Shattering Heart

Shattering Heart
(S3): Sepatu kaca


__ADS_3

Vladimir melamun di kantornya sambil memandangi langit biru yang cerah dan melihat burung-burung berterbangan.


‘"Seandainya aku mempunyai sayap seperti burung-burung itu, aku akan dapat terbang dengan bebas dan membawa serta penderitaan dan kesedihanku ke langit yang luas dan menumpahkannya di sana. Aku iri padamu wahai burung-burung. Kalian dapat terbang dengan bebas’."


🍀🍀🍀


Hari libur pun tiba, Vladimir sedang membereskan kembali barang-barangnya ke dalam koper, lalu dia melihat foto Lizzie di samping tempat tidurnya.


‘’Lizzie, aku juga akan membawamu liburan bersamaku,’’ kata Vladimir ambil memandangi foto Lizzie, kemudian memasukannya ke dalam koper.


Telepon genggam Vladimir berdering.


"Iya Zoya, ada apa?’’


"Saya hanya ingin mengucapkan selamat jalan kepada Anda. Semoga perjalanan Anda menyenangkan dan juga semoga selamat sampai tujuan. Selama Anda berlibur, jangan mengkhawatirkan masalah pekerjaan di kantor. Nikmati saja liburan Anda. Urusan kantor serahkan saja pada saya."


"Terima kasih. Urusan pekerjaan semuanya aku serahkan padamu."


"Hati-hati di jalan, Tuan Kalashnikov!"


Vladimir segara keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah koper besar dan tas ransel.


"Vladimir, apa kamu sudah siap untuk berangkat?’’


"Iya Ayah. Aku sudah siap. Ayo berangkat nanti kita akan ketinggalan pesawat."


Vladimir, ayahnya, dan ibunya telah sampai di bandara dan segara masuk ke dalam pesawat. Mereka masuk ke ruangan VIP pesawat itu.


🍀🍀🍀


Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang akhirnya mereka tiba di bandara Ruzyne,Praha. Dari bandara, Vladimir menuju villa yang di sewa oleh ayahnya yang berada di Old Town. Dalam perjalanan ke sana, Vladimir sedang mengagumi pemandangan disekitarnya, banyak bangunan-bangunan cantik, kastil-kastil tua dan jalanan berbatu dari zaman Romawi. Kota ini sudah menyajikan pemandangan yang indah dan memikat hatinya.


Satu jam kemudian akhirnya mereka tiba disebuah villa mewah berlantai 2. Halamannya sangat luas dan dipenuhi oleh berbagai macam bunga. Dikejauhan terdapat taman bunga mawar dengan berbagai macam warna. Vladimir tertarik ingin pergi ke taman bunga mawar itu. Di tengah halaman villa itu ada air mancur besar, di tengah-tengahnya ada patung ikan lumba-lumba. Para pelayan di villa itu menyambut kedatangan Vladimir dan keluarganya. Ia masih terkagum-kagum dengan villa yang baru saja dia datangi.


"Selamat datang di villa Queena Révová, ’’kata kepala pelayan villa itu.


Kepala pelayan itu mempersilahkan mereka masuk dan mengantarkannya ke kamar di lantai 2. Para pelayan yang lain membawakan barang-barangnya.


"Tuan saya mengatakan kepada saya untuk melayani Anda dengan baik selama Anda di sini. Jika Anda butuh sesuatu, Anda bisa memberi tahu saya. Saya kepala pelayan di sini. Nama saya Aleksei Revolvski. Makan malam akan diadakan pada pukul 19:00."


"Oh terima kasih. Jika kami membutuhkan sesuatu, kami akan memberi tahu Anda."


Vladimir masuk ke kamarnya yang sangat luas. Tempat tidur yang besar, sofa yang panjang dan empuk. Kamarnya menghadap ke taman bunga mawar.


Vladimir pergi ke balkon kamar dan melihat taman bunga mawar yang besar dan indah. Ia melihat di bawah sana ada orang yang sedang membersihkan taman itu. Dari balkon kamarnya, Vladimir juga dapat melihat pemandangan hamparan gunung yang indah. Balkonnya sangat besar ada meja dan 4 buah kursi. Ia kembali masuk ke kamarnya dan mulai membereskan barang-barangnya. Setelah mandi, Vladimir naik ketempat tidur untuk beristirahat sebentar sebelum makan malam dimulai.


