
Jack Carver membawa anak-anak ke halaman belakang yang hanya ditumbuhi pohon cemara dan pohon poplar. Mereka mulai membakar daging dan asapnya kemana-mana. Terdengar tawa riang anak-anak memenuhi seluruh halaman rumah Jack Carver. Lizzie makan dengan lahap. Dia sudah menghabiskan beberapa potong daging dan mulutnya belepotan saus barbeque.
" Lizzie, bagaiamana pendapatmu tentang tuan Carver?’’tanya Fanya.
"Seperti yang dikatakan Mary, dia pria yang kesepian dan membutuhkan teman. Aku rasa aku bersedia untuk menjadi temannya,’’jawab Lizzie yang mulutnya masih penuh makanan.
"Apa dia tidak punya istri dan anak ya?’’
"Hmmm..kalau itu aku tidak tahu mungkin saja dia tidak punya dan berniat untuk hidup melajang seumur hidup."
Tatapan Lizzie dan Jack bertemu dan dia memberikan senyuman hangat untuknya. Hari sudah sore acara pesta barbeque telah usai.Cassei merasa kekenyangan dan duduk di kursi di depan perapian bersama teman-temannya. Mary dan Fransesca Doyle masuk dan duduk di samping Lizzis.
"Lizzie,Fanya kalian tahu tidak tadi di halaman belakang aku melihat ada rumah pohon.Mau coba masuk ke rumah pohon itu tidak?’’tanya Fransesca.
"Benarkah?’’mata bening Lizzie langsung berbinar.
"Tunjukkan kepadaku!"
Lizzie melompat dari sofa dan mengikuti Fransesca dari belakang dan Fanya pun mengikutinya. Rumah pohon itu cukup tua dan tidak terurus.
"Sepertinya rumah pohon ini jarang sekali digunakan,’’kata Fanya.
"Aku juga berpendapat seperti itu. Eh, Fanya mau mencoba naik tidak?’’tawar Lizzie.
"Siapa takut."
Lizzie mengelilingi rumah pohon itu untuk mencari tangga dan tangga itu tergulung rapi beberapa centi dari kepalanya. Fransesca yang tubuhnya lebih tinggi berusaha untuk meraihnya dan akhirnya tangga tali itu jatuh ke bawah. Lizzie orang pertama naik , diikuti oleh Fanya, Mary dan Fransesca. Lantai kayu rumah pohon itu berderak keras mengerikan. Mereka perlahan-lahan memasukinya dan di dalamnya penuh dengan debu dan banyak beberapa barang yang tidak terpakai.
Di sana ada kursi kayu tua,kasur yang sudah robek sana-sini dan mata Lizzie menangkap sesuatu yang ditutupi kain, disingkapnya kain itu. Sebuah peti tua yang cukup besar.
"Cepat buka! Siapa tahu isinya ada harta karun,’’kata Mary.
Lizzie membuka peti itu pelan-pelan dan di dalamnya ada beberapa buku tua , tinta, pena bulu, beberapa lembar kertas yang sudah menguning dan juga 2 potong pakaian. Satu persatu mereka mengeluarkan isinya. Fanya melihat-lihat buku-buku tua yang ternyata adalah buku kumpulan dongeng dan novel.
"Buku-buku ini masih layak dibaca. Aku akan meminta izin Tuan Carver supaya aku dapat meminjam buku-buku ini,’’kata Fanya.
Lizzie masih saja memeriksa isi dalam peti. Dia menemukan beberapa pucuk surat yang dikat dengan rapi.
’’Sepertinya surat yang ditujukan kepada si tua Ferguson,’’kata Mary.
Dibagian dalam peti Lizzie menemukan beberapa sendok dan garpu yang sudah terlihat kusam dan juga kotor.
Lizzie mengambil sendok dan garpu itu.’’Mungkin sendok ini bisa aku gunakan untuk bermain rumah-rumahan, karena di rumahku tidak ada sendok dan garpu yang tidak terpakai."
