Shattering Heart

Shattering Heart
(S3):Pernikahan


__ADS_3

"Aku sudah mengetahui siapa yang memfoto Anda waktu itu?’’


"Benarkah? Siapa dia?’’


"Namanya Hendrik Woznyuk , dia adalah salah satu anggota Mafia."


"Sudah aku duga itu pasti salah satu perbuatan mereka."


"Saya khawatir mereka akan menyerang Anda dan Nona Lizzie."


"Terima kasih atas informasinya. Kamu jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Sebaiknya kita teruskan pembicaraan kita di tempat yang aman."


Mereka berdua pergi menggunakan mobil.


Lizzie yang sudah berada kembali di rumahnya sedang  merajut kembali sambil memikirkan Vladimir. Ketika asyik memikirkan itu ia dikejutkan dengan bunyi ponselnya.


"Halo sayang, ini aku."


"Aku tahu itu kamu."


"Sedang apa?’’


"Aku sedang merajut pakaian."


"Apa pakaian itu untukku?’’


"Iya untukmu."


"Terima kasih. Aku nanti akan memakainya. Aku hanya ingin memberitahumu hari ini aku pulang ke rumah dan akan ada orang yang datang kerumahmu untuk mengambil koperku."


"Oh baiklah."


"Senang mendengar suaramu lagi. Sekarang kamu baik-baik saja?’’


"Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?’’


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu keadaanmu. Lizzie, kamu tahu apa yang sedang aku lakukan?’’


"Hmmm tidak tahu?’’


"Sekarang saya sedang memeluk gulingku. Aku mengganggapnya sedang memelukmu."


Lizzie tersenyum.


"Benarkah?’’


"Iya. Aku sekarang ingin sekali memelukmu dan juga merindukanmu."


" juga merindukanmu. Kamu datang ke sini saja."


"Aku ingin pergi ke sana, tapi sayangnya pekerjaanku di sini masih menumpuk. Aku ingin segera menyelesaikannya. Baiklah Lizzie sepertinya aku harus mengakhiri pembicaraan kita di sini. Selamat malam! Aku mencintaimu."


"Selamat malam!’’


🍀🍀🍀


 ‘’Nona, ini sepertinya pakaian milik Tuan Kalashnikov."


Pelayan itu menyerahkannya pada Lizzie.


‘’Benar ini milik Vladimir. Aku akan segera mengembalikannya. Terima kasih."


Lizzie berada di kamarnya dan sedang memandangi pakaian Vladimir dan mengelus-elus pakaiannya.


"Maafkan aku, karena sudah marah padamu dan tidak percaya padamu."


Lizzie mencium kemeja Vladimir dan menghirupnya masih tercium wangi tubuhnya. Ia memutusakn untuk menemui Vladimir di kantornya dan mengembalikan pakaiannya.


"Aku akan mengembalikan pakaiannya. Kuakui itu cuma alasan saja, sebenarnya aku ingin bertemu dengannya.


🍀🍀🍀


Ketika Lizzie melangkahkan kakinya di kantor Vladimir keesokan harinya, orang-orang mulai berbisik-bisik dan ia menjadi pusat perhatian. Para pegawai memberi hormat kepadanya. Lizzie merasa jadi malu diperlakukan seperti itu oleh mereka. Ia akhirnya masuk kedalam lift.


"Tuan Kalashnikov, ada Lizzie ingin bertemu dengan Anda."


Raut wajah Vladimir langsung berubah dari serius menjadi ceria ketika mendengar Lizzie datang.


"Suruh dia masuk."


"Baik."


Lizzie masuk dan Vladimir tersenyum dengan kedatangan Lizzie.


"Ini."


Lizzie menyerahkan tas kepada Vladimir.


"Apa ini?’’


"Pakaianmu yang tertinggal di rumahku."


"Terima kasih sudah membawakannya kemari."


Lizzie tersenyum.


"Apa aku mengganggumu? sepertinya kamu sedang sibuk."


"Kamu sama sekali tidak menganggumu, malah sebaliknya aku senang dengan kedatanganmu. Kemarilah Lizzie, duduk di sini."


Vladimir menyuruh Lizzie duduk dipangkuannya. Lizzie merasa ragu-ragu, tapi akhirnya ia duduk dipangkuan Vladimir dan tangan kirinya memeluk pinggang Lizzie.


"Jadi bagaimana kabarmu hari ini?’’


"Baik. Dan kamu?’’


"Baik."


Vladimir kembali menandatangani dokumen-dokumen yang ada di atas meja.


"Sebaiknya aku duduk di kursi saja. Aku tidak ingin menganggumu."