"Kenapa ayah menyewa villa sebesar ini . Apa ini tidak berlebihan."


Tepat jam 7 malam mereka makan malam di ruang makan yang sangat besar. Meja makannya sangat panjang dan bisa menampung orang makan sebanyak 20 orang. Di meja sudah di siapkan makanan mewah dan lezat dan juga dihidangkan berbagai macam buah-buahan.


"Kenapa Ayah menyewa villa ini. Apa tidak terlalu berlebihan?’’


"Ayah menyukai villa ini. Villa ini mempunyai pemandangan yang bagus di kota ini."


"Siapa pemilik villa ini?’’


"Reiko Liebert. Dia orang Jepang. Suaminya orang Jerman dan seorang miliyarder dari Jerman. Perusahaannya tersebar diseluruh Eropa dan mereka memiliki seorang anak perempuan dan anak laki-laki, tapi sayangnya anak perempuanya meninggal, karena sakit. Villa ini dinamai berdasarkan nama anak perempuannya kalau tidak salah namanya Queena Liebert. Apa rencanamu besok, Vladimir?’’


"Mungkin aku akan jalan-jalan melihat-lihat kota ini. Kota ini sangat cantik dan banyak bangunan bersejarah."


"Apa ayah mau menemaniku jalan-jalan?’’

__ADS_1


"Ah tidak. Ayah tidak ikut. Ayah mau pergi ke salah satu rumah teman lama Ayah di dekat sini, sudah lama kami tidak bertemu. Kamu saja yang pergi jalan-jalan."


Setelah selesai makan malam, mereka meminta salah satu dari pelayan yang ada di sini untuk mengantarkan mereka keliling villa. Villa ini sangat besar dan luas sampai membuat Vladimir terpesona, lalu mereka memutuskan pergi ke ruang keluarga dan berbicara di sana sambil menunggu jam tidur. Di ruang keluarga terdapat perapian yang menyala dan ada sebuah piano. Selain itu langit-langit ruangannya mempunyai lukisan malaikat yang sangat indah dan bagus. Mereka duduk di kursi yang menghadap ke arah perapian. Vladimir memainkan piano sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pergi tidur.


"Selamat malam!’’ kata Vladimir.


"Selamat malam!”kata Nicola dan Juliet.


Vladimir masuk ke kamarnya, pergi ke balkon untuk mengirup udara segar di malam hari. Di sana ia bisa melihat kelap-kelip lampu rumah. Udara di luar semakin dingin. Ia cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Sebelum tidur Vladimir memandangi foto Lizzie, lalu menciumnya.


"Selamat malam, Lizzie!’’


Vladimir tertidur lelap.


🍀🍀🍀


Keesokan paginya, Vladimir memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di taman. Dia melihat taman yang tertata dengan sangat rapi dan banyak ditumbuhi bunga-bunga berwarna-warni. Hatinya tertarik untuk pergi ke kebun bunga mawar. Kebun itu dikelilingi oleh tembok tanaman dan di dalamnya ada ayunan dan bangku-bangku kayu yang panjang. Di tengah kebun mawar ada kolam kecil dangan air mancur ditengahnya.


‘’Kebun mawar yang sangat indah. Disini nyaman dan tenang."


Taman ini wangi dengan harumnya bunga mawar yang menyeruak kesegala penjuru taman. Vladimir duduk disalah satu kursi di taman itu


Setelah sarapan pagi, Vladimir pergi jalan-jalan sendirian. Hari ini hari yang cerah, walaupun tadi agak sedikit mendung. Ia berjalan-jalan di sekitar Old Town melihat-lihat bangunan tua dan bersejarah. Kota ini dikelilingi oleh bangunan bersejarah. Perhatian Vladimir tertarik pada Astrominical Clock. Ia mendekatinya untuk melihatnya lebih jelas. Astrominical clock ini dibangun pada abad 15. Pada saat jarum panjang menunjukan pada angka 12 dapat menyaksikan sebuah prosesi kedua belas rasul dan malaikat kematian membunyikan bel dan juga bisa melihat kedua belas lambang zodiak dibagian bawah menara.


