Shattering Heart

Shattering Heart
Penculikan


__ADS_3

Hari sore  awan hitam telah menggantung di langit suara petir bergemuruh membuat Lizzie ketakutan dan menangis keras.’’Sayang jangan nangis, ibu disini ...cup...cup...cup."


Aleandra mengelus-elus lembut punggungnya.


"Aleandra, ada apa? Sepertinya Lizzie terus menangis,"kata Anastasia.


"Mungkin dia takut. Bisa kamu gendong sebentar. Aku mau membuatkan susu untuknya."


"Baik. Jangan lama-lama kasihan Lizzie."


"Aku akan segera kembali."


Sebelum Aleandra pergi, dia mengecup kening putrinya. Lizzie terus saja menangis, Anastasia kerepotan mendiamkannya. Tiba-tiba mulutnya dibekam . Dua orang laki-laki berbadan kekar segera mengambil Lizzie dari tangan Anastasia dan kedua orang itu segera pergi. Anastasia berteriak dan Aleandra mendengar teriakan kakaknya.


"Aleandra, Lizzie...Lizzie telah diculik."


"Apaaa..."


Tubuh Aleandra membeku.


"Mereka baru saja keluar dari rumah. Kita harus segera mengejarnya."


Aleandra yang tersadar dari keterkejutannya langsung keluar rumah yang saat itu hujan deras telah mengguyur dengan wajah yang bersimbah air mata, ia mengejar mobil yang telah membawa anaknya.


Aleandra terus saja mengejar mobil itu tanpa memperdulikan rasa dingin yang merayap ketubuhnya. Aleandra terus meneriakkan,’’Jangan ambil dia...jangan ambil dia."


Aleandra jatuh terduduk ditepi jalan sambil memeluk tubuhnya yang kedinginan. Anastasia mendekatinya dan segera membawanya pulang . Di rumah Aleandra masih saja terus menangis. Dia telah kehilangan anak satu-satunya. Edith dan Anastasia merasa kasihan kepadanya. Bagi Aleandra kehilangan Lizzie sama saja dengan kehilangan separuh jiwanya.


Sementara itu mobil yang membawa Lizzie terus melaju kencang.’’Tuan , kami sudah berhasil membawanya , kami akan segera menemui tuan."


"Aku tunggu kalian di bandara sekarang."


"Baik."


Pria itu langsung menutup teleponnya.


Sergei dan Nester berada di ruang tunggu bandara.Dia gelisah menunggu orang suruhannya.Wajahnya terlihat lega ketika mereka datang dengan mengendong bayi.’’Ini Bayinya."


’’Halo Lizzie! Ini kakek. Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan ayahmu."


"Sekarang tugas kalian sudah selesai. Kalian boleh pergi."


Mereka pergi meninggalkan bandara.

__ADS_1


"Nester, ayo kita pergi dari sini!’’


"Baik."


🌻🌻🌻


Aleandra masih menangis dan


Anastasia berusaha menenangkannya. Gadis itu tidak mau makan atau pun minum. Aleandra mulai demam. Suhu badannya meningkat.Sejak penculikan bayinya Aleandra tidak bicara sepatah kata pun . Dari mulutnya hanya terucap kata ‘’Di mana anakku? Dimana Lizzie?’’


Anastasia pun ikut menangis melihat adiknya terus-terus memanggil anaknya.


’’Aleandra sudahlah jangan seperti ini. Besok kita cari Lizzie . Aku sudah melaporkannya pada polisi."


Tatapan Aleandra terlihat kosong seolah-olah jiwanya meninggalkan raganya.


"Aleandra,"kata Anastasia, lalu dipeluknya adiknya.’’Pasti kita akan menemukannya. Pasti."


🌻🌻🌻


Malam  hari Sergei sudah kembali dengan membawa seorang bayi. Dimitri yang baru saja keluar dari kamarnya untuk mengambil minum tampak terkejut dengan kedatangan ayahnya dengan bayi yang berada di pangkuan Sergei. Bayi itu sedang terlelap tidur.


"Dimitri, kemarilah!’’


