
Dimitri terlihat gelisah di kantornya sudah dua minggu lebih dia meminta maaf pada Aleandra, tapi dia belum ada tanda-tanda akan memaafkannya.
"Masuk!’’
"Maaf pak ini kopi Anda."
"Simpan saja disana!’’
"Apa Anda sedang memikirkan cara lain lagi supaya Aleandra memaafkan Anda ?’’
"Benar. Sepertinya aku harus memutar otak lebih keras lagi mencari cara agar Aleandra memaafkanku.Ternyata meminta maaf darinya benar-benar susah."
"Kalau nanti Anda sudah baikan dengan Aleandra, sebaiknya Anda jangan mencoba untuk menyakiti hatinya lagi mungkin dia nanti tidak akan pernah memaafkan Anda lagi. Aku akan membantu Anda meminta maaf pada Aleandra, tapi ...’’
"Tapi apa?’’
"Kalau ini berhasil membuat Aleandra memaafkan Anda , Anda harus memberikan aku cuti selama dua minggu, bagaimana pak Romanov?’’
"Kamu sedang melakukan penawaran denganku?’’
Dimitri memandang kesal Sabrina.
"Benar. Cutiku selama dua minggu tidak sebanding dengan Aleandra telah memaafkan Anda dan kebersamaan Anda kembali dengannya.Itu terserah Anda, mau terima syaratku atau tidak?’’
"Kamu yakin caramu bisa membuat Aleandra memaafkanku,’’tanyanya tidak percaya.
"Aku yakin. Caraku bisa berhasil karena yang penting Aleandra dapat memaafkan Anda bukan?’’
"Jika caramu ini tidak berhasil, aku membuatmu bekerja tiap hari dan juga gajimu akan kupotong setengahnya. Kamu mengerti?’’ancamnya.
"Aku mengerti, ‘’katanya tegas.
"Jadi katakan padaku, apa caramu membuat Aleandra memaafkanku?’’
Lalu Sabrina membisikan sesuatu pada Dimitri.
"Apa kamu yakin cara itu akan berhasil?’’
"Mungkin, tapi aku yakin akan berhasil."
"Baiklah, aku akan memakai caramu itu jika aku tidak berhasil meminta maaf pada Aleandra secara langsung di taman siang ini."
"Pak Romanov senang bisa berbisnis dengan Anda."
Sabrina pergi dengan senyuman puas sedangkan Dimitri memandang kepergian Sabrina dengan tatapan kesal.
Jam setengah dua Dimitri sudah berada di taman dan sudah menyusun kata-kata untuk meminta maaf pada Aleandra. Dia terlihat gelisah dan berkali-kali melihat jam tangannya. Jam sudah menunjukan jam dua siang dan belum ada tanda-tanda kehadirannya. Setengah jam pun sudah berlalu, Aleandra belum muncul juga dan Dimitri memutuskan untuk menunggunya setengah jam lagi.
Sementara itu Aleandra yang berada diapartemennya berkali-kali melihat jam.
’’Sebaiknya kamu pergi saja kesana dan temui dia."
__ADS_1
"Aku rasa dia sudah pergi dari sana karena waktu yang ditentukan untuk bertemu sudah lewat.:
"Siapa tahu pak Romanov masih ada di sana."
Aleandra pergi ke kamar dan mengurung dirinya di sana.
Dimitri yang sudah merasa kesal dibiarkan lama menunggu akhirnya dia menelepon Sabrina untuk menjalankan rencananya.
"Aku harap rencanamu ini berhasil."
Dimitri dengan perasaan kesal dan kecewa pergi dari taman itu.
Hari sudah menjelang sore, langit sudah berubah kuning keemasan. Aleandra dan Lizzie sedang terlelap tidur dikamarnya tiba-tiba di bangunkan oleh suara Hpnya yang berbunyi.
’’Halo! ‘’sapa Aleandra dalam keadaan mengantuk.
"Ini aku, Sabrina."
"Nona Sabrina." Aleandra langsung bangun.
"Aleandra bisakah kamu datang ke rumah sakit?’’
"Memangnya ada apa nona Sabrina."
"Pak Romanov mengalami kecelakaan."
"Apaaa... apa itu benar?’’
"Iya . Pak Romanov mengalami kecelakaan setelah dia pulang dari taman untuk menemuimu, karena dia tidak konsentrasi mengemudi, akhirnya pak Romanov mengalami kecelakaan."
