
Vladimir yang baru saja setengah jalan menuju rumahnya, terkejut melihat ayahnya.
"Ayah,"serunya.
"Kamu dari mana?"
" Aku baru saja mengantar teman kecilku kembali ke rumahnya."
Nicola mengerutkan dahinya."Teman kecil?"
"Iya. Sudah lupakan saja. Ayah mau ke mana?"
" Ke rumah keluarga Thusenka."
"Aku baru saja dari sana."
"Benarkah?"
"Tadi aku bertemu Lizzie di jalan dan mengantarnya pulang. Ada apa ayah menemui mereka?"
"Sergei meneleponku dan mengatakan pada ayah, bahwa Lizzie yang diasuh oleh keluarga Thusenka adalah cucunya."
Vladimir membelalakan matanya. "Jadi Lizzie adalah anak paman Dimitri?"
"Benar. Sekarang ayah mau menemui mereka."
"Aku ikut."
Dalam perjalanan Vladimir mengaku kepada ayahnya tentang keberadaan Lizzie di desa ini dari Sergei. Itu sebabnya ia berada di desa ini
"Pantas saja tidak biasanya kamu akan menghabiskan liburanmu di sini."
Vladimir menyengir lebar, lalu langkah Vladimir terhenti.
’’Lihat itu!’’seru Vladimir.
Nicola akhirnya melihat ke arah yang di tunjukkan Vladimir. Asap hitam tebal menghiasi langit sore.’’Asap apa ?’’
Vladimir memicingkan matanya untuk melihat dari mana asap itu berasal, lalu ia menyadari asap itu berasal dari sebuah rumah yang tidak jauh dari sini. Jantungnya berdetak cepat dan ia mempunyai firasat buruk dari mana asap itu berasal.
"Jangan-jangan....’’
Vladimir langsung berlari dan Nicola langsung mengejarnya.
Apa yang di duga oleh Vladimir ternyata benar. Asap hitam tebal itu berasal dari rumah keluarga Thusenka. Di sana sudah ada beberapa orang yang berdatangan . Api telah melalap habis rumah itu. Suara desisan api terdengar begitu keras, Vladimir menatap nanar ke arah rumah yang terbakar itu.
Ia hanya berdiri terpaku di sana, tidak percaya apa yang dilihatnya. Beberapa menit lalu ia masih dapat melihat keutuhan rumah itu, tapi sekarang rumah itu sudah habis terbakar.
"Lizzie,"gumamnya dengan tatapan sedih ke arah rumah itu.
Para penduduk desa satu persatu mulai berdatangan dan mereka merasa ngeri melihat kejadian yang menimpa keluarga Thusenka.
Nicola terkejut dengan apa yang dilihatnya. "Apa yang terjad?"
Vladimir menoleh ke arah ayahnya.
"Aku tidak tahu beberapa menit yang lalu rumah mereka masih baik-baik saja."
Nicola terlihat sangat cemas dan sangat menyesali hal ini harus terjadi pada keluarga Thusenka. Kejadian ini persis sama apa yang dialami Dimitri dan keluarganya.
"Apa yang harus aku katakan pada Sergei nanti?"
"Tenang ayah. Ada kemungkinan mereka baik-baik saja."
"Kamu benar." Nicola berusaha menenangkan dirinya dan mengikuti Vladimir untuk mencari informasi.
Vladimir dan Nicola menanyai beberapa orang untuk mengetahui keberadaan Lizzie dan orangtuanya, tapi tak seorang pun yang tahu.
" Apa kita harus memberitahu kakek Sergei sekarang?"
‘’Tunggu! Jangan mengatakan apa-apa dulu kepadanya."
"Baiklah’’.
Petugas pemadam kebakaran dan beberapa polisi sudah mulai berdatangan . Polisi-polisi itu menanyai ke beberapa penduduk desa terkait dengan kejadian ini. Nampak Xena Watson menangis di pelukan suaminya dan kejadian ini langsung menyebar luas hampir ke seluruh desa Zelenogradsk. Marina Moskal yang mendengar kejadian ini langsung pingsan. Fanya yang diberitahu ibunya mengenai kebakaran rumah sahabatnya hanya bisa menangis dan membujuk ibunya untuk pergi melihatnya.
Kegelapan mulai menyelimuti desa Zelenogradsk, malam ini adalah malam yang tidak akan terlupakan oleh sebagian penduduk desa. Semua mata memandang penuh kesedihan melihat terbakaranya rumah keluarga Thusenka.
Api sudah berhasil dipadamkan dan para polisi mulai melakukan penyelidikan dengan memeriksa sisa-sisa reruntuhan rumah. Tidak membutuhkan waktu lama mereka menemukan dua mayat yang hangus terbakar. Xena jatuh pingsan ketika dua mayat telah di keluarkan dari rumah itu, Vladimir yang juga terlihat shock tidak kuasa menahan rasa sedih dihatinya meskipun ia tidak mengenal keluarga Thusenka.
Vladimir tidak ingin melihat tubuh hangus Lizzie, teman kecilnya yang baru dikenalnya. Vladimir begitu menyayangkan pertemanan mereka hanya berlangsung beberapa jam saja. Tepukan lembut di bahunya menyadarkan dia dari lamunannya.’’Ayah...’’.
