
Lizzie menatap Fanya dan ia memeluknya. ‘’Kalau itu maumu , aku akan melakukannya, karena aku menyayangimu,’’bisiknya.
Fanya melepaskan pelukan Lizzie dan menatap Cassei dalam kebisuan. ‘’Sungguh?’’
Lizzie mengangguk. Ekspersi putus asa yang sebelumnya ditujukan kepadanya perlahan memudar , kemudian terlihat seberkas harapan samar di dalam mata Fanya.
:Apakah itu membuatmu senang ? Dan apakah kita berteman lagi?’’tanya Lizzie.
Fanya mengangguk dengan cepat dan senyuman muncul di bibir merahnya. ‘’Tentu. Selamanya kita sahabat. Bukankah itu ikrar kita sewaktu kita masih kecil."
"Aku tidak akan pernah melupakannya."
"Maaf. Aku telah menamparmu dengan keras waktu itu. Aku sangat terbawa emosi dan apakah aku sangat terlihat jelas sebagai wanita pencemburu, ya?’’
"Kamu memukulku sangat keras, tapi mungkin aku pantas mendapatkannya, karena aku telah berani mencintai pria yang kamu cintai juga. Iya dan kamu memang terlihat seperti itu. Seorang wanita pencemburu dan kamu mengerikan juga kalau sedang cemburu bahkan waktu itu aku sangat takut melihatmu yang sedang marah besar."
Fanya tersipu malu dan wajahnya dalam sekejap menjadi bersemu merah. Lizzie menghembuskan napas panjang dan tangannya meremas lembut tangan Fanya.
‘’Kenapa semua ini harus seperti ini? Kenapa kita harus mencintai pria yang sama? Kamu adalah sahabatku dan aku tidak pernah sekali pun berpikiran untuk menyakiti perasaanmu. Andai saja kita bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta mungkin kita tidak harus bertengkar, tapi kamu tenang saja, aku dan Vladimir tidak ada hubungan yang spesial. Dia adalah milikmu dan kamu akan menikah dengannya’’.
"Terima kasih, Lizzie."
"Mengenai perasaanku kepada Vladimir, aku akan membuangnya jauh-jauh."
Fanya tiba-tiba kembali memeluk Lizzie.
"Kamu tahu, aku sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu,’’bisiknya.
"Aku juga, Fanya."
"Hari sudah menjelang sore sebaiknya kamu menginap di sini saja, bagaimana?’’
"Kalau itu tidak merepotkan, baiklah."
"Kamu akan tidur di kamarku. Sudah lama kita tidak tidur bersama."
Fanya mengajak Lizzie ke kamarnya yang berada di lantai dua. Saat Lizzie memasuki kamar Fanya, kamarnya sudah berubah banyak. Sekarang kamarnya nampak lebih dewasa dan terlihat sangat feminim. Satu hal yang tidak berubah dari kamarnya adalah kertas dinding kamarnya yang berwarna pink dengan motif garis-garis halus. Sejak dulu Fanya memang sangat menyukai warna pink. Fanya menarik tangan Lizzie menyuruh duduk di sampingnya di atas tempat tidurnya.
Mereka pun melewatkan malam bersama sambil bercerita tentanng desa Zelenogradsk dan kehidupan para penduduknya dan juga teman-temab sekokah mereka dulu.
🍎🍎🍎
Sinar matahari sore telah menyebar diantara pepohonan dan bunga-bunga keesokan sorenya saat ia sudah tiba di Romanov mansion. Suara kicauan burung terdengar bagaikan alunan musik indah membuat Lizzie menajamkan pendengarannya dan bersenandung riang. Wajahnya terlihat sangat ceria.
Lizzie bertemu Vladimir yang sedang memandang langit malam di halaman belakang mansion. Bintang-bintang sudah semakin banyak bermunculan. Ia duduk di samping Vadimir.
"Kami sudah kembali?"
"Iya ada yang ingin aku katakan. Aku sudah bertemu dan berbicara dengan Fanya."
Vladimir langsung menatap Lizzie.
"Apa yang dikatakan Fanya?’’
