Shattering Heart

Shattering Heart
( S2 ): Romanov Mansion


__ADS_3

Musim gugur telah tiba di Siverbell Farms. Bunga-bunga matahari mulai berguguran. Pohon-pohon mapel juga telah berubah warna . Sesaat Lizzie mengagumi keindahan musim gugur di matanya.Daun-daun birch di lembah berubah warna menjadi keemasan dan pohon maple disepanjang jalan dan pegunungan juga telah berubah warna menjadi merah dan oranye,  sedangkan padang rumput di terangi oleh sinar matahari. Lizzie terpesona akan dunia yang penuh warna.


Lizzie melompat dari kursinya dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dia makan dengan cepat dan mencium pipi ayah dan ibunya sebelum pergi ke sekolah. Cuaca di luar sudah mulai dingin dan tubuh mungilnya merinding.


‘’Selamat pagi semuanya!’’sapanya ketika keluar dari halaman rumah dan dengan cepat ia berjalan dan menuruni tanjakan-tanjakan kecil.Suasana di luar masih sepi dan dia tidak melihat suami istri Watson di luar rumah.


’’Aneh , kemana mereka ya? Biasanya mereka pada jam seperti ini ada di halaman rumah. Apa mereka masih tidur karena cuaca dingin?’’gumamnya.


Lizzie melewati perkebunan tuan Andrews dan melihat beberapa dombanya sedang merumpun di sana. Asap mengepul dari cerobong perapian rumahnya. Ia memeluk tubuhnya yang mungil, lalu dia berjalan dengan cepat supaya tidak merasa kedinginan lagi. Setelah tiba di tikungan jalan Fanya belum berada di sana.


Selama beberapa menit dia menunggunya, tapi Fanya belum datang juga, lalu dia akhirnya pergi ke sekolah sendirian. Lizzie berjalan melalui jalan hutan birch, tanpa ada Fanya jalanan ini terasa sangat sepi sekali.Selama musim gugur di sana tidak ada bunga yang bermekaran hanya pohon birch dan pohon mapel yang berubah warna menjadi warna kuning keemasan dan kemerahan. Pemandangan dimatanya hanya terlihat warna itu. Angin dingin berhembus menerbangkan daun-daun yang berguguran di tanah.


Sekolahnya sudah mulai terlihat, anak-anak lainnya sudah mulai berdatangan.


"Selamat pagi semuanya!’’sapanya.


"Pagi!’’sapa anak-anak yang lain.


Mata bulatnya tidak menemukan Fanya di tempat duduknya.


’’Ada apa dengannya ya?’’gumam Lizzie. Tidak lama bunyi bel masuk berbunyi. Rasa penasarannya terobati setelah pak guru Stanfold mengumumkan kalau Fanya tidak masuk sekolah, karena sakit demam. Lizzie sedih mendengar Fanya sakit, setelah pulang sekolah dia berencana akan pergi menjenguknya.


Selama pelajaran sekolah dia duduk sendirian dan merasa bosan dengan tidak hadirnya sahabatnya.


Lizzie cepat-cepat membereskan bukunya dan langsung keluar kelas dengan berlari setelah mendengar bunyi bel berakhirnya sekolah.


Dia memasuki halaman keluarga Corbin yang kanan kiri rumahnya di tumbuhi pohon spruce yang menjulang tinggi.Napasnya masih tersengal-sengal kemudian menekan bel . Seorang wanita membukakan pintu.Wanita itu seorang perempuan tinggi yang bermata hijau zamrud dan berambut coklat. Wanita itu adalah ibunya Emily.’’Selamat siang nyonya Corbin!’’


"Selamat siang Lizzie! Kamu mau menemui Fanya?’’


"Iya..’’jawabnya tegas.


"Masuklah! Pasti dia senang melihatmu datang."


"Apa Emily baik-baik saja?’’


"Untuk saat ini dia baik-baik saja."


Mereka berdua menaiki tangga dan berbelok ke kiri, kamar Fanya berada di ujung loteng. Kedatangan Lizzie disambut gembira olehnya.Kamarnya berwarna pink seperti kamar miliknya. Buku-buku pelajaran dan buku-buku lainnya berjajar rapi di dinding kamarnya.


