Shattering Heart

Shattering Heart
Melahirkan


__ADS_3

Lima bulan telah berlalu kini usia kandungan Aleandra memasuki bulan ke delapan. Dengan perutnya yang semakin membuncit, ia agak sulit melakukan banyak aktivitas. Aleandra sangat beruntung ada Anastasia disampingnya yang selalu siap membantunya.


Sergei sudah membelikan banyak perlengkapan untuk bayi Aleandra. Selama beberapa saat Aleandra memandangi kamar bayinya yang sudah dipersiapkan oleh Sergei


Aleandra sekali melihat ke arah perutnya kemudian dielusnya kembali.


’’Sebentar lagi kamu akan terbaring di tempat tidur ini.Ibu sudah tidak sabar ingin segera melihatmu."


🌻🌻🌻


Rambutnya yang basah berkibar di tiup oleh angin malam dan terlihat berkilau tertimpa cahaya bulan.Dimitri berharap malam ini akan ada bintang jatuh supaya dapat mengucapkan keinginan terbesarnya yaitu hidup bahagia bersama Aleandra.


Angin malam menjadi semakin dingin, Dimitri kembali masuk ke dalam kamarnya, lalu duduk di tepi tempat tidurnya sambil memandangi foto Aleandra. Ia sangat menyesali apa yang sudah ia perbuat terhadap gadis itu.


Pagi yang cerah di hari minggu Dimitri mengemudikan  mobilnya melaju tenang di jalanan Rusia. Semenjak Sofia mengasingkan diri 5 bulan yang lalu, Dimitri merasa hidupnya sedikit bebas.


🌻🌻🌻


Satu bulan kemudian


Aleandra yang saat itu sedang membaca majalah di kamarnya tiba-tiba merasakan sakit di perutnya.Keringat dingin mulai keluar dikeningnya.


"Anastasia...Edith ,kalian dimana?’’


Aleandra berusaha berdiri dan berjalan. Ia meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Anastasia yang saat itu sedang menaiki tangga terkejut melihat Aleandra kesakitan."Kamu kenapa?’’


"Sepertinya ini sudah waktunya."


"Sudah waktunya? Maksudmu kamu akan melahirkan sekarang?’’


Aleandra menganggukkan kepalanya. Anastasia kemudian memanggil Edith untuk membantu Aleandra turun. Bebebrapa menit kemudian Mereka melesat pergi ke rumah sakit. Di ruang bersalin Anastasia, Edith terlihat cemas menunggu kelahiran bayi Aleandra. Anastasia pun menghubungi Sergei.


"Kediaman Romanov.’’


"Apa pak Sergei Romanov ada di rumah?’’


"Tuan Sergei ada. Tunggu sebentar!’’


Pelayan itu segera mencarinya di taman dan dia menemukannya sedang memberikan makan ikan-ikannya.’’Maaf. Ada telepon ?’’


"Dari siapa?’’


"Saya tidak tahu. Dia seoarang wanita."


Sergei memicingkan matanya dan segera mengambil telepon itu dari tangan pelayannya.


"Halo ! Selamat sore!’’


"Pak Romanov, ini aku, Anastasia."

__ADS_1


"Ada apa?’’


"Hari ini Aleandra akan melahirkan. Sekarang kami sedang berada di rumah sakit."


"Benarkah?’’tanya Sergei antusias sambil menegakkan badannya.


"Benar."


"Aku akan segera kesana sekarang juga."


Sergei langsung menutup teleponnya dan menyuruh Nester mempersiapkan keberangkatannya.


"Saatnya telah tiba. Semoga nanti rencanaku berjalan dengan lancar. Aleandra, maafkan aku,"kata Sergei dalam hati.


Ketika ayahnya akan pergi Dimitri telah pulang ke rumah.


"Ayah, mau pergi kemana lagi?’’


"Belgorod."


"Kesana lagi. Untuk apa?’’


"Aku ada urusan penting disana. Tidak biasanya kamu pulang jam segini."


"Pekerjaanku di kantor sudah selesai, jadi aku pulang lebih cepat."


"Selama aku pergi , jaga dirimu baik-baik dirumah. Ada kemungkinan aku akan tinggal disana selama sebulan. Oh ya ada kemungkinan Sofia akan pulang bulan depan. Sambutlah kedatangan dia dirumah ini dengan hangat. Bukannya kalian sudah lama tidak bertemu. Pasti Sofia sudah merindukanmu. Aku pergi dulu!"


