Shattering Heart

Shattering Heart
( S2 ) : Menjadi sahabat selamanya


__ADS_3

Jack kembali berada di halaman Romanov mansion, ia sudah berada di sana sejak berjam-jam lalu duduk dibangku taman yang sudah tua. Matahari sore sudah mulai nampak kedua tangannya memegang liontin yang ia temukan berharap kali ini ada suatu petunjuk baru, tapi sampai menjelang malam ia tidak menemukan apa pun. Ia menatap sedih terhadap bangunan yang ada dihadapannya.Ia masih ingat ketika terakhir kali datang kemari.


Saat itu dirinya diundang oleh Sergei untuk menghadiri pesta ulang tahunnya. Mansion itu begitu mewah dan gemerlap. Samar-samar ia mendengar suara orang tertawa, musik yang mengalun indah , itu adalah pesta dansa terindah yang pernah ia hadiri. Seseorang menepuk bahunya, Jack pun terkejut. Seorang wanita tersenyum hangat kepadanya.Ia duduk disampingnya.


"Saya yakin pasti akan menemukan Anda di sini."


"Apa yang sedang Anda lakukan di sini nona Fretzie?’’


"Apakah Anda lupa, saya sering datang kemari."


"Oh ya saya lupa."


"Saya sudah menganggap Anda sebagai teman bicara sudah lama aku tidak menemukan teman bicara yang menyenangkan seperti Anda."


"Terima kasih sudah Anda anggap seperti itu. Itu suatu kehormatan bagi saya. Sepertinya ada yang ingin Anda bicarakan denganku?’’tanya Jack.


"Benar."


Thalita terdiam sebentar, lalu menarik nafas sebelum melanjutkan bicara. "Begini, beberapa waktu yang lalu ketika saya mengunjungi adikku di rumah orangtuaku, dia pernah mengatakan padaku kalau Tuan Dimitri beberapa hari sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi terlihat gelisah seperti ada yang dicemaskannya. Tuan Dimitri sering terlihat mondar mandir di ruang kerjanya  dan sepertinya dia lelah dan kurang tidur.


Suatu hari secara tidak sengaja adikku melihat Tuan Dimitri sedang berbicara dengan seorang pria di ruang kerjanya . Adikku tidak bermaksud untuk mencuri dengar, tapi apa yang mereka bicarakan menarik perhatian adikku, karena waktu itu pintu tidak tertutup dengan benar sehingga adikku bisa melihat pria itu dengan jelas. Adikku terkejut ketika Tuan Dimitri mengatakan kalau dia dan keluarganya sedang dalam bahaya dan dia meminta pria itu untuk menyelidiki orang yang ingin mencelakainya dan juga Tuan Dimitri mengatakan kalau terjadi sesuatu yang buruk terjadi pada keluarganya dia ingin pria itu menyelamatkan istri dan juga anaknya."


"Apa Anda tahu siapa pria itu?’’


"Kalau tidak salah ingat Tuan Dimitri memanggil pria itu dengan nama Iva...Ivander Armaturov . Iya Ivander itu namanya, karena Tuan Dimitri menyebut nama lengkapnya saat itu "


"Terima kasih sudah mau menceritakannya padaku."


"Tidak , seharusnya aku yang berterima kasih, karena telah menjadi pendengar yang baik untukku.Saya harap semua ini akan berakhir dengan baik."


"Saya juga berharap begitu."


"Saya harus segera pulang.Saya belum memasak untuk makan malam."


"Selamat tinggal!’’seru Jack.


 "Semoga Anda beruntung."


Jack kembali sendirian setelah Thalita pergi, ia tidak tahu kapan dirinya akan bertemu dengannya lagi. Keesokan harinya ia berencana untuk menemui Nicola dan menceritakan semua informasi yang telah di dapatnya. Perkataan Thalita membuatnya merasa sedikit terusik.


🍎🍎🍎


Lizzie duduk terdiam dikursi meja makan mendengar semua kemarahan ibunya tentang kejadian di sekolahnya tadi siang. Ia tahu ibunya begitu mencemaskan dirinya sehingga ia pun menerima kemarahan ibunya. Petro mati-matian membela Lizzie,  karena Lizzie melakukan itu hanya untuk menolong orang tidak bermaksud untuk membahayakan dirinya menceburkan ke air danau yang dingin.