"Awalnya dia marah, tapi setelah aku menjelaskan tentang hubungan kita, kalau kamu dan aku tidak ada hubungan apa-apa. Kami berbaikan kembali. Fanya sudah tidak salah paham lagi terhadap kita."
"Jadi kalian sudah berbaikan kembali?’’
Lizzie mengangguk.
"Itu bagus. Pasti kamu senang."
Vladimir kembali mengalihkan perhatiannya ke langit malam .
"Fanya mencintaimu. Bisakah kamu kembali lagi kepadanya?’’
"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa,’’jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari langit malam."Karena aku mencintaimu."
"Maaf, tapi aku…’’
"Aku tahu kamu tidak mencintaiku,’’sambung Vladimir.
Lizzie menundukkan kepalanya. Ia sudah berjanji kepada Fanya untuk tidak menerima perasaannya meskipun ia mencintai Vladimir. Bagi Lizzie , persahabatannya dengan Fanya jauh lebih berharga, karena persahabatan mereka terjalin tidak terjadi begitu saja dan membutuhkan proses yang cukup lama.
"Kenapa kamu tidak mencoba untuk mencintai Emily? Kamu pasti bisa melakukannya."
__ADS_1
"Sudah aku katakan. Aku tidak ingin membohongi perasaanku dan Fanya."
"Setidaknya kamu berusaha lagi."
"Apa tidak ada lagi harapan untukku supaya kamu mau menerima perasaanku?’’tanyanya dengan penuh pengharapan. Ia tahu ini bukan saatnya untuk menanyakan hal itu.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa."
Vladimir tahu Lizzie pasti akan menolaknya lagi dan ia tidak bisa memaksakan perasaannya, meskipun ia sangat kecewa dengan penolakannya, ia masih berharap suatu hari nanti Lizzie akan berubah pikiran.
"Aku mengerti. Aku akan mengantarmu ke kamarmu."
Lizzie mengangguk. Selama mereka berjalan tidak ada satu pun yang berbicara sehingga suasana menjadi hening dan yang terdengar hanyalah suara langkah kaki yang bergema di sepanjang koridor rumah.
Mereka kemudian dikejutkan oleh kepala pelayan yang muncul tiba-tiba dalam kegelapan membuat Lizzie dan Vladimir terlonjak kaget. ‘’Tuan Vladimir dan nona Lizzie, ada tamu yang sedang menunggu Anda di ruamg tamu."
Vladimir dan Lizzie saling berpandang. ‘’Siapa?’’
"Seorang wanita."
Lizzie semakin bingung, siapakah yang mencarinya malam-malam begini.
"Kami akan kesana’’kata Lizzie.
"Baiklah. Permisi dan selamat malam!’’
Kepala pelayan kemudian pergi secara teratur.
Mereka bergegas pergi ke ruang tamu untuk mengetahui siapa yang datang dan keduanya di kejutkan oleh kedatangan tamu yang tidak terduga.
"Fanya,"seru Lizzie terkejut.
"Selamat malam! Maaf jika aku datang tanpa memberitahu kalian."
"Fanya, apa ada masalah?"
"Setelah kamu pergi dari Zelenogradsk, aku memutuskan pergi ke Moskow nenyusulmu. Aku ingin bicara dengan Vladimir."
"Kita bicara besok saja,"kata Vladimir.
"Sebaiknya kalian berdua beristirahat ini sudah malam."
Lizzie dan Fanya pergi ke kamar dan telah mengganti pakaian mereka dengan pakaian tidur. Mereka berdua berbaring di tempat tidur yang sama sambil bergandengan tangan. Mata mereka menatap langit-langit kamar yang tinggi."Aku sangat merindukan kehidupan kita yang dulu. Andai saja itu bisa terulang kembali pasti akan sangat menyenangkan,’’ujar Lizzie.
"Benar. Aku datang ke sini karena aku ingin bicara sekali lagi dengan Vladimir."
Lizzie langsung menolehkan kepalanya ke samping. "Aku ingin mencoba sekali lagi menyakinkan Vladimir untuk memberikan kesempatan kedua mengenai hubungan kami."