"Selamat datang tuan! Kamar bayi Anda sudah siap. Anda bisa melihatnya sekarang,’’kata salah seorang pelayan wanita.


"Terima kasih!’’


Dimitri masuk ke dalamnya dan melihat kesekelilingnya. Semua perlengkapan bayi berwarna pink. Dindingnya pun berwarna pink. "Kamar bayiku dan Sofia."


Dimitri menghela nafas.


🌻🌻🌻


Aleandra berada di ruang bersalin terdengar suara jeritan Aleandra.


"Ayo terus dorong, Anda pasti bisa sebentar lagi bayi akan keluar,’’kata dokter itu. Dengan sekuat tenaga Aleandra kembali mendorong dan akhirnya bayi perempuan yang cantik telah lahir.


"Selamat bayi Anda perempuan dan cantik."


Aleandra tersenyum bahagia ketika melihat bayinya. Para perawat segera membersihkan bayinya. Anastasua terlihat lega ketika di beritahu adiknya melahirkan dengan selamat.


"Terima kasih Tuhan."


Anastasia dan Edith tersenyum bahagia. Sergei datang ke rumah sakit ketika malam telah tiba. Dia melihat Aleandra sedang mengendong bayinya dan bayi itu sudah terlelap dalam buaiannya.

__ADS_1


"Aleandra, selamat !’’


"Terima kasih ! Anda mau mengendongnya?’’


"Tentu."


Dibantu Anastasia, Aleandra memberikan bayinya ke pangkuan Sergei.


"Dia sangat cantik dan dia juga mirip dengan ayahnya."


Aleandra tersenyum lemah. Seandainya Dimitri berada disini melihat kelahiran anaknya pasti akan sangat menyenangkan pikirnya. Sergei memandangi cucunya dengan penuh kasih sayang.


"Apa kamu sudah memberikan nama untuknya?’’


"Sudah. Namanya Lizzie."


Beberapa hari kemudian Aleandra sudah diperbolehkan pulang. Ia sangat menikmati hari-harinya sebagai seorang ibu. Bagi Aleandra, Lizzie adalah kehidupannya dan juga sebagai penawar rasa rindunya terhadap Dimitri. Hari demi hari telah berlalu, wajah Lizzie semakin mirip dengan Dimitri.


Aleandra tidak pernah terlepas darinya sedikit pun. Dia selalu memperhatikan setiap pertumbuhan putri satu-satunya.Ia mengajak Lizzie berjalan-jalan di halaman rumah.Dia menatap putrinya dengan lembut dan membelai wajahnya yang putih dan lembut.


’’Dimitri, andai kamu tahu kalau kita berdua sudah mempunyai seorang bayi perempuan cantik."


Hatinya berdesir sedih mengingat pria yang dicintainya tidak berada disisinya. Mungkin sekarang dia sedang menemani Sofia yang sedang hamil  pikirnya.


Satu bulan telah terlewati, Aleandra mendatangi kamar bayinya. Dia menatap lembut putrinya yang sedang terlelap tidur. Pipinya yang gemuk di ciumnya dan bayi itu terbangun.’’Selamat pagi sayang, waktunya mandi."


"Aleandra,"panggil Sergei yang tiba-tiba muncul di pintu.


" Ada apa?’’


"Hari ini aku akan kembali ke Moskow. Jaga dirimu baik-baik."


"Anda juga."


Sergei pergi meninggalkan Aleandra dan bayinya, sebelum pergi sekali lagi dia melihat Aleandra dengan wajah sedih.


’’Maafkan orang tua yang egois ini."


Setelah menjauh dari kamar bayi, Sergei langsung menghubungi seseorang.’’ Lakasanakan rencana kita sekarang jangan sampai gagal."


"Baik bos."


Sergei menutup teleponnya." Nester, ayo kita pergi!’’


Nester mendorong kursi roda menuju pintu keluar.’’Anda yakin akan melakukan ini?’’


"Iya. Aku yakin rencanaku akan berhasil."


"Aku merasa kasihan pada nona Aleandra."

__ADS_1


"Aku juga."


Sergei menitikan air matanya yang kemudian cepat dihapusnya kembali. [ ]


__ADS_2