"Tidak di sini saja. Kamu sama sekali tidak mengganggu dengan begini aku bisa memelukmu. Sejak kemarin malam aku ingin memelukmu. Jadi biarlah seperti ini. Ini akan membuatku cepat menyelesaikan pekerjaan."

__ADS_1


Lizzie menuruti kata-kata Vladimir untuk duduk di pangkuannya.


"Lizzie, mau membantuku sebentar. Tolong beri cap dokumen-dokumen itu!’’


Lizzie membantu Vladimir mencap semua dokumen-dokumen itu.


"Terima kasih sayang!’’


Vladimit kemudian memeluk Lizzie dengan kedua tangannya dengan erat dan berbisik padanya.


"Aku mencintaimu."


"Aku juga."


Terdengar suara ketukan dan Zoya masuk.


"Ini berkas kasus yang Anda minta."


Zoya meletakannya di atas meja, lalu ia mengeluarkn sebuah kartu dan memberikannya pada Vladimir.


"Apa ini?’’


Vladimir mengambil kartu yang diletakkan Zoya di atas meja.


"Ini kan?’’


"Itu undangan pernikahanku."


Lizzie dan Vladimir kaget.


"Benarkah?’’


Vladimir cepat-cepat membuka undangan itu dan ia tambah kaget lagi ketika membaca nama calon suaminya.


"Haaaaahhhh!’’


"Sepertinya Anda teekejut. Memangnya ada yang salah dengan undangannya?’’


"Bukan begitu. Undangannnya tidak ada yang salah, tapi aku terkejut dengan nama calon suamimu. Anton David Zellesky. Sejak kapan kamu mengenal David?’’


"Jadi Anda memanggilnya David?’’


"Iya. Aku memanggilnya dengan nama tengahnya."


Vladimir tidak dapat mengelak lagi, karena sekarang David calon suami sekretarisnya.


"Iya. Aku sangat mengenalnya. Aku sudah mengenal dia bertahun-tahun. Dia adalah orang kepercayaanku. Dia sudah bekerja padaku cukup lama."


"Rupanya begitu. Aku tidak tahu kalau dia orang kepercayaan Anda. Dia sama sekali tidak bilang padaku."


"Baguslah kalau dia orang kepercayaan Anda. Lizzie, kamu juga datang ya?’’


"Tentu saja."


"Saya tinggal menunggu undangan pernikahan dari kalian. Kapan kalian akan menikah?’’


Lizzie dan Vladimir saling bertatapan.


"Aku juga,’’kata Lizzie.


"Terima kasih. Saya tunggu kedatangan kalian di pernikahan saya. Kalau begitu saya permisi dulu."


Zoya pergi dan meninggalkan mereka berdua.


" benar-benar tidak menyangka ternyata mereka berdua saling mengenal dan sekarang mereka akan menikah. Aku benar-benar terkejut dan tidak menyangkanya."


"Jadi selama ini kamu tidak tahu mereka berdua sepasang kekasih?’’


"Tidak tahu."


"Vladimir, sebaiknya aku pulang. Baiklah sebelum pulang kamu mau makan siang bersama denganku?’’


"Baiklah."


Merrka makan siang di restoran terdekat dan mereka tidak menyadari ada yang memperhatikan mereka berdua. Setelah makan siang, Vladimir mengantar Lizziw pulang ke rumah. Vladimir kemudian menelepon David dan memintanya untuk bertemu. Mereka bertemu di tempat yang dijanjikan.


"Ada apa Anda mencari saya?’’


"Bagaimana para mafia itu, apa mereka sedang merencanakan sesuatu ?’’


"Sampai saat ini mereka belum melakukan apa-apa. Sekarang ini gerak-gerik mereka sedang kami awasi."


"Baguslah. Aku harap orang yang kamu tempatkan di sana tidak diketahui oleh siapa pun."


"Baik."


🍀🍀🍀


Satu bulan kemudian


Hari ini adalah hari pernikahan David dan Zoya. Para tamu undangan sudah berkumpul dan duduk di tempat masing-masing.


Lizzie menjadi pengiring pengantin wanita dengan gaun putih dan mahkota bunga di kepalanya. Ia terlihat sangat cantik dan Vladimir tersenyum kepadanya. David sudah menunggu Zoya di depan. Upacara pernikahan pun dimulai para tamu undangan mengikuti upacara dengan antusias. Akhirnya ikrar sumpah setia diucapkan.


Setelah upacara selesai mereka berkumpul untuk mendapatkan bunga dari Zoya. Dalam hitungan ketiga Zoya melemparkan bunganya dan Lizziw berhasil menangkapnya. Vladimir tersenyum ketika Lizzie berhasil menangkapnya.


