
Lizzie menatap rumahnya yang sudah ia tinggali bersama dengan Ivander dan Juliana ketika ia telah turun dari mobil. Sudah dua hari ia meninggalkan rumah. Angin yang berhembus meniupkan rambutnya yang tergerai. Ia baru saja kembali dari desa Zelenogradsk saat matahari mulai terbenam dan langit sudah dihiasi oleh warna merah dan jingga dan dengan perasaan puas dan senang meskipun akhirnya ia tidak bisa menemui orang yang ingin ditemuinya.
Baru saja Ivander akan menekan bel seseorang sudah membukakan pintu. Juliana muncul di balik pintu dengan senyuman ramah dan hangat. Senyuman yang mampu membuat Lizzie merasa nyaman dan diterima.
"Selamat datang ! Sudah aku duga pasti kalian berada di depan pintu."
Lizzie tersenyum lalu memeluk Juliana.
"Ayo masuk!’’
Juliana membawa Lizzie ke ruang keluarga dan ia sudah merindukan kenyamanan yang berada di ruangan ini. Juliana duduk di sampingnya dengan senyuman yang selalu tersungging di wajahnya.
‘’Bagaimana perjalanan kalian?"
" Baik."
" Senang mendengarnya."
"Aku sangat senang berada di sana kembali meskipun hanya sebentar."
Juliana kembali tersenyum.
" Pasti kamu lelah. Istirahatlah! "
Lizzie menurut dan langsung pergi ke kamarnya.
🍎🍎🍎
Vladimir duduk di halaman belakang Lenixton manor di suatu pagi yang cerah sambil membaca koran . Tidak terasa ia sudah berada di sini selama hampir seminggu dan ia harus segera pergi ke Moskow. Ia pun sudah mendapatkan beberapa informasi dari Jack yang ia kunjungi di hari kedua ia berada di desa Zelenogradsk.
Jack menyerahkan beberapa dokumen hasil penyelidikannya selama ini dan Vladimir sudah membacanya berulang kali sampai ia hafal apa yang tertulis di sana dan ia melihat sebuah liontin milik Milly Constantine yang sekarang tergenggam ditangannya. Liontin yang Jack temukan di antara reruntuhan Romanov mansion.
Insting Vladimir mengatakan Milly mengetahui sesuatu yang tidak orang lain ketahui. Iya Milly Constantine memiliki sebuah rahasia yang tidak ingin dibagi kepada siapa pun, tapi ia akan mendapatkannya. Ia harus mengetahui rahasia apa yang di miliki gadis itu.
Vladimir merasakan sebuah tangan di bahunya kemudian ia mendongkakkan wajahnya dan terseyum kepada wanita yang berdiri di depannya. Juliet, ibunya.
Juliet tersenyum lalu duduk di samping Vladimir.
"Kamu sedang memikirkan apa?’’
Valdimir mengenggam tangan ibunya dan tersenyum lembut kepadanya.
"Tidak ada. Aku hanya memikirkan pertemuanku dengan keluarga Constantine."
"Jadi kamu serius ingin membantu ayahmu untuk memecahkan kasus ini?"
"Iya. Ibu harap kalian jangan terlibat terlalu jauh. Ibu cemas, jika penjahat itu mencelakai kalian."
"Ibu jangan cemas. Kami akan baik-baik saja."
"Baiklah. Kapan kamu akan kembali ke Moskow?’’
"Secepatnya, karena pekerjaanku di sini sudah hampir selesai. Kapan ibu akan pergi ke Moskow?’’
"Entahlah. Sekarang ini ibu masih belum bisa meninggalkan desa ini."
"Aku mengerti."
Seorang pelayan datang dengan langkah terburu-buru.
"Maaf. Ada seorang gadis kecil ingib bertemu dengan Tuan Nicola, tapi saya sudah bilang Tuan Nicola sedang berada di Moskow, tapi gadis itu bersikeras ingin bertemu dengan siapa saja, karena ada yang ingin gadis itu katakan."
"Siapa?" tanya Juliet dengan wajah bingung.