__ADS_1
"Kita akan segera menemukan pelakunya. Ayah yakin pelakunya orang yang sama."
Vladimir meneteskan air matanya. Dibenaknya muncul bayangan Lizzie yang tersenyum kepadanya
" Kenapa ini semua harus terjadi? Kenapa ada orang yang ingin menyakiti Lizzie dan keluarga Thusenka. Mereka tidak pantas harus berakhir seperti ini."
Hati Vladimir menjadi sangat geram.
Polisi masih terlihat sibuk mencari mayat Lizzie dan Vladimir melihat kebingungan di wajah para polisi itu. Berkali-kali mereka memeriksa rumah itu, tapi polisi itu sepertinya tidak menemukan mayat Lizzie, karena sejak dari tadi hanya ada dua mayat yang sudah dibawa oleh ambulan.
"Ayah sepertinya di sana ada sedikit masalah."
"Aku akan ke sana untuk menanyakannya."
Vladimir melihat ayahnya berbicara pada seorang inspektur polisi. Mereka terlihat serius berbicara. Tidak lama ayahnya kembali. ‘’Apa yang terjadi?’’
"Mereka tidak dapat menemukan mayat Lizzie?"
"Apa? Tapi bagaimana mungkin ?’’
"Sepertinya mereka juga tidak tahu kenapa itu bisa terjadi."
"Tapi aku melihat Lizzie dengan mataku sendiri. Ia masuk ke dalam rumahnya."
"Mungkin saja anak itu keluar rumah lagi sebelum kebakaran itu terjadi atau dia berhasil melarikan diri."
"Kalau dia tidak ada di rumah saat rumahnya terbakar, sekarang dia ada dimana?’’
"Entalah nak hanya Tuhan yang tahu. Kita berharap Lizzie masih hidup di suatu tempat."
Vladimir meletakan kepalanya di bahu ayahnya.’’Aku harap dia selamat, jika tidak kakek Sergei akan sedih."
"Ayah tahu. Sebaiknya kita pulang dan aku harus segera bicara dengan Sergei saat ia tiba di sini sebentar lagi."
"Kakek Sergei akan datang?" tanyanya terkejut.
"Iya. Sergei datang untuk bertemu dengan Lizzie."
"Sekarang Lizzie sudah menghilang lagi padahal kita baru saja menemukannya."
"Kamu benar."
🍎🍎🍎
Nicola dan Vladimir ke ruang kerjanya dengan wajah cemas. Juliet dan Regina segera masuk ke ruang kerja Nicola untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Apa kalian bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi?’’
Mata Vladimir lurus memandang perapian. Sementara itu Nicola menceritakan semuanya pada istri dan anak perempunannya
Juliet dan Regina menutup mulutnya ." Jadi Lizzie adalah benar-benar cucu Sergei?’’
"Iya. Ophelia Ester Constantine yang memberitahukan kepada Sergei dan dia segera menghubungiku untuk mencari Lizzie. Ophelia mengetahuinya dari anak perempuannya yang bernama Milly dan mereka berdua tinggal di desa ini."
"Ya Tuhan, ternyata anak itu adalah cucu Sergei,"kata Juliet.
" Aku akan menemui Ophelia dan Milly. Aku mengenal mereka, karena mereka dulu bekerja di Romanov mansion dan kebetulan aku sedang kembali menyelidiki kasus ini lagi."
Nicola melirik ke arah Vladimir dan berjongkok dihadapannya.’’Ayah kembali menyelidiki kasus itu?’’tanya Vladimir terkejut.
‘’Benar. Sergei yang memintaku, karena aku juga penasaran dan ingin menangkap pelakunya."
‘’Ini benar-benar tidak aku sangka. Gadis periang dan lincah itu ternyata adalah cucu Sergei dan sayangnya sekarang dia menghilang."
Nicola mengusap wajahnya , lalu duduk di kursi di belakang meja kerjanya.Nicola memutar kursinya menghadap ke jendela besar. Pandangannya jauh menerawang ke depan.
"Siapa pun pelakunya pasti orang itu tahu keberadaan Lizzie."
‘’Maksud ayah?’’tanya Vladimir tidak mengerti.
"Menurutmu siapa saja yang tahu keberadaan Lizzie di desa ini?"tanya Nicola.
Vladimir nampak berpikir sebentar. "Menurutku tidak ada banyak yang tahu."
"Hanya kita yang tahu. Ophelia dan Milly, tapi entahlah mungkin ada orang lain lagi yang tahu."
Nicola memutar kursinya kembali dan memandangi satu persatu orang yang ada di ruangan itu.
" Pelakunya cukup pintar dengan bertindak secara cepat setelah tahu keberadaan Lizzie sebelum kita menemukannya lebih dulu."
Vladimir berdiri, lalu mendesah.’’Aku mau pergi ke kamarku untuk beristirahat. Selamat malam!’’
__ADS_1
"Selamat malam!"