Vladimir dapat menyaksikannya, ketika jam itu memperlihatkan prosesi kedua belas rasul dan malaikat kematian membunyikan bel, kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Ia mengunjungi Powder Tower. Bangunan ini bergaya gothic yang merupakan tempat untuk menyimpan bubuk senjata dan dari sana dapat melihat kota Praha dari ketinggian 65 meter. Di sana Vladimir melihat seseorang yang sangat dikenalnya, lalu ia mendekatinya.


"Halo Fillipp! Apa yang kamu lakukan di sini?’’


Fillipp membalikkan badan dan tersenyum. Fillipp adalah seorang bintang iklan dan mantan klien Vladimir yang meminta bantuannya untuk menuntut paman tirinya, karena telah melakukan pelecehan seksual terhadap adik sepupunya.


"Vladimir. Kita bertemu lagi di sini. Bagaimana kabarmu? Apa kamu sendirian?’’


"Aku baik. Aku datang ke sini sendirian dan tidak menyangka dapat bertemu denganmu di sini. Apa kamu juga sedang melihat kota Praha dari sini? Di lihat dari sini kota Praha kota yang sangat indah bukan?’’


"Aku tinggal di villa Queena Révová, dan kamu?’’


"Aku tinggal di Grand Hotel Praha. Menurut yang aku dengar dari orang-orang, villa itu adalah villa terbaik di kota ini. Kamu beruntung bisa tinggal di sana. Tidak semua orang bisa menyewa villa itu, karena pemiliknya hanya akan menyewakannya pada orang-orang tertentu saja dan juga villa itu bukan villa yg disewa secara umum."


"Benarkah? Aku baru mengetahuinya. Ayahku yang menyewa villa itu."


"Berarti pengaruh ayahmu sangat besar."


"Bagaimana proses pengambilan gambar di sini? Semuanya berjalan lancar?’’


"Semuanya berjalan lancar, tinggal mengambil beberapa adegan lagi, setelah itu syuting selesai. Berapa lama kamu akan tinggal disini? Kalau aku mungkin 4 hari lagi."


"Aku akan tinggal disni selama satu minggu. Apa hari ini kamu tidak melakukan pengambilan gambar?’’


"Tidak. Hari ini tidak dilakukan pengambilan gambar. Mereka meminta libur hari ini’’


"Aku mau melihat tempat lainnya. Apa kamu mau ikut?’’


"Baiklah. Aku akan ikut denganmu."


Kemudian mereka pergi ke Prague Castle istana tertua dan terbesar di dunia dibangun pada abad sembilan. Setelah puas melihat-lihat bangunan-bangunan bersejarah dikota ini mereka memutuskan pergi ke kafe yang ada disepanjang Old Town Square untuk menikmati sore hari dan melihat kesibukan alun-alun dari kursi –kursi yang ada di luar ruangan.


Vladimir dan Phillipp sedang menikmati indahnya malam di Old Town, Praha. Pada malam hari kota ini menjadi lebih indah dan romantis. Ia kemudian tiba-tiba teringat Lizzie ‘’Seandainya Lizzie ada di sini bersamaku pasti keadaannya akan lain."


Vladimir kembali meminum kopinya kembali dengan wajah sendu.


"Ada apa? Kamu kelihatan sedih?’’

__ADS_1


"Ah tidak. Tidak ada apa-apa,’’kata Vladimir dengan senyuman yang dipaksakan.


Setelah puas berjalan –jalan, Vladimir memutuskan untuk pulang. Di kamarnya ia membuka ponselnya. Ia melihat-lihat apakah ada orang untuk dia ajak chatting. Setelah melihat-lihat beberapa saat, akhirnya Vladimir menemukan orang yang paling ingin dia ajak chatting. Namanya Rose. Rose adalah teman chattingnya sejak satu bulan yang lalu, sedangkan Vladimir menggunakan nama Edena.


Lizzie berada di kamarnya di lantai dua sedang asyik memandangi komputernya. Sesekali dia tersenyum dan tangannya mengetik dengan cepat. Tidak lama kemudian, ia berhenti mengetik dan mematikan komputernya, lalu naik ketempat tidurnya.


"Senangnya bisa bicara lagi dengan dia. Setiap aku bicara dengannya, aku merasa nyaman. Siapa sebenarnya kamu, Edena? Aku jadi ingin bertemu denganmu,’’kata Lizzie.