Sebuah foto keluarganya bergantung dengan nyaman dinding.‘’Oh Fanya, aku pikir telah terjadi sesuatu yang buruk padamu . Sekolah tanpamu sangat membosankan."


"Aku sekarang baik-baik saja. Dari kemarin aku merasa tidak enak badan, lalu orang tuaku membawaku ke dokter dan mereka bilang aku demam dan harus banyak istirahat. Apa ada yang menarik disekolah hari ini."


"Sama sekali tidak ada yang menarik."


"Hari ini pak guru Stanfold memberikan kita banyak tugas matematika."


Lizzie mengeluarkan buku-bukunya supaya Fanya dapat melihatnya dan menyalinnya."


"Terima kasih dengan begini aku tidak akan ketinggalan pelajaran di sekolah."


Fanya tersenyum hangat pada Lizzie.’’Aku sungguh beruntung memiliki sahabat sepertimu."


Fanya memeluk Lizzie.’’Terima kasih sahabatku."


🍎🍎🍎


Menjelang malam Jack Carver tiba di Moskow dan menginap di sebuah hotel kelas atas. Ini adalah salah satu fasilitas yang diberikan oleh Nicola untuk memulai penyelidikannya.Udara di luar mulai sangat dingin, Jack pun menghabiskan sisa malam itu hanya berdiam diri di dalam kamar hotel sambil membaca berkas-berkas kasus yang sedang dia selidiki. Dalam lubuk hatinya tiba-tiba saja muncul sebuah perasaan yang akan membuat dirinya terjun ke dalam bahaya karena kasus ini.


Keesokan paginya di mana sebagian orang masih terlelap tidur dan kota Moskow masih diselimuti oleh kabut pagi, Jack keluar dari hotelnya dan memulai penyelidikannya. Tempat pertama yang akan dia kunjungi tentu saja Romanov mansion. Kediaman Dimitri dan keluarganya. Hanya membutuhkan waktu setengah jam dengan menaiki taksi, Jack telah sampai di sebuah rumah megah yang sekarang telah kehilangan kemegahannya.


Sebuah pagar yang menjulang tinggi berdiri dengan kokoh di hadapannya dan sebuah papan nama yang bertuliskan Romanov masih terpasang dengan kokoh di tembok pagar.Dia pun membuka gerbang rumah itu. Suara berderit dari pagar besi itu memekakkan telinganya. Perlahan Jack memasuki halaman mansion itu yang kini tinggalah puing-puing.Sebelum masuk ,selama beberapa saat ia menatap rumah itu dengan pandangan sedih.


Setelah puas memandangi , Jack masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah itu sudah tidak memiliki atap lagi .


’’Benar-benar menyedihkan ‘’gumamnya.


Di dalam rumah itu masih terdapat beberapa barang yang tidak habis terbakar tapi sudah diselimuti oleh sarang laba-laba. Pecahan kayu dan kaca bertebaran di mana-mana.Jack berharap di sana dia dapat menemukan sebuah benda yang luput dari penglihatan orang-orang.


Setiap ruangan di rumah itu dia telusuri dengan teliti.Dia pun masuk keruangan yang tadinya sebuah dapur .Hasil penelusurannya di ruangan itu akhirnya membuahkan hasil , tanpa dia sengaja dia melihat sebuah benda berkilau karena tertimpa cahaya matahari di bawah sebuah meja yang sudah hancur.


Jack mengulurkan tangannya untuk mengambilnya walaupun agak sulit tapi akhirnya dia berhasil mengambilnya.’’Apa ini?’’


Benda itu diselimuti debu yang sangat tebal  dan dengan terburu-buru dia membersihkan benda itu dengan mengosok-gosokan tangannya pada benda temuannya itu.


’’Sebuah liontin,’’gumannya dengan wajah senang.


Dia pun membuka liontin tersebut dan di dalamnya terlihat sebuah foto seorang gadis kecil.


’’Siapa orang ini?’’tanyanya pada diri sendiri.


Dia pun dengan terburu-buru memasukan liontin tersebut ke dalam saku celananya setelah dia dikejutkan oleh suara ranting patah diinjak seseorang. Jack keluar dan dilihatnya seorang wanita sedang berdiri memandangi mansion.Sesekali wanita itu menghela nafas panjang.

__ADS_1


‘’Siapa Anda?’’tanya Jack. Wanita itu terperanjat tidak mengira akan ada orang lain selain dirinya.