" Fanya Corbin."
"Aku kenal gadis itu. Suruh dia masuk!"
"Baik."
Fanya masuk ke ruangan kerja Nicola dan terlihat ragu-ragu. Ia senang saat bertemu dengan Vladimir.
"Halo Fanya! Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Terima kasih."
"Apa yang ingin kamu katakan kepada kami?"tanya Vladimir.
" Tadi aku melihat Lizzie di rumahnya."
" Apaaa? Itu tidak mungkin,"seru Vladimir.
"Aku yakin itu Lizzie. Aku tidak mungkin salah lihat. Aku sudah mengenal Lizzie cukup lama."
"Sekarang di mana Lizzie?"
"Dia sudah pergi bersama seorang pria?"
"Seorang pria?"
"Iya."
Vladimir melirik ke arah ibunya.
"Apa mumgkin itu Ivander?" tanya Juliet.
"Itu bisa saja,"jawab Vladimir.
__ADS_1
"Itu artinya Lizzie masih hidup. Kita harus memberitahu Dimitri dan Sergei," kata Juliet.
"Aku akan memberitahu mereka, kalau Lizzie benar-benar masih hidup. Setidaknya kita tahu Lizzie baik-baik saja."
"Iya."
"Apa Lizzie akan kembali kesini?"tanya Fanya.
"Lizzie pasti kembali," kata Vladimir.
Fanya terlihat senang dan wajahnya kembali berseri.
"Terima kasih sudah memberitahu kami."
" Ini nomor mobilnya,"kata Fanya.
" Kamu mencatat nomor mobilnya?"tanya Dimitri.
Fanya mengangguk.
" Anak pintar. Terima kasih. Lizzie pasti akan cepat ditemukan."
🍎🍎🍎
Milly berdiri di depan rumah Irvin Fretzie yang berada di Moskow. Ia menatap nanar ke arah rumah berlantai dua. Rasa sedih sekaligus rasa bersalah bercampur aduk di dalam dirinya. Selama sesaat Milly terlihat ragu-ragu memasuki rumah itu untuk menemui Irvin.
Dua hari yang lalu ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke Moskow untuk suatu urusan. Ibunya tidak mengetahui alasan Milly sebenarnya. Ester pun mengizinkan Milly pergi dan sekarang ia sudah berada di sini untuk menemui Irvin. Milly menguatkan hati akhirnya ia berjalan cepat memasuki rumah itu.
Milly duduk dengan gelisah menunggu Irvin untuk datang menemuinya. Ia tidak tahu apa Irvin masih mengingatnya atau tidak. Ia hanya ingin mengetahui keadaan pelayan malang itu. Irvin adalah pria yang sangat baik. Sejak Milly masih kecil ia selalu bermain dengan Irvin dan pria itu selalu membawakan mainan baru untuknya. Sekarang Irvin harus dituduh karena kepengecutannya. Milly takut hidupnya akan dalam bahaya. Takut ia dan ibunya dibunuh.
Milly mendongkakan wajahnya. Irvin sudah berada di depannya menatapnya dengan bingung. Wajah pria itu sudah banyak berubah tidak muda seperti dulu. Rambutnya sudah mulai beruban dan garis-garis halus sudah muncul di wajahnya. Tapi Irvin tetap seperti dulu yang ia kenal. Ia tampak selalu tenang dan pendiam.
"Halo Irvin! Apa kabar?’’tanya Milly dengan suara parau.
"Kamu siapa?’’
Milly mendesah. Ia sudah menduga Irvin tidak mengenalinya."Aku Milly. Milly Rosette Constantine."
Irvin menatap lekat-lekat kepada Milly.
"Milly,’’serunya."Benarkah kamu adalah Milly?’’
Milly menganggukkan kepalanya dengan cepat.’’Iya aku adalah Milly."
"Kamu sudah tumbuh dewasa dan menjadi seorang wanita yang cantik."
Wajah Milly merona merah.’’Terima kasih."