‘’Maafkan aku Bu. Aku tidak akan membuat ibu cemas lagi  dan tidak akan menjadi anak nakal.Jadi ibu jangan marah lagi ya."


Lizzie menatap ibunya dengan tatapan memelas. Antonina merasa menyesal telah memerahinya tadi, karena ia begitu takut sesuatu yang buruk menimpanya.


"Ibu sudah tidak marah lagi. Sekarang pergi ke kamarmu dan selesaikan tugas sekolahmu."


Mata Lizzie berbinar senang , lalu berdiri dan langsung memeluk ibunya."Terima kasih bu. Ibu adalah ibu yang paling baik sedunia dan paling cantik seperti bidadari yang turun dari khayangan."


"Jangan memuji ibu seperti itu. Sekarang masuk kamarmu."


"Baik." Tiba-tiba Lizzie berbalik lagi .


"Ada apa lagi?’’tanya ibunya.


"Apa besok aku boleh pergi kesuatu tempat? Aku telah diundang oleh temanku untuk minum teh dirumahnya. Dia teman baruku di sini namanya Ivander. Dia baru pindah beberapa hari yang lalu  dan aku baru berjumpa dengannya tadi pagi."


"Kamu baru berkenalan dengannya tadi pagi?’’


Lizzie mengangguk dengan cepat.’’Tapi dia orang asing, bagaimana kalau ia berbuat jahat kepadamu?’’


"Aku yakin dia orang yang sangat baik. Percayalah! ‘’


"Jadi apa ibu akan mengijinkanku untuk pergi?’’


Antonina menatap Lizzie, ia begitu bersemangat untuk memenuhi undangan minum tehnya, kalau ia melarangnya pergi pasti ia akan sedih.’’Baiklah kamu boleh pergi."


"Benarkah?’’tanyanya

__ADS_1


"Benar."


Lizzie langsung memeluk ibunya kembali.’’Terima kasih bu!’’


Antonina mengusap-usap kepala mungil Lizzie.


"Sekarang pergi ke kamarmu!’’


"Baik, oh ya sebentar lagi aku mau pergi ke rumah Fanya untuk menjenguknya. Apa ibu mengizinkan aku pergi?’’


"Kamu boleh pergi. Nanti sampaikan salam ibu untuknya."


"Tentu." Lizzie keluar dapur dan menaiki tangga dengan terburu-buru.


Ia segera mengeluarkan buku-buku pelajarannya dan harus menyelesaikan tugas sekolahnya sebelum pergi ke rumah sahabatnya, Fanya.


Suasana dapur keluarga Thusenka begitu hangat. Harumnya daging panggang telah tercium keseluruh dapur. Antonina terlihat sibuk menyiapkan makan malam, sedangkan Petro yang telah selesai menyantap kuenya kembali berkebun.


Matahari sore masih bersinar dengan teriknya, tapi udara sekitarnya terasa sangat dingin sampai menusuk tulang.Antonina mengigil kedinginan setelah kembali dari kandang sapi untuk memerah susu.


Rumah bergetar ketika Lizzie terburu-buru turun dari lantai atas dan menimbulkan suara derak keras di tangga yang terbuat dari kayu.Pintu dapur terbuka dan Lizzie muncul di dapur dengan napas memburu.’’Aku sudah menyelesaikan tugas sekolahku dan sekarang aku mau pergi ke rumah Fanya."


"Baiklah. Hati-hati dijalan! Ingat pulang sebelum makan malam."


"Baik."


Tanpa menunggu lagi Lizzie langsung berlari keluar rumah. Ia mengenakan mantel  bulu berwarna coklat tua yang cukup tebal. Daun-daun yang berguguran dari pohon-pohon sepanjang jalan bertebaran kemana-mana. Cuaca yang dingin membuat wajah Lizzie yang putih sedikit memerah. Ia melihat Xena Watson sedang membersihkan daun-daun kering di halaman rumahnya sendirian dan tersenyum manis ketika Lizzie lewat.’’Selamat sore Lizzie!’’