Suasana di ruangan kembali hening. Juliet dan Regina duduk di sofa dengan wajah kusut dan lelah, lalu Juliet terhenyak seperti mengingat sesuatu.’’Sayang, jika cucu Sergei masih hidup, apa itu artinya perjanjian lama kita masih berlaku?’’
"Perjanjian lama apa?’’
"Ah kau ini, masa lupa dengan perjanjian lama kita dengan Sergei dan juga Dimitri."
‘’Oh perjanjian lama yang itu, tentu aku ingat. Perjanjian itu masih berlaku jika cucu Sergei masih hidup."
Wajah Juliet berbinar senang, lalu tersenyum dan kembali duduk di sofa. Regina menatap ibunya dengan wajah penasaran.’’Perjanjian lama apa bu?’’
"Pasti kamu juga lupa kan , Reggy? Wajar saja kalau kamu lupa karena perjanjian itu sudah dibuat delapan tahun yang lalu."
"Ah maksud ibu perjanjian itu."
"Benar,’’ jawab ibunya.
"Kalau begitu artinya hal itu akan terwujud jika Vladimir juga menyetujuinya."
‘’Kurasa begitu, tapi ibu harap Vladimir mau menyetujui hal itu, tapi sampai sekarang dia sama sekali tidak tahu tentang perjanjian itu. Sebaiknya kita jangan katakan dulu kepadanya sebelum cucu Sergei ditemukan."
"Aku setuju."
"Kalian jangan memaksa Vladimir untuk memenuhi perjanjian itu, biarkan dia sendiri yang memilih. Ini kan hidupnya. Kalian tidak boleh ikut campur dalam kehidupannya kalau kalian ingin melihat Vladimir hidup bahagia."
"Ayaaahhhh....’’seru mereka bersamaan.
Mereka bertiga dikejutkan oleh suara ketukan di pintu. Seorang pelayan masuk.’’Ada apa Howard?’’
"Maaf tuan, ada tuan Anthony Lennox ingin menemui Anda?’’
"Lennox?’’tanyanya dengan wajah bingung. Ia merasa heran kenapa pengacara Sergei tiba-tiba datang kemari.
‘’Benar."
"Suruh dia masuk."
"Baik tuan."
"Ada apa pengacara itu datang?’’tanya Juliet ada nada tidak suka pada suaranya.
"Mungkin dia datang untuk masalah kasus si janda Madelaine tentang hak waris rumah bibi buyutnya."
"Aku tidak suka dengan pengacara itu, meski dia hebat, tapi entalah, aku kadang merasakan rasa ngeri pada dirinya. Setiap kali aku berada dekat dengannya bulu kudukku langsung berdiri."
"Itu hanya perasaanmu saja. Dia adalah satu pengacara hebat yang dimiliki oleh firma hukumku."
Pembicaraaan mereka terhenti ketika pintu terbuka. Anthony Lennox datang dengan berjalan tegap dan tersenyum kepada Juliet dan Regina.
’’Selamat malam nyonya dan juga nona Regina!"
Anthony memperlihatkan senyumannya yang paling menawan.
"Selamat malam tuan Lennox!’’sapa Juliet dan Regina bersamaan dengan sikap resmi yang kaku.’’Suami saya sudah menunggu Anda. Kami permisi dulu."
Pintu kemudian tertutup.
"Silahkan duduk Anthony! Laporan apa yang ingin disampaikan padaku?’’
‘’Saya hanya ingin mengatakan akhirnya keponakan si janda Madelaine yang memenangkan rumah warisan bibinya, karena dia satu-satunya yang mempunyai ikatan darah dengan bibi buyutnya, sedangkan keponakannya hanya akan mendapatkan uang beberapa ribu dollar saja."
"Jadi begitu. Kerja yang bagus Anthony."
"Terima kasih Tuan Kalashnikov. Saya dengar baru saja telah terjadi kebakaran rumah dan penghuninya terbakar."
"Benar. Aku merasa kasihan kepada mereka, tapi untungnya anak mereka tidak terbakar. Anak itu selamat dan sekarang hilang entah kemana, semoga saja anak itu baik-baik saja."
Nicola mendongkak menatap Anthony dan sekilas ia bisa melihat mata gelap dan wajah tegang Anthony.’’Kamu baik-baik saja?’’
"Ah iya aku baik-baik saja."
"Tolong simpan berkasnya di mejaku! Aku akan memeriksanya kembali."
"Ah baik. Kalau begitu saya permisi dulu masih ada urusan yang harus aku selesaikan."
‘’Baiklah. Terima kasih sudah mau jauh-jauh datang kemari’’. Pintu tertutup dan Nicola menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Vladimir memandang kamarnya yang temaram. Ia teringat kembali saat pertemuan pertamanya dengan Lizzie di kamar ini. Kejadian itu masih terasa segar dalam ingatannya seperti baru terjadi kamarin. Sebuah senyuman tipis tersungging di wajahnya ketika mengingatnya.Ia menghempaskan dirinya ke tempat tidurnya.
"Lizzie, kamu memang gadis penuh kejutan,’’gumamnya. Ia pun terlelap tidur. [ ]
__ADS_1