"Sa..saya...katakan dulu siapa Anda?’’


Kenapa Anda jadi balik bertanya? ‘’tanya Jack.’’Baiklah namaku Ja...Jason."


Jack hampir saja memberikan nama aslinya kepada wanita di depannya, dia sudah memutuskan untuk memberikan nama palsu pada orang yang mungkin ada kaitannya dengan kasus yang sedang dia tangani sekarang.


"Sekarang katakan siapa Anda? Dan apa yang sedang Anda lakukan disini? Ini bukan tempat yang biasa dikunjungi oleh orang apalagi seorang wanita seperti Anda."


"Saya Thalita Fretzie. Saya memang sering datang ke sini setiap kali saya ada waktu."


"Apa maksud Anda?’’


"Dulu Adikku bekerja di sini sebagai pelayan, tapi pada akhirnya dia dituduh telah membakar rumah ini dan mencoba membunuh keluarga Romanov."


"Ah jadi kamu adalah kakaknya,"sambung Jack.


"Adikku bukan pembunuh, karena tidak ada bukti yang kuat. Pelakunya sudah merusak semua CCTV di sini. Aku yakin pelaku yang sebenarnya orang dalam."


"Baiklah maafkan aku."


"Sejak adikku dituduh. Kesehatannya menjadi terganggu dan para polisi itu terus mengawasinya sepanjang waktu."


Jack kemudian memperhatikan wanita yang ada di depannya dengan seksama. Dia memiliki rambut pirang panjang, tubuhnya sedikit kurus dan wajahnya sedikit lonjong, tapi kecantikan wajahnya masih terlihat sangat jelas walaupun dia sudah tidak muda lagi.


"Lalu apa yang Anda lakukan disini?’’


"Ah aku adalah seorang turis di sini, kebetulan aku melihat rumah megah yang terbakar ini, lalu aku tertarik untuk melihatnya dan pasti Anda sudah tahu kalau beritanya sudah terkenal dimana-mana’’.


"Oh jadi Anda hanya seorang turis."


"Benar."


"Maaf tadi saya sudah marah di depan Anda’’.


"Itu tidak masalah."


"Saya hanya tidak rela mereka menganggap adik saya seorang pembunuh, karena saya sangat yakin kalau adik saya tidak bersalah. Adik saya telah dijebak oleh seseorang, saya sangat yakin itu, karena saat malam kejadian itu tiba-tiba adik saya yang sedang mengambil liburan di telepon oleh seseorang untuk datang ke mansion ini, tapi tidak lama kemudian saya mendengar kalau adik saya telah membakar dan membunuh keluarga Romanov. Saya sangat mengenal adik saya, dia bukan orang jahat, tapi orang-orang tidak percaya,’’kata Thalita sambil bercucuran air mata dan dengan suka rela Jack meminjamkan sapu tangan kepadanya.


‘’Apa nona tahu siapa yang telah menelepon adik Anda?’’


"Saya tidak tahu, tapi penelpon itu adalah seorang pria."


"Apa Anda mengenal suaranya? Mungkin saja salah satu kenalan adik Anda atau teman Anda?’’


Thalita terus saja menangis.’’Maaf sudah membuat Anda mendengar ceritaku, aku tidak tahu kepada siapa lagi aku bicara , semuanya menuduh adikku sebagai seorang pembunuh. Bahkan dia pernah mencoba bunuh diri di kamarnya."


"Adikmu mencoba bunuh diri?"


Thalita mengangguk pelan dan matanya sudah memerah.


"Apa adikmu pernah mengatakan siapa orang yang telah memanggilnya?’’


Thalita menggelengkan kepalanya.’’Dia bilang, dia tidak bertemu dengan orang yang telah memanggilnya."


"Ini aneh."


"Aku yakin semua ini sudah diatur oleh seseorang dan aku yakin adikku telah dijebak, tapi syukurlah adikku dibebaskan, karena tidak ada bukti kuat."


"Menurut Anda siapa?’’


"Entalah....’’


Jack berusaha menenangkan wanita yang terus menangis di sampingnya.’’Aku yakin suatu saat kebenaran akan terungkap."


"Saya juga harap begitu."


Jack masih berusaha menenangkan Thalita yang menangis dan menghiburnya.