"Selamat sore nyonya Watson!’’


"Kamu terlihat lebih cantik. Mau pergi kemana?’’


"Saya mau pergi ke rumah Fanya."


"Bagaimana keadaannya sekarang? Ku dengar dia sedang sakit."


" Keadaannya sudah lebih baik."


"Itu bagus."


"Apa maksud Anda nyonya Watson?’’


Xena baru menyadari kalau dia telah banyak bicara mengenai masa lalu Lizzie dan cepat-cepat menutup mulutnya dengan satu tangan. Ia hampir saja kelepasan bicara kalau Antonina mengadopsinya. Xena terlihat gugup dan berusaha untuk menenangkan diri. Otaknya kemudian berjalan cepat untuk mengarang sebuah cerita.


"Maksudku ibumu telah membuat keputusan yang benar saat mulai mengandungmu. Waktu itu Antonina mengalami sedikit masalah dengan kehamilannya, karena  rahim ibumu terlalu lemah untuk mengandung seorang anak. Selain itu tubuhnya juga lemah dan memungkinkan akan membahayakan dirinya kalau sampai mengandung seorang anak, tapi ibumu begitu menginginkannya dan akhirnya mempertahankanmu."


"Jadi begitu. Saya baru tahu kalau ibu begitu lemah ketika mengandungku. Kasihan ibu. Selama ini ibu tidak pernah cerita padaku."


"Mungkin ibumu tidak ingin menceritakannya padamu. Tapi yang perlu kamu ingat ibumu sangat menyayangi dan mencintaimu."


"Saya tahu itu nyonya Watson."


"Bagus. Sebaiknya kamu segera pergi nanti kamu akan pulang kemalaman."


"Aaaahhh...saya pergi dulu. Permisi!’’


Lizzie segera pergi dengan berlari. Xena menghembuskan napas lega.’’Hampir saja,’’gumamnya.


Tanpa buang waktu ia pun mendatangi Antonina di rumahnya. Setelah mendengar penjelasan dari Xena , Antonina tampak terkejut.


"Xena, kenapa kamu tidak bisa menutup mulutmu rapat-rapat,’’katanya kesal.


"Maafkan aku. Tadi aku hampir kelepasan bicara, tapi aku yakin Lizzie sangat percaya dengan ceritaku tadi."


"Semoga saja. Lizzie belum saatnya tahu tentang ini. Aku akan memberitahunya kalau ia sudah besar nanti. Jadi mulai sekarang tutup mulutmu itu rapat-rapat jangan sampai kelepasan bicara lagi."


"Baiklah. Aku akan menutup mulutku ini. Sekarang aku mau pergi dulu. Pasti Danku mencariku sekarang, karena aku tadi meninggalkan rumah tanpa bilang pada siapa pun. Permisi!’’


Pintu dapur kembali tertutup. Antonina mengelus dadanya hampir saja Lizzie tahu gara-gara ulah mulut usil Xena.


Lizzie telah tiba di depan rumah Fanya dan segera pergi ke kamarnya. Fanya tersenyum senang ketika sesosok mungil Lizzie berada di depan pintu kamarnya. Fanya baru saja berganti pakaian dengan pakaian tidur satin berenda  berwarna pink berlengan panjang dan rambutnya dihiasi oleh pita yang sewarna dengan pakaian tidurnya. Fanya terlihat begitu sangat cantik di bawah cahaya senja yang menembus kamarnya.

__ADS_1


"Aku sangat senang kamu datang. Aku kira kamu tidak jadi datang hari ini."


"Aku pasti datang. Bagaimana keadaamu?’’


"Baik. Dokter bilang minggu depan aku sudah boleh pergi kesekolah lagi."


"Benarkah? Itu sangat menyenangkan. Aku sudah tidak sabar menunggu minggu depan. Kita akan pergi kesekolah sama-sama lagi."