Irvin tersenyum kepadanya membuat rasa bersalah Milly semakin menjadi. Irvin yang sekarang sudah berusia 40 tahunan ia tetap memiliki senyum yang selalu membuat hati Milly menghangat.
"Maaf. Baru kali ini aku mengunjungimu. Sebenarnya kedatanganku ke sini adalah untuk minta maaf kepadamu?’’
Milly tidak dapat menahan kesedihan dan rasa bersalahnya kepada Irvin dan ia pun mulai menangis.’’Gara-gara aku, kamu dituduh sebagai pembunuh."
"Tapi aku tidak terbukti sebagai pembunuh, tapi apa maksudmu, Milly?’’
Milly masih terisak menangis dengan menundukkan kepalanya. "Milly, Tatap aku! Apa maksudmu?’’
Milly perlahan-lahan kembali menatap Irvin dengan wajah yang sudah basah oleh air mata.’’Maafkan aku Irvin! Aku sungguh minta maaf."
Milly mendekatkan wajahnya kepada Irvin.
"10 tahun yang lalu aku sudah tahu siapa yang sudah mencoba membunuh Tuan Dimitri dan nyonya Aleandra,’’bisiknya.
"Apa...’’
"Siapa yang melakukannya Milly? Katakan siapa?’’tanya Irvin dengan wajah memelas.
"Anthony Lennox."
Irvin menatap Milly dengan tatapan tidak percaya.’’Tapi itu tidak mungkin, ta..tapi itu bagaimana bisa. Anthony Lennox adalah seorang pengacara."
"Aku tahu itu,’’kata Mily.’’Tapi memang dia pelakunya."
Milly pun akhirnya bercerita tentang terjadinya malam kebakaran di Romanov mansion."
"Aku melihat dia membuka topengnya setelah mencoba membunuh Tuan Dimitri dan nyonya Aleandra di dorong dari atas tangga olehnya. Aku melihatnya dari balik pintu,’’kata Milly sambil menangis.
Irvin memejamkan matanya.’’Siapa lagi yang tahu tentang ini?’’
"Tidak ada. Aku belum mengatakannya kepada siapa pun termasuk kepada Tuan Vladimir.Tuan Vladimir dan ayahnya sepertinya sedang menyelidiki kasus ini."
"Kamu harus mengatakan hal ini kepadanya. Beritahu semuanya. Aku mohon."
"Baiklah. Aku akan memberitahu semua ini kepadanya. Sekarang Tuan Vladimir ada di Zelenogradsk."
"Milly, kenapa kamu merahasiakan semua ini?’’
"Maafkan aku. Seharusnya sudah sejak dulu aku mengatakan semua ini. Aku takut Tuan Lennox akan menyakiti ibuku dan juga aku’l."
Milly kembali menangis. "Aku terlalu pengecut karena dikalahkan oleh rasa takut, tapi meskipun begitu rasa bersalahku selalu menghantuiku selama ini. Maafkan aku Irvin. Maafkan aku."
"Sudah jangan menangis! Sekarang kau pulang dan beritahu semuanya kepada tuan Vladimir."
Milly menganggukan kepalanya.’’Baiklah." Milly menghapus air matanya, lalu tersenyum kepada Irvin.
"Terima kasih Milly."
__ADS_1
"Aku pergi."
"Hati-hati! Sekarang aku mengandalkanmu Milly."
Sekali lagi Milly menganggukan kepalanya, lalu pergi meninggalkan Irvin. Di luar Milly menghembuskan napas panjang. Ada rasa lega setelah menceritakan semuanya kepada Irvin. Ia bergegas untuk pulang ke desa Zelenogradsk dengan perasaan tenang dan lega.
Milly tiba di desa Zelenogradsk ketika menjelang malam dan ia langsung pergi ke Lenixton manor untuk menemui Vladimir, karena ia ingin segera memberitahukannya kepada Vladimir. Lenixton manor terlihat sangat sepi tapi Milly masih melihat beberapa pelayan yang terlihat berjalan mondar mandir disekitar manor tersebut dari pintu gerbang depan. Ia menekan bel dan terdengar suara dari seorang pria.