"Bagaimana keadaan dia sekarang?’’
"Tidak baik. Dia terus memanggil namamu. Aku mohon datanglah dan temui dia."
"Aku akan segera kesana sekarang juga."
Aleandra cepat-cepat berganti pakaian dan melesat pergi ke rumah sakit dan menitipkan Lizzie pada Anastasia.
Sesampai di rumah sakit Aleandra segera pergi ke kamar Dimitri di rawat dan diluar sana Sabrina sedang menunggu kedatangan Aleandra dengan cemas.
"Akhirnya kamu datang juga, sekarang cepat temui dia."
Perlahan-lahan Aleandra masuk dan di sana Dimitri terbaring menyedihkan tubuhnya dikelilingi selang.
"Dimitri...Dimitri...’’panggilnya.
Perlahan-lahan Dimitri membuka matanya.
"Aleandra."
"Aku ada di sini."
__ADS_1
"Terima kasih kamu mau datang."
Aleandra mengenggam erat tangannya.
"Kenapa kamu bisa mengalami kecelakaan segala?’’
"Aku juga tidak tahu mungkin dikepalaku terus memikirkanmu, jadi aku tidak melihat ada mobil lain yang datang ke arahku."
"Kamu jangan banyak bicara dulu."
"Tidak Aleandra, sebelumnya aku harus minta maaf darimu dulu. Maafkan aku. Aku tahu aku telah salah kepadamu, aku sudah menyakiti hatimu sudah membuatmu menangis karena perbuatanku, aku sangat menyesal, jadi apa kamu mau memaafkanmu?’’
Sejenak Aleandra terdiam menatap Dimitri, dihatinya dia ingin sekali memaafkannya, tapi kalau mengingat perbuatan Dimitri dulu padanya masih terasa menyakitkan.
"Aleandra, kalau kamu tidak memaafkanku lebih baik aku mati saja, karena aku tidak bisa hidup tanpamu."
"Dimitri jangan bicara seperti itu lagi."
Tangan Dimitri mulai membelai wajahnya dan dia menghapus air matanya.
"Jangan menangis lagi. Aku sudah cukup melihatmu banyak menangis dan itu membuat hatiku sedih."
Tiba-tiba saja tangan Dimitri terkulai jatuh dan detak jantung di layar monitor menjadi garis lurus. Aleandra menjadi terkejut. Dia tidak dapat membayangkan dunia tanpa ada Dimitri di dalamnya.
"Dimitri...Dimitri jangan tinggalkan aku. Aku masih sangat membutuhkanmu. Aku mencintaimu. Baiklah aku akan memaafkanmu ,jadi aku mohon tetaplah di sisiku sekarang dan untuk selamanya."
Tiba-tiba mata Dimitri terbuka.
"Benarkah kamu memaafkanku. Tadi aku tidak salah dengar kan."
"Dimitri, bagaimana kamu?’’
Dimitri langsung memeluk Aleandra.
"Terima kasih sayang."
"Kamu sudah membohongiku ya. Pura-pura meninggal, kamu tahu bercandamu ini tidaklah lucu.Aku tadi sudah dibuat takut setengah mati. Aku pikir kamu akan meninggalkanku untuk selamanya."
Aleandra mulai menangis dengan keras, lalu Dimitri kembali mendekapnya dengan erat dan membelai kepalanya.
"Maafkan aku. Maaf. Hanya cara ini yang mungkin agar kamu bisa menerima maaf darimu. Maaf aku telah membohongimu. Tapi aku senang ternyata kamu masih mencintaiku dan membutuhkanku."
Tangisan Aleandra semakin keras dalam pelukan Masumi. Sabrina melihat itu tersenyum senang dan rencananya mempersatukan Aleandra dan Dimitri sudah berhasil. Dia sudah membayangkan cutinya selama dua minggu.
"Aleandra sayang, apakah kita bisa memulai hubungan kita dari awal lagi? Aku janji, aku akan selalu membuatmu bahagia dan tidak akan membuatmu sedih lagi.:
"Kamu janji?’’
"Iya aku janji."
Aleandra kemudian membenamkan wajahnya di dada Dimitri dengan senyuman bahagia dan Dimitri mengecup kepala Aleandra berkali-kali.
__ADS_1
"Terima kasih Aleandra."
Dimitri pun tersenyum bahagia. [ ]