Anton. Sejak makan malam waktu itu, mereka terus saling berhubungan melalui telepon. Ia senang akhirnya dia dapat bertemu dengan Anton lagi. Bagi Zoya, Anton adalah pria misterius. Meskipun sudah saling kenal, tapi Zoya tidak tahu siapa sebenarnya Anton. Anrin selalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga jarang untuk bertemu.
Keesokan siangnya, Zoya sudah menunggu di depan stasiun kereta apai lebih cepat 10 menit. Lima menit kemudian, Anton datang dengan membawa satu buket mawar merah dan memberikannya pada Zoya. Wajah Zoya berubah jadi merah menerima bunga itu, terlebih lagi bunga itu di berikan padanya di hadapan orang banyak. Orang-orang disekitar mereka memperhatikannya dan mulai berbisik-bisik.
‘’Terima kasih bunganya."
Anton tersenyum dan mengajak Zoya jalan-jalan. Meraka berdua berjalan dalam diam. Suasana menjadi semakin canggung, tidak ada satupun diantara mereka berbicara, kemudian Anton belok kesebuah gang kecil dan masuk ke sebuah kedai kopi.
"Selamat datang,’’kata pelayan kedai kopi itu.
Kemudian mereka mengambil tempat duduk di dekat jendela.
"Apa kamu sering datang ke sini?"tanya Zoya
‘’Iya. Saya sering datang ke sini. Di sini kopinya sangat enak."
‘’Benarkah?’’
Mereka berdua memesan secangkir kopi dan pie apel, kemudian Zoya meminum kopinya.
‘’Anda memang benar. Kopinya enak sekali. Saya suka."
‘’Syukurlah kalau Anda menyukainya."
‘’Ada apa Anda mengajakku keluar. Apa ada yang ingin dibicarakan dengan saya?’’
__ADS_1
Wajah Anton berubah jadi merah dan tampak malu-malu, lalu dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya sebuah kotak kecil berwarna abu-abu, kemudian diberikan kepada Zoya. Ia menatap Anton dengan pandangan bingung, lalu Zoya membuka kotak itu dan ketika melihat isinya, ia sangat terkejut.
‘’Apa maksud semua ini?’’
"Nona Feguzina, maukah Anda menikah dengan saya?’’
Zoya sama sekali tidak menyangka, kalau Anton akan melamarnya. Terlebih lagi dia melamarnya di kedai kopi. Ia bepikir apa tidak ada tempat yang lebih romantis untuk melamarnya selain di sini.
‘’Apa jawaban Anda? Maaf saya melamar Anda di tempat seperti ini. Saya bukanlah orang yang romantis."
Wajah Zoya memerah dan merasa gugup, kemudian ia meminum kembali kopinya.
‘’Itu...itu...Saya....’’
Zoya memain-mainkan jarinya.
‘’Apa Nona Feguziba? Saya tidak mengerti’’.
Zoya menghela nafas, kemudian membuka mulutnya.
‘’Saya menerima lamaran Anda,’’kata Zoya dengan wajah bahagia .
‘’Benarkah?Anda menerima lamaran saya."
‘’I-iya.'
Anton pun berteriak kegirangan, sampai-sampai pengunjung di kedai kopi itu kaget dan mereka berdua menjadi pusat perhatian di kedai kopi itu dan Anton meminta maaf kepada mereka
‘’Maaf...maaf....’’
Anton kembali duduk dan meminum kopinya kembali.
‘’Terimakasih. Sudah menerima lamaran saya. Kita akan segera menentukan tanggal pernikahan kita."
Kemudian Anton memasangkan cincin di jari manis Zoya.
‘’Aku senang cincin itu pas di jarimu."
Zoya kemudian melihat cincin yang sudah melingkar di jari manisnya dengan perasaan bahagia.