Mereka kemudian menyimpan barang-barang yang telah dikeluarkan tadi ke dalam peti dan ditutup kembali dengan kain. Setelah puas melihat isi rumah pohon , mereka berempat turun ke bawah dan langsung menemui Tuan Carver. Jack terlihat sibuk membereskan rumah dan sebagian anak-anak telah kembali ke rumah masing-masing.
"Tuan Carver,’’panggil Lizzie.
"Rupanya kalian masih ada disini, aku kira kalian sudah pulang."
"Tadi kami melihat-lihat rumah pohon di belakang sana dan kami menemukan beberpa buku dan juga sendok dan garpu ini. Kalau diizinkan, apakah aku boleh memintai sendok dan garpu yang sudah tidak terpakai ini?’’tanya Lizzie sambil memperlihatkan barang temuannya pada Jack.
"Sepertinya itu dulu barang-barang milik Tuan Ferguson, karena aku sudah membeli rumahnya berarti barang itu sudah menjadi milikku dan kalian boleh mengambilnya."
"Horeeee....horeeee....’’teriak Lizzie kegirangan."Terima kasih Tuan Carver.
"Kalau buku-buku ini bolehkah saya meminjamnya. Buku ini juga ditemukan di rumah pohon,"kata Fanya.
"Kamu boleh memilikinya."
"Benarkah? Terima kasih Tuan Carver."
"Dan kalian berdua tidak mengambil apa-apa di rumah pohon itu,’’tanyanya kepada Mary dan Fransesca.
"Tidak, tidak ada barang yang harus kami ambil dari sana,’’kata Fransesca.
Sesaat Jack melihat Lizzie dan Fanya. Dua anak perempuan yang baru dilihatnya.’’Oh ya aku belum mengetahui nama kalian berdua."
__ADS_1
"Aku Lizzie."
Lizzie mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Aku Fanya."
"Senang bisa mengenal kalian berdua. Kalian pasti tinggal jauh dari sini."
"Aku tinggal di Silverbell Farms dan Fanya tinggal dekat dengan rumahku."
"Pantas saja aku jarang melihat kalian berdua di sini.Hari sudah menjelang malam sebaiknya kalian segera pulang."
"Baik,’’kata mereka bersamaan.
"Fanya, Lizzie apa perlu aku mengantar kalian pulang."
"Itu tidak perlu Tuan Carver, kami akan jalan saja. Terima kasih atas undangannya."
"Hati-hati di jalan!"
Lizzie dan Fanya berjalan sambil bernyanyi menikmati udara menjelang malam. Desahan angin terdengar diantara pohon-pohon birch ,ceri, dan poplar.Bayangan pohon-pohon telah memanjang dan warna langit telah berubah menjadi jingga keemasan. Burung-burung terbang untuk segera kembali ke rumahnya masing-masing.
Mereka berdua pulang dengan perasaan senang dan gembira. Lizzie membawa beberapa tangkai bunga mayflower untuk menghiasi kamarnya nanti. Ia berpisah dengan Fanya ditikungan jalan. Cahaya lampu dari rumahnya terlihat begitu hangat. Dia berlari masuk ke dalam rumah.
"Ibu aku pulang."
Lizzie segera menuju dapur mencium ayah dan ibunya.
"Bagaimana pesta barberque di rumah Tuan Carver, apa menyenangkan?’’tanya ayahnya.
"Sangat menyenangkan dan ternyata Tuan Carver itu orang yang sangat baik. Aku menyukainya."
"Bagus kalau itu membuatmu senang. Sekarang ganti pakaianmu dan kita makan malam,’’kata ibunya.
"Aku tidak ikut makan malam bersama kalian. Aku masih kenyang, tadi di sana aku makan banyak. Lihat perutku sudah besar begini."
