
Hari telah menjelang malam ketika keluarga Thusenka telah kembali ke desanya. Sinar bulan bersinar dengan sangat terang memancarkan cahaya keperakan. Suara binatang malam terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Petro memandang lembut ke arah putrinya yang masih tertidur lelap dalam mobil.
Wajah polos Lizzie terlihat sangat damai ketika tertidur.Sesekali terlihat senyuman di wajahnya sambil memeluk boneka beruangnya yang baru ia dapatkan dari seorang pria tua yang Lizzie temui saat pergi bersama Danielle bertemu dengan salah satu teman lamanya di Moskow.
Petro mengendongnya pelan-pelan tidak ingin membangunkannya, lalu dibaringkan tubuh mungil itu ditempat tidur dan diselimutinya. Setelah memberikan kecupan dikening putrinya dan mengucapkan selamat malam, Petro meninggalkan kamar Lizzie. Ia sungguh bersyukur Lizzie menikmati perjalanannya ke Moskow bahkan ia terlihat sangat senang dan tidak lagi memikirkan acara pikniknya dengan Marina. Perjalanan yang sangat melelahkan tapi sangat menyenangkan. Petro tersenyum menemui istrinya yang sudah berada di kamar bersiap untuk tidur.
Suatu pagi di bulan April Lizzie terbangun dengan perasaan yang sudah lebih baik dan dia menyambut pagi hari dengan gembira. Sinar-sinar matahari mulai menyusup ke kamarnya. Tirai jendela kemudian di buka dan kamarnya langsung bermandikan cahaya matahari. Langit biru cerah membuat pagi harinya terasa lebih menyenangkan.
Silverbell Farms telah bermandikan cahaya matahari. Di kejauhan pohon-pohon birch, mapel dan poplar terlihat sedang menari-nari, karena hembusan angin. Dunia begitu indah sehingga Lizzie menghabiskan sebagian waktunya di pagi hari hanya menikmati semua keindahan alam yang tersaji di depan jendela kamarnya.
Lizzie kemudian melihat ke arah boneka beruangnya yang ia dapatkan dari seorang kakek yang sangat baik hati . Perlahan-lahan ia tersenyum kembali mengingat kejadian kemarin di Moskow.
Saat itu Lizzie diajak bibi Danielle pergi mengunjungi salah satu teman lamanya tidak lama setelah tiba di rumah bibinya. Teman bibinya sedang sakit, jadi ia diajak berkunjung ke sebuah mansion yang sangat besar dan di sanalah ia bertemu dengan kakek yang baik itu dan nampak kesepian tinggal sendirian di mansion yang besar itu.
Kakek itu memperkenalkan dirinya sebagai Sergei Romanov. Bibi Danielle begitu bersemangat memperkenalkan Cassei kepada temannya. Tidak membutuhkan waktu lama keduanya menjadi akrab.
"Andai cucuku masih ada pasti dia sudah sebesar kamu. Nama kalian juga sama," kata Sergei.
"Di mana cucu kakek?"
" Hilang entah kemana."
"Semoga cucu kakek cepat kembali."
Sergei tersenyum hangat dan mengusap kepala Lizzie dengan lembut. Sejak pertama kali melihat keponakan Danielle, perasaan hangat menyelimutinya dan entah kenapa begitu melihatnya, Lizzie sudah tidak terasa asing baginya. Seolah ia sudah lama mengenalnya.
Lizzie kemudian bermain di halaman belakang mansion ditemani oleh Nester.
" Saya harap kasus keluarga Anda cepat selesai. Apa pelakunya masih belum ditemukan?" tanya Danielle.
"Sayangnya belum."
Raut wajah tua Sergei terlihat sangat sedih.
" Apa anak dan menantu Anda masih belum sadar dari komanya?"
"Belum."
🍎🍎🍎
Lizzie kembali masuk kedalam dengan wajah riang sambil makan es krim. Sergei memberikannya sebuah boneka beruang untukknya ketika Lizzie akan pulang dan tentu saja ia juga mengingat seorang pemuda yang datang dan memandang sinis ke arahnya dengan tatapan mata setajam elang.
Pemuda itu duduk di samping kakek itu dan terus menatapnya dengan tajam membuat tubuh kecilnya gemetar karena takut. Ada rasa tidak suka dalam sorot matanya terhadap Lizzie.
"Aku memberikan boneka beruangmu pada Lizzie tidak apa-apakan?’’tanya Sergei kepada pemuda yang duduk di sampingnya.