"Itu bagus. Semoga berhasil! Aku sudah bicara dengannya, tapi aku tidak berhasil. Maafkan aku!’’
"Kamu tidak perlu minta maaf."
Fanya menatap Lizzie dengan tersenyum.
"Sebaiknya kita tidur saja,’’kata Lizzie. Fanya mengangguk. Mereka berdua kemudian menenggelamkan diri dalam kehangatan selimut .
🍎🍎🍎
Setelah selesai sarapan pagi, Fanya mengajak Vladimir berbicara. Lizzie pun memberikan dukungan kepadanya. Fanya mengajak Vladimir pergi ke taman belakang . Mereka berdua berjalan-jalan di bawah sinar matahari pagi disertai udara yang sejuk.
"Bagaimana kabarmu?’’tanya Vladimir yang pagi ini terlihat tampan dengan tubuh berbalut jas berwarna biru gelap.
"Baik. Terima kasih kamu sudah mau menanyakannya."
"Apa yang ingin kamu bicarakan?’’
Fanya menghentikan langkahnya dan meraih kedua tangan Vladimir.
"Beri aku kesempatan untuk mencintaimu. Aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu."
Vladimir menatap Fanya dengan pandangan nanar dan kedua tangan Fanya digenggamnya erat.
"Terima kasih kamu sudah mau mencintaiku dan aku senang akan hal itu bisa dicintai oleh wanita sepertimu dan aku sungguh beruntung, tapi maafkan aku, Fanya, aku tidak bisa membawa hubungan kita seperti dulu. Aku sudah tidak ingin membohongi perasaanku dan kamu lagi . Aku juga tidak ingin membuatmu terluka lebih dalam lagi. Sebaiknya hubungan kita diakhiri saja dan aku yakin suatu hari nanti akan ada pria yang benar-benar mencintaimu."
"Tapi pria yang kau cintai itu adalah kamu."
__ADS_1
"Fanya, lupakanlah aku! Dan bukalah pintu hatimu untuk pria lain meskipun saat ini sulit untuk dilakukan, tapi aku yakin pasti kamu bisa, karena kamu adalah wanita yang baik."
"Apa sudah tidak ada harapan lagi?’’
"Sayangnya iya. Maaf."
Fanya menghapus air matanya yang sudah mengalir keluar."Apa kamu masih mencintai Lizzie?’’
"Iya, aku mencintainya."
"Tapi Lizzie sudah menolakmu."
"Aku tahu itu,"
"Vladimir, bolehkah aku tetap mencintaimu meskipun kamu menolakku?’’
"Fanya."
"Aku tahu, tapi aku tidak ingin membunuh perasaanku yang aku rasakan kepadamu sekarang."
Vladimir menghela napas panjang.’’Baiklah. Terserah kamu saja."
‘’Terima kasih."
Lizzie memperhatikan Fanya dan Vladimir yang berjalan di halaman belakang rumah. Fanya terlihat sedikit ceria saat berbicara dengan Vladimir begitu pun juga sebaliknya . Mereka berdua selalu tersenyum dan tertawa saat Vladimir menanggapi perkataan Fanya.
Lizzie merasaa senang, jika mereka dapat kembali bersama meskipun bagian hati terdalamnya merasa sedih melihat kebersamaan mereka lagi. Ia menutup tirai jendela dan pergi dari kamarnya. Lizzie berjumpa dengan Fanya di pintu depan dan gadis itu tersenyum kepadanya. ‘’Di mana Vladimir?’’
‘’Dia baru saja pergi . Tadi aku menyuruhnya untuk segera pergi. Aku tidak ingin dia datang terlambat ke kantornya."
"Bagaimana? Apa kamu berhasil membuat Vladimir kembali lagi padamu?’’tanya Lizzie penasaran.
‘’Iya,’’jawab Fanya bohong. "Vladimir menyetujui untuk memulai hubungan dari awal."
"Benarkah? Aku tahu pasti bisa. Selamat ya, Fanya." Lizzie memeluk Fanya dengan senang.
" Ayo kita pergi jalan-jalan mengelilingi kota Moskow."