Jack Carver telah kembali ke hotel dan berbaring di tempat tidurnya. Ia mengenggam sebuah liontin yang ia temukan di reruntuhan rumah keluarga Romanov. Seorang gadis kecil tengah berdiri dengan seorang wanita yang ia pikir pasti ibunya, tapi ia tidak bisa melihat wajah ibu gadis itu dengan jelas, karena bagian atas fotonya telah rusak karena air.


Ia sama sekali tidak tahu apa hubungannya gadis ini dengan kasus yang sekarang ia tangani, tapi instingnya mengatakan pasti hal ini mempunyai hubungan yang erat.Rasa lelah mulai menghampiri dirinya, tidak butuh lama dalam hitungan detik Jack sudah terlelap tidur.


🍎🍎🍎


Ketika hari menjelang sore Lizzie pulang dari sekolahnya sendirian. Di sepanjang jalan menuju rumahnya telah  banyak lapisan daun-daun yang berguguran yang akan mengeluarkan suara berkeresak ketika ada orang yang berjalan di atasnya.


Di atas jalan birch ada kanopi dedaunan berwarna kuning dan juga beberapa tumbuhan lainnya yang telah layu dan juga telah berubah warna menjadi coklat. Lizzie berjalan sambil menari-menari di atas jalan pohon birch dan rambutnya yang pirang berkibar tertiup angin musim gugur.


Suara klakson mobil membuatnya melompat kaget dan Lizzie terlihat begitu marah kepada pengemudi mobil yang telah membuatnya terkejut. Mobil itu  berhenti dan kaca jendela mulai diturunkan. Seorang pemuda mengenakan kaca mata hitam tampak di kursi pengemudi.


Lizzie memicingkan matanya dan dia yakin pernah melihat pemuda tersebut sebelumnya.Pemuda itu terlihat begitu marah.

__ADS_1


’’Hai anak kecil, kalau jalan jangan sembarangan, kamu sudah menghalangi jalanku."


Lizzie  tambah marah mendapat teriakan dari pemuda tersebut.’’Jalanan ini memang milikmu? Ini jalanan umum, kamu yang harus berhati-hati kalau mau mengemudikan mobil’’


"Anak kecil sudah berani membantah. Tadi kamu berjalan di tengah-tengah jalan tahu, kalau kamu tertabrak mobil pasti kamu akan tahu rasa."


Lizzie memandang pemuda tersebut dengan mata lebar dan diwajahnya tergurat rasa kesal dan marah,  sebelumnya dia tidak pernah merasakan kemarahan seperti sekarang pada seseorang.


’’Sepertinya kamu bukan orang sini, aku jarang melihatmu disekitar sini."


"Aku memang bukan orang desa ini, jadi mau apa kamu?’’


"Kamu harus minta maaf padaku."


"Minta maaf padamu?’’tanya pemuda itu setengah mengejek.’’Yang benar saja, seharusnya kamu yang minta maaf padaku,’’kata pemuda itu sombong.


"Tadi kau sudah berteriak dan memarahiku secara tiba-tiba, jadi ayo minta maaf padaku."


Lizzie semakin mendekat pada pemuda tersebut. Pemuda itu mendesah kesal , lalu membuka kaca mata hitamnya. Lizzie terus memperhatikan wajah pemuda itu dan perasaannya mengatakan kalau dia pernah bertemu dengannya disuatu tempat dan pemuda itu merasakan perasaan yang sama kalau dia pernah bertemu dengan gadis kecil dihadapannya disuatu tempat, tapi dia tidak dapat mengingatnya dimana.Tiba-tiba saja Lizzie dan pemuda itu menyadari sesuatu. ‘’Ternyata kamu,’’’teriak mereka berdua bersamaaan.


Lizzie memandang kesal pada pemuda yang baru saja turun dari mobilnya. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi. Pemuda yang sudah memarahinya beberapa waktu lalu ketika ia dan sahabatnya,Fanya tidur di kamarnya.


’’Ternyata kamu gadis itu dan kita juga pernah bertemu di Moskow. Tidak kusangka kita akan bertemu lagi di sini. Ternyata kamu tadi galak juga."


Lizzie nampak terkejut. Ia tidak mengira akan bertemu kembali dengan pemuda yang selalu menatapnya selama kunjungan ke rumah kakek itu. Ia memasang wajah kesal dan cemberut. Ia berharap tidak ingin bertemu dengannya lagi.