"Tentu saja. Kakek boleh memberikannya padanya."
Pemuda itu tersenyum menyeringai kepadanya dan sikapnya yang mengintimidasi Lizzie membuat gadis kecil itu merasa tidak nyaman, karena tatapan pemuda itu terus mengikutinya tanpa henti membuatnya memeluk boneka beruangnya semakin erat dan sedikit menenggelamkan wajahnya di kepala boneka. Ia baru merasa lega ketika bibi Danielle berpamitan untuk pulang dan berharap tidak akan berjumpa lagi dengan pemuda itu.
Lizzie tersadar dari lamunannya setelah mendengar panggilan ibunya. Setelah berganti pakaian dan menata rambutnya yang pirang dan kali ini dibiarkan terurai hanya dihiasi sebuah jepit, ia turun ke bawah untuk sarapan pagi. Setelah selesai sarapan pagi, Cassei berpamitan kepada orang tuanya.
"Ayah, ibu , aku pergi dulu!’’
"Hati-hati di jalan! Pulang sekolah harus segera kembali kerumah."
"Baik Bu,’’ jawab Lizzie riang.
Pagi yang cerah seperti menggambarkan perasaan Lizzie sekarang. Seperti biasa dia memberikan ucapan selamat pagi kepada setiap orang yang ditemuinya. Fanya telah menunggunya di tempat biasa dengan senyuman hangat. Ia berlari kearahnya.‘’Pagi Fanya!’’
Pagi ! Sekarang hari yang indah bukan?’’
"Kamu benar. Ayo kita pergi!’’
Mereka pergi kesekolah dengan riang gembira sambil bernyanyi-nyanyi. Aroma hutan yang basah begitu terasa. Fanya membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan.
"Ini untukmu,’’ujar Fanya.
Fanya memberikan bungkusan itu kepada Lizzie yang masih terlihat bingung dengan isi dari bungkusan itu.
"Itu kue pai plum kesukaanmu. Aku diberi oleh Tuan Kalashnikov kemarin sewaktu piknik. Rasanya sangat enak pasti kamu akan sangat menyukainya. Cobalah makan!’’
Lizzie memakannya dan sebuah senyuman terlihat di wajahnya yang mungil, lalu ia berseru,’’ini sungguh sangat enak. Terima kasih Fanya!"
Fanya sangat senang melihat sahabatnya menyukai apa yang dibawanya.
__ADS_1
"Aku bawakan khusus untukmu sebagai oleh-oleh dari piknik kemarin."
Terlihat dari kejauhan anak-anak sekolah sudah mulai banyak berdatangan dan masuk ke dalam gedung sekolah. Lizzie dan Fanya mempercepat langkah mereka.
"Pagi semuanya ! ‘’sapa Lizzie.
"Pagi!’’jawab mereka bersamaan.
Mary Doyle langsung mendekati Lizzie dan menyuruhnya duduk.
"Sore ini kamu dan Fanya harus ikut bersama kami ke rumah Tuan Jack Carver."
"Siapa dia?’’tanya Lizzie.
"Dia pendatang baru di desa ini. Dia orangnya sangat baik. Aku pernah bermain ke rumahnya. Aku rasa dia pria yang sangat kesepian dan membutuhkan teman. Dia sangat senang jika ada orang-orang yang mengunjunginya. Sore ini dia akan mengadakan pesta barbrque dan dia mengundang anak-anak di desa ini. Kamu ikut ya dan kamu juga Fanya."
"Sepertinya menarik, tapi aku tidak tahu apakah ibuku akan mengizinkan aku pergi ke sana atau tidak?’’
"Aku juga harus meminta izin ibuku,’’kata Fanya.
"Baik. Aku tunggu kabar dari kalian."
Bel masuk telah dibunyikan, mereka duduk ditempatnya masing-masing. Selama pelajaran sejarah Lizzie terlihat bosan. Dia memang tidak menyukainya, beberapa kali dia menguap dan matanya mengantuk. Berkali-kali Fanya menyikut lengannya agar fokus memperhatikan pelajarannya.
Berbeda dengan Lizzie, Fanya sangat menyukai pelajaran sejarah. Fanya mengatakan kalau mempelajari sejarah itu sangat menyenangkan, kita bisa melihat ke masa lalu dan kita juga bisa membayangkan kehidupan di masa lalu.
Guru sejarah mereka bernama Olivia Winslow. Dia adalah guru termuda di sekolah ini dan baru lulus dari universitas. Hampir semua muridnya sangat menyukainya selain cantik, dia juga sangat menyenangkan. Tidak terasa satu setengah jam pelajaran sejarah sudah berakhir dan dilanjutkan dengan pelajaran Geografi.