🍀🍀🍀
Zoya datang ke kantor lebih awal keesokan harinya. Perasaan bahagia masih menyelimutinya. Ia bernyanyi dan bersiul selama membereskan dokumen-dokumen penting untuk diserahkan kepada Vladimir. Vladimir yang sudah tiba di kantornya, melihat Zoya dengan heran.
‘’Ada apa denganmu hari ini? Kelihatannya senang sekali."
Zoya tersenyum pada Vladimir dan mengikutinya masuk ke dalam kantor sambil menyerahkan beberapa dokumen dan berkas-berkas lainnya untuk diperiksa dan ditanda tangani oleh Vladimir.
‘’Saya akan menikah sebentar lagi."
Vladimir yang dari tadi serius membaca dokumen langsung berhenti membaca dan menoleh ke arah Zoya dengan tatapan terkejut dan tidak percaya kalau sekretarisnya akan segera menikah.
‘’Apaaaa? Tadi kamu bilang apa?’’
"Saua sebentar lagi akan menikah. Kemarin saya telah dilamar oleh seorang pria tampan."
‘’Benarkah? Kamu dilamar siapa? Apa saya mengenal orang itu? Padahal tadinya saya ingin mengenalkanmu pada seseorang. Kalau kamu sudah dilamar tidak gunanya lagi saya memperkenalkanmu pada orang itu."
‘’Terimakasih Tuan Kalashnikov, Anda sudah mau mengenalkan kenalan Anda kepada saya. Tapi itu sudah tidak perlu. Sepertinya Anda tidak kenal dengan orang itu."
Zoya memperlihatkan cincinya kepada Vladimir.
‘’Selamat untukmu. Kapan kamu akan menikah?’’
‘’Saya masih belum tahu. Mungkin dalam waktu dekat ini."
‘’Saya harap setelah kamu menikah, kamu bisa tetap menjadi sekretarisku."
‘’Rupanya Anda tidak ingin kehilangan saya sebagai sekretaris Anda. Saya kira Anda akan senang kalau saya pergi."
‘’Saya tidak ingin kehilangan sekretaris sehebat dirimu."
Zoya tersenyum dan mulai tertawa.
‘’Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?’’
‘’Tidak. Tidak ada apa-apa. Hanya saja saya tidak menyangka Anda takut kehilangan diri saya. Sebaiknya saya pergi dulu. Permisi."
Zoya masih saja tertawa.
‘’Ada apa dengan dia? Dia malah mentertawaiku." Vladimir mengelengkan kepalanya.
Vladimir sangat senang akhirnya sekretarisnya dapat menikah dan hidup bahagia. Selama ini dia sudah banyak membantunya dari urusan pekerjaan sampai urusan masalah cintanya.
🍀🍀🍀
Lizzie yang telah selesai membereskan barang-barangnya, dia meraih ponselnya dan mencari sebuah nama dan akhirnya menemukan nama yang di carinya, Vladimir. Dengan tangan gemetar dia mencoba untuk menekan tombol panggil, tapi ia berubah pikiran dan kembali menyimpan ponselnya. Lizzie terus memandangi ponselnya dan mengambilnya lagi. Ia mengambil napas panjang berkali-kali, kemudian tangannya menekan tombol panggil. Terdengar suara nada sambung. Tidak lama kemudian terdengar suara seorang pria. Suara yang dirindukannya selama ini.
‘’Halo, selamat siang!’’
Lizzie hanya diam, matanya mulai berkaca-kaca, kemudian menangis dalam diam. Dia berusaha agar suara tangisannya tidak terdengar oleh Vladimir.
‘’Halo....halo...halo....’’
Lizzie kemudian segera menutup teleponnya, kemudian dia menangis di tempat tidurnya.
Vladimir menutup teleponnya dengan wajah bingung.
__ADS_1
‘’Kira-kira siapa yang tadi meneleponku. Aneh sekali."
Vladimir kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi dan ia sudah melupakan telepon aneh yang masuk ke kantornya. [ ]