"Ayo!"
Baru saja mereka akan masuk, seseorang memanggilnya. Di hadapan mereka telah berdiri seorang pria yang tinggi dan Lizzie seperti mengenal pria itu.
"Halo nona Lizzie, nona Fanya!"
"Tuan Carver!’’seru mereka bersamaan dan mereka langsung memeluknya.
"Apa yang Anda lakukan di sini tuan Carver?’’tanya Lizzie.
"Aku diminta oleh Vladimir dan Nicola untuk menjadi pengawal kalian selama kalian bepergian keluar."
‘’Jadi apakah kalian akan pergi sekarang?’’tanya Jack.
"Tentu."
Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil. Fanya dan Lizze duduk di belakang, sedangkan Jack duduk di depan bersama sopir. Selama perjalanan Fanya terus memperhatikan Lizzie yang sedang duduk melamun dengan pandangan mata terarah keluar jendela mobil. Sejak dari tadi, ia merasa bersalah kepada Lizzie, karena telah berbohong kepadanya soal Vladimir.
"Maafkan aku, Lizzie,’’gumamnya dalam hati. Tidak lama kemudian tiba-tiba mobil berhenti mendadak di tengah jalanan yang cukup sepi. Fanya dan Lizzie tersungkur ke depan. ‘’Apa yang terjadi?’’tanya Lizzie.
"Maaf. Sepertinya ban mobil bocor,’’kata sopir.
Si sopir kemudian keluar mobil diikuti oleh Jack. "Kalian tetap di dalam,’’kata Jack.
Keduanya mengangguk. Tapi kemudian tiba-tiba ada dua orang yang datang dan menyerang Jack dan si sopir dari belakang mereka. Lizzie dan Fanya berteriak dan saling berpelukan di belakang mobil. Jack yang tiba-tiba lehernya disengat listrik langsung jatuh pingsan begitu juga dengan si sopir. Salah satu dari kedua penyerang itu membuka mobil dan menyeret Lizzie dan Fanyakeluar.
Lizzie dan Fanya kembali berteriak meminta tolong.
’’Kalian berdua diamlah!’’teriak si penyerang berambut merah dan langsung mengunci tangan mereka di belakang tubuh. Kedua penyerang itu hendak memasukkan mereka ke dalam mobil yang baru saja tiba.
Saat akan di masukkan, Fanya menginjak kaki salah satu penyerangnya sekuat tenaga dan pria yang menahan Fanya langsung melepaskannya. Lizzie pun melakukan hal yang sama dan mereka berdua segera melarikan diri, tapi pelarian mereka tidak berjalan lama. Tidak sampai sepuluh menit , pria yang berambut merah berhasil menangkap Lizzie dan pria yang berambut hitam panjang yang dikat kebelakang berusaha menangkap Fanya yang masih berlari.
Fanya menjadi panik saat melihat Lizzie kembali di tangkap. Ia ingin sekali menolongnya , tapi ia harus melarikan diri untuk meminta pertolongan. Fanya merasa sebal disaat seperti ini tidak ada satu pun mobil yang lewat. Itu wajar karena jalan ini masih jalan pribadi menuju rumah keluarga Romanov sehingga jarang sekali ada mobil yang lewat.
Fanya berusaha berlari dan terus berlari . Ia mengerahkan segala kemampuannya untuk berlari dengan cepat . Seharusnya Lizzie tidak semudah itu ditangkap, karena Lizzie sangat cepat kalau disuruh berlari.
Fanya melihat ke belakang dan melihat pria yang mengejarnya sudah merasa kelelahan dan sudah tertinggal jauh dan akhirnya pria itu berhenti berlari, tapi Fanya tidak berhenti berlari . Saat Fanya yakin dirinya sudah aman , ia berhenti berlari dan bersembunyi di balik pohon maple yang ada di dekatnya. Tanpa membuang waktu, Fanya mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya dan nama pertama yang muncul di pikirannya adalah Valdimir . Dengan tangan yang masih gemetar dan rasa lelah pada tubuhnya, ia menekan nama Vladimir. [ ]
__ADS_1