"Bayi ini akan menjadi anakmu. Namanya Lizzie. Kamu dan Sofia akan mengadopsinya."


Sergei memberikan bayi itu ke Dimitri.


"Dia sangat cantik ayah?’’


"Tentu saja dia cantik."


Dimitri menatap bayi itu dengan lembut dan matanya terlihat teduh. Ada perasaan aneh yang telah merayap ke dalam hatinya. Dia merasa nyaman dengan bayi yang sedang digendongnya dan tiba-tiba perasaan sayangnya pada bayi itu langsung muncul.


"Dari mana ayah mendapatkan bayi ini?’’


"Aku mendapatkannya dari Belgorod. Kamu suka bayi itu?’’


"Harus ku akui aku memang menyukainya, tapi aku tidak akan mengadopsi bayi ini, karena aku tidak tahu asal usul bayi ini dan aku juga tidak tahu siapa orang tuanya."


"Tenang saja. Aku sangat mengenal orang tua bayi itu. Itu sebabnya aku ingin kamu mengadopsinya, agar hidupmu lebih semangat. Pernikahanmu dengan Sofia saat ini sangat hambar mungkin dengan adanya bayi ini kehidupan rumah tangga kalian akan sedikit lebih ceria sehingga kamu tidak perlu lagi pulang malam-malam, karena sudah ada bayi lucu yang menunggumu di rumah."


"Sekarang di mana orang tua bayi ini? Kenapa mereka mau memberikan bayi ini begitu saja? Apa mereka tidak menyayanginya lagi?’’

__ADS_1


"Bukan begitu. Orang tuanya sudah meninggal,’’kata-kata Sergei tercekat di tenggorakkan ketika mengatakan itu.


"Kasihan sekali bayi ini. Kalau begitu aku akan menjadikannya sebagai anakku sendiri."


"Aku senang akhirnya kamu mau mengadopsinya. Secepat mungkin kamu harus segera mengurus pengadopsian bayi itu."


"Aku akan segera mengurusnya."


Dimitri mencium pipinya yang gemuk.’’Bayi kecil mulai sekarang aku akan menjadi ayahmu."


Dimitri kembali menimang-nimang bayi itu dengan tatapan sayang. Sergei yang melihat itu merasa senang.


"Dimitri, kamulah ayah kandung bayi itu dan sudah seharusnya dia berada dipelukanmu seperti itu,"kata Sergei dalam hati.


"Mana Sofia?’’


"Dia sedang pergi ke rumah kakeknya. Sebentar lagi dia pulang."


"Aku mau pergi ke kamarku dulu untuk beristirahat mungkin aku akan makan malam di kamar saja."


Nester mendorong kursi roda Sergei menuju kamarnya. Dimitri membawa masuk bayinya ke kamar bayi yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.


Sofia sudah berada di hadapannya ketika Dimitri akan menutup kamar bayi.’’Apa bayinya sudah datang?’’


"Iya. Sekarang dia sedang tidur. Kau jangan menganggunya."


"Aku tidak akan menganggunya, aku hanya ingin melihatnya sebentar."


Sofia masuk ke kamar dan melihat bayi mungil yang sedang tertidur lelap di boxnya.


"Jadi bayi ini yang akan menjadi anak kita. Dia memang bayi yang cantik. Siapa namanya?’’


"Lizzie."


"Kamu tahu aku kan lebih senang jika kita berdua memiliki anak sendiri. Apa itu mungkin?"


"Maaf."


Dimitri akhirnya meninggalkan Sofia di kamar bayi.Dia menatap kepergian Dimitri dengan wajah sedih.


"Dimitri, aku sudah lelah dengan sikap dinginmu padaku selama ini. Sampai kapan kamu akan terus bersikap seperti ini padaku. Ternyata yang ada di hatimu cuma hanya ada satu nama yaitu Aleandra. Tidak ada tempat untuk wanita lain di hatimu,’’gumamnya, lalu dia melihat ke arah bayi itu.


’’Mungkin kamu bisa membuat hubunganku dengan Dimitri menghangat." [ ]

__ADS_1


__ADS_2