
Ivander berjalan dengan santai sambil menikmati aroma alam berada di sekitarnya , suara burung dan hembusan angin membuat pohon-pohon birch saling bergesekan seolah-olah sedang menyanyikan sebuah nanyian untuk alam. Ia sudah setengah jalan menuju rumahnya yang berada di balik hutan pohon birch. Ia tidak menyesal telah pindah ke desa indah ini.
Tidak jauh didepannya ada sebuah rumah mungil sederhana yang dinding rumahnya terdapat banyak sulur-sulur pohon honeysuckle. Asap mengepul keluar dari cerobong perapian. Ia berpikir siapa yang tinggal di sini mungkin sebuah keluarga kecil dan satu-satunya tetangganya yang berada dekat dengan rumahnya. Kehangatan terpancar sangat kuat dari rumah itu.
Ia melihat seorang wanita tua sedang merajut di depan jendela kamarnya dan sedikit terkejut ketika wanita tua itu memperhatikan dirinya dengan lekat tanpa berkedip. Ivander akhirnya mempercepat langkahnya, Juliana istrinya pasti sedang menunggunya untuk sarapan pagi pikirnya.
Ivander terkejut ketika ia melihat asap tebal yang berasal dari dalam rumahnya dengan jantung berdengup kencang dan wajah pucat pasi. Ia berlari masuk dan merasa lega ternyata asap itu berasal dari halaman belakang rumahnya.
Istrinya , Juliana sedang membakar dedaunan kering.Ia melihat api yang berkobar-kobar dari tumpukan daun yang dibakarnya, perlahan-lahan dari api muncul wajah-wajah yang selama ini selalu menganggu ingatannya.Samar-samar terdengar kembali seorang pria yang memohon kepadanya untuk menyelamatkan bayinya. Kali ini suaranya terdengar lebih jelas .
’’Selamatkan anakku, Lizzie dan pergi dari sini."
Ivander melihat kobaran api yang telah melahap sebagian rumah. Api begitu hidup di matanya, seolah-olah api itu memiliki jiwa yang haus untuk menelan semua yang ada dihadapannya.
Pemandangan berubah, ia melihat dirinya tengah berbicara dengan pria yang berada di tengah kobaran api di kebun belakang rumahnya. Wajahnya memperlihatkan kecemasannya dan terlihat suram.
‘’Hanya kamu yang bisa aku percaya. Aku merasa ada seseorang yang akan menyakiti keluargaku. Aku mencemaskan anak dan istriku. Aku ingin kamu mengawasi mereka berdua, karena tidak setiap saat aku berada di dekat mereka. Aku tidak tahu siapa orang itu, tapi beberapa hari terakhir ini, aku merasakan ada seseorang yang tengah mengawasiku dan juga berusaha mencelakakanku, Jadi tolong awasi anak dan istriku."
Ivander tersadar dari lamunannya dan melihat istrinya dengan wajah cemas. Ia tidak menyadari sedang berlutut sambil memegangi kepalanya yang sakit, kemudian Juliana mendudukkannya di kursi yang terdekat, tidak berapa lama ia kembali dengan membawa segelas air.
’’Melihatmu seperti tadi membuatku sangat cemas, tidak hanya sekali aku melihatmu seperti itu, tapi sudah berkali-kali dalam waktu dua bulan ini. Aku rasa kamu harus pergi ke rumah sakit."
"Maaf sudah membuatmu cemas. Juliana, dulu sebelum aku menikah denganmu , aku pernah bercerita kalau aku sama sekali tidak ingat tentang masa laluku. Aku rasa aku mulai mengingatnya sedikit demi sedikit walaupun hanya berupa potongan-potongan ingatan yang tidak aku mengerti. Aku merasa kalau aku memiliki masa lalu yang menyedihkan dan takut untuk mengingatnya, tapi tadi tanpa bisa aku cegah sebagian kecil dari ingatanku kembali hadir dan selalu muncul pria yang sama dengan wajah memelas meminta aku untuk menyelamatkan bayinya dan sepertinya aku telah membawa bayi itu."
"Aku tahu, itu karena amnesiamu, tapi kenapa kamu selama ini tidak pernah menceritakannya padaku tentang pria yang selama ini selalu muncul dalam ingatanmu."