Lizzie tidak begitu menyukai geografi begitu juga dengan Fanya. Selama pelajaran mereka berdua terlihat mengantuk dan untuk menghilangkan rasa kantuk dan bosan mereka, Lizzie melihat ke arah luar jendela di lantai dua gedung sekolahnya dia dapat melihat pemandangan air danau yang berkilau.
Matanya menelusuri setiap jalanan disekitar danau sedangkan Fanya menggambar beberapa binatang dan rumah-rumahan. Lizzie terlihat begitu tenggelam dalam daya khayalnya sehingga dia seperti berada di dunianya sendiri.
"Lizzie...Lizzie...Lizzie,’’panggil gurunya.Fanya juga ikut terkejut.
"Apa yang sedang kamu lihat di luar sana. Apa begitu menyenangkan dari pelajaran geografi?’’
"Maaf . Tapi di luar sana memang terlihat menyenangkan pak guru Ridgeway,’’jawab Lizzie polos. Teman-temannya tertawa terkikik-kikik. Pak Tristan Ridgeway mendesah.
"Sekarang sebutkan perbatasan negara Perancis?’’
"Bagus."
Lizzie mendesah lega dan kembali duduk.’’Untung aku belajar tentang negara Perancis kemarin malam,’’komentarnya dalam hati.
"Kamu hebat,’’kata Fanya. Lizzie hanya tersenyum puas.
Saat bel istirahat siang dibunyikan. Anak-anak langsung menghambur keluar dan bermain di halaman sekolah. Lizzie dan teman-teman lainnya seperti biasa makan siang dia bawah pohon ceri yang merupakan pohon ceri satu-satunya di sekolah itu. Mereka menikmati makan siang dengan ceria.
Murid laki-laki terlihat ribut dan bermain saling kejar-mengejar dan salah satu diantaranya menabrak Bu guru Stanley yang sedang membawa setumpuk buku. Ia memarahi Paul Springfield dan dia berkali-kali meminta maaf.
Lizzie tersenyum geli menahan tawa melihat itu semua. Setelah pelajaran sekolah selesai, Lizzie dan Fanya segera pulang ke rumah . Sesampainya di rumah , Lizzie segera mencari ibunya di belakang yang sedang memandikan seekor anak sapi yang baru dibeli ayahnya kemarin sore.
"Ibu...ibu , apa aku boleh pergi ke rumah Jack Carver?’’
"Apa dia yang tinggal di rumah si tua Ferguson?’’
‘’Sepertinya begitu. Tuan Carver mengundang anak-anak desa untuk pesta barbeque, pasti itu akan sangat menyenangkan. Apa ibu mengizinkan aku untuk pergi? Ibu jangan khawatir aku tidak akan pulang larut malam."
Lizzie menangkupkan tangannya dan mata beningnya berbinar-binar memohon dengan tulus.
"Baiklah, ibu izinkan, tapi kamu harus sudah berada di rumah sebelum makan malam tiba."
"Horeeee...aku janji Bu."
Lizzie mencium pipi ibunya dan dia merasakan sebuah sensasi kebahagiaan yang manis tiba-tiba menggetarkannya. Antonina diam-diam menyukai sifat penuh kasih Lizzie yang impulsif. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah dengan wajah gembira dan segera diteleponnya Fanya.
"Aku diizinkan untuk pergi kerumah tuan Carver, bagimana denganmu?’’
"Aku juga."
"Kamu tunggu aku ditempat biasa ya sebentar lagi aku akan pergi."
‘’Baik."
"Oh aku lupa, kita harus memberitahu Mary kalau kita akan datang ke sana. Sampai jumpa Fanya!
__ADS_1
Lizzie kemudian menghubungi Mary dan mengatakan dia dan Fanya akan datang.
Lizzie berangkat dengan penampilan sebaik mungkin, memakai pakaian terusan berwarna merah tanpa lengan dan rambutnya dikepang dua yang di hiasi dengan pita merah. Pakaian yang dia kenakan menampilkan setiap lekuk tubuhnya yang kurus dengan jelas dan dia juga mengenakan topi jeraminya dengan hiasan pita merah. Lizzie dan Fanya berdiri dan saling menatap.Mereka tersenyum dan Lizzie berlari ke arahnya.
"Sudah lama menungguku?’’tanya Lizzie.
