Shattering Heart

Shattering Heart
(S2): Surat dari Fanya


__ADS_3

Lizzie terbangun saat sinar matahari telah membanjiri kamar dengan cahayanya.  Sedetik kemudian ia menyadari apa yang terjadi. Ia merasakan sakit di tubuhnya. Lizzie juga telah menyadari ia berada di rumah sakit.


Vladimir muncul di balik pintu  kamarnya dan pria itu terkejut melihat Lizzie yang sudah sadar. Keduanya saling menatap selama sejenak. Mata biru Vladimir menatapnya dengan penuh kelegaan. Ia langsung berlari memeluk Lizzie . Kepalanya dibenamkan di leher gadis itu. Lizzie hanya diam mematung.


"Aku senang kamu telah sadar. Kamu tahu, saat aku menemukanmu tidak sadarkan diri dengan berlumuran darah, aku begitu ketakutan. Aku kira kau telah mati,’’katanya dengan suara tercekat.


  Vladimir kembali teringat dengan kejadian kemarin saat menemukan Lizzie yang sudah tidak sadarkan diri dengan berlumuran darah dan jantungnya seakan berhenti berdetak . Ia begitu cemas dan panik dan telah mengira kehilangan Lizzie untuk selamanya. Vladimir melonggarkan pelukannya supaya ia bisa melihat wajah Lizzie yang sudah tidak pucat lagi. Kini di wajah gadis itu sudah ada rona merahnya kembali. Hal itu membuat Vladimir senang .


Vladimir merangkum wajah Cassei dengan kedua tangannya.’’Semuanya sudah berakhir. Grigor telah ditangkap dan dia sudah mengakui semua perbuatannya.  Dia tidak akan bisa menganggumu lagi juga keluargamu. Sekarang kamu sudah aman."


Lizzie menghela napas lega.


"Berapa lama aku tak sadarkan diri?"


"3 hari."


‘’Lalu Kakek? Di mana dia?’’


"Baik-baik saja."


"Aku ingin menemui kakek."


"Kamu akan menemuinya besok sampai keadaanmu menjadi lebih baik."


"Terima kasih."


Vladimir tersenyum.


Dimitri dan Aleandra langsung memeluk Lizzie.


"Syukurlah kamu sudah sadar. Ibu mencemasknmu."


Aleandra menangis sambil memeluk Lizzie.


"Aku baik-baik saja, Bu."


Dimitri pun memeluk Lizzie." Ayah senang kamu sudah lebih sehat."


Tidak lama kemudian datang Sergei diantar oleh Nester. Ia merasa lega Lizzie baik-baik saja, lalu Sergei menceritakan apa yang terjadi saat bertemu dengan Grigor.


"Grigor menyalahkanku atas kematian ibunya. Apa Sebagian benar, tapi tidak sepenuhnya benar. Kakek hanya mencintai nenek kalian. Dia satu-satunya wanita dalam hidupku yang aku cintai tidak ada wanita lain. Ibu Anthony dan Grigor hanyalah seorang teman. Saat kakek bertemu dengannya, Xandra telah hamil. Pada waktu itu aku merasa kasihan kepadanya.


Kekasihnya telah memperkosanya hingga hamil . Aku sering sekali mendengarkan keluh kesahnya dan lama kelamaan kami menjadi teman akrab. Kami berdua sering bertemu dan berbicara, jika kami mempunyai waktu luang. Sejak saat itu  Xandra sudah banyak tersenyum dan tidak terlihat sedih lagi. Suatu hari saat kami melakukan pertemuan lagi, Xandra menyatakan perasaannya kalau ia sudah jatuh cinta kepadaku, tapi aku menolaknya, karena saat itu aku sudah memiliki seorang kekasih yaitu nenek kalian. Dia menangis dan terlihat sangat kecewa.  Sebenarnya aku tidak ingin membuatnya sedih atau pun menyakiti perasaannya. Itu terakhir kalinya aku bertemu dengannya dan  sejak itu aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi."


‘’Jadi Grigor dan Anthony Lennox itu bukan anak kakek?’’tanya Vladimir.


"Tentu saja bukan."


‘’Tapi kenapa tuan Lennox mengatakan kalau kakek adalah ayahnya?’’tanya Lizzie.


‘’Mungkin Xandra telah membohongi Grigor selama ini dan dia menanamkan kebencian kepadanya dan membuatnya menjadi dendam kepada keluarga kita. Aku sangat menyesalkan hal ini. Andai saja Xandra tidak membohongi Grigor mungkin ia tidak akan melakukan balas dendam kepada keluarga kita."