"Maafkan aku, Juliana. Aku tidak ingin membuatmu bertambah cemas lagi."
"Kita pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kepalamu itu."
"Tapi....’’
"Kali ini kamu harus menuruti permintaanku. Apa kamu mengerti sayang?’’
Ivander tersenyum menenangkan sambil mengelus punggung tangan istrinya. "Aku mengerti."
"Lalu di mana bayi yang kamu bawa itu?’’
"Aku tidak tahu kemana aku membawanya pergi, tapi setelah ingatanku kembali pulih aku pasti akan segera mencarinya."
"Semoga saja kamu dapat mengingat semuanya, meskipun itu akan membuatmu merasa sedih, karena teringat kembali kenangan masa lalumu yang buruk." Juliana mengecup kening suaminya kemudian masuk bersama-sama ke dalam rumah.
🍎🍎🍎
Lizzie tiba di sekolahnya tepat saat bel masuk dibunyikan. Ia merasa sedih ketika harus melihat kursi di sampingnya kosong lagi. Ia menyimpan tasnya diatas meja dan mulai mengeluarkan buku pelajarannya.Pelajaran pertama adalah pelajaran sejarah yang tidak disukainya.
Baru beberapa menit di mulai, Lizzie sudah mulai mengantuk, tapi ia berusaha untuk tetap mendengarkan penjelasan dari gurunya. Mata Lizzie hampir terpejam ketika ia melihat samar-samar seorang wanita muda cantik sedang berdiri dipinggir danau. Airnya bergelombang, karena tiupan angin kencang.
Lizzie terus melihatnya dari balik jendela dan penasaran apa yang akan dilakukan wanita itu. Ia melepas sepatunya dan mulai berjalan ke danau. Lizzie merasa merinding kedinginan melihat wanita itu menceburkan ke air danau yang sangat dingin seperti air es.
"Ada juga orang yang pergi berenang di saat cuaca dingin seperti ini,’’pikirnya.
Gerakan aneh dari wanita itu membuat Lizzie terjaga . Mulut kecilnya terbuka lebar. Ia sadar wanita itu tidak hendak berenang, tapi mencoba bunuh diri. Lizzie langsung berdiri dan membuat teman-teman dan gurunya terkejut.
"Lizzie, ada apa?’’
Lizzie menunjuk ke arah danau dengan tangan gemetar.’’Ada wanita yang mencoba bunuh diri di danau Bu guru Olivia."
"Apa katamu?’’
"Lihat!’’
Semua orang melihat ke arah danau yang ditunjukkan Lizzie. Teman-temannya berdesak-desakan di balik jendela untuk melihatnya.
"Sebaiknya kita cepat kirim orang untuk menyelamatkannya. Aku rasa ia tidak bisa berenang."
"Baiklah. Kalian tunggu disini. Jangan keluar kelas dan jangan ribut."
Lizzie merasa cemas melihat wanita itu timbul tenggelam di danau. Ia berdoa semoga saja wanita itu cepat diselamatkan.Tanpa pikir panjang akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke danau.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?’’tanya Marry.
"Aku akan menolong wanita itu."
"Apa kamu sudah gila? Biar orang dewasa saja yang menolongnya. Lagi pula kita tidak boleh keluar kelas."
"Aku tahu."
Lizzie akhirnya keluar kelas tanpa mempedulikan peringatan temannya. Saat ia keluar sekolah beberapa orang telah menuju ke sana. Tapi ia tahu perjalanan beberapa gurunya menuju danau itu akan memakan waktu sedikit lama dan kemungkinan wanita itu tidak bisa diselamatkan. Hanya dirinya yang tahu jalan pintas menuju danau itu.
Lizzie pun segera pergi berlawanan arah dengan para gurunya. Berlari menembus semak-semak dan tidak mempedulikan tangannya tergores dan akhirnya ia tiba di pinggir hutan birch. Jalan yang jarang di lalui oleh banyak orang , jalan yang dianggap semua orang desa sudah tidak terpakai lagi.Air danau beriak tidak tenang. Lizzie segera melepas pakaian dan juga sepatunya. Ia sudah tidak memperdulikan lagi air danau yang sangat dingin dan segera menceburkan diri.