"Sebentar lagi kamu akan menikah denganku,’’bisik Vladimir di telinga Lizzie.


Lizzie tersipu malu dan pipinya merona merah, kemudian mereka menuju ke resepsi pernikahan. Lizzie, Vladimir, Nicola dan orang tua Vladimir mengambil tempat duduk dan duduk bersama dalam satu meja. Tidak lama kemudian mereka menyantap makanan yang dihidangkan.Musik di pesta itu berganti dan mereka semua disuruh untuk berdansa. Vladimir yang ketika itu sedang mengambilkan makanan untuk Lizzie, melihat ada seorang pria mengajak Lizzie berdansa. Vladimir cepat-cepat mendekati mereka dan memasang wajah dingin pada pria itu.


"Dia milikku."


Pria itu ketakutan langsung meninggalkan mereka berdua.


"Seharusnya kamu jangan bersikap seperti itu."


" tidak suka, pria lain mendekatimu."


Lizzie mendesah.


"Lizzie, ayo kita berdansa!’’


"Baiklah. Siap-siap saja kakimu terinjak oleh kakiku. Aku tidak bisa dansa."

__ADS_1


"Aku tahu. Aku akan menahan rasa sakit, jika terinjak olehmu."


Mereka berdua tersenyum dan mulai berdansa.


"Hari ini kamu cantik sekali."


"Terima kasih."


"AAAWWWW.’’


"Maaf. Sakit ya?’’


"Tentu saja sakit, tapi aku sudah rela kakiku terinjak olehmu."


Vladimir tersenjum jahil. Sesaat kemudian mereka saling bertatapan dan yang terdengar hanya suara napas mereka. Mereka berdua asyik berdansa dan mereka tidak menyadari kalau mereka sudah menjauh dari orang-orang. Mereka sekarang berada di tepi kolam ikan yang besar dan Lizzie hampir terjatuh kalau Vladimir tidak gerak cepat menahan tubuh Lizzie.


"Kamu tidak apa-apa?’’


"Aku tidak apa-apa. Terima kasih."


Vladimir bernafas lega mendengar Lizzie baik-baik saja.


"Vladimir, sepertinya kita sudah berdansa terlalu jauh. Sebaiknya kita kembali."


"Aku juga berpikir begitu."


Mereka bergabung lagi dengan yang lainnya dan Lizzie melanjutkan makan lagi. Tiba-tiba Vladimir menggenggam tangan kiri Lizzie dan mengelus-elus telapak tangannya sambil menatap Lizzie makan. Beberapa jam kemudian resepsi pernikahan selesai. Zoya dan suaminya pergi bulan madu ke Mesir.


Setelah sampai di rumah, Lizzie langsung berbaring di tempat tidur untuk meluruskan tubuhnya dan jatuh tertidur. Tiba-tiba pintu kamar Lizzie terbuka dan Vladimir masuk. Vladimir mendekati tempat tidur Lizzie dan memperhatikannya yang sedang tidur, kemudian Vladimir menyelimuti Lizzie dengan benar dan membelai rambutnya dengan lembut.


"Aku datang, tapi kamu malah tidur. Tidurmu sangat nyenyak. Aku tidak tega untuk membangunkanmu. Pasti kamu lelah. Besok masih ada waktu untuk bertemu denganmu."


Vladimir menundukkan kepalanya dan mencium bibir Lizzie dengan lembut.


"Lizzie, kamu harus segera menjadi milikku. Hidupku tidak akan tenang sebelum memilikimu seutuhnya."


Vladimir membuka mantelnya dan tidur di samping Lizzie. Ia tidur sambil memeluk Lizzie. Keesokan paginya Lizzie terbangun oleh kicauan burung dan ketika membuka matanya, ia sangat terkejut dan langsung menjauh dari Vladimir.


"Kenapa dan sejak kapan Vladimir ada di sini?"gumamnya. "Dan kenapa dia ada di tempat tidurku. Vladimir cepat bangun?’’


Lizzie menguncang-guncang tubuh Vladimir.


"Lizzie, biarkan aku tidur sebentar lagi, aku masih mengantuk."


Akhirnya Lizzie turun dari tempat tidur dan membiarkan Vladimir tidur lebih lama lagi. Setelah Lizzie berganti pakaian, Vladimir masih tidur dan ia membangunkannya lagi.Tiba-tiba tangan Vladimir menarik tangan Lizzie dan gadis itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh di badan Vladimir dan ia memeluknya.


"Pagi Lizzie!’’