"Anthony telah dibebaskan dan nama baiknya telah dipulihkan. Kerugian selama dia dipenjara sudah dibayar. Anthony tidak tahu apa-apa tentang kisah hidup ibunya. Sejak kecil ia diasuh oleh kakek dan neneknya," kata Vladimir.

__ADS_1


🍎🍎🍎


Pesta kebun untuk menyambut kembalinya Lizzie dari rumah sakit terlihat meriah. Berbagai macam hidangan telah tersaji di meja makan panjang. Semua pelayan sudah bekerja dengan baik untuk mengadakan pesta kebun ini. Pesta penyambutan ini hanya dihadari oleh para pelayan dan anggota keluarga Romanov dan Rivera . Lizzie bahagia melihat semua keluarganya berkumpul, tapi ia merasa ada yang kurang di pesta kebun ini, yaitu kehadiran Fanya.


Sejak penculikan itu ia belum bertemu dengan Fanya lagi, tapi menurut Vladimir, Fanya baik-baik saja. Lizzie mengambil sepotong kue yang berada di atas meja di dekatnya dan sudut matanya menangkap kakeknya bersama Vladimir di salah satu meja sedang menyantap makan siang mereka.


Seseorang menepuk bahunya saat ia akan menjejalkan sepotong kue ke mulutnya. Lizzie menoleh ke samping dan mendapati Ivander , Juliana, dan Amber datang. Lizzie sangat senang.


"Terima kasih kalian mau datang."


"Kami tidak aka melewatkan pesta kebun ini,"kata Juliana.


Ivander tersenyum geli melihat mulut Lizzie yang dipenuhi kirim kue.


"Kamu ini seperti anak kecil saja,’’kata Ivander sambil membersihkan krim disekitar mulut Lizzie dengan ibu jarinya. Gadis itu hanya tersenyum lebar kemudian ikut membersihkan mulutnya dari krim kue.


🍎🍎🍎


Lizzie merapatkan mantel ke tubuhnya  yang sudah mulai kedinginan saat ia sedang berjalan-jalan di taman. Musim gugur telah tiba dan udara di luar semakin hari semakin dingin. Kehidupannya sekarang sudah tenang dan bahagia . Ia sudah kembali mendapatkan keluarganya dan orang-orang di sekelilingnya dapat tersenyum bahagia kembali. Tapi masih ada satu masalah yang belum terselesaikan sampai sekarang yaitu masalah perasaannya kepada Vladimir.


Selama satu bulan ini,  Lizzie masih terus mencoba menghindar dari Vladimir  saat pria itu mulai gencar mendekatinya kembali . Bahkan Vladimir berkali-kali meminta dirinya untuk kembali mempertimbangkan perasaanya. Seperti hari ini , pria itu memberikannya satu buket bunga mawar merah untuknya dengan sebuah kartu ucapan yang berisi I love you forever. Rupanya Vladimir tidak mau menyerah begitu saja, tapi Lizzie berusaha untuk tidak mempedulikannya.  Hal itu memang tidak mudah baginya, tapi itu yang harus ia lakukan. Vladimir adalah pria yang dicintai Fanya dan ia tidak akan merebut Vladimir dari sahabatnya.


Lizzie tidak dapat menyangkal, setiap kali ia berada di dekat pria itu,  jantungnya selalu berdebar-debar  dengan kencang sampai ia merasa orang-orang yang berada di dekatnya mendengarnya. Lizzie membersihkan sepatunya di keset depan pintu sebelum ia masuk. Setibanya di ruang keluarga, ia duduk di lantai di depan perapian yang menyala untuk menghangatkan diri  dan mengulurkan tangannya yang dingin ke depan perapian.


Milly tersenyum saat melihat Lizzie yang sedang duduk di depan perapian. Ia melangkah masuk tanpa membuat suara. Ia terlonjak kaget saat Milly menyapanya


"Anda sudah kembali,’’kata Milly.’’Di luar pasti sangat dingin."


Lizzie mengangguk, lalu Milly duduk di samping Cassei menatap kobaran api di depannya.


"Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya mengatasi perasaanku yang tidak menentu ini."


"Apa ini karena tuan Vladimir?’’


Mata Lizzie membelalak terkejut dan tubuhnya menegang. ‘’Aku tahu , Anda menyukai Tuan Vladimir, tapi Anda tidak bisa menerimanya, karena nona Fanya."


"Dari mana kamu tahu itu?’’


Milly tersenyum. ‘’Aku rasa semua orang yang ada di sini bisa melihatnya kalau kalian saling mencintai. Cara kamu menatap Tuan Vladimir dan cara tuan Vladimir menatapmu. Ada cinta di antara kalian."