Wanita itu sudah mulai terlihat lemah dan sudah mulai tenggelam. Lizzie berenang dengan lihai dan tidak lama ia dapat meraih wanita itu dengan susah payah ia menariknya ketepian. Tepat saat itu guru-gurunya mulai berdatangan dan menolongnya. Mereka terkejut melihat salah satu muridnya berada di sini. Mereka segera menarik Lizzie dan memberikan selimut kepadanya.
Tubuh Lizzie mengigil dan bibirnya sudah mulai membiru. Ia memperhatikan orang-orang mulai menyelamatkan wanita yang sudah tidak sadarkan diri itu. Berharap dirinya tidak terlambat untuk menyelamatkannya. Tidak lama wanita itu tersadar dan mulai mengeluarkan banyak air dari mulutnya. Lizzie merasa lega, tapi ia mendapat tatapan marah dari Bu guru Olivia, lalu membawanya kembali ke sekolah. Sebelum pergi ia menengok ke belakang untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.
Kedatangan Lizzie kembali ke kelas disambut teman-temannya dengan sorak gembira.
’’Kanu hebat dan berani. Tadi aku melihatmu menyelamatkan wanita itu,’’kata Paul sambil menepuk bahunya . Lizzie hanya diam mengigil menanggapi pujian teman-temannya.
‘’Lihat dirimu jadi basah kuyup dan kedinginan!’’kata Mary.’’Aku rasa kamu akan tetap seperti ini sampai pakaianmu kering kembali dan aku harap kau tidak akan jatuh sakit."
Lizzie merapatkan kembali selimutnya. Sementara itu wanita yang telah ditolong Lizzie masih duduk di pinggir danau ditemani oleh beberapa gurunya . Lizzie terus memandanginya di balik jendela kelasnya. Ia bersyukur wanita itu selamat.
’’Nona siapa nama Anda? Kami akan menghubungi keluarga Anda,’’tanya pak Jerry Segal guru geografi Lizzie
"Saya Angela Romanov."
Angela menyapu semua pemandangan indah musim gugur sekitar danau, ia baru saja akan membuat danau ini menjadi tempat kematiannya. Suara katak yang berbunyi nyaring dan udara yang mengelurakan harum musim gugur. Sinar terik matahari menerangi seluruh danau. Airnya berkilau bagaikan permata, ia hampir melupakan keindahan desa ini. Sudah bertahun-tahun ia pergi dari desa ini dan lebih memilih menetap di kota besar yang berisik dan dipenuhi oleh polusi udara.
’’Terima kasih sudah menyelamatkan saya."
‘’Jangan berterima kasih kepada saya, berterima kasihlah pada Lizzie kalau bukan karena dia kami tidak akan tahu kalau ada seorang wanita yang hampir tenggelam disini. Seharusnya Anda jangan mencoba bunuh diri di sini. Saya memang tidak tahu alasannya kenapa Anda sampai melakukannya, tapi aku putuskan tidak akan memberitahu tentang usaha Anda untuk bunuh diri disini."
"Terima kasih. Tolong sampaikan ucapan terima kasihku pada Lizzie."
"Saya harap suatu hari nanti dapat bertemu dengannya."
Dua orang yang memakai pakaian seragam pelayan datang dengan wajah cemas dan segera mendekati majikannya, ia takut jika tuannya mengetahui hal ini semua pelayan akan terkena marah, apa lagi kalau sampai jatuh sakit. Ayah Angela memang terkenal sangat galak dan semua pelayan takut dan tunduk kepadanya.Oleh karena itu ia tidak ingin mengambil resiko dirinya dipecat.
Angela mengerti dengan kecemasan pelayannya, ia tahu kalau ayahnya sampai tahu akan ada salah satu pelayan akan dipecat seperti Milly, pengasuh adiknya yang telah membuat kesalahan tidak disengaja, maka ia memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun kepada ayahnya dan hal itu ia sampaikan kepada pelayannya. Terlihat wajah lega di wajah pelayannya dan memandangnya dengan tatapan terima kasih.
🍎🍎🍎
Moskow
Vladimir yang sedang santai membaca sebuah majalah dikejutkan dengan deringan ponselnya di saku celananya dan ia tersenyum. ‘’Siang kakek! Ada apa pagi-pagi kakek meneleponku?’’
"Kalau hari ini kegiatanmu kosong , apa kita bisa bertemu? Sudah lama kita berdua tidak bicara. Kakek merindukanmu. Di sini rasanya sepi sekali."