"Baik. Oh ya ibu punya vas bunga kecil tidak? Aku mau meletakan mayflower yang aku petik dalam perjalanan pulang tadi."
"Ada. Ibu nanti akan ambilkan di gudang bawah tanah. Sekarang ganti saja pakaianmu dulu, kalau perlu kamu mandi. Ibu mencium bau daging bakar dari tubuhmu."
"Benarkah?’’
Lizzie mencoba menciumi tubuhnya. Hidungnya bergerak kesana-kemari.’’Ibu benar, tubuhku bau daging bakar. Aku mau mandi saja."
Lizzie langsung berlari ke kamarnya dan segera mandi.
🍎🍎🍎
Lizzie yang baru selesai mandi, turun ke bawah dan pergi ke dapur dengan membawa beberapa sendok dan garpu yang dia dapatkan di rumah pohon Jack Carver. Dia membawanya ke bak pencucian piring.
"Apa itu ?’’tanya ibunya yang sedang membereskan meja makannya.
"Oh ini sendok dan garpu yang tidak terpakai pemberian Tuan Carver. Aku akan menggunakannya untuk bermain rumah-rumahan bersama Fanya nanti."
Lizzie mengambil kursi kecil agar dia dapat mencapai bak pencucian piring. Petro terlihat menikmati kenyamanan dapur rumahnya sambil membaca koran pagi yang belum sempat dibacanya. Api menyala berkeretak di perapian menghangatkan dapur di malam hari.
Lizzie terlihat sedang berusaha keras membersihkan sendok dan garpu yang kotorannya sudah melekat kuat dan akhirnya sendok dan garpu itu terlihat kembali bersih dan berkilau. Matanya beningnya berbinar senang.
"Ibu, ayah lihat! Sendok dan garpu ini terlihat bagus lagi bukan?’’
"Benar. Tapi apakah sendok dan garpu itu awalnya sudah tidak terpakai lagi?’’tanya ibunya.
"Aku rasa iya karena aku menemukannya di rumah pohon yang sudah tua dan banyak barang-barang bekas disana, aku rasa memang sudah tidak terpakai lagi."
Lalu dikeringkannya dengan lap dan dia langsung membawanya ke kamar. Di dalam kamar Lizzie memperhatikan setiap detail sendok dan garpunya. Sekarang sendok dan garpu itu terlihat berkilau dan bersih . Banyak ukiran sulur-sulur daun Ivy di setiap pinggirnya dan dia melihat sebuah gambar di belakang gagang sendok. Gambar itu terlihat seperti sebuah lambang .
Lizzie memicingkan matanya dan membawanya ketempat yang lebih terang agar dia bisa melihat lambang itu dengan jelas. Di belakang gagang sendok itu tercetak huruf R, lalu ia juga melihat lambang itu di belakang gagang garpu, tapi dia senang bisa memilikinya, karena dia merasa sendok dan garpunya bukan peralatan makan biasa.
__ADS_1
Keesokan harinya setelah pulang sekolah, Lizzie bermain bersama Fanya. Ia i juga mengundang Mary dan Fransesca untuk bermain. Sore itu cuaca terlihat sangat cerah. Lizzie sekarang dapat melihat lebih jelas tempat itu. Tidak jauh dari dia tempat berdiri ada starflower dan rumpun-rumpun pigeonberry yang tumbuh subur. Suara gemercik air yang mengalir menambah suasana taman terbuka itu menjadi romantis itulah yang dipikirkan oleh Lizzie. Mereka bermain sampai sore menjelang malam.
Mereka pulang dengan pakaian kotor. Bayangan pohon-pohon di sepanjang jalan sudah meninggi, suasana jalanan desa sudah mulai tampak sepi. Lampu-lampu rumah sudah mulai dinyalakan.
"Tadi benar-benar sangat menyenangkan bukan? Kuharap kita bisa melakukannya lagi dilain hari,’’ucap Fanya senang.
"Pasti kita akan melakukannya lagi."