Wajah Lizzie memanas dan merasa malu perasaannya terekspos dengan begitu jelas. "Meskipun begitu aku harus membuang jauh-jauh perasaanku kepada Vladimir, ’’kata Lizzie dengan nada suara yang terdengar sedih.


"Anda sangat menyayangi nona Fanya dan tidak ingin menyakiti perasaannya . Anda   merasa seperti orang jahat yang telah merebut kekasih sahabatnya sendiri. Datangnya cinta memang tidak bisa diduga dengan siapa kita akan jatuh cinta, kita pun tidak tahu. Jadi Anda jangan merasa bersalah telah jatuh cinta kepada tuan Vladimir, sebaliknya Anda harus menghargai perasaan yang Anda miliki sekarang meskipun pada akhirnya kalian tidak dapat bersatu."


"Seperti yang terjadi pada ibunya Tuan Lennox. Cinta membuatnya hidup dalam kebencian . Mungkin rasa sakit hati itu yang dirasakan oleh Fanya saat mengetahui pria yang dicintainya mencintai wanita lain."


"Anda takut nona Fanya akan menjadi seperti ibunya tuan Lennox?’’


Lizzir mengangguk.


"Saya rasa nona Fanya tidak akan seperti ibunya Tuan Lennox, karena saya yakin nona Fanya bukanlah wanita yang pendendam. Ia akan menerimanya dengan baik."


Milly memasukkan tangan kanannya ke dalam saku rok seragam pelayannya dan mengambil sebuah surat, lalu memberikannya kepada Lizzie.’’Ini surat dari nona Fanya. Baru tiba hari ini."

__ADS_1


Lizzie langsung mengambil surat itu dari tangan Milly.


"Terima kasih,’’ucap Lizzie.


Milly tersenyum kemudian ia bangkit berdiri . ‘’Aku harus kembali kepada pekerjaanku. Permisi!’’


Lizzie membuka amplop itu dengan tidak sabaran setelah Milly pergi dan mengeluarkan surat dari dalamnya. Sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman dan matanya berbinar senang  saat membaca surat dari Fanya.


Fanya mengundangnya untuk pergi ke rumahnya dan menginap di sana. Ia juga mengatakan kalau ia sangat merindukannya dan ingin segera bertemu dengannya. Lizzie menghela napas panjang dengan memeluk surat itu di dadanya dengan senyuman senang.


🍎🍎🍎


Sergei mendongkakkan wajahnya dari surat kabar yang ia baca ketika Vladimir duduk di sampingnya dengan lesu saat mereka berada di kamar Sergei. Ia melipat korannya dan meletakannya di pangkuan.


"Ada apa?’’tanyanya. ‘’Apa pekerjaanmu sedang ada masalah?’’tanyanya kemudian.


"Pekerjaanku baik-baik saja."


"Lalu?’’


"Ini mengenai Lizzie."


"Aha…Aku mengerti."


Sergei tersenyum penuh arti. "Jadi Lizzie masih menolakmu?’’


"Ya. Sepertinya dia masih belum mau menerima perasaanku."


"Kamu harus bersabar menghadapinya. Dia butuh waktu. Ini tidak mudah baginya. Lizzie masih menganggap kamu adalah kekasih Fanya."


"Tapi aku sudah tidak ada hubungan apa pun lagi dengannya."


"Aku tahu, tapi bagi Lizzie , kamu adalah pria yang dicintai sahabatnya."


"Aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus mengambil hatinya,’’kata Vladimir dengan wajah sedih.


"Apa kamu akan menyerah?’’


"Entahlah."


Sergei menepuk bahu Vladimir pelan. ‘’Kamu tahu, keinginan terbesarku sekarang adalah melihat kalian menikah dan aku sudah merencanakan pesta pernikahan yang mewah untuk kalian."


Vladimir mencoba tersenyum. Bayangannya mengadakan pesta pernikahannnya dengan Lizzie sepertinya akan jauh dari kenyataan. Selama ini, Vladimir selalu mencurahkan isi hatinya kepada Sergei mengenai perasaannya kepada Lizzie, karena hanya kepadanya ia dapat dengan bebas bisa mengatakannya dari pada dengan orang tuanya.


"Kedengarannya sangat menyenangkan,’’ujar Vladimir.


"Aku yakin suatu hari nanti Lizzie pasti akan menerimamu. Dia akan menyesal jika dia menolakmu."


Sergei kemudian tersenyum memberikan semangat kepada Vladimir.  


"Beri dia waktu."


"Aku selalu memberikannya banyak waktu,’’kata Vladimir pesimis.

__ADS_1


"Semuanya akan baik-baik saja. Lihat saja nanti." [ ]


__ADS_2