Mereka berdua tertawa dan tersenyum, lalu Lizzie dengan semangat menceritakan semua yang terjadi pada dirinya hari ini. Fanya yang mendengarkannya tampak terkejut terutama di bagian adegan penyelamatan Lizzie menolong seorang wanita yang hampir tenggelam di danau.


"Kamu berani sekali. Untung saja kamu pintar berenang. Kalau tidak....’’


Fanya mulai merinding jika Lizzie tenggelam di danau dan tidak ingin memikirkan hal itu.


"Tapi aku senang akhirnya wanita itu selamat."


"Kamu tahu siapa dia?’’


"Tidak."


Lizzie menggelang dengan cepat. Ia pun menceritakan tentang undangan minum teh di rumah Ivander besok dan Fanya terlihat sedih, dirinya tidak bisa ikut.


"Oh Lizzie seandainya aku bisa ikut pasti akan sangat menyenangkan."


"Lain kali kita mengunjunginya lagi. Ivander orangnya sangat baik. Dia pasti senang kalau kita mengunjunginya lagi, karena aku tahu dia sangat kesepian disini butuh seorang teman."


Lizzie juga menceritakannya tentang dirinya yang hampir tertabrak kemarin sore dan Fanya kembali terkejut.Ia menceritakannya pada Fanya dengan kesal.


"Ternyata banyak sekali kejadian yang menimpa dirimu ketika aku sakit. Tapi aku senang, karena kamu masih baik-baik saja."


"Kamu tahu siapa orang yang hampir menabrakmu?’’


"Aku tidak tahu namanya, tapi dia adalah anaknya Tuan Kalashnikov."


"Ah, aku tahu namanya kalau tidak salah namanya Vladimir."


"Jadi itu namanya,’’katanya dengan wajah cemberut.


"Sepertinya kau begitu kesal padanya."


"Itu benar. Dia begitu menyebalkan."


"Kita hentikan saja membicarakan dia, lalu apa ada kejadian menarik lainnya?’’


"Tidak ada. Hanya itu saja."


Langit sudah mulai berangsur berubah warna menjadi jingga keemasan. Matahari yang sudah berwarna merah delima sudah mulai akan terbenam dan mengintip dari balik awan sebelah barat.Bukit-bukit yang dipenuhi oleh warna-warni pohon maple mulai terlihat gelap .Sesekali angin dingin musim gugur berhembus mengoyangkan dan menimbulkan suara gesekan beberapa pohon spruce dan poplar yang berada di halaman rumah keluarga Corbin.


"Tidak terasa malam sudah tiba . Kita sudah banyak bicara sampai tenggorokan kering,’’ kata Lizzie sambil tersenyum.


"Itu sudah jelas sejak dari tadi kamu tidak berhenti bicara."


Suara  kereta kuda terdengar di halaman depan rumah Fanya dan Lizzie langsung melihatnya dari kaca jendela.’’Itu ayahku."


"Sepertinya ayahmu datang untuk menjemputmu."


"Aku tidak tahu kalau ayahku akan datang menjemputku. Sepertinya aku harus segera pulang sekarang . Kamu harus cepat sembuh dan kita bisa bermain bersama lagi. Fanya, kamu adalah teman terbaikku yang aku punya."


"Terima kasih. Kamu juga adalah teman terbaikku. Aku harap pertemanan kita akan terus berlangsung sampai kita tua. Tidak...tidak...kita akan tetap berteman baik sampai kita mati nanti."


Lizzie begitu terharu, lalu langsung memeluk Fanya


"Kamu adalah sahabat baikku dan akan terus seperti itu selamanya."


"Ayo kita kaitkan jari kelingking. Kita buat suatu perjanjian."


Mereka berdua saling mengaitkan jari kelingking dan Fanya berkata, ‘’kita berdua akan menjadi sahabat selamanya."


Lizzie mengulangi kata-katanya.’’Kita berdua akan menjadi sahabat selamanya."Kemudian mereka tertawa.


"Maaf, aku harus segera pergi. Sampai jumpa lagi Fanya!’’

__ADS_1


"Sampai jumpa!’’


Sebelum pergi Lizzie mengecup pipi sahabatnya. [ ]


__ADS_2