"Tidak aku baru saja datang. Hari ini kamu terlihat cantik."
"Terima kasih!’’jawab Lizzie malu-malu. "Baiklah. Ayo jalan!’’
Mereka berdua jalan di sepanjang jalan utama. Dikejauhan terlihat kumpulan pohon Birch di mana di sana ada jalan yang mereka pakai untuk pergi ke sekolah.
Dari jalan utama mereka berbelok ke kanan dan di sana banyak sederetan rumah penduduk yang halamannya dipenuhi oleh berbagai macam bunga beraneka warna. Lizzie juga dapat melihat bunga peony, mayflower tumbuh subur dipinggir jalan .Rumah si tua Ferguson yang sekarang di tempati oleh Jack Carver mulai terlihat.
Sebuah rumah berdinding batu dan berlantai dua terlihat tidak mempesona bagi Lizzie. Di halaman rumahnya tidak ada bunga satu pun yang tumbuh. Rumah itu terlihat dingin dan tidak ceria. Anak-anak sudah berkumpul di rumah Jack Carver. Mary dan Fransesca Doyle muncul dari pintu.
"Aku senang kalian berdua dapat datang,’’ujar Mary.
"Di mana tuan Carver?’’tanya Fanya.
"Aku dari tadi belum melihatnya,’’jawab Mary.
"Kalau Tuan Carver sedang menerima tamu,’’kata salah seorang anak perempuan yang memakai kacamata.
"Oh...’’kata Fransesca.
Di atas meja terhidang berbagai cemilan kesukaan anak-anak. Ada permen lolipop, coklat, kue-kue kering, kue pai apel, kue pai plum, dan berbagai macam keripik. Lizzie memlilih kue pai plum diantara semua cemilan yang ada. Dia belum melupakan lezatnya kue pai plum yang diberikan Fanya sewaktu pulang piknik kemarin.
"Kue pai plum ini rasanya sama lezat dengan kue pai yang kamu berikan padaku. Aku tidak akan pernah lupa rasanya."
"Benarkah?"
Fanya mencoba memakannya.’’Kamu benar. Rasanya sama seperti kue pai plum yang di bawakan oleh Tuan Kalashnikov."
Tidak lama kemudian Tuan Carver keluar dari ruangan sebelah bersama seseorang.
"Tuan Kalashnikov,’’seru Fanya senang dan langsung menghampirinya.
"Ah Fanya, tidak menyangka aku akan bertemu denganmu di sini."
"Aku juga. Apa Anda dan Tuan Carver berteman?’’tanya Lizzie.
"Kami berdua adalah teman lama."
Sejak dari tadi Lizzie memperhatikan mereka bertiga. Fanya menyuruh Cassei mendekatinya.
"Kenalkan ini Lizzie Thusenka. Ini temanku yang aku ceritakan kemarin."
"Oh jadi ini temanmu yang tidak bisa ikut piknik dengan kita waktu itu."
"Benar."
"Senang bertemu denganmu Lizzie."
"Senang bertemu dengan Anda juga. Terima kasih kue pai plumnya rasanya sangat enak. Seumur hidupku aku belum pernah merasakan kue pai plum yang selezat kue pai yang Anda bawa. Kue pai plum buatan ibuku tidak selezat itu."
"Hahaha..ternyata kamu memang benar-benar menyukainya. Kalau begitu kamu kapan-kapan main ke rumahku. Aku akan menyediakan kue pai plum yang banyak untukmu dan kamu juga Fanya mainlah ke rumahku bersama Lizzie."
Fanya menanggukkan kepalanya.
"Eh, apa itu boleh? Apa kami tidak akan menganggu Anda?’’tanya Lizzie.
"Tentu saja boleh. Kalian sama sekali tidak mengangguku. Aku malah senang dengan kehadiran kalian di sana. Aku sudah rindu dengan suara anak-anak."
"Terima kasih banyak!’’seru mereka berdua, lalu mereka kembali ke tempat duduk.
"Baiklah Carver, aku harus pulang dulu. Kamu masih punya acara dengan anak-anak di sini bukan? Aku harap kamu mau memikirkan lagi tawaranku ini. Kamu satu-satunya orang yang dapat aku percaya untuk menyelidiki kembali kasus Romanov mansion. Kali ini aku benar-benar butuh bantuanmu,’’katanya setengah berbisik.
"Aku akan mempertimbangkannya."
Nicola menempuk bahu Jack Carver dan berlalu pergi.
‘’Selamat bersenang-senang anak-anak." [ ]
__ADS_1