"Kita berpisah di sini, sampai jumpa!’’
"Sampai jumpa!’’
Dalam setengah perjalanan pulang Lizzie berlari dan di luar sana ibunya sudah menyambut kedatangannya di depan pintu rumah. Ibunya segera dipeluk dengan sayang.
’’Selamat datang sayang!’’sapa ibunya sambil menyentuh hidung mungilnya.’’Kamu sudah puas bermain ?’’
"Iya, tadi sangat menyenangkan.:
"Lihat kamu kotor sekali. Kamu harus segera membersihkan badanmu. Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."
"Aku akan segera mandi."
Lizzie langsung masuk ke rumah dan dia meninggalkan mainannya di lorong rumah. Antonina dengan sabar mengambil mainannya dan juga sepatunya yang di letakkan dengan sembarang.
Mainan Lizzie terlihat sangat kotor dan Antonina membawanya ke dapur untuk dibersihkan. Setelah mainan itu terlihat bersih, tanpa sengaja dia melihat lambang huruf R yang berada di balik sendok. Wajahnya terlihat tegang dan langsung membawa salah satu sendok itu ke kamarnya.
Dia membuka lemari pakaiannya dengan terburu-buru dan dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain beludru coklat dan membukanya. Selimut bayi Lizzie terlipat dengan rapi dan dia melihat lambang yang sama dengan selimut bayi itu. Tangan Antonina bergetar.’’Apa maksud semua ini?’’
"Antonina, ada apa?’’
"Lihat ini. Lambang yang ada disendok ini sama dengan lambang di selimut bayi Lizzie."
Petro segera mengambil sendok dari tangan istrinya dan membandingkannya dengan ada yang diselimut.
"Kamu benar sayang. Lambangnya benar-benar sangat mirip."
Mereka berdua saling menatap bingung.
"Kita harus menanyakan ini kepada Lizzie,’’kata Petro.
Mereka berdua keluar dari kamar dan menuggu Lizzie di dapur. Ia melihat ayah dan ibunya sedang duduk diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.’’Ada apa dengan kalian berdua?’’
" Dari mana kamu mendapatkan sendok dan garpu ini?’’tanya Antonina.
"Sudah aku katakan, aku mendapatkannya dari rumah pohon yang berada di halaman rumah Tuan Carver."
"Apa tuan Carver pemilik sendok garpu ini?’’tanya Petro.
"Aku rasa tidak. Mungkin itu dulunya milik si tua Ferguson karena sudah tidak terpakai lagi jadi dia meninggalkannya di rumah lamanya."
"Si tua Ferguson’’gumam mereka bersamaan.
"Memangnya ada apa dengan sendok garpu itu?’’
‘’Ah ti..tidak ada apa-apa,’’kata Antonina dengan wajah gugup.Setelah selesai makan malam dan setelah Lizzie kembali ke kamarnya, Antonina dan Petro duduk santai di ruang keluarga.
"Kita harus menemui si tua Ferguson untuk mengetahui dari mana dia mendapatkan sendok garpu itu."
"Apa itu harus dilakukan sayang?"
"Tentu. Selama ini aku ingin mengetahui siapa sebenarnya keluarga Lizzie. Aku rasa keluarganya bukan berasal dari keluarga sembarangan seperti yang kamu katakan delapan tahun lalu."
"Kalau kamu sudah tahu siapa keluarganya, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu bermaksud untuk mengembalikan dia? Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan mencari tahu siapa keluarganya, karena aku tidak ingin kehilangan Lizzie satu-satunya anak kita."
"Mungkin kamu benar adanya. Aku juga tidak ingin kehilangan dia. Aku sangat menyayangi anak itu, tapi rasa ingin tahuku terlalu besar untuk diabaikan, karena masih begitu banyak rahasia yang mengelilingi Lizzie yang tidak kita ketahui."
Antonina menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. [ ]
__ADS_1