" Aku kesal padamu, karena tadi kamu hampir saja mau menabrakku."


"Itu salahmu, karena berjalan di tengah jalan."


"Tapi kamu mengemudikan mobilmu begitu kencang. Apa kamu mengemudi selalu seperti itu?’’


"Itu bukan urusanmu."


"Lain kali kamu jangan mengemudi seperti itu lagi di sini. Kamu harus minta maaf padaku."


"Aku tidak mau."


"Kamu ini,’’kata Lizzie gemas.


"Anak kecil sepertimu seharusnya sekarang sudah berada di rumah tidak berkeliaran di tepi hutan seperti ini."


"Ini juga bukan urusanmu."


Pemuda itu membuka kaca matanya dan sekarang Lizzie dapat melihat dengan jelas wajahnya . Mata biru cerahnya memancarkan kemarahan pada dirinya. Wajahnya yang tampan di bawah sinar matahari sore musim gugur membuat kulit wajahnya terlihat berkilau. Lizzie sesaat terpesona. Angin bertiup mengibarkan rambutnya yang hitam pekat.


"Dengar, aku tidak ingin membuang waktuku di sini dengan bertengkar denganmu. Jadi sebaiknya kamu jangan menghalangi jalanku, sebaiknya kamu menyingkir dari depan mobilku sekarang juga."


Lizzie masih terlihat marah dan cemberut, hendak menangis.


"Baiklah...baiklah. Aku menyerah. Aku akan meminta maaf padamu. Maafkan aku. Apa sekarang kamu puas? Jadi sekarang menyingkirlah dari mobilku."


Perlahan-lahan Lizzie mulai mulai menyingkir tanpa berkata apa-apa lagi dan pemuda itu kembali masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu kembali melaju dengan kencang.’’Dia bersikap sombong sekali. Tidak seperti ayahnya yang begitu ramah dan baik,’’gumamnya.


🍎🍎🍎


Sementara itu disebuah rumah tidak jauh dari Lizzie berada , seorang wanita berumur 50 tahunan yang rambutnya sudah sedikit beruban duduk disebuah kursi roda di halaman depan rumahnya. Tatapan wanita itu selalu melihat ke arah gerbang rumahnya seperti menunggu kedatangan seseorang.


Pohon honeysuckle yang merambati dinding rumahnya tumbuh dengan subur walaupun sekarang  warnanya sudah berubah menjadi coklat.Sebuah senyuman menghiasi wajah wanita itu.‘’Halo ibu!’’sapa seorang gadis berambut hitam panjang dan berkepang.’’Bagaimana keadaan ibu sekarang?’’


‘’Sudah lebih baik. Ibu sudah mendengar kalau kamu dipecat sebagai pengasuh." Gadis itu tertunduk sedih.


"Kamu jangan sedih, seharusnya kamu segera datang kemari  dan menemani ibu di sini. Aku senang akhirnya kamu datang kesini dan memutuskan untuk tinggal bersamaku disini."


Gadis itu memandang ibunya dengan penuh kasih sayang.


"Sepertinya udara di desa ini sudah membuat ibu lebih baik,’’gadis itu tersenyum tipis.


"Itu benar. Kamu anak yang baik Milly. Aku tahu kamu dipecat bukan sepenuhnya kesalahanmu seharusnya Tuan Victor mendengar penjelasanmu terlebih dahulu."


"Terima kasih, ibu sudah mau mempercayaiku dan sepertinya luka bakar ditubuh ibu sudah lebih baik. Apa masih terasa sakit?’’


"Sudah tidak sakit lagi."


"Keluarga kita sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga Romanov, tapi pada akhirnya kita  malah diberhentikan seperti ini."


"Jangan salahkan mereka,  Tuan Sergei sudah sangat baik pada kita berkat beliau ibu mendapatkan kesembuhan seperti ini."


"Ibu benar, Tuan Sergei memang sangat baik tapi tidak dengan Tuan Viktor, keponakannya."


"Sudahlah Milly jangan bicara sembarangan tentang mereka."


"Baik. Aku tahu."

__ADS_1


 "Ayo kita masuk! Diluar sangat dingin."


Milly pun mendorong kursi roda ibunya masuk ke dalam rumahnya.[ ]


__ADS_2