"Pa-pagi!’’


"Kenapa kamu bisa ada di sini? Dan berada di tempat tidurku?’’


"Entah kenapa semalam aku sangat merindukanmu dan ingin sekali bertemu padahal kita baru saja bertemu, akhirnya aku datang ke sini untuk bertemu denganmu, tapi kamu sudah tidur dan tidak tega membangunkanmu."


"Dan akhirnya kamu tidur di sini."


"Benar. Aku sudah jauh-jauh datang ke sini dan aku juga sudah lelah, jadi aku istirahat di sini saja. Tenang saja, aku tidak berbuat macam-macam padamu."


"Aku tahu. Aku percaya padamu."


"Terima kasih."


"Sekarang bersiap-siaplah, bukannya hari ini kamu harus kerja nanti kamu datang terlambat."


Vladimir pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan makan pagi bersama, kemudian Vladimir berpamitan untuk pulang. Ia menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan halaman mansion. Lizzie terus memandang mobil Vladimir sampai sudah tidak terlihat lagi.


Hari ini Lizzie akan pergi ke apartemen Sara sendirian. Ia memutuskan pergi ke sana dengan menggunakan kereta api, meskipun orangtuanya memaksa untuk diantar oleh sopir.


"Ibu, saya akan baik-baik saja, jadi jangan khawatir."


'Kalau begitu, hati-hati di jalan!"


"Baik. Aku pergi dulu."


Lizzie berjalan menuju stasiun kereta api dan ia tidak menyadari sedang diikuti mobil hitam dari belakang. Mobil itu berhenti dan keluar seorang laki-laki mengenakan jas hitam dan mendekati Lizzie dari belakang. Pria itu membius Lizzir sampai pingsan dan memasukannya ke dalam mobil, kemudian mobil itu melaju dengan kencang menyusuri jalanan. Orang yang menculik Lizzie mengambil ponselnya dan menelepon pimpinannya.


"Bos, aku sudah menculiknya."


"Bagus. Bawa dia ketempat yang sudah di tentukan dan kurung dia di sana dan tunggu perintah dariku selanjutnya."


"Baik."


Orang itu menutup teleponnya dan memacu mobilnya semakin kencang. Vladimir yang sibuk kerja di kantor belum mengetahui Lizzie telah diculik. Ia membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, lalu ia mengeluarkan isi kotak itu. Vladimir memandangi cincin pernikahannya beberapa saat, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak. Vladimir sendirian di kantor dan suasana di kantor jadi semakin sepi semenjak Zoya pergi berbulan madu.


Hari sudah menjelang sore Sara menunggu kedatangan Lizzie di apartemen, tapi Lizzie belum juga muncul. Sara sudah menghubungi Lizzie berkali-kali sejak dari siang tapi ponselnya selalu tidak aktif, kemudian dia menelepon ke rumahnya.


"Kediaman keluarga Romanov."


"Maaf. Lizzie ada di rumah?’’


"Nona Lizzie tidak ada di rumah. Sejak pagi nona pergi dan belum pulang. Katanya akan pergi ke apartemen temannya yang bernama Sara."


"Benarkah? Ini aneh sampai sekarang Lizzie belum tiba di apartemenku. Aku sudah coba menghubunginya, tapi selalu tidak tersambung. Apa dia pergi kesuatu tempat dulu?’’


"Tidak, sepertinya Nona Lizzie tidak pergi kesuatu tempat dulu, tapi ini aneh juga kenapa belum sampai di sana? Begini saja aku akan beritahu Tuan dan Nyonya dulu, siapa tahu mereka tahu."


"Baiklah. Aku akan tunggu kabarnya. Terima kasih."


Sara menutup teleponnya dan merasa gelisah mengenai keberadaan Lizzie.


"Apa telah terjadi sesuatu yang buruk padanya? Ah tidak, sebaiknya aku jangan berpikir yang macam-macam,"gumam Sara.


Pelayan itu menemui Aleandra, karena Dimitri belum pulang sejak keluar tadi siang.


"Maaf Nyonya, tadi temannya Nona Lizzie menelepon ke sini dan menanyakan tentang Nona Lizzie. Katanya Nona Lizzie sampai sekarang belum sampai di apartemennya."


"Benarkah?’’


Aleandra menatap pelayannya dengan wajah keheranan.


"Seharusnya dia sudah sampai dari tadi. Apa tidak mencoba untuk menghubungi ponselnya?’’


"Nona Sara bilang sudah menghubungi ponsel Nona Lizzie berkali-kali, tapi ponselnya selalu tidak aktif." [ ]

__ADS_1


__ADS_2