Valdimir tersenyum. ‘’Baiklah, aku akan menemui kakek dan menginap di sana."
Terima kasih. Ada hal yang ingin kakek bicarakan denganmu. Hanya dirimu yang bisa ku percaya."
"Terima kasih sudah mau mempercayaiku. Sampai ketemu di sana."
Vladimir menutup ponselnya dan segera berpakaian. Ia harus segera menemui kakeknya meskipun ia bukan kakek kandungnya, ia tahu sekarang ini kakeknya sedang membutuhkan dirinya. Ia juga tidak dapat menutupi rasa penasaran tentang hal yang ingin dibicarakan olehnya. Suaranya terdengar begitu serius ketika ia mengatakan ingin bicara dengan dirinya.
Vladimir memarkirkan mobilnya dengan terburu-buru di depan rumah mansion kakeknya besar dan mewah. Dindingnya terbuat dari batu tembok berwarna krem dan sebagian dindingnya telah dirambati oleh sulur-sulur pohon ivy dan honeysuckle.Kini rumah itu telah bermandikan cahaya matahari, sejauh matanya memandang banyak pohon-pohon maple berwana merah dan keemasan yang berbaris rapi disebuah jalanan setapak juga rumah-rumah bercat putih.
Setelah Dimitri, pamannya dan istrinya koma dan juga cucunya yang hilang, kakeknya lebih memilih untuk berdiam diri di mansionnya dan jarang sekali jalan-jalan keluar rumah meski hanya untuk menikmati pemandangan disekitar mansionnya.
Kakeknya sekarang tinggal dengan beberapa orang pelayan . Mansion bertingkat tiga yang terlihat suram. Setiap kali ia menginjakkan kakinya di depan halaman mansion, ia merasa selalu ada kesan tidak ada kehangatan dan keceriaan dari dalam rumahnya lagi. Mata biru cerahnya terlihat sendu melihat mansion kakeknya yang semakin lama semakin terasa dingin.
Seorang pelayan membukakan pintu untuknya dan mengantarnya menemui kakeknya. Ia melihat kakeknya sedang membaca koran ditemani oleh secangkir teh yang masih mengepul dan juga pai apel yang masih hangat. Kue kesukaan kakeknya dan juga dirinya. Rasa harum yang menguar dari pai itu sudah membuat perutnya menjadi lapar.Tanpa ragu ia mengambilnya dan memakannya.’’Aku tahu kamu sangat suka kue itu. Makanlah sesukamu!’’
"Sepertinya kakek terlihat sehat-sehat saja."
"Kamu juga. Bagaimana sekolahmu?’’
__ADS_1
"Baik."
"Sebentar lagi kamu akan lulus, apa kamu sudah memutuskan akan kuliah dimana?’’
"Aku akan kuliah di mana ayahku dan paman Dimitri pernah kuliah."
"Universitas Moskow memang pilihan yang bagus, semoga saja kamu dapat diterima di unversitas itu, tapi aku yakin pasti kamu dapat masuk kesana."
Kakeknya tersenyum senang . Vladimir merasa ada yang aneh dengan kakeknya tidak seperti biasanya kali ini wajahnya terlihat lebih segar dan juga ceria. Tubuhnya juga tidak kurus seperti dulu , bertambah sedikit gemuk. Kesedihan yang selama ini selalu terpancar dari wajahnya sudah memudar bahkan hilang sama sekali. Vladimir yakin telah terjadi sesuatu pada kakeknya.
"Apa ada yang aneh dengan wajah kakekmu ini?’’
Vladimir merasa tidak enak hati memperhatikan kakeknya seperti tadi. Ia membenarkan cara duduknya dan meminum tehnya.’’Tidak ada yang aneh, tapi sepertinya kakek terlihat berbeda."
"Oh ya apa yang berbeda dariku."
"Kakek terlihat ceria dan juga sedikit gemuk."
"Jawabanmu memang benar. Itu sebabnya aku ingin mengatakan alasannya mengapa aku menyuruhmu datang kemari."
Vladimir terlihat penasaran dengan apa yang akan kakeknya katakan.Ia duduk tegak dan menyilangkan kedua kakinya.
"Sebelumnya kamu harus berjanji dulu padaku untuk merahasiakan semua yang aku katakan."