Lalu bayangan wajah Vladimir muncul dihadapannya dan terasa air mata sudah menetes dari sudut matanya.


"Vladimir."


🍀🍀🍀


Vladimir menutup ponselnya dan tersenyum. Ia merasakan perasaannya menjadi lebih ringan setelah berbicara dengan Rose. Kesedihan yang dirasakannya sekarang sudah menguap.


"Rose, kamu teman chatting terbaikku. Kamu mengerti perasaanku dan aku merasa nyaman berbicara denganmu, sehingga aku bisa menceritakan masalahku dengan leluasa padamu. Rose siapa sebenarnya kamu? Sepertinya malam ini aku dapat tidur dengan nyenyak."


Sebelum tidur, Vladimir melihat ke arah foto Lizzie.


"Selamat malam, Lizzie!’’


🍀🍀🍀


Lizzie bangun pagi-pagi dan hari ini berencana untuk pergi jalan-jalan di kota Praha. Ini pertama kalinya ia datang kesini dan Lizzie sangat antusias untuk mengetahui kota ini.


Lizzie berjalan-jalan di Old Town, kemudian pergi ke Mal Strana Prague, kemudian melewati sebuah toko sepatu. Toko sepatu ini sangat besar dan mempunyai koleksi sepatu yang bagus-bagus. Berbagai macam model sepatu ada di sini.


Lizzie mencoba bermacam-macam model sepatu dan sudah 20 pasang sepatu sudah dicobanya dan ia bingung ingin membeli sepatu yang mana. Akhirnya Lizzie memutuskan membeli sepatu kulit berwarna perak.


Mata Lizzie kemudian tertarik dengan sebuah sepatu kaca berkilauan yang ada di meja, lalu sepatu kaca itu diambilnya dan dielus-elus.


’’Cantik sekali sepatu ini, baru pertamakali saya melihat sepatu yang seperti ini’,"katanya dalam hati.


Lizzie mencari pelayan toko bermaksud untuk membeli sepatu ini.


"Saya mau membeli sepatu ini?’’kata Lizzie


"Maaf. Sepatu ini sudah habis terjual."


"Oh. Baiklah."


"Sepatu ini adalah stok yang sangat terbatas. Kami hanya memiliki 4 pasang sepatu, dan ini adalah yang terakhir."


Lizzie sangat kecewa ketika sepatu itu sudah terjual habis. Matanya masih tertuju kepada sepatu yang ada dimeja itu sampai dia ada dipintu keluar toko.


Vladimir sedang asyik melihat-lihat sepatu olahraga dan kesulitan untuk menemukan sepatu yang cocok untuknya. Modelnya cocok, tapi ukurannya tidak cocok, begitu juga sebaliknya, modelnya tidak cocok tapi ukurannya cocok. Setelah memilih sepatu selama satu jam akhirnya mendapatkan model dan ukuran yang cocok.


"Saya ingin membeli sepatu ini."


"Terima kasih."


Vladimir kembali ke lantai bawah untuk mengambil sepatu kaca yang dia beli. Banyak wanita yang meliriknya dan berbisik-bisik. Ia yang mengetahui itu diam saja dan hanya tersenyum.


"Di mana sepatu kaca saya?"


"Di sini Tuan. Apakah sepatu ini untuk pacar Anda?’’tanya pelayan toko.


"Iya untuk pacar saya."


"Pacar Anda sangat beruntyng bisa mendapatkan sepatu ini dari Anda."

__ADS_1


Vladimir keluar dari toko di ikuti oleh tatapan para wanita. Ia berjalan sepanjang jalan Old Town dan melihat para sepasang kekasih yang terlihat bahagia. Jauh di lubuk hatinya ia merasa iri pada mereka yang dapat bersama dengan orang yang dicintai. Vladimir mempercepat langkahnya dan tidak terasa dia sudah ada di Charles Bridge.


Jembatan ini menghubungkan antara Old Town dan Lesser Town yang dihiasi oleh 30 patung. Vladimir berdiri di pinggir jembatan itu dan memandang pemandangan kota dari sana. Tiba-tiba ia bertabrakan dengan seseorang dan membuat dirinya hampir jatuh, kemudian Vladimir cepat-cepat berpegangan pada pagar jembatan itu. [ ]


__ADS_2