‘’Aku Milly ingin bertemu dengan Tuan Vladimir. Ini sangat penting’’.
"Baik. Tunggu sebentar!’’
Milly sudah terlihat sangat gelisah menunggu pintu gerbang terbuka. Tidak lama kemudian pintu gerbang terbuka dan Milly berjalan sangat cepat. Setibanya di Lenixton manor Milly di bawa oleh kepala pelayan menemui Vladimir di ruang kerja ayahnya.
"Silahkan duduk Milly! Aku sudah menunggu kedatanganmu,’’kata Vladimir.
"Eh...’’
"Aku tahu kau akan datang menemuiku."
Milly duduk dan tangannya meremas roknya untuk menutupi rasa gugupnya.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?’’ Vladimir menatap Milly di seberang meja.
"Aku....aku ingin memberitahu kalau...kalau aku tahu."
"Tahu apa?’’
"Kalau aku tahu siapa yang mencoba membunuh Tuan Dimitri." Milly menghembuskan napas panjang.
"Apaa? Siapa orang itu Milly?’’
Milly menelan ludahnya."Orang itu adalah tuan Anthony Lennox."
"Apaaa? Ini tidak mungkin. Sangat tidak mungkin." Vladimir menatap Milly dengan tatapan tidak percaya.
"Apa kamu yakin yang kamu katakan?"
"Iya."
"Tapi kenapa Tuan Lennox? Apa alasannya?"
"Saya tidak tahu."
" Ini suatu kejutan untukku. Aku hampir tidak mempercayainya."
"Saya juga."
"Terima kasih sudah memberitahuku."
" Jangan katakan aku yang memberitahu Anda. Aku takut jika nanti Tuan Lennox menyakitiku dan ibuku."
Vladimir melihat kecemasan dan ketakutan di wajah Milly.
"Tenang saja. Kami tidak akan membiarkan Tuan Lennox tahu bahwa kamu melihatnya mencoba membunuh paman Dimitri."
"Terima kasih." Milly menghela napas lega.
" Kami akan melindungimu, karena kamu adalah saksi kunci."
" Lalu apa Tuan Lennox akan segera ditangkap?"
" Pertama kami harus cari bukti yang kuat untuk bisa menangkapnya."
"Jadi begitu."
"Kami pasti akan segera menangkapnya. Tuan Lennox harus mempeertanggung jawabkab semua perbuatannya."
" Baiklah kalau begitu. Sebaiknya saya pulang. Aku sudah meninggalkan ibuku terlalu lama di rumah."
" Apa aku perlu mengantarmu?"
"Tidak perlu. Terima kasih."
Setelah kepergiaan Milly, Vladimir menelepon ayahnya, lalu menceritakan semua apa yang dikatakan oleh Milly. Nicola yang mendengar cerita Vladimir sangat terkejut. Ia tidak menyangka kalau Anthony pelakunya.
" Jadi bagaimana menurut ayah?"
" Kalau Anthony memang bersalah kita harus menangkap dan mengadilinya."
" Apa paman Dimitri dan kakek Sergei harus diberitahu sekarang?"
" Ayah saja yang akan memberitahu mereka kebetulan ayah akan menemui mereka besok."
" Baiklah. Sepertinya besok pagi aku kembali ke Moskow. Oh ya ayah, apa masih ingat demgan Fanya?"
" Ayah masih ingat. Ada apa dengannya?"
"Fanya memberitahuku melihat Lizzie di Silverbell Farms."
"Benarkah?" tanya Nicola terkejut.
" Iya. Fanya samgat yakin itu Lizzie. Itu artinya Lizzie masih hidup."
"Ini berita bagus. Dimitri dan Sergei pasti senang."
" Fanya juga mencatat nomor mobil yang membawa Lizzie. Aku akan mengirimkan nomornya pada ayah."
__ADS_1
" Baiklah."
Vladimir menutup teleponnya. Ia tersenyum. Sebentar lagi semuanya akan segera terselesaikan setelah menunggu selama 10 tahun. [ ]