"Aku janji."
"Baiklah, aku percaya kamu akan memegang janji itu."
Sergei mulai bercerita dan Vladimir mendengarkannya dengan serius, lalu ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. ‘’Jadi cucu kakek masih hidup?’’
"Benar cucuku masih hidup dan sekarang hidup disuatu tempat. Sekarang aku sedang berusaha mencarinya. Aku baru saja menerima telepon dari Ophelia Ester Constantine. Kamu tahu kan siapa dia?’’
"Aku tahu. Bibi Ester. Dia pengasuh cucu kakek."
"Benar. Ester mengatakan kalau dia telah melihat orang yang membawa cucuku berada di desa Zelenogradsk."
"Itu kan desa di mana ayahku tinggal di sana. Jangan-jangan cucu kakek juga tinggal di sana."
"Kemungkinan itu tentu saja ada. Kakek harap cucuku segera ditemukan dan aku sudah mengirim seseorang ke sana untuk menyelidikinya."
"Aku tidak percaya, ini seperti keajaiban yang tiba-tiba datang. Aku turut senang. Pasti dia sudah tumbuh besar."
"Sekarang umurnya sudah delapan tahun ."
"Aku jadi penasaran seperti apa sepupu kecilku itu,’’gumam Vladimir.Tiba-tiba wajah Sergei terlihat misterius, lalu ia berkata dalam hatinya.
"Jadi bagaimana hubunganmu dengan Angela?’’tanya Sergei tiba-tiba.
"Tidak begitu baik. Aku sudah mengatakan hal yang sudah membuatnya sedih dan sepertinya dia sangat marah kepadaku. Aku telah menolak cintanya."
"Yang benar? Tapi kalau kamu itu tidak heran. Aku tidak tahu Angela wanita yang ke berapa yang sudah kamu tolak, tapi sayang sekali kamu sudah menolak cintanya padahal dia itu sangat cantik. Aku rasa Angela memang bukan tipe wanitamu."
"Kakek benar. Dia memang bukan tipeku."
"Ia gadis manja dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan . Dia gadis yang suka berfoya-foya , dan suka berpesta , juga sering memboroskan uang yang diberikan ayahnya.Angela sudah terbiasa hidup dikelilingi oleh kemewahan.Dia menjadi seperti itu bukan sepenuhnya kesalahannya, ini juga kesalahan orang tuanya. Kalau saja keponakanku, Victor dan istinya, Elizabeth tidak terlalu memanjakannya mungkin dia akan tumbuh menjadi gadis yang baik dan juga mandiri. Aku sangat kasihan kepadanya. Aku tidak tahu apakah orang seperti Angela akan mengerti mencintai seseorang, tapi aku rasa kali ini dia memang mengerti dan ia sangat mencintaimu, bukankah selama ini dia selalu mengikutimu kemana pun kamu pergi."
"Itu benar, Angela selalu mengikutiku seolah-olah aku adalah miliknya, tapi mungkin sekarang dia tidak akan pernah mengikutiku lagi."
"Kamu tahu , aku tidak dapat membayangkan melihat Angela hidup di rumah sederhana dan mengharuskan dia bekerja di kebun, membayangkannya saja sudah membuatku ingin tertawa. Kamu pasti ingat ketika aku memaksanya untuk membersihkan kebun buah labu , dia menolak mati-matian, tapi aku terus mememaksanya, akhirnya ia mau. Tapi setelah di kebun dia enggan memengang tanah dan tidak mau membersihkan rumput-rumput liar di sekliling pohon labu.Tapi ia akhirnya mau melakukannya, ketika ia menemukan cacing di tanah di langsung berlari masuk dan ia bersumpah tidak akan pernah mau bekerja membersihkan kebun lagi. Angela akhirnya menangis melihat jari-jarinya kotor terkena tanah."
"Aku ingat kejadian itu. Saat itu ekspresi wajahnya sangat marah dan kesal."Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
"Benar."
"Sebaiknya kamu istirahat dulu di kamar pasti sudah lelah karena sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh."
"Aku rasa aku mau tidur sebentar."
"Pelayan akan membangunkanmu saat makan malam tiba." Sebelum pergi Vladimir menghabiskan tehnya dan masuk bersama kakeknya